Arsip Tag: kisah

Tips menghajikan orang tua

Mau Menghajikan Kedua Orang Tua? Ini Tipsnya!

Saya, Setia Furqon Kholid, dibesarkan oleh kedua orang tua yang kuat memegang prinsip Islam. Ayah saya, Setiawan Irianto yang berprofesi sebagai guru SD menjadi guru pertama dalam kehidupan saya. Ayah mengajarkan banyak arti tentang kemerdekaan, keceriaan dan keikhlasan. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Ibu saya, Siti Sa’adiah yang biasa dipanggil umi hanya berasal dari sebuah desa namun sangat penyayang dan taat beribadah.

Tahun 2005, saat masih duduk di kelas 2 SMA di Bandung, hobi utama saya adalah membaca. Hobi ini mengantarkan saya membaca sebuah novel yang mengubah persepsi saya tentang dunia, judulnya “Ayat-Ayat Cinta” karya Habibburrahman El-Shirazy. Alhamdulillah, dengan tekad ingin seperti Fahri, tokoh utama novel tersebut, akhirnya saya tulis di sebuah karton besar “Target Lima Tahun Ke Depan”.

Beberapa cita-cita yang saya tuliskan saat itu:
1. Kuliah S1 di : Kairo/ Amerika/ Australia atau ITB/ UNPAD
2. Punya tabungan yang banyak dan berkah
3. Ikut banyak organisasi positif
4. Berhaji dengan kedua orang tua
5. Punya rumah pribadi dan mobil sendiri
6. Menjadi Penulis Best Seller dan bermanfaat
7. Searching Istri sholehah, cantik dan baik nasabnya

Subhanallah, dari beberapa cita-cita itu hampir semuanya sudah terkabul, kecuali poin ke-4. Sampai tahun 2010 saya belum punya dana untuk buka tabungan haji.

Masih ingat, saat tahun 2010 saya sering bertanya, “Umi, mau hadiah apa dari aa?”. Umi selalu menjawab, “Umi gak mau apa-apa, hanya ingin berhaji ke Mekah”. Kata-kata inilah yang merasuk ke otak bawah sadar saya, hingga saya bertekad, suatu saat nanti saya harus bisa menghajikan ayah dan umi. Tepat lima tahun setelah saya tulis di dinding kamar itu, keajaiban pun terjadi.

Suatu hari saya ingat pesan Ustadz, “Kalau mau berhaji, ya sedekah yang terbaik. Kalau ada cincin ya cincin atau apapun”. Akhirnya saya dan umi memutuskan bersedekah yang cukup besar untuk renovasi sebuah masjid. Alhamdulillah, tiga bulan setelah itu, saya dapat sebuah proyek pembuatan modul di sebuah instansi dengan proyek senilai 50 juta rupiah. Bersamaan dengan itu saya didaftarkan teman untuk mengikuti sebuah award, “Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi”. Pemenang utama award tersebut berhak mendapatkan hadiah sebesar 25 juta rupiah.

Sujud syukur penuh rasa haru saat itu, kembali saya ingat tekad untuk menghajikan kedua orang tua. Lalu saya berkata, “Umi, ayah, doakan kalau aa sukses proyek ini dan menjadi pemenang award. Aa ingin buka tabungan haji untuk ayah dan umi”. Dan ternyata alhamdulillah, Allah wujudkan do’a itu. Akhirnya, saya, umi dan ayah membuka tabungan haji tahun 2010. Alhamdulillah, tahun 2013 Allah undang saya beserta kedua orang tua untuk bisa berhaji ke tanah suci.

Apa yang saya lakukan untuk mendapatkannya:
1. Saya memimpikannya
2. Saya menuliskannya
3. Saya berdoa dan melakukan percepatan dengan sedekah dan do’a dari kedua orang tua
4. Saya berusaha mencari jalannya
5. Saya mendapatkannya

Begitu juga dengan Sahabat, yang ingin menghajikan kedua orang tua. Bermimpi saja dulu, kan gratis! Lalu mulailah buka tabungan haji, biarlah Allah yang memberi jalan untuk melunasinya. Mintalah do’a dari kedua orangtua, perbaiki diri, pantaskan diri, dan berikhtiarlah secerdas mungkin.

Semoga kita semua bisa diundang untuk bisa berhaji dan umroh bersama kedua orang tua dan saudara tercinta. Aamiin

*Boleh di-SHARE. Moga menginspirasi

Kisah tentang Zuhud

Abu Ubaidah bin Jarra, ra. Gubernur Syam Yang Zuhud. Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.

Bahkan Abdullah bin Mas’ud bangga dengannya. “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw, cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah,” begitu ujarnya.
Rasulullah saw. sendiri mengakui kualitas Abu Ubaidah. “Bagi suatu kaum adalah seseorang yang paling mereka percayai dan bagi kaum ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah,” begitu sabda Rasulullah saw.

Di masa pemerintahan Abu Bakar sebagai Khalifah, Abu Ubaidah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Abu Ubaidah hingga di masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Tak lama kemudian Umar mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.

Suatu ketika, ketika di masa pemerintahan Abu Ubaidah, Syam dikepung musuh. Umar berkirim surat kepada Abu Ubaidah. Isinya, “Sesunggunya tidak akan pernah ada seorang mukmin yang dibiarkan Allah dalam suatu penderitaan melainkan Dia akan melapangkan jalannya, hingga kesulitan akan dibalas-Nya dengan kemudahan.”

Surat itu dibalas oleh Abu Ubaidah dengan kalimat, “Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman: Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau, bermewah-mewah, dan saling membanggakan kekayaan dan anak pinak di antaramu, ibarat hujan (menyirami bumi), tumbuh-tumbuhan (menjadi subur menghijau), mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat (bagi mereka yang menyenangi kemewahan dunia) namun ada pula ampunan dan keridhaan Allah (bagi yang mau bertobat). Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu belaka.” (Al-Haddid: 20)

Surat balasan Abu Ubaidah ini oleh Umar dibacakan di depan kaum muslimin seusai melaksanakan shalat berjamah. “Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah mengharapkan aku dan kalian semua suka berjihad,” kata Umar.

Memang Abu Ubaidah dikenal orang di zamannya sebagai orang yang zuhud. Umar pernah berkunjung ke Syam ketika Abu Ubaidah menjabat sebagai gubernur. “Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”

Namun Umar memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.

Umar bertanya, “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?”
“Adakah kau memiliki makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya.

Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.” Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.”

Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu.” Umar berujar, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.”

Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.