Arsip Kategori: Sholat

Sifat Shalat Nabi tulisan Albani

Memahami dan berhati hati dengan buku Sifat Shalat Nabi tulisan al Albani

Pertanyaan : 

Selama ini saya sholat seperti yang saya pelajari waktu duduk di sekolah dasar. tanpa tahu hadist atau riwayat tentang kebenaran sholat yang saya lakukan.

Baru baru ini saya melihat buku tentang sifat sholat nabi nya Albani koq sepertinya sholat saya dan mungkin sholat umat islam di indonesia ini jadi salah semua stadz?mohon penjelasannya

Jawaban : 

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Semua orang yang mengaku muslim pasti wajib shalat sesuai dengan tata cara shalat nabi. Tidak ada seorang ulama pun yang membuat-buat sendiri tata cara shalat, karena hukumnya haram.

Lalu kenapa masing-masing berbeda dalam tata cara shalat? Yang mana yang benar? Apakah yang telunjuknya goyang-goyang atau yang lurus saja? Apakah yang tangannya di dada ataukah di atas perut? Apakah yang basmalahnya jahr ataukah yang tidak terdengar, atau malah tidak membaca basmalah sama sekali?

Masalahnya, ternyata ketika harus menetapkan shalat yang bagaimana kah yang seusai dengan tata cara shalat nabi, para ulama dan fuqaha berbeda pendapat. Ada yang pakai qunut dan ada yang tidak. Ada yang tarawihnya 11 rakaat, ada yang 23 rakaat, bahkan Umar bin Abdul Aziz tarawih dengan 36 rakat.

Ada kalangan yang berpendapat bahwa kalau sujud, lututnya harus menyentuh tanah duluan baru tangannya. Tetapi ada juga yang sebaliknya, tangannya duluan baru lututnya.

Dan begitulah, kita setiap hari melihat perbedaan-perbedaan itu di tengah umat Islam. Perbedaan itu ada sejak mulai takbir hingga salam, dengan sekian banyak varisasi dan pendapat.

Shifat Shalat Nabi Versi Siapa?

Jadi kita harus bisa membedakan istilah Shifat Shalat Nabi itu dengan melihat siapa yang berpendapat. Ternyata shifat shalat nabi memang berbeda-beda tergantung dari siapa yang berijtihad dan siapa yang menyusunnya.

Memang yang paling tersohor adalah yang disusun oleh Al-Albani, karena judul bukunya adalah Shifat Shalat Nabi. Akan tetapi meski judulnya demikian, tidak lantas boleh disimpulkan bahwa hanya Al-Albani saja yang punya otoritas menetapkan keshahihan suatu shalat sesuai dengan sifat shalat nabi.

Al-Albani telah mengklaim bahwa tata cara shalat yang benar-benar sesuai dengan Nabi Muhammad SAW adalah apa yang beliau tulis di dalam kitabnya.

Ini menimbulkan kesan logis, apabila ada orang shalat tidak seperti yang ada dalam buku itu, maka shalat itu menyalahi tata cara shalat Nabi. Setidaknya, itulah yang kemudian diyakini oleh sebagian orang.

Dan lebih serem lagi, ada klaim yang kemudian menyebutkan bila seseorang shalat tidak seperti shalat nabi (baca: tidak seperti yang dipahami oleh Al-Albani dalam kitabnya itu), maka shalat itu bid’ah, tertolak, tidak diterima bahkan ada yang mengatakan tidak sah.

Sehingga muncullah logika pada sebagian pemuja tokoh satu ini bahwa kebenaran tentang shalat nabi adalah milik Al-Albani seorang, sedang semua tata cara shalat yang tidak seperti yang dipahami oleh beliau, dianggap salah, bahkan harus dikoreksi.

Kritik dan Pertanyaan

Yang jadi kritik dan pertanyaan kemudian adalah: sejauh mana klaim itu mendekati kebenaran?

apakah sebegitu bodohkah para ulama selama 14 abad terhadap masalah shalat, sehingga kebenaran baru ditemukan hanya di abad ini saja, dan hanya seorang tokoh saja, yaitu Al-Albani?

apakah semua umat Islam masuk neraka karena shalatnya tidak seperti apa yang dipahami dan dimaui oleh Al-Albani? Lantaran semua bentuk shalat yang dilakukan umat Islam selama ini termasuk kategori bid’ah?

Apakah para ulama mazhab juga masuk neraka karena kebetulan pendapatnya tentang sifat shalat nabi tidak sama dengan sifat shalat nabi versi Nashiruddin Al-Albani?

Dan apakah berarti hanya ada satu orang saja yang ilmunya melebihi semua ulama yang pernah ada sepanjang 14 abad ini, yaitu Al-Albani?

Semua pertanyaan ini bermunculan sebagai reaksi atas klaim-klaim para pendukung Al-Albani. Dan pertanyaan ini wajar, karena mereka merasa agak terusik lantaran dituduh shalatnya tidak benar dan juga tidak diterima disisi Allah SWT.

seharusnya si penulis menyatakan dengan tawadhu’ bahwa, “Dengan keterbatasan ilmu dan wawasan, maka menurut ijtihad pribadi, shalat yang seperti inilah yang dirasa paling mendekati tata cara shalat Rasulullah SAW.”

Bukan sebaliknya, malah menuduh semua bentuk shalat yang pernah ada ditulis oleh para ulama adalah salah dan mungkar, kalau tidak seperti yang dipahami oleh hasil pemikiran dirinya sendiri.

Keshahihan Hadits Bukan Satu-satunya Tolok Ukur Kebenaran

Keshahihan hadits memang menjadi salah satu parameter kebenaran, tetapi harus diingat pula bahwa dia bukan satu-satunya tolok ukur. Masih ada sekian banyak pertimbangan yang harus dimasukkan ke dalam analisa sehingga bisa ditarik kesimpulan akhir.

Dan memang pekerjaan itu bukan lagi pekerjaan para kritikus hadits, melainkan pekerjaan para ahli fiqih (fuqaha’). Tugas dan peran para kritikus hadits memang sebatas apakah suatu riwayat makbul atau tidak?

Tetapi para kritikus hadits tidak punya wewenang untuk menyimpulkan hasil akhir, sebab masih ada beberapa pertimbangan lainnya. Antara lain:

1. Masalah Nasakh dan Mansukh

Boleh saja suatu hadits itu shahih seshahih-shahihnya, tetapi tetap tidak tertutup kemungkinan ternyata hadits itu mengalami nasakh (penghapusan hukum) dari Allah.

Jangankan hadits, lha wong Al-Quran pun tidak sepi dari nasakh. Ada sekian banyak ayat Al-Quran yang masih kita baca teksnya, namun hukumnya telah dinasakh (dihapus) oleh ayat yang lain.

Misalnya ayat tentang haramnya minum khamar sesaat sebelum shalat. Ayat itu menimbulkan kesimpulan hukum bahwa bila bukan akan shalat, minum khamar tidak haram.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (QS. An-Nisa’: 43)

Lalu turunlah ayat yang mengharamkan khamar secara total dan menghapus hukum larangan mabuk hanya kalau mau shalat

Maka hukum yang terkandung pada ayat pertama tidak lagi berlaku, karena telah dinasakh oleh ayat yang kedua.

Kalau ayat Quran saja bisa terjadi nasakh, apalagi hadits nabawi. Maka parameter kebenaran bukan semata-mata keshahihan hadits. Masih ada sekian banyak parameter lainya yang perlu dipertimbangkan.

2. Ternyata Keshahihan Hadits Juga Tidak Selalu Sama

Satu hal juga perlu disampaikan di sini adalah bahwa ternyata menyatakan bahwa sebuah hadits itu shahih, tidak selalu sama keluar dari mulut para muhadditsin.

Ketika Bukhari meihnshahihkan suatu hadits, belum tentu hadits itu ada di dalam shahih Muslim, karena begitu banyak pertimbangan. Sebagaimana sebaliknya, belum tentu sebuah hadits yang disahihkan oleh Imam Muslim, juga terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari.

Dan sangat boleh jadi sebuah hadits dishahihkan oleh seorang muhaddits, namun oleh muhaddits lain dianggap tidak memenuhi syarat hadits shahih.

Bahkan seorang muhaddits seringkali terkesan rancu ketika menshahihkan suatu hadits. Suatu ketika ada sebuah hadits dishahihkan di dalam sebuah kitab, tapi pada kala yang lain, oleh muhaddits yang sama, hadits itu malah dikatakan dhaif di kitab lainnya. Padahal orangnya itu-itu juga.

Kesalahan dan ketidak-cermatan seperti ini kadang terjadi. Kalau salah hanya satu atau dua hadits mungkin kita masih bisa terima. Tapi kalau kesalahannya sampai puluhan bahkan ratusan hadits, tentu sebuah kecerobohan yang merupakan aib dan menurunkan standar kualitas si muhaddits itu sendiri.

Al-Albani Di Mata jumhur(mayoritas ulama dunia)

Dan di mata para jumhur ulama  Syeikh Al-Albani termasuk di antara orang yang dianggap seringkali rancu  plin plan dan bingung dalam menshahihkan suatu hadits,bahkan  dia adalah seorang yang lancang,sampai berani menyalakan sahabat umar dalam melakukan tarawih 20 rakaat, naudzubillah.

Al-Albani, seringkali kejadian di satu kitab, beliau bilang hadits A itu shahih, tapi di kitab lain yang dituliskannya sendiri, dia bilang hadits A itu dhaif. Seperti yang terjadi atas kritik Al-Albani kepada kitab Al-Halalu wal Haramu fil Islam karya Dr. Yusuf Al-Qaradawi.

Konon Al-Albani mengkritik buku Qaradawi karena menggunakan hadits dhaif. Namun Al-Qaradawi menjawab bahwa hadits yang dibilang dhaif itu, justru oleh Al-Albani sendiri di dalam kitab susunannya, malah dibilang shahih.

Kesimpulan:

Shalat seperti shalatnya Nabi Muhammad SAW memang bisa saja berbeda-beda hasilnya bagi tiap ulama atau ahli ijtihad. Hal itu terjadi karena banyak faktor. Sehingga klaim bahwa satu bentuk yang paling benar, tetap saja masih bisa dikritisi.

Dan  sebagai orang awam mesti ikut yang mana  dalam sholat?

Prakteknya bagaimana?karena di negara kita ini mayoritas bermazhab imam syafii,maka ber amallah(sholatlah) dengan mazhab  Imam syafii  karena itu adalah bagian dari pada ikut perintah nabi muhammad saw.ketika ada perbedaan kita diperintah oleh nabi untuk ikut mayoritas

حدثني أبو خلف الأعمى قال سمعت أنس بن مالك يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم : يقول إن أمتي لا تجتمع على ضلالة . فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم

 “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham).”
(HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

al-Imam as-Suyuthi rahimahullaah menafsirkan kata As-sawadul A’zhom sebagai sekelompok (jamaah) manusia yang terbanyak, yang bersatu dalam satu titian manhaj yang lurus(4 mazhab)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

PRAKTEK SHOLAT KHUSYU

Berikut ini kami akan mencoba menuntun pembaca untuk melakukan praktek shalat yang tepat dan benar dengan harapan bisa didapat kondisi khusuk sebagaimana yang dikehendaki oleh tuntunan Rasulullah dan Al Qur’an.

Siapkan hati dan fikiran untuk mengerjakan shalat, misalnya shalat Dhuhur, Asar atau Maghrib.

Ambil wuduk untuk bersuci dari hadas kecil

Persiapan segala sesuatu untuk melakukan shalat, ruangan, kondisi dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

Shalat Jamak dan Qashar bagi Musafir

Shalat Jamak dan Qashar bagi Musafir. Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh mendapat dispensasi (rukhsoh) dari Allah berupa keringanan dalam menjalankan shalat. Yaitu, ia dapat men-qashar dan menjamak shalatnya.

Qashar adalah mengurangi rakaat shalat yang asalnya empat rakaat menjadi dua, misalnya shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’ dapat dilakukan dengan dua rokaat.

Sedangkan shalat jamak adalah mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu misalnya shalat Dzuhur dan Ashar dilakukan di waktu Dzuhur atau Ashar atau Maghrib dan Isya dilakukan di waktu Maghrib atau Isya’.

SHALAT QASHAR

Bagi seorang muslim yang sedang dalam perjalanan dengan jarak yang memenuhi syarat, maka ia boleh memendekkan shalatnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Namun itu hanya pilihan. Ia bisa juga tetap melakukan shalat empat rakaat.

DEFINISI SHALAT QASHAR

Shalat qashar adalah shalat wajib empat rakaat yang dipendekkan menjadi dua rokaat. Shalat tersebut adalah shalat Dzuhur, Ashar dan Isya.

DALIL BOLEHNYA SHALAT QASHAR

– QS An-Nisa 4:101

وإذا ضربتم في الأرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلاة إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا

Artinya: Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

– Hadits sahih riwayat Bukhari:

أن ابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم، كانا يقْصُران ويُفْطران في أربعة بُرُد، وهي ستة عشر فرسخاً

Artinya: Bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas keduanya mengqashar shalat dan tidak puasa Ramadan pada jarak perjalanan empat burud yaitu 16 farsakh.

– Hadits sahih riwayat Muslim dari Ya’la bin Umayyah

يعلى بن أمية، قلت لعمر: ما لنا نقصر وقد أمنا؟ فقال: سألت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم فقال: صدقة تصدق اللّه بها عليكم فاقبلوا صدقته

– Hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih) dari Ibnu Umar

صحبت النبي صلى اللّه عليه وسلم، فكان لا يزيد في السفر على ركعتين، وأبو بكر، وعمر، وعثمان كذلك؛

– Dalam kitab hadits Muwatta’ Malik I/313 dari Aslam

أن عمر بن الخطاب [ ص: 313 ] صلى للناس بمكة ركعتين فلما انصرف قال يا أهل مكة أتموا صلاتكم فإنا قوم سفر ثم صلى عمر ركعتين بمنى 113 ولم يبلغنا أنه قال لهم شيئا

– Ijmak ulama fiqih atas bolehnya shalat qashar bagi musafir yang memenuhi syarat.

SYARAT JARAK PERJALANAN YANG BOLEH SHALAT QASHAR

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi musafir untuk dapat melakukan shalat qashar, yaitu:

– Jarak perjalanan mencapai 48 mil atau sekitar 78 km.
– Niat safar. Maksudnya, harus ada niat yang jelas kemana arah perjalanan yang dituju.
– Perjalanan yang dibolehkan. Bukan perjalanan dosa (maksiyat). Orang yang bepergian dengan niat hendak mencuri, atau berzina, tidak boleh mengqashar shalat.

WAKTU MULAI DAPAT MELAKUKAN QASHAR

Seorang musafir dapat mulai melakukan shalat qashar setelah dia keluar dari dinding rumah.

NIAT SHALAT QASHAR

Shalat Qashar Dhuhur: اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Teks latin: Ushalli fardaz – Dzuhri qasran rokataini lillahi ta’ala

Artinya: Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah

Shalat Qashar Ashar: اُصَلِّى فَرْضَ العصر رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Teks latin: Ushalli fardal Ashri qasran rokataini lillahi ta’ala

Artinya: Niat shalat fardhu Ashar secara qashar dua rakaat karena Allah

Shalat Qashar Isya: اُصَلِّى فَرْضَ العشاء رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Teks latin: Ushalli fardal Isya’i qasran rokataini lillahi ta’ala

Artinya: Niat shalat fardhu Isya secara qashar dua rakaat karena Allah

Apabila qashar secara berjamaah, maka tinggal menambah kata “imaman” (sebagai imam) atau “makmuman” (sebagai makmum) sebelum kata “Lillahi Taala”.

TIDAK BOLEH SHALAT QASHAR APABILA:

– Apabila niat tinggal di tempat tujuan lebih dari empat hari secara sempurna selain pulang dan pergi-nya. Apabila niat tinggal di tempat yang dituju kurang dari 4 hari, atau tidak niat sama sekali maka ia boleh melakukan shalat qashar selama empat hari.

– Apabila sudah sampai ke tempat ia tinggal secara tetap.

SHALAT JAMAK TAQDIM DAN TA’KHIR

Seorang musafir juga diperbolehkan untuk melakukan shalat jamak, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

DEFINISI JAMAK TAQDIM DAN TA’KHIR

– Shalat jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang pertama yakni zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Dzuhur atau Maghrib. Dengan kata lain, shalat Ashar dilakukan di waktu Dzuhur, dan shalat Isya dilaksanakan di waktu Maghrib.

– Shalat jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat fardhu di waktu yang kedua yakni Dzuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya di waktu Ashar atau Isya. Jadi, shalat Dzuhur dilaksanakan di waktu Ashar, dan shalat Maghrib dilakukan di waktu Isya.

SYARAT SHALAT JAMAK TAQDIM

– Perjalanan yang dilakukan harus mencapai jarak bolehnya Qashar yakni 4 burud atau 16 farsakh yang dalam ukuran sekarang sama dengan 78 km (pendapat lain: 80 atau 81 km) atau 48 mil.
– Harus tertib. Yakni, shalat dzuhur dulu baru shalat Ashar; shalat Maghrib dulu baru shalat Isya.
– Niat jamak di shalat yang pertama
– Muwalat (segera) antara dua shalat tidak ada aktifitas pemisah yang panjang.
– Dalam perjalanan. Kedua shalat dilakukan di tengah perjalanan.

DALIL BOLEHNYA SHALAT JAMAK

– Hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih) dari Anas bin Malik:

عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ارتحل قبل أن تزيغ الشمس أخّر الظهر إلى وقت العصر ثم نزل فجمع بينهما ، وإذا زاغت قبل أن يرتحل صلى الظهر ثم ركب . متفق عليه .

Artinya: Apabila Rasulullah melakukan perjalanan sebelum tergelincirnya matahari, maka beliau mengakhirkan shalat Zhuhur sampai waktu Ashar lalu turun (dari kendaraan) dan menjamak keduanya. Apabila matahari tergelincir sebelum melakukan perjalanan maka Nabi shalat Zhuhur lalu naik kendaraan (untuk berangkat).

– Hadis sahih riwayat Muslim dari Anas

إذا أراد أن يجمع بين الصلاتين في السفر أخر الظهر حتى يدخل أول وقت العصر ثم يجمع بينهما

Artinya: Apabila Nabi hendak menjamak di antara dua shalat di (tengah) perjalanan, maka beliau mengakhirkan shalat Zhuhur sampai masuk awal waktu Ashar lalu menjamak keduanya.

– Hadis sahih riwayat Muslim

إذا عَجِلَ عليه السفر يؤخر الظهر إلى أول وقت العصر فيجمع بينهما ، ويؤخر المغرب حتى يجمع بينها وبين العشاء حين يغيب الشفق

Artinya: Apabila Nabi bergegas untuk melakukan perjalanan maka ia mengakhirkan shalat Zhuhur sampai waktu Ashar dan menjamak keduanya. Dan mengakhirkan shalat Maghrib sampai mengumpulkan (menjamak) antara Maghrib dan Isya ketika bayang-bayang merah sudah terbenam (tanda masuk waktu Isya).

NIAT SHALAT JAMAK TAQDIM

– Niat shalat jamak taqdim Dzuhur dengan Ashar: أصلي فرض الظهر جمع تقديم بالعصر فرضا لله تعالي

Teks latin: Ushalli fardaz-Dzuhri jam’a taqdimin bil Ashri fardan lillahi Ta’ala

Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak dengan Ashar karena Allah

– Niat shalat jamak taqdim Maghrim dengan Isya: أصلي فرض المغرب جمع تقديم بالعشاء فرضا لله تعالي

Teks latin: Ushalli fardal Maghribi jam’a taqdimin bil Isya’i fardan lillahi Ta’ala

Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak dengan Isya karena Allah

Catatan:
– Kalau shalat dilakukan secara berjamaah maka anda harus menambah kata “makmuman” (sebagai makmum) atau “imamam” (sebagai imam) sebelum kata “Lillahi Taala”.
– Adapun shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak taqdim.

SHALAT JAMAK TA’KHIR

– Sebagaimana disinggung di muka, shalat jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat fardhu pada waktu yang kedua. Yakni, melakukan shalat Dzuhur di waktu Ashar atau melaksanakan shalat Maghrib di waktu Isya’.

SYARAT SHALAT JAMAK TA’KHIR

– Perjalanan yang dilakukan harus mencapai jarak bolehnya Qashar yakni 4 burud atau 16 farsakh yang dalam ukuran sekarang sama dengan 78 km (pendapat lain: 80 atau 81 km) atau 48 mil.
– Niat shalat ta’khir di waktu yang pertama di luar shalat. Artinya, ketika musafir memutuskan hendak jamak ta’khir dan saat itu sudah masuk waktu dzuhur, maka ia harus niat untuk jamak ta’khir.
– Dalam perjalanan sampai selesainya kedua shalat.
– Dalam jamak ta’khir, tertib atau urut tidak wajib. Maka, boleh melakukan shalat Ashar atau dzuhur lebih dulu; atau mendahulukan maghrib atau isya. Ini berbeda dengan shalat jamak taqdim. Namun, tertib itu sunnah.

NIAT SHALAT JAMAK TA’KHIR

– Niat shalat jamak ta’khir Dzuhur dan Ashar: أصلي فرض الظهر جمع تأخير بالعصر فرضا لله تعالي

Teks latin: Ushalli faraz-Dzuhri jam’a ta’khirin bil Ashri fardan lillahi taala

Artinya: Saya niat shalat Dzuhur jamak ta’khir dengan Ashar karena Allah

– Niat shalat jamak ta’khir Maghrib dan Isya: أصلي فرض المغرب جمع تأخير بالعشاء فرضا لله تعالي

Teks latin: Ushalli fardal Maghribi jam’a ta’khirin bil Isya’i fardan lillahi taala

Artinya: Saya niat shalat Maghrib jamak ta’khir dengan Isya’ karena Allah

Catatan:
– Kalau shalat dilakukan secara berjamaah maka anda harus menambah kata “makmuman” (sebagai makmum) atau “imamam” (sebagai imam) sebelum kata “Lillahi Taala”.
– Adapun shalat yang kedua, yakni shalat Ashar atau Isya, maka tidak perlu ada niat jamak ta’khir.

NIAT SHALAT JAMAK DAN QASHAR

Seorang musafir dan melakukan shalat dengan niat Qashar dan Jamak sekaligus. Itu artinya, dua shalat dikumpulkan dalam satu waktu, sekaligus rokaatnya disingkat untuk yang asalnya empat rakaat seperti dzuhur, ashar dan isya.
Adapun niatnya sebagai berikut:

– Niat shalat qashar dan jamak taqdim: أصلي فرض الظهر جمع تقديم بالعصر قصرا ركعتين لله تعالي
– Niat shalat qashar dan jamak ta’khir: أصلي فرض الظهر جمع تأخير بالعصر قصرا ركعتين لله تعالي

Catatan:
– Ganti kata Dzuhur dan Ashar dengan Maghrib dan Isya sesuai keperluan.
– Kalau berjamaah, anda harus menambah kata “makmuman” atau “imaman” sesuai posisi anda.

JAMAK TAQDIM DILAKUKAN SEBELUM BEPERGIAN, BOLEHKAH?

Assalamu’alaikum…

Salam ta’dzim saya haturkan. Langsung saja saya ingin tanya.

1. saya pernah mendengar keterangan bahwa jama’ taqdim boleh dilakukan sebelum berangkat bepergian, apakah benar demikan? Mohon diberi penjelasan sekaligus kalo ada ta’birnya sekalian.

2. mengingat era sekarang jumlah pengguna jalan mengalami peningkatan sangat drastis apalagi diperkotaan mobil semakin padat dan merayap sehingga kalau dulu bepergian jarak tempuh 50 km bisa ditempuh 1 hingga 1,5 jam namun sekarang terkadang bisa memakan waktu lebih dari 3 jam, pertanyaan saya bolehkah kita melakukan jama’ ataupun qosor?

Mohon penjelasan. dimanakah saya bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan2 saya ini, maksudnya via email, blog, fb atau website???

Atas jawabanya saya haturkan beribu terima kasih. Semoga Alloh membalas dengan sebaik-baiknya balasan, amin. Wassalamu’alaikum.

JAWABAN

1. Itu tidak benar. Jamak shalat bagi musafir itu dibolehkan apabila ia sudah berangkat atau sudah keluar dari rumah dan tujuan perjalanannya juga harus mencapai 16 farsakh (80 km). Berdasarkan hadits sahih riwayat Muslim dan lainnya sbb:
Berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari sbb:

أن ابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم، كانا يقْصُران ويُفْطران في أربعة بُرُد، وهي ستة عشر فرسخاً

Artinya: Bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas keduanya mengqashar shalat dan tidak puasa Ramadan pada jarak perjalanan empat burud yaitu 16 farsakh.

كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا خرج مسـيرة ثلاثة أميال، أو ثلاثة فراسخ ـ شكَّ الراوي ـ صلى ركعتين

Artinya: Nabi apabila keluar dalam jarak tiga mil atau tiga farsakh — perawi ragu — maka Nabi shalat andua rakaat (qashar).

Ulama fikih memaknai hadits ini sbb: (a) Apabila Nabi bermaksud melakukan perjalanan sejauh 4 burud (80 km), maka beliau melakukan qashar shalat langsung setelah melewati batas kota Madinah sejauh 3 mil.

Dalam hadits lain riwayat Bukhari & Muslim, Anas berkata:

صليت مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – الظهـر بالمدينة أربعاً، وصليت معه العصـر بذي الحليفة ركعتين

Artinya: Aku shalat Dhuhur bersama Rasulullah di Madinah 4 rokaat. Lalu shalat Ashar bersamanya di Dzul Hulaifah 2 rakaat (qashar).

Dzul Hulaifah berjarak beberapa kilometer dari kota Madinah. Hadits ini menguatkan pendapat bahwa shalat jamak dan qashar boleh dilakukan setelah berangkat; tidak boleh dilakukan sebelum berangkat.

Seluruh mazhab empat memaknai kedua hadits di atas demikian: bahwa syarat bolehnya jamak taqdim bagi musafir yaitu adanya dawamus safar (selama dalam perjalanan). Orang yang belum berangkat pergi berarti statusnya masih muqim, belum musafir.

2. Dispensasi jamak qashar diberikan berdasarkan jarak jauhnya perjalanan (masafah al-qashr), bukan jarak tempuh seperti disebut dalam hadits di atas. Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir 2/362 menyatakan:

فإذا ثبت أن القصر يجوز في أربعة برد ، وهو ستة عشر فرسخا ، وهو : ثمانية وأربعون ميلا ، فلا اعتبار بالزمان معها إذا كان قدر المسافة ما ذكرنا

Artinya: Apabila (dispensasi) qashar itu ditetapkan berjarak 16 farsakh, yaitu 48 mil, maka waktu tempuh tidak lagi dianggap.

Persiapan Meraih Keajaiban Shalat Tahajud

Persiapan Meraih Keajaiban Shalat Tahajud

1) Apabila masuk waktu maghrib, niatkan dalam hati kita untuk dapat bisa mendirikan Qiyammullail atau Ihya’ Lail, yaitu selepas selesai sholat Maghrib .

‘Para salafussoleh apabila mereka setelah sholat maghrib, mereka meniatkan qiyammullail‘.

2) Biasakan diri kita agar tidak bercakap-cakap antara margrib dan Isya’, kecuali setelah melakukan 6 rakaat *solat awwabin.

*Sholat sunnah yang dikerjakan antara maghrib dan isya’ dinamakan sebagai sholat awwabin.

Boleh juga kita melakukan solat istikharah pada waktu ini agar apa-apa yang akan kita lakukan pada malam hari atas pilihan Allah.Dan bukankah pilihan Allah itu yang terbaik??

Kata Imam Al-Munzir dalam kitab At-Targrib wa At-Tarhib:
Dari Makhul.ra bahawa Rasulullah SAW sampaikan padanya dengan berkata: ’siapa yang bersholat 2 rakaat selepas sholat Maghrib(fardhu) sebelum berkata-kata, Dalam riwayat lain: 4 rakaat, diangkatkan sholatnya di illiyyin (derajat surga yang tertinggi)‘.

Dari Abi Hurairah berkata:
Rasulullah s.a.w bersabda:’Siapa sholat 6 rakaat selepas Maghrib(fardu) , tidak berkata diantara dengan sesuatu yang tidak baik, baginya sama seperti ibadah 12 tahun ‘.~Riwayat At-Tirmizi.

Faedah:
Para salafussoleh itu berebut-rebut dalam menyibukkan diri mereka dengan ibadah dan meninggalkan segala urusan dunia pada waktu itu.

Di Darul Mustafa(DM)/ Darul-Zahra Tarim Hadramaut:

Begitulah habib Umar bin Hafidz mengaturkan waktu buat kami. Selepas sholat Maghrib itu, setelah diberikan waktu untuk melakukan sholat-sholat sunnah, kemudian baru masing-masing ke halaqah Al-Quran masing-masing utk pembacaan Al-Quran selama setengah jam, setelah itu, membaca wirid hinggalah masuk waktu isya’.

Di Darul Mustafa/Darul Az-Zahra’, Sayyidi Al-Habib Umar telah mentarbiyah kita dengan segala peraturan yang dicintai oleh Rasulullah s.a.w.

Tiada peraturan yang disusun Beliau kecuali suatu yang dicintai Rasulullah s.a.w’. Karena itu, kita ketahui bahwa Murabbina seorang pencinta Rasulullah s.a.w‘.

3) Setelah selesai menunaikan sholat2 sunnah, isikan waktu tersebut dengan ibadah khusus seperti Bacaan Al-Quran,wirid dan sebagainya.

4) Khususkan waktu antara Maghrib-Isya’ pada waktu itu bermunajat kepada-NYA. Dan tepikan untuk sementara waktu (Maghrib-Isya’) dari segala urusan dunia dan hubungan dgn manusia.

Kata Habib Umar Ibn Hafiz :
‘Sayyidina Abu bakar meletakkan batu di mulutnya agar beliau tidak bercakap kecuali yang penting atau yang baik. kalau sayyidina Abu bakar yang sebegitu berbuat sedemikian, kita sebetulnya harus lebih perlu berbuat demikian‘.

Allah…Hakaza tarbiyah ashabun Nabiyy! Sollu ‘alaihi!

Kalau kita bisa berhasil berbuat yang demikian ini, (yaitu menahan diri dari bercakap-cakap antara magrib dan isya’) selama dalam 40 hari berturut-turut,

Insya Allah ia akan menjadi suatu kebiasaan seharian kita dan kita akan hanya (ditolong oleh Allah SWT) berbicara hanya pada saat-saat yang perlu di waktu-waktu lainnya. Jauh dari fudul al-kalam(berbicara yang berlebihan).

5) Sebelum tidur, Hendaklah menjaga adab-adab tidur seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, agar tidur kita diangkat dan dijadikan oleh Allah SWT sebagai ibadah bukan tidur ghaflah(lalai) dan supaya mudah untuk bangun Qiyammullail.

Kata Habib Umar:

‘Man hafaza ‘ala adabin Naum, soro naumuhu yaqazoh’.

(Siapa yang menjaga adab tidur, jadilah tidurnya itu tidur dalam keadaan yang sadar, tidak sia-sia umurnya).

Pejuang Subuh

Pejuang Subuh PARA PEMBURU SUBUH..

Saya tanya, kita jawab bareng-bareng:
+Siapa yang memberi kita rejeki, Allah atau konsumen kita?
“Allah..”

+Yakin? Bener yakin Allah yang Maha Kaya? Allah Maha Pemberi Rezeki?
“Yakiiiinn… Seyakin-yakinnya!”

+tadi pagi subuhan jam berapa? Subuhan dimana? Jamaah atau enggak?
“Tiba-tiba hening…”

Pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).

Bahasa singkat namun tersirat, dua rakaat sebelum shalat subuh nilainya lebih baik dari dunia dan isinya. Orang yang bisa melakukan ini bener-bener kaya raya!!

Sebuah pesan lagi, orang yang sholat subuh berjamaah di masjid seolah-olah dia sudah sholat sepanjang malam…
Bayangkan ketika hari masih gelap, dingiiin, orang-orang ini rela ke masjid lebih dahulu, sholat sunnah 2 rakaat sebelum subuh, pertanda dia datang lebih dulu. Ketika Allah Yang Maha Pemilik Rezeki memanggil di pagi hari, dia berangkat menyambutnya… “ini dia Tuhanku, yang memberiku hidup hari ini, yang menjamin rejekiku hari ini.. Subuh ini kuratakan kepalaku dengan tanah hanya menyembahMu”

Di lain waktu, ustadz Yusuf Mansur bercerita di satu ceramah,
“Saya kalo di Jogja nginep di rumah Mas Jodi rasanya adem dan seneng aja.. Kalo subuh mas Jodi, Mbak Aniek, dan anak-anaknya berangkat barengan ke masjid. Hari masih gelap, orang masih banyak nyaman berselimut, mereka sudah bersama-sama menyambut panggilan Allah.. Merapat ke masjid. Seneng bener ngelihatnya”

Bener kata Nabi, dunia dan seisinya gak ada harganya, mudah bagi Allah menjadikan mas Jodi sukses dengan jaringan Waroeng Steak n Shake-nya yang rame dimana-mana.. lah tiap subuh sudah menyambut Dia Yang Maha Kaya.

Rumah saya kebetulan di bagian depan perumahan, suara gerbang yang dibuka di malam hari kadang terdengar. Sekali waktu sebelum waktu subuh gerbang dibuka, sudah ada lelaki naik motor yang membukanya, lengkap dengan baju koko, sarung dan pecinya… Aaah dia pak Fulan, pemilik dealer mobil terbesar di daerah sini.. Rajinnya dia subuhan di masjid, bahkan ketika azan belum berkumandang, dia sudah berangkat duluan.

Lain waktu saya sering melihat mas Arul dan istrinya berjalan ke masjid, kadang boncengan motor dengan mesranya di subuh buta. Juragan tempe yang punya sales hingga 30 orang lebih. Konsisten tiap pagi menyambut Yang Maha Pemberi Rezeki. Dan pesan Kanjeng Nabi benar adanya.. Dunia dan seisinya gak ada harganya, ketika Allah sudah ridho gampang bagi Allah memberi rejeki yang berkelimpahan bagi hamba-hambanya yang percaya..

Ketika minggu lalu dia lewat depan rumah menyapa, plat putih masih menempel di mobil Pajero Sport yang baru dibelinya..

Sungguh saya iri kepada para pemburu subuh.. Orang-orang yang bergegas ketika Tuhannya memanggil.. Memilih meratakan jidatnya ke bumi menyembah Yang Maha Pemilik Rejeki. Meninggalkan jauh orang-orang yang selalu terlambat, sholat subuh terburu-buru ketika matahari sudah terang benderang menggeliat.

Tahajud

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sholat tahajud semalam pun termasuk saat beliau sakit.

Termasuk juga para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam walaupun sudah sangat sepuh, tapi tetap melaksanakan Sholat Tahajud.

Bila kita mengetahui keutamaan Sholat Tahajud, pasti kita tidak akan mau meninggalkannya.

Tidak ada satupun jamuan terindah yang diadakan kecuali di sepertiga malam terakhir.

Bila kita dijamu oleh pejabat, penguasa atau orang penting pasti kita senang, apalagi kita dijamu oleh Penguasa langit dan bumi.

jamuan Allah bisa berupa ampunan, terkabulnya doa, pertolongan, ketenangan dan keberkahan.

oleh karena itu, mari kita bertekat menjadi AHLI TAHAJUD, ikhtiarnya dengan

1 tidur lebih awal
2 Jangan berkata kecuali yang bermanfaat
3 jangan terlalu kenyang dengan makanan
4 menseting alarm, sempurnakan ikhtiar.

Semoga kita menjadi ahli tahajud yang istiqomah sampai akhir hayat kita.

14 SIKSA ALLAH BAGI YANG MENINGGALKAN SHOLAT FARDHU

Barang siapa yang meninggalkan dan meremehkan sholat lima waktu (Fardhu), maka Allah ta’ala akan memberikan Hukuman 14 siksa.

image

lima siksa untuk didunia yaitu :
1. Dicabut berkah usianya.
2. dicabut tanda orang sholeh dimukanya.
3. tiap amal yang dikerjakan tidak diberikan pahala oleh Allah ta’ala.
4. do’anya tidak dinaikan kelangit.
5. Tidak dapat bagian dari do’a orang-orang sholihin.

Baca lebih lanjut

Setelah Sholat Isya Manusia dibagi jadi 3 kelompok

Fadhilah Sholat HADITS KE-8
 
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. bersabda,

“Setiap tiba waktu shalat, diutuslah seorang penyeru (malaikat), lalu ia berseru, “Wahai anak Adam, berdirilah dan padamkanlah api yang telah engkau nyalakan untuk membakar dirimu.” Orang-orang pun berdiri dan berwudhu kemudian mengerjakan shalat Zhuhur, maka Allah mengampuni dosa mereka di antara keduanya (Shubuh dan Zhuhur), begitu pula jika tiba waktu Ashar, Mahgrib, dan Isya. Sesudah Isya, orang-orang pun tidur. Ada sebagian orang yang menghabiskan malamnya dengan berbuat kebajikan dan ada yang menghabiskan malamnya dengan berbuat keburukan.”

(Thabrani – At-Targhib).
 
Penjelasan: Baca lebih lanjut

Sholat Bisa Jadi Asbab Kesembuhan

Sholat bisa jadi asbab kesembuhan.

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari sedang terik, lalu aku datang dan shalat. Setelah itu aku duduk dan menoleh ke arah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun bersabda: “Apakah kamu sakit perut.” Jawabku, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Shalatlah, karena dalam shalat terdapat kesembuhan.”
(HR Ibnu Majah)

baca juga

Pentingnya Sholat Berjamaah

Fadhilah Sholat Berjamaah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:
“Shalat seorang laki-laki dengan berjamaah dibanding salatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipatgandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan salat berjamaah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan salat, maka malaikat akan turun untuk mendoakannya selama dia masih berada di tempat salatnya, Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan salat.” [HR Al-Bukhari no 131 dan Muslim no 649].

Dalam hadits pertama dikatakan keutamaan shalat dengan berjamaah adalah 27 kali lebih utama daripada shalat sendirian, sedangkan hadits ini menyatakan 25 kali. Banyak ulama memperbincangkan masalah ini dengan panjang lebar, yang sepertinya bertentangan. Berikut ini adalah beberapa penjelasan dan pendapat mengenai perbedaan ini :
Baca lebih lanjut

Dahsyatnya Perintah Sholat

📌 Dari Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah bersabda:

Perintah yang pertama kali diwajibkan kepada ummatku adalah shalat lima waktu, yang pertama kali diangkat dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu, dan yang pertama kali dipertanyakan dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang pernah meninggalkan sesuatu daripadanya maka Allah SWT berfirman (kepada malaikat): lihatlah! Apakah kalian mendapatkan dari hamba-Ku shalat-shalat sunnah yang menyempurnakan kekurangannya dari shalat fardhu?
Baca lebih lanjut