Arsip Kategori: al quran

Tilawati Cara Mudah Baca al Quran

ANAK Anda masih susah membaca Al Quran? Coba saja pakai metode tilawati. Metode baca Al Quran yang akhir-akhir ini sedang digandrungi memberikan bukti nyata.

Metode tilawati ini menggunakan nada lagu ross, salah satu jenis lagu yang digunakan dalam membaca Al Quran. Metode tilawatiinilah yang dikenalkan kepada anak-anak dalam pelatihan standarisasi guru metode tilawati tahun 2016 di Pesantren Nurul Falah Surabaya, medio Februari lalu.

“Musik atau lagu yang dinyanyikan sambil memperkenalkan huruf hijaiyah akan sangat membantu daya ingat buah hati tanpa harus memaksakannya untuk menghafalkan saat itu juga,” ujar salah satu ustadz pemandu pelatihan.

Saat ini memang sudah marak pembelajaran Al Quran dengan metode tilawati. Ada beberapa tahap yang harus diterapkan saat metode pembelajaran dimulai.

Pertama, mengenalkan satu per satu huruf  hijaiyah tersebut. Bisa dengan alat peraga, masing-masing dari alat peraga tertulis satu huruf. Setelah itu baru memberitahu huruf hijaiyah pada anak, tanyalah kembali apa nama dari huruf hijaiyah yang telah diajarkan tadi dengan alat peraga yang berbeda, yaitu alat peraga yang tertulis dengan macam-macam huruf hijaiyah. Ini penting untuk menanyakannya.

Tentunya dengan lagu sehingga otomatis si anak juga akan menjawabnya dengan lagu. Begitu seterusnya. Sehingga hari-hari berikutnya dapat membiasakan anak-anak untuk mengikuti metode yang diajarkan oleh guru.

Metode tersebut, terdiri dari tiga tahap, yaitu :

1. Ustadz membaca, anak-anak mendengarkan.

2. Ustadz membaca dan anak-anak menirukan. Perlu digarisbawahi karena pada saat anak-anak menirukan ustadz juga mengiringi atau ikut membaca.

3. Membaca bersama-sama antara ustadz dan juga anak-anak.

Tiga tahapan itu hanya berlaku pada 15 pertemuan pertama, untuk pertemuan ke 16 dan selanjutnya, tahapnya hanya satu yaitu membaca bersama-sama atau tahap tiga. Demikianlah yang selalu dilakukan setiap sore, pada jam mengajar di taman pendidikan Al Quran. Anda bisa mengadopsinya untuk mengajari anak-anak di rumah

METODE TILAWATI AJARKAN AL-QURAN DENGAN SENI

ebagian guru Al Qur’an mendapati kesulitan ketika mengajar. Hal ini membuat para pengajar Al Qur’an berkreasi mencari metode yang mudah dan menyenangkan sehingga membuat murid tidak merasa bosan.

Salah satu metode belajar Al Qur’an yang berhasil ditemukan adalah metode tilawati. Metode ini menekankan bagaimana mengajarkan Al Qur’an kepada murid dengan pendekatan seni. Optimalisasi otak kanan dalam belajar Al Qur’an akan lebih menyenangkan sehingga murid tidak merasa bosan saat belajar.

Berikut wawancara Mi’raj Islamic News Agency (MINA) dengan Ust Muhammad Daiman, S,Ag, trainer tilawati cabang Balik Papan, Kalimantan Timur.

MINA: Apa kelebihan Metode tilawati ?

Ust M. Daiman : Metode tilawati adalah suatu metode mengajar membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidah dan aturannya. Mereka para ahli atau praktisi pengajar Al Qur’an melakukan penelitian dari berbagai metode yang ada, khususnya di Indonesia dan akhirnya lahirlah metode tilawati ini.

Tilawati adalah salah satu dari sekian banyak metode mengajar Al Qur’an di dunia Islam. Penekanannya adalah, dengan metode ini semua murid mendapatkan waktu yang sama dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) nya. Jadi antara yang datang duluan dengan yang datang belakangan mendapatkan alokasi waktu sama karena menggunakan metode klasikal efektif.

Selain itu, metode tilawati juga sangat menekankan pengajaran dengan pendekatan seni dengan melagukan setiap marteri ajar. Seperti yang ada di dunia seni baca Qur’an ada gaya rosy, bayati, syika, nahawa dan lain-lain. Gaya-gaya seperti itu kita gunakan di setiap materi pelajaran.

MINA: Lalu apa dampaknya bagi murid ?

Ust M. Daiman : Hasilnya, alhamdulillah, para murid tidak mengalami kebosanan dalam kegiatan belajarnya. Tilawati ini mencoba melakukan pendekatan belajar dengan menggunakan otak kanan. Sedangkan sebagian metode yang ada di Indonesia menggunakan pendekatan belajar dengan otak kiri.

Metode ini juga dapat menjadi alternatif bagi para pengajar yang menemui masalah dalam cara pembelajarannya. Jika para murid merasa bosan, kurang konsentrasi dalam belajar, atau kesulitan dalam pembagian waktu, maka di Tilawati ini penyajian materi menjadi sangat mengasyikkan, baik terhadap murid maupun gurunya.

Tentu setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak boleh merasa baling bagus dari yang lainnya. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan dalam belajar. InsyaAllah akan mendapat hasil maksimal.

MINA: Dari mana inspirasi metode dan nama Tilawati itu didapat ?

Ust M. Daiman : Dalam firman Allah surah Al Muzzammil ayat ke-4, disana Allah menyatakan bacalah Al Qur’an dengan tartil, juga dalam surah Al Baqarah ayat ke-121 yang memerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an dengan benar (tilawah). Berangkat dari kedua ayat inilah, metode dan nama Tilawati ini muncul.

Pengalaman yang didapat dari para pengajar Al Qur’an juga menjadi bahan inspirasi dari pembuatan metode ini. Semangat yang selalu kita usung, bagaimana mengajar Al Qur’an dengan benar, dan murid merasa senang dengan suasana, juga cara belajarnya.

MINA: Tentang membaca Al Qur’an dengan seni, seperti apa penerapannya ?

Ust M. Daiman : Ya, sejak jilid satu, kita sudah ajarkan kepada murid dengan lagu. Ada beberapa lagu dalam membaca Al Qur’an seperti yang sudah saya paparkan diatas. Setiap halaman kita selalu ajarkan dengan melagukannya sehingga murid mudah mengingatnya. Menurut penelitian kami, seseorang akan lebih mudah mengingat sesuatu dengan lagu.

Pengenalan lagu-lagu dalam membaca Al Qur’an sedini mungkin juga lebih efektif bagi murid agar mereka ketika sudah lancar membacanya, dapat memerdukan suaranya melalui lagu tersebut. Bukankan yang paling bagus bacaan Al Qur’an seseorang adalah yang paling merdu dalam membacanya, begitulah Rasulullah bersabda.

MINA: Apakah ada pengaruhnya lagu dalam membaca Al Qur’an dengan karakter seseorang ?

Ust M. Daiman: Memang, belajar dengan menggunakan pendekatan otak kanan lebih nyaman, baik bagi murid maupun gurunya sendiri. Mudah-mudahan dengan murid belajar Al Qur’an dengan otak kanan, mereka akan memiliki sifat-sifat yang terpuji, tidak gampang emosi, lebih kreatif, memiliki empati kepada sesama teman, maupun makhluk Allah yang ada di sekitarnya.

Seperti yang dijelaskan oleh banyak ahli psikologi, bahwa dengan mengoptimalkan otak kanan, seseorang akan memiliki kreativitas, intuisi, penemuan ide bisnis, inspirasi dan imaginasi baru. Namun, bukan berarti belahan otak kanan lebih penting daripada belahan otak yang kiri, ataupun sebaliknya.

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa hasil otak kanan yang sepertinya ide brilian, kreatif, imaginasi, inspirasi, perlu ditindaklanjuti oleh pemikiran kritis otak kiri yang benar-benar kritis sehingga menghasilkan karya yang gemilang.

MINA: Berapa lama murid dapat lancar dan fasih membaca Al Qur’an dengan metode Tilawati ini ?

Ust M. Daiman : Bervariasi, bergantung kepada muridnya. Rata-rata, jika murid usia SD (MI) sampai SMA (MA) belajar setiap hari dengan alokasi 45 menit, mereka akan merampungkan dalam waktu enam bulan. Namun jika muridnya dewasa dan sudah pernah belajar Al Qur’an sebelumnya, mereka mungkin akan lebih singkat menguasainya.

Intinya, cepat atau lambatnya murid dalam menguasai suatu ilmu, bergantung kepada dia sendiri, gurunya dalam mengajar, fasilitas dan perlengkapan yang mendukungnya (termasuk metode yang dipakai), dan dukungan dari lingkungan sekitar.

MINA: Setelah lancar membaca, apa ada kelanjutannya ?

Ust M. Daiman : Tentu saja ada. Secara umum Tilawati dibagi dalam tiga tahapan. Pertama tahap membaca dengan fasih, sesuai kaidah-kaidah yang benar. Kedua, tahap pemahaman terjemahan dan tafsirnya, dan ketiga, tahap mendakwahkan dengan mengajarkannya kepada orang lain. Tentu tahap ketiga ini memerlukan pelatihan khusus, terutama ilmu mengajar yang efektif dan menyenangkan

Metode Tilawati pertama kali dikembangkan di Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya.

Nama Tilawati Center dipilih karena tekad dan ghiroh para pengurus dalam mewujudkan sebuah lembaga dakwah yang menjadi pusat peningkatan mutu guru-guru Al-Qur’an, melalui pembinaan-pembinaan dan pelatihan-pelatihan yang telah diprogramkan.

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pembelajaran Al-Qur’an di berbagai pelosok Indonesia terus bertambah banyak, baik formal (TK, SD, SMP, SMA, dan PT), maupun non formal (TPQ, Madrasah Diniyah, Pesantren, Majelis Qur’an, dll). Tentu saja, hal ini sangat menggembirakan.

Namun demikian, satu sisi ada problem-problem bermunculan di dalam pembelajaran Al-Qur’an. Mulai dari guru Al-Qur’an yang belum standart bacaannya, mutu lembaga yang masih kurang, pendekatan dan metode pembelajaran yang masih monoton, dan sebagainya.

Maka beranjak dari permasalahan di atas, Tilawati Center bertekad ingin membenahi persoalan tersebut. Dan berusaha mewujudkan model pembelajaran Al-Qur’an yang selaras dan sesuai dengan zaman saat ini.

Visi:

Menjadi lembaga dakwah yang profesional dan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan Al-Qur’an

Misi:

Mendirikan lembaga pendidikan Al-Qur’an
Mewujudkan guru Al-Qur’an yang berkualitas
Mengembangkan ilmu-ilmu yang ber kaitan dengan metode pengajaran Al-Qur’an

Belajar 7 Jenis Langgam Al Quran Ustadz Kris

FLASHDISK BELAJAR MENGUASAI LANGGAM QURAN. Sering terkesima bahkan menitikkan air mata saat mendengarkan lantunan ayat Alquran yang dibawakan oleh qari populer? Ingin belajar tapi tidak tahu harus ke mana karena ilmu ini langka? Tidak percaya diri menjadi imam sholat? Ingin mengajari anak membaca Alquran namun sebenarnya Anda sendiri pun butuh bantuan? Percayalah! Anda tidak sendiri. Ribuan orang sudah bergabung bersama kami, baik dari dalam negeri ataupun mancanegara.

flashdisk langgam quran ust kris

flashdisk langgam quran ust kris

 

Cukup dengan sebuah flashdisk, kita dapat mempelajari 7 irama Alquran dengan metode yang mudah diikuti. Setelah mempelajari ketujuh irama Alquran, kita dapat memilih satu yang paling cocok dengan karakter suara kita dan mendalaminya.

Ribuan kopi telah tersebar ke seluruh pelosok tanah air dan berbagai negara. Buktikan sendiri bagaimana sebuah flashdisk bisa memperbaiki hubungan kita dengan Alquran. Jadilah saksi bahwa siapapun – tanpa background pesantren sekalipun – bisa melantunkan ayat Alquran dengan indah dan penuh penghayatan.

Rumusnya sederhana namun efeknya luar biasa jika dikuasai. Pesan sekarang sebelum kehabisan. Ribuan orang sudah bergabung bersama kami dan terus bertambah setiap harinya.
Semoga bermanfaat dan semoga kita semua diberi kemudahan oleh Allah untuk mempelajari Alquran.

Season 1 berisi 28 video di mana masing – masing irama dipelajari 4 pertemuan.

Manfaat:
1. Memfasilitasi umat Islam yang ingin belajar langgam Alquran.
2. Meningkatkan rasa percaya diri saat membaca Alquran atau menjadi imam.
3. Memberikan tontonan yang baik dan bermanfaat bagi keluarga.
4. Mempermudah menirukan bacaan syekh / qari populer.

PLQM (Pembelajaran Langgam Quran Mingguan) adalah sebuah reality show dalam bentuk web series berisi tayangan saat Ustadz Kris mengajar langgam Alquran. Konsep reality show dipilih agar materi tersampaikan dengan santai, fun, dan mudah dipahami, bahkan bagi pemula non-pesantren sekalipun.


Harga Flash Disk Belajar Langgam Quran
Rp. 150.000
blm ongkir dari Surabaya
Konfirmasi Flashdisk Langgam Quran Ust Kris:
WA +6281234066080

 

Cara menghafal al quran tidak mudah lupa

cara menghafal alquran dengan cepat dan tidak mudah lupa waktu 40 hari bisa untuk anak efektif semudah tersenyum

HR: Tirmidzi no. 3493

Ibnu Abbas ra bahwa ia berkata; ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba Ali bin Abu Thalib datang, dan berkata; ayah dan ibuku kurelakan untuk aku korbankan, Al Qur’an telah hilang dari dadaku, aku tidak mendapati diriku mampu untuk membacanya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Wahai Abu Al Hasan, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah memberimu manfaat, dan memberikan manfaat kepada orang yang engkau ajari serta memantapkan apa yang telah engkau pelajari dalam hatimu?”

Ia berkata; ya wahai Rasulullah! Ajarkan kepadaku! beliau berkata “Apabila tiba malam Jum’at, jika engkau mampu bangun pada sepertiga malam terakhir, ketahuilah bahwa waktu itu merupakan malam yang disaksikan (para malaikat), dan doa pada malam tersebut terkabulkan, dan saudaraku Ya’qub telah berkata kepada anak-anaknya; aku akan memintakan kalian ampunan kepada Tuhanku.

Ucapan ini terus beliau ucapkan hingga datang malam Jum’at. Jika engkau tidak mampu maka bangunlah pada pertengahan malam, jika engkau tidak mampu maka bangunlah pada awal malam, kemudian shalatlah empat raka’at dan engkau baca pada raa’at pertama surat Al Fatihah dan Surat Yaasiin, dan pada raka’at kedua engkau baca Surat Al Fatihah dan Surat Ad Dukhan, dan pada raka’at ketiga engkau baca Surat Al Fatihah dan Alif laam miim As Sajdah, dan pada raka’at keempat engkau baca Surat Al Fatihah dan Surat Tabarak (Surat Al Mulk).

Kemudian apabila engkau telah selesai dari tasyahud maka pujilah Allah dengan sebaik-baiknya, ucapkanlah shalawat kepadaku serta seluruh para nabi dengan sebaik-baiknya, mintakan ampunan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta saudara-saudaramu yang telah mendahuluimu beriman,

kemudian ucapkan di akhir semua itu: “ALLAAHUMMARHAMNII BITARKIL MA’AASHII ABADAN MAA ABQAITANII, WAR HAMNII AN ATAKALLAFA MAA LAA YA’NIINII, WARZUQNII HUSNAN NAZHARI FIIMAA YURDHIIKA ‘ANNII. ALLAAHUMMA BADII’AS SAMAAWATI WAL ARDHI DZAL JALAALI WAL IKRAAM, WAL ‘IZZATIL LATII KAA TURAAMU. AS-ALUKA YAA ALLAAHU, YAA RAHMAANU BI JALAALIKA WA NUURI WAJHIKA AN TULZIMA QALBII HIFZHA KITAABIKA KAMAA ‘ALLAMTANII, WARZUQNII AN ATLUWAHU ‘ALAN NAHWILLADZII YURDHIIKA ‘ANNII. ALLAAHUMMA BADII’AS SAMAAWAATI WAL ARDHI, DZAL JALAALI WAL IKRAAM, WAL ‘IZZILLATII LAA TURAAM, AS-ALUKA YAA ALLAAHU, YAA RAHMAANU BI JALAALIKA WA NUURI WAJHIKA AN TUNAWWIRA BIKITAABIKA BASHARII WA AN TUDHLIQA BIHI LISAANII, WA AN TUFARRIJ BIHI ‘AN QALBII, WA AN TASYRAH BIHI SHADRII, WA AN TAGHSIL BIHI BADANII. FAINNAHU LAA YU’IINUNII ‘ALAL HAQQI GHAIRUKA, WA LAA YU`TIIHI ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BIKA Al ‘ALIYYIL ‘AZHIIM.”

(Ya Allah, rahmatilah aku untuk meninggalkan kemaksiatan selamanya selama Engkau masih menghidupkanku, dan rahmatilah aku untuk tidak memperberat diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku, berilah aku rizki berupa kenikmatan mencermati perkara yang mendatangkan keridhaanMu kepadaku. Ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan serta keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk. Aku memohon kepadaMu ya Allah, wahai Dzat yang Maha pengasih, dengan kebesaranMu dan cahaya wajahMu agar mengawasi hatiku untuk menjaga kitabMu, sebagaimana Engkau telah mengajarkannya kepadaku, dan berilah aku rizki untuk senantiasa membacanya hingga membuatMu ridha kepadaku. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki kebesaran, kemulian dan keperkasaan yang tidak mungkin diinginkan oleh makhluk. Aku memohon kepadaMu ya Allah, wahai Dzat yang Maha pengasih, dengan kebesaranMu dan cahaya wajahMu agar Engkau menyinari hatiku dan membersihkan badanku, sesungguhnya tidak ada yang dapat membantuku untuk mendapatkan kebenaran selain Engkau, dan juga tidak ada yang bisa memberi kebenaran itu selainMu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Wahai Abu Al Hasan, engkau lakukan hal tersebut sebanyak tiga Jum’at atau lima atau tujuh niscaya engkau akan dikabulkan dengan idzin Allah.

Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, Allah tidak bakalan lupa memberi seorang mukmin.”

Abdullah bin Abbas berkata; demi Allah, Ali tidak berdiam kecuali hanya lima atau tujuh Jum’at hingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam majelis tersebut.

Kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, dahulu aku hanya mengambil empat ayat atau sekitar itu dan apabila aku membacanya dalam hatiku maka ayat tersebut hilang, dan sekarang aku mempelajari empat puluh ayat atau sekitar itu, dan apabila aku membacanya dalam hati maka seolah-olah Kitab Allah ada di depan mataku.

Dan dahulu aku mendengar hadits, apabila aku mengulangnya maka hadits tersebut hilang, dan sekarang aku mendengar beberapa hadits, kemudian apabila aku membacanya maka aku tidak mengurangi satu huruf pun darinya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Disaat demikian itu maka engkau adalah seorang mukmin demi Tuhan Pemilik Ka’bah wahai Abu Al Hasan.”

niat amal dan sampaikan 🙏

Agar menghapal Quran terasa Nikmat

📝 8 HAL AGAR MENGHAFAL AL-QUR’AN TERASA NIKMAT 🍎

Berikut ini adalah 8 hal yang insya Allah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an.

Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan.

Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“ustadz.. menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa hatam??”

“SEUMUR HIDUP” jawab ust. Deden dengan santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “targetnya ustadz???”

“targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN” jawab ust. Deden.

“Mm.. kalo pencapaiannya ustadz???” Ibu itu terus bertanya.

“pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH” kata ust. Deden.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau “CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari hawa nafsu dan syaithan”…

(Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu 1 jam per hari khusus untuk qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi 1 jam)

Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari 8 prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda2 pada tiap orang.

Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs yg mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun.

Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya,

Maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah.

Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar2 kita hafal.

Nikmati saja saat2 ini.. saat2 dimana kita bercengkrama dengan Allah.

1 jam lho.. untuk urusan duniawi 8 jam betah, hehe.

Toh 1 huruf 10 pahala bukan??

So jangan buru2…
Tapi ingat!

Juga bukan untuk ditunda2.. habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR.

Tapi kita sering mendengar kalimat “menghafal emang kudu sabar”, ya kan??

Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja.

Kesannya ayat2 itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat2 kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (hatam).

Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN.

Untuk apa hatam jika tidak pernah diulang??

Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat2 yg sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, tu ayat sebenarnya lagi kangen sama kita.

Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe.

Coba dibaca arti dan tafsirnya… bisa jadi tu ayat adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita.

Jangan buru2 suntuk dan sumpek ketika gak hafal2, senanglah jadi orang yang dirindukan ayat..

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya.

Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang2.

Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat.

Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake sendok nasi (entong) bikin muntah karena terlalu banyak.

Menghafalpun demikian.

Jika “amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “amma” diulang2, jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “anin nabail adzim” kemudian diulang2.

Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN“

Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yang ada di surat Ar-Rahman.

Sudah hampir separuh surat kita hafal.

Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal.

Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap.

Serahkan 1 jam kita pada Allah.. syukur2 bisa lebih dari 1 jam.

1 jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari…!!!
5 persen untuk qur’an

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita.

Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya).

Jangan dibiasakan otodidak untuk Al-Qur’an… dalam hal apapun yg berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NB: setiap point dari 1 – 8 saling terkait…

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi..
Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas, pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan.

Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama2 berkutat dalam mencari2 metode menghafal yang cocok dan pas, dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable.

Percayalah..
1 metode itu untuk 1 orang, si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y.

Dan yakini sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE.

Satu lagi.. seringkali teman kita menakut2i “jangan ngafal.. awas lho, kalo lupa dosa besar”.. hey, yang dosa itu MELUPAKAN, bukan LUPA.

Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar???

Oke ya…
Semoga kita masuk syurga dengan jalan menghafal Qur’an. Amiin…selamat menghafal.

Al Fatihah dan Artinya

Al Fatihah dan Artinya. tafsir al fatihah

Surat Al Fatihah merupakan surat yang turun di Mekkah. Oleh karenanya, surat ini masuk kategori surat Makiyyah. Surat yang terdiri dari 7 ayat ini disebut juga dengan nama Ummul Kitab.

Dalam keterangan lain; dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

“Alhamdu lillahi rabbil ‘alamina adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, Sab’ul Masani dan Al-Qur’anul Azim,” (HR At-Tirmidzi)

Al Fatihah juga dinamakan dengan sebutan Al-Hamdu. Surat ini juga disebut dengan nama Ash-Shalat. Hal ini didasarkan pada hadits,

“Aku bagikan shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Apabila seorang hamba mengucapkan, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), maka Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku” (Hadits)

Disebut Ash-Shalat, karena surat Al-Fatihah merupakan syarat di dalam shalat.

Surat Al-Fatihah dinamakan juga dengan syifa’, sebagaimana terdapat di dalam riwayat Ad-Darimi dari Abu Sa’id ra, Rasulullah saw bersabda, “Fatihatul Kitab (surat Al-Fatihah) merupakan obat penawar bagi segala jenis racun.”

Nama lain dari surat Al-Fatihah adalah ruqyah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih. Yaitu ketika Abu Sa’id sedang mengobati seorang laki-laki yang tersengat kalajengking. Ketika bertemu dengan Rasulullah, beliau bersabda, “Siapakah yang memberi tahu kamu bahwa surat Al-Fatihah itu adalah ruqyah.”

Masih banyak lagi nama-nama lain dari Surat Al-Fatihah. Ada yang menamakan dengan Asasul Qur’an (fondasi Al-Qur’an), Al-Waqiyah dan Al-Kafiyah. Selain itu, ada yang menamakannya dengan Al-Kanz.

Ada perbedaan pendapat tentang dimanakah turunnya surat Al-Fatihah. Ibnu Abbas ra., Qatadah dan Abul Aliyah berpendapat bahwa surat ini turun di Mekkah. Namun juga ada yang berpendapat bahwa surat Al-Fatihah merupakan surat Madaniyah alias turun di Madinah. Pendapat ini dianut merupakan pendapat Abu Hurairah ra, Mujahid, Ata Ibnu Yasar dan Az-Zuhri. Ada lagi yang berpendapat bahwa Surat Al-Fatihah turun dua kali. Pertama turun di Mekkah dan kedua turun di Madinah. Namun yang terkuat dan mendekati kebenaran adalah pendapat yang pertama, yaitu surat Al-Fatihah turun di Mekkah. Kesimpulan ini berdasarkan firman Allah,

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang,” (QS Al-Hijr (15):87)

Surat Al-Fatihah merupakan surat yang turun di Mekkah. Oleh karenanya, surat ini masuk kategori surat Makiyyah. Surat yang terdiri dari 7 ayat ini disebut juga dengan nama Ummul Kitab.

Dalam keterangan lain; dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Alhamdu lillahi rabbil ‘alamina adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, Sab’ul Masani dan Al-Qur’anul Azim,” (HR At-Tirmidzi)
Arti Dan Makna Surat Al-fatihah

Ayat 1:basmalah Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al FatihahBismillaahirrohmaanirohiim

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Ummu Salamah r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah membaca Bismillahirrahmanirrahim ketika membaca Fatihah dalam salat. (Hadis da’if Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh salat Nabi saw. membaca keras-keras Bismillahirrahmanirrahim. (HR. an-Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Imam Syafii dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Muawiyah ketika sembahyang di Madinah sebagai imam, tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim, maka ditegur oleh sahabat Muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi ia membaca Bismillahirrahmanirrahim.

Adapun dalam mazhab Imam Malik tidak membaca Basmalah berdasarkan hadis Aisyah r.a. yang berkata,

“Biasa Rasulullah saw. memulai salat dengan takbir dan bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin. (HR. Muslim).

Anas r.a. berkata, “Saya sembahyang di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin”. (Bukhari, Muslim).

Dan sunat membaca Bismillahirrahmanirrahim pada setiap perkataan dan perbuatan. karena sabda Nabi saw. yang berbunyi: “Tiap urusan (perbuatan) yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim maka terputus berkatnya.”

Juga sunat membaca Basmalah ketika wudu, karena sabda Nabi saw.:

“Tiada sempurna wudu orang yang tidak membaca Bismillah”

Dan sunat juga dibaca ketika menyembelih (membantai) binatang, juga sunat ketika makan, karena sabda Nabi saw. ke- ada Umar bin Abi Salamah yang berbunyi,

“Bacalah Bismillah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu”(HR.Muslim).

Juga membaca Basmalah ketika akan jima’ (bersetubuh) sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a. Rasullah saw. bersabda:

“Jika salah satu dari kamu akan bersetubuh (jima’) dengan istrinya membaca, “Dengan nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari rezeki yang Tuhan berikan kepada kami. Jika ditakdirkan mendapat anak maka anak tersebtu tidak mudah diganggu oleh setan untuk selamanya”. (HR. Bukhari, Muslim).

Bismillah ( Dengan nama ALLAH )

Dengan nama Allah. Susunan kalimat yang demikian ini dalam bahasa Arab berarti ada susunan kata-kata yang mendahuluinya yaitu: Aku mulai perbuatan ini dengan nama Allah, atau: Permulaan dalam perbuatanku ini dengan nama Allah; untuk mendapat berkat dan pertolongan rahmat Allah sehingga dapat selesai dengan sempurna dan baik. Juga untuk menyadari kembali sebagai makhluk Allah, bahawa segalanya bergantung kepada rahmat kurnia Allah. Hidup, mati dan daya upaya semata-semata terserah kepada rahmat kurnia Allah Azza wa Jalla.

ALLAH

Nama Zat Allah Ta’ala. Nama Allah khusus bagi Allah, tidak dinamakan pada zat yang lain selain Allah. Haram menamakan dengan nama Allah pada zat yang lain selain Allah melainkan dengan menyandarkan sesuatu seperti Abdullah (hamba Allah) atau Amatullah (hamba perempuan Allah).

Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Murah Yang Maha Penyayang)

Ar-Rahman (Yang Pemurah) yakni yang penuh rahmatNya kepada semua makhluk di dunia hingga di akhirat, kepada yang mukmin maupun yang kafir. Adapun Ar-Rahim (Yang Penyayang) khusus rahimNya buat kaum mukmin sahaja.

Firman Allah: “Arrahman alal arsyi istawa”, untuk menunjukkan bahwa rahmat Allah meliputi (memenuhi) seiuruh Arsy. Dan firman Allah: “Wa kaana bil mu’miniina rahiima” (Dan terhadap kaum mukminin sangat belas kasih).

Nama Rahman ini juga khusus bagi Allah, tidak dapat dipakai oleh lain-lainNya. Karena itu ketika Musailama al-Kadzdzab berani menamakan dirinya Rahmanul Yamamah, maka Allah membuka kepalsuan dan kedustaannya, sehingga dikenal di tengah-tengah masyarakat Musailamah al-Khadzdzab bukan sahaja bagi penduduk kota bahkan orang-orang Baduwi juga menyebutnya Musailamah al-Khadzdzab iaitu Musailamah Yang Pembohong.

Kesimpulan di dalam asma (nama-nama) Allah ada yang dapat dipakai oleh lain-Nya dan ada juga yang tidak dapat dipakai oleh lain-Nya seperti Allah, Ar-Rahman, Al-Khalik, Ar-Razak dan lain-lainnya. Dan yang boleh seperti Ar-Rahim, As-Sami’, Al-Bashir seperti firman Allah, “Faja’alnaahu samii’an bashiira” (Maka Kami jadikan manusia itu mendengar lagi melihat).

Ayat 2:

hamdalah1 Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al FatihahAlhamdu lillaahi robbil ‘alamiin

“Segala puja dan puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara alam semesta.”

Ibn Jarir berkata, “Alhamdu lillah, syukur yang ikhlas melulu kepada Allah tidak kepada lain-lain-Nya daripada makhluk-Nya, syukur itu karena nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba dan makhluk-Nya yang tidak dapat dihitung dan tidak terbatas, seperti alat anggota manusia untuk menunaikan kewajiban taat kepada-Nya, di samping rezeki yang diberikan kepada semua makhluk manusia, jin dan binatang dari berbagai perlengkapan hidup, karena itulah maka pujian itu sejak awal hingga akhirnya tetap pada Allah semata-mata.

Alhamdullilah

Puji-pujian ada empat :

1. Pujian Allah kepada Allah (Dzatnya sendiri)
2. Puji Allah kepada makhluk (ciptaanNya)
3. Puji makhluk kepada Allah
4. Puji makhluk kepada makhluk

Semua pujian ini hakikatnya kembali kepada Allah oleh sebab itu segala puji bagi Allah

Pujian Allah pada diri-Nya, yang mengandung tuntunan kepada hamba-Nya supaya mereka memuji Allah seperti seakan-akan perintah Allah, “Bacalah olehmu Alhamdulillah”.

Alhamd pujian dengan lidah terhadap sifat-sifat pribadi, maupun sifat yang menjalar kepada orang lain, sebaliknya syukur itu pujian terhadap sifat yang menjalar, tetapi syukur dapat dilaksanakan dengan hati, lidah dan anggota badan. Alhamd berarti memuji sifat keberanian, kecerdasan-Nya atau karena pemberian-Nya. Syukur khusus untuk pemberian-Nya. Alhamd (puji) lawan kata Adzzam (cela).

Ibn Abbas r.a. berkata, Umar r.a. berkata kepada sahabat- sahabat, “Kami telah mengerti dan mengetahui kalimat Subanallah, laa ilaha illallah dan Allahu Akbar, maka apakah Alhamdu Lillahi itu?” Jawab Ali r.a., “Suatu yang dipilih oleh Allah untuk memuji Zat-Nya”.

Ibn Abbas berkata, ‘Alhamdu Lillah kalimat syukur, maka jika seorang membaca Alhamdu Lillah, Allah menjawab, “HambaKu telah syukur pada-Ku”.

Jabir bin Abdullah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda: Seutama-utamanya zikir ialah “La ilaha illallah”, dan seutama-utamanya doa ialah “Alhamdu Lillah”. (HR. at-Tirmidzi, hadis Hasan Gharib).

Anas. bin Malik r.a. berkata, Nabi saw. bersabda: Tiadalah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba- Nya, kemudian hamba itu mengucap “Alhamdulillah”, melainkan apa yang diberi itu lebih utama (afdhal) dari yang ia terima. Maksudnya ucapan “Alhamdulillah” lebih besar nilainya dari nikmat dunia itu). (HR. Ibnu Majah).

Anas r.a. juga meriwayatkan Nabi saw. bersabda, “Andaikan dunia sepenuhnya ini di tangan seorang dari umatku kemudian ia membaca ‘Alhamdulillah’ maka pasti kalimat Alhamdulillah lebih besar dari dunia yang di tangannya itu”. Awalan ‘Al’ dalam kalimat Al-hamdu berarti segala jenis puja dan puji bagi Allah. Sebagaimana tersebut dalam hadis “Allahumma lakal hamdu kulluhu walakal mulku kulluhu wa biyadikal khair kullihi wa ilaika yar ji’ul amru kulluhu” (Ya Allah bagi-Mu segala puji semuanya, dan bagi-Mu kerajaan semuanya dan di tangan-Mu kebaikan semuanya, dan kepada-Mu kembali segala urusan semuanya).

Rabb

Berarti pemilik yang berhak penuh, juga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan, dan semua makhluk alam semesta.

Alamin

Alam ialah segala sesuatu selain Allah. Maka Allah; Rabb dari semua alam itu sebagai pencipta, yang memelihara, memperbaiki dan menjamin. Sebagaimana tersebut dalam surat asy- Syu’araa 23-24.

Fir’aun bertanya, “Apakah rabbul alamin itu?”

Jawab Musa, “Tuhan Pencipta, Pemelihara penjamin langit dan bumi dan apa saja yang di antara keduanya, jika kalian mahu percaya dan yakin.”

Alam itu juga pecahan dari alamat (tanda) sebab alam ini semua menunjukkan dan membuktikan kepada orang yang memperhatikannya sebagai tanda adanya Allah Tuhan yang menjadikannya.

Ayat 3:

arohman Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al Fatihah Arrohmaanirrohiim

“Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.”

Ar-Rahman; yang memberi nikmat yang sebesar-besarnya seperti nikmat makan, minum, harta benda dan lain-lain.

Ar-Rahim; yang memberi nikmat yang halus sehingga tidak terasa, seperti nikmat iman dan islam. Jika anda akan menghitung nikmat kurnia Allah maka takkan dapat menghitungnya.

Ayat 4:

maliki Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al Fatihah

Malikiyaumiddiin atau maaliki yaumiddiin

“Raja yang menguasai hari pembalasan”

Maliki

Dapat dibaca: Maliki (Raja), dan Maaliki (Pemilik – Yang Memiliki).

Maaliki sesuai dengan ayat: “Sesungguhnya Kami yang mewarisi bumi dan semua yang di atasnya, dan kepada Kami mereka akan kembali.” (Maryam 40).

Maliki sesuai dengan ayat: Katakanlah, “Aku berlindung dengan Tuhannya manusia. Rajanya manusia”. (an-Naas 1-2)

“Bagi siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Bagi Allah Yang Esa yang memaksa (perkasa).” (al-Mu’min = Ghafir 16).

Kerajaan yang sesungguhnya pada hari itu hanya bagi Ar: Rahman. (al-Furqan 26).

Ad-Din (Pembalasan dan Perhitungan).

Sesuai dengan ayat: “Apakah kami akan dibalas (diperhitungkan)”. (as-Shafaat 53).

Umar r.a. berkata, “Adakan perhitungan bagi (hitunglah) dirimu sebelum kamu dihisab (diperhitungkan) dan pertimbangkan untuk dirimu sebelum kamu ditimbang, dan siap-siaplah untuk menghadapi perhitungan yang besar, menghadap kepada Tuhan yang tidak tersembunyi pada-Nya sedikit pun dari amal perbuatanmu. Pada hari kiamat kelak kalian akan dihadapkan kepada Tuhan dan tidak tersembunyi pada-Nya suatu apa pun.”

Ayat 5:

iyaka Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al Fatihah

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.”

“Hanya kepadaMu (Allah) kami mengabdi (menyembah) dan hanya kepada-Mu pula kami minta pertolongan.”

Adh-Dhahaak dari Ibn Abbas berkata, “Iyyaka na’budu bermaksud Kepada-Mu kami menyembah mengesakan dan takut dan berharap, wahai Tuhan tidak ada lain-Mu”. Dan Iyyaka nasta’in bermaksud “Kami minta tolong kepada-Mu untuk menjalankan taat dan untuk mencapai semua hajat kepentinganku”

Qatadah berkata : Dalam Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allah menyuruh supaya tulus ikhlas dalam melakukan ibadat kepada Allah dan supaya benar-benar mengharap bantuan pertolongan Allah dalam segala urusan.”

Dalam kalimat ini didahulukan kata iyyaka (Hanya kepadaMu) kemudian na’budu (kami menyembah) terdapat penekanan makna kekhususan jika dibandingkan dengan kebalikannya na’budu iyyaka.

Kemudian kata na’budu lebih dulu dari kata nasta’in, mengandung makna sudah selayaknya kita mendahulukan peribadahan kepada Allah dari pada memohon pertolongan dariNya. Sebab tidak sopan dan kurang tata krama seorang hamba meminta gaji atau bayaran atau pertolongan kepada majikannya sebelum dia melakukan perintah majikan tersebut. Hal ini hendaknya dipahami oleh manusia yang mengaku sebagai hamba Allah. Kerjakan dulu perintah Big Boss baru kemudian minta bayaran atau kalau sabar tunggu saja pasti Big Boss akan memberi bayaran tanpa harus diminta.

Ayat 6:

ihdina Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al FatihahIhdinashshiroothol mustaqim

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Shiraathal mustaqiim, jalan yang lurus yang tidak berliku-liku. Shiraatal mustaqiim, ialah mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah saw.

Juga berarti Kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,”Asshiratul mustaqiim kitabullah’.

Juga berarti Islam, sebagai agama Allah yang tidak akan diterima lainnya.

An Nawas bin Sam’aan r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Allah mengadakan contoh perumpamaan suatu jalan (shirrat) yang lurus, sedang di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka, pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, “Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu diperingatkan, ‘Celaka anda, jangan membuka, sungguh jika anda membuka pasti akan masuk’. Shiraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah- sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dan seruan diatas shirat ialah seruan nasihat dalam hati tiap orang muslim. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i).

Tujuan ayat ini minta taufik hidayah semoga tetap mengikuti apa yang diridhai Allah, sebab siapa yang mendapat taufik hidayat untuk apa yang diridai Allah maka ia termasuk golongan mereka yang mendapa nikmat dari Allah dari golongan Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan siapa yang mendapat taufik hidayah sedemikian itu berarti ia benar-benar seorang muslim yang berpegang pada kitab Allah dan sunnaturrasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan syareat agama.

Jika ditanya, “Mengapakah seorang mukmin harus minta hidayah, padahal ia shalat itu berarti hidayah?”
Jawabnya, “Seorang memerlukan hidayah itu pada setiap saat dan dalam segala hal keadaan kepada Allah supaya tetap terus terpimpin oleh hidayah Tuhan itu, karena itulah Allah menunjukkan jalan kepadanya supaya minta kepada Allah untuk mendapat hidayah, taufik dan pimpinan-Nya. Maka seorang yang bahagia hanyalah orang yang selalu mendapat taufik hidayah Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam ayat 136, surat an-Nisa: “Hal orang beriman percayalah kepada Allah dan Rasulullah” (an-Nisa 136).

Dalam ayat ini orang mukmin disuruh beriman, yang maksudnya supaya terus tetap imannya dan melakukan semua perintah dan menjauhi larangan, jangan berhenti di tengah jalan, yakni istiqamah hingga mati.

Ayat 7:

SIROTOL Makna, Fadhilah Dan Khasiat Surat Al Fatihah

Shiraathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhaallin

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Inilah maksud jalan yang lurus itu, yaitu jalan yang dahulu sudah pernah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat rida dan nikmat Allah ialah mereka yang tersebut dalam ayat 69 an-Nisa:

“Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasulullah maka mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin, dan merekalah sebaik-baik kawan.” (an-Nisa 69)

Dilanjutkan oleh Allah dengan ayat:

“Dzalikal fadh lu minallahi wakafa billahi aliimaa” (Itulah kurnia Allah dan cukup Allah yang Maha Mengetahui.)

Ibnu Abbas berkata, “Jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Tuhan kepada mereka sehingga dapat menjalankan taat ibadat serta istiqamah seperti Malaikat, Nabi-nabi, Shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Bukan jalan orang-orang dimurkai atas mereka, yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran hak tetapi tidak melaksanakannya seperti orang-orang Yahudi, mereka telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya, juga bukan jalan orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengetahui.

Ady bin Hatim r.a. bertanya kepada Nabi saw., “Siapakah yang dimurkai Allah itu?” Jawab Nabi saw., “Alyahud (Yahudi)”. “Dan siapakah yang sesat itu?” Jawab Nabi saw. “An-Nashara (Kristen/Nasrani)”.

Orang Yahudi disebut dalam ayat “Man la’anahullahu wa ghadhiba alaihi”(Orang yang dikutuk (dilaknat) oleh Allah dan dimurkai, sehingga dijadikan di antara mereka kera dan babi).

Orang Nashara disebut dalam ayat “Qad dhallu min qablu, wa adhallu katsiera wa dhallu an sawaa issabiil” (Mereka yang telah sesat sejak dahulu, dan menyesatkan orang banyak, dan tersesat dari jalan yang benar.)

Kesimpulan :

Surat ini hanya tujuh ayat, mengandung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, lalu menyebut hal Hari Kemudian, pembalasan dan tuntutan, kemudian menganjurkan kepada hamba supaya meminta kepada Allah dan merendah diri pada Allah, serta lepas bebas dari daya kekuatan diri menuju kepada tulus ikhlas dalam melakukan ibadat dan tauhid pada Allah, kemudian menganjurkan kepada hamba sahaya selalu minta hidayah taufik dan pimpinan Allah untuk dapat mengikuti shirat mustaqiim supaya dapat tergolong dari golongan hamba-hamba Allah yang telah mendapat nikmat dari golongan Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Shalihin. Juga mengandung anjuran supaya berlaku baik mengerjakan amal saleh jangan sampai tergolong orang yang dimurkai atau tersesat dari jalan Allah.

Tiga Langkah Menumbuhkan Kecintaan Anak Baca Al Quran

Tiga Langkah Menumbuhkan Kecintaan Anak Baca Al Quran. Subhanallah, betapa indahnya keluarga yang ayah, ibu, dan anak-anaknya, seluruhnya memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an

Pertama, mengajak anak untuk mengerti keutamaan-keutamaan dari membaca Al-Qur’an. Allah Ta’ala tidak pernah memberikan perintah, melainkan telah disiapkan balasan kebaikan-kebaikan yang luar biasa, termasuk dalam hal membaca Al-Qur’an.

Rasulullah bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan ‘Alif-Laam-Miim’ satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian, sabdanya, “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad).

Hadits kedua ini tepat untuk memotivasi anak memanfaatkan sebagian malamnya untuk membaca Al-Qur’an. “Setidaknya 100 ayat nak kamu baaca di waktu malam, insya allah kamu akan dapat pahala seperti orang sholat sepanjang malam,” begitu mungkin sekedar contoh dalam mendorong anak-anak kita mengamalkannya.

Dan, sampaikanlah keutamaan terbesar dari membaca Al-Qur’an ini kepada anak kita, “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

Kedua, bangun budaya membaca Al-Qur’an di dalam rumah sendiri. Orangtua tentu sangat ingin anak-anaknya gemar membaca Al-Qur’an. Tetapi sangat tidak pantas jika anak diharap cinta Al-Qur’an, sementara orangtua justru tidak berusaha memberi teladan.

Oleh karena itu, sejatinya tidak ada alasan untuk tidak bisa membangun budaya mulia ini. Mulai saja secara bersama-sama. Ayah, ibu, anak, semuanya membiasakan diri membaca Al-Qur’an bersama setiap lepas Maghrib sampai Isya’.

Lebih baik lagi, jika selepas Isya’ hingga terasa mengantuk. Hal ini akan sangat baik, mengingat jam-jam tersebut banyak sekali acara di televisi yang kurang tepat bagi tumbuh kembangnya iman dari anak-anak kita.

Mungkin, pada awal kali mencoba, membangun budaya ini terasa berat. Tetapi, semua bisa dilakukan dengan enjoy karena kebiasaan. Oleh karena itu, berat di awal jangan sampai menghalangi kita dari membudayakannya bersama anak-anak, di rumah kita sendiri.

Ketiga, mengambil pelajaran dari keluarga yang menghafal Al-Qur’an. Sekedar membaca mungkin akan menimbulkan kesan monoton. Untuk itu sangat penting orangtua mencari referensi keluarga penghafal Al-Qur’an.

Di negeri ini sudah mulai bermunculan keluarga-keluarga yang anak-anak dan orangtuanya penghafal Al-Qur’an. Selain itu juga sudah mulai cukup banyak pesantren tahfidz. Dengan demikian, langkah kita untuk mendapat pelajaran dari mereka yang telah membuktikannya, bukan lagi suatu yang sulit. Tinggal kemauan semata.

Jika memang ada referensi, jangan sungkan untuk bersilaturrahim dengan keluarga yang anak-anaknya hafal Al-Qur’an. Keluarga itu tentu memiliki pengalaman hidup yang sangat berguna bagi kita yang baru berupaya membangun budaya membaca Al-Qur’an bersama anak di rumah sendiri.

Kita bisa dialog dengan mereka, bagaimana perjuangannya menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an, sehingga anak-anaknya bisa hafal Al-Qur’an. Jika sudah dilakukan, kita bisa meminta bantuan doa kepadanya, agar kita dan anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Qur’an.

Subhanallah, betapa indahnya keluarga yang ayah, ibu, dan anak-anaknya, seluruhnya memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, sehingga senantiasa membacanya. Dan, tidak ada waktu yang dilalui, melainkan senantiasa ada ayat-ayat Al-Qur’an yang disenandungkan. Kemudian tidak berpikir, berbicara dan bertindak, kecuali sesuai tuntunan Al-Qur’an. Wallahu a’lam.*

Surah Yunus dan Terjemahan

Surah Yunus dan Terjemahan

Terbawah

  

Surat 10: Yunus

(Yunus)

 

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang)

 

 

No.

Teks terjemahan

Teks Qur’an dan latinnya

001

“Alif Laam Raa’. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah.” – (QS.10:1)

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

Alif laam raa tilka aayaatul kitaabil hakiim(i)

002

“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia, bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: ‘Berilah peringatan kepada manusia, dan gembirakanlah orang-orang beriman, bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-mereka’. Orang-orang kafir itu berkata: ‘Sesungguhnya orang ini (Muhammad saw) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata’.” – (QS.10:2)

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ

Akaana li-nnaasi ‘ajaban an auhainaa ila rajulin minhum an andzirinnaasa wabasy-syiril-ladziina aamanuu anna lahum qadama shidqin ‘inda rabbihim qaalal kaafiruuna inna hadzaa lasaahirun mubiinun

003

“Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (kedudukan) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafaat, kecuali sesudah ada keijinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Rabb-kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran.” – (QS.10:3)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

Inna rabbakumullahul-ladzii khalaqas-samaawaati wal ardha fii sittati ai-yaamin tsummaastawa ‘alal ‘arsyi yudabbirul amra maa min syafii’in ilaa min ba’di idznihi dzalikumullahu rabbukum faa’buduuhu afalaa tadzakkaruun(a)

004

“Hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan kembali; sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya, kemudian mengulanginya kembali (berkembang-biak, menghidupkan dan mematikan), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman, dan yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas, dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” – (QS.10:4)

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Ilaihi marji’ukum jamii’an wa’dallahi haqqan innahu yabdaul khalqa tsumma yu’iiduhu liyajziyal-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati bil qisthi waal-ladziina kafaruu lahum syaraabun min hamiimin wa’adzaabun aliimun bimaa kaanuu yakfuruun(a)

005

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu, melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” – (QS.10:5)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Huwal-ladzii ja’alasy-syamsa dhiyaa-an wal qamara nuuran waqaddarahu manaazila lita’lamuu ‘adadassiniina wal hisaaba maa khalaqallahu dzalika ilaa bil haqqi yufash-shiluaayaati liqaumin ya’lamuun(a)

006

“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” – (QS.10:6)

إِنَّ فِي اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

Inna fiiikhtilaa-fillaili wannahaari wamaa khalaqallahu fiis-samaawaati wal ardhi li-aayaatin liqaumin yattaquun(a)

007

“Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu. Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,” – (QS.10:7)

إِنَّ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ

Innal-ladziina laa yarjuuna liqaa-anaa waradhuu bil hayaatiddunyaa wa-athmaannuu bihaa waal-ladziina hum ‘an aayaatinaa ghaafiluun(a)

008

“mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” – (QS.10:8)

أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Uula-ika ma’waahumunnaaru bimaa kaanuu yaksibuun(a)

009

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb-mereka, karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai, di dalam surga yang penuh kenikmatan.” – (QS.10:9)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Innal-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati yahdiihim rabbuhum biiimaanihim tajrii min tahtihimul anhaaru fii jannaatinna’iim(i)

010

“Do’a mereka di dalamnya ialah: ‘Subhanakallahumma’, dan salam penghormatan mereka ialah: ‘Salaam’. Dan penutup do’a mereka ialah: ‘Alhamdulillaahi Rabbil’aalamin’.” – (QS.10:10)

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Da’waahum fiihaa subhaanakallahumma watahii-yatuhum fiihaa salaamun wa-aakhiru da’waahum anil hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin(a)

011

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.” – (QS.10:11)

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Walau yu’ajjilullahu li-nnaasisy-syarraasti’jaalahum bil khairi laqudhiya ilaihim ajaluhum fanadzarul-ladziina laa yarjuuna liqaa-anaa fii thughyaanihim ya’mahuun(a)

012

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” – (QS.10:12)

وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Wa-idzaa massa-insaanadh-dhurru da’aanaa lijanbihi au qaa’idan au qaa-iman falammaa kasyafnaa ‘anhu dhurrahu marra kaan lam yad’unaa ila dhurrin massahu kadzalika zui-yina lilmusrifiina maa kaanuu ya’maluun(a)

013

“Dan sesungguhnya, Kami telah membinasakan, umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal Rasul-Rasul mereka telah datang kepada mereka, dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan, kepada orang-orang yang berbuat dosa.” – (QS.10:13)

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

Walaqad ahlaknaal quruuna min qablikum lammaa zhalamuu wajaa-athum rusuluhum bil bai-yinaati wamaa kaanuu liyu’minuu kadzalika najziil qaumal mujrimiin(a)

014

“Kemudian Kami jadikan kamu (Muhammad) pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kamu memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” – (QS.10:14)

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Tsumma ja’alnaakum khalaa-ifa fiil ardhi min ba’dihim linanzhura kaifa ta’maluun(a)

015

“Dan apabila dibacakan kepada mereka, ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, berkata: ‘Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini, atau gantilah dia’. Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya, dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut, jika mendurhakai Rabb-ku, (akan membawaku) kepada siksa hari yang besar (kiamat)’.” – (QS.10:15)

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Wa-idzaa tutla ‘alaihim aayaatunaa bai-yinaatin qaalal-ladziina laa yarjuuna liqaa-anaaa-ati biquraanin ghairi hadzaa au baddilhu qul maa yakuunu lii an ubaddilahu min tilqaa-i nafsii in attabi’u ilaa maa yuuha ilai-ya innii akhaafu in ‘ashaitu rabbii ‘adzaaba yaumin ‘azhiimin

016

“Katakanlah: ‘Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu, dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu’. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu, beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?.” – (QS.10:16)

قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلا أَدْرَاكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Qul lau syaa-allahu maa talautuhu ‘alaikum walaa adraakum bihi faqad labitstu fiikum ‘umuran min qablihi afalaa ta’qiluun(a)

017

“Maka siapakah yang lebih zalim, daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap (tentang) Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Sesungguhnya tiadalah beruntung, orang-orang yang berbuat dosa.” – (QS.10:17)

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ

Faman azhlamu mimmaniiftara ‘alallahi kadziban au kadz-dzaba biaayaatihi innahu laa yuflihul mujrimuun(a)

018

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka, dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’. Katakanlah: ‘Apakah kamu mengkhabarkan kepada (tentang) Allah, apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi’. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi, dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” – (QS.10:18)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Waya’buduuna min duunillahi maa laa yadhurruhum walaa yanfa’uhum wayaquuluuna ha’ulaa-i syufa’aa’unaa ‘indallahi qul atunabbi-uunallaha bimaa laa ya’lamu fiis-samaawaati walaa fiil ardhi subhaanahu wata’aala ‘ammaa yusyrikuun(a)

019

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabb-mu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” – (QS.10:19)

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Wamaa kaanannaasu ilaa ummatan waahidatan faakhtalafuu walaulaa kalimatun sabaqat min rabbika laqudhiya bainahum fiimaa fiihi yakhtalifuun(a)

020

“Dan mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad), suatu keterangan (mu’jizat) dari Rabb-nya?’. Maka katakanlah: ‘Sesungguhnya yang gaib itu kepunyaan Allah; sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu, termasuk orang-orang yang menunggu’.” – (QS.10:20)

وَيَقُولُونَ لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

Wayaquuluuna laulaa unzila ‘alaihi aayatun min rabbihi faqul innamaal ghaibu lillahi faantazhiruu innii ma’akum minal muntazhiriin(a)

021

“Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu-daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah: ‘Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu-daya itu)’. Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu-dayamu.” – (QS.10:21)

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ إِذَا لَهُمْ مَكْرٌ فِي آيَاتِنَا قُلِ اللَّهُ أَسْرَعُ مَكْرًا إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ

Wa-idzaa adzaqnaannaasa rahmatan min ba’di dharraa-a massathum idzaa lahum makrun fii aayaatinaa qulillahu asra’u makran inna rusulanaa yaktubuuna maa tamkuruun(a)

022

“Dialah yang menjadikan kamu, dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu, membawa orang-orang yang ada di dalamnya, dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin, bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): ‘Sesungguhnya, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur’.” – (QS.10:22)

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Huwal-ladzii yusai-yirukum fiil barri wal bahri hatta idzaa kuntum fiil fulki wajaraina bihim biriihin thai-yibatin wafarihuu bihaa jaa-athaa riihun ‘aashifun wajaa-ahumul mauju min kulli makaanin wazhannuu annahum uhiitha bihim da’awuullaha mukhlishiina lahuddiina la-in anjaitanaa min hadzihi lanakuunanna minasy-syaakiriin(a)

023

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami khabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” – (QS.10:23)

فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Falammaa anjaahum idzaa hum yabghuuna fiil ardhi bighairil haqqi yaa ai-yuhaannaasu innamaa baghyukum ‘ala anfusikum mataa’al hayaatiddunyaa tsumma ilainaa marji’ukum fanunabbi-ukum bimaa kuntum ta’maluun(a)

024

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan), yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya, karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira, bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami, di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya), laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami), kepada orang-orang yang berpikir.” – (QS.10:24)

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Innamaa matsalul hayaatiddunyaa kamaa-in anzalnaahu minassamaa-i faakhtalatha bihi nabaatul ardhi mimmaa ya’kulunnaasu wal an’aamu hatta idzaa akhadzatil ardhu zukhrufahaa waazzai-yanat wazhanna ahluhaa annahum qaadiruuna ‘alaihaa ataahaa amrunaa lailaa au nahaaran faja’alnaahaa hashiidan kaan lam taghna bil amsi kadzalika nufash-shiluaayaati liqaumin yatafakkaruun(a)

025

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya, kepada jalan yang lurus (Islam).” – (QS.10:25)

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Wallahu yad’uu ila daarissalaami wayahdii man yasyaa-u ila shiraathin mustaqiimin

026

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam, dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” – (QS.10:26)

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Lil-ladziina ahsanuul husna waziyaadatun walaa yarhaqu wujuuhahum qatarun walaa dzillatun uula-ika ashhaabul jannati hum fiihaa khaaliduun(a)

027

“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, (mendapat) balasan yang setimpal, dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang (pelindung)-pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi, dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” – (QS.10:27)

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Waal-ladziina kasabuussai-yi-aati jazaa-u sai-yi-atin bimitslihaa watarhaquhum dzillatun maa lahum minallahi min ‘aashimin kaannamaa ughsyiyat wujuuhuhum qitha’an minallaili muzhliman uula-ika ashhaabunnaari hum fiihaa khaaliduun(a)

028

“(Ingatlah) suatu hari (kiamat, ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb): ‘Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu itu di tempat-tempatmu itu’. Lalu Kami pisahkan mereka, dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: ‘Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.” – (QS.10:28)

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا مَكَانَكُمْ أَنْتُمْ وَشُرَكَاؤُكُمْ فَزَيَّلْنَا بَيْنَهُمْ وَقَالَ شُرَكَاؤُهُمْ مَا كُنْتُمْ إِيَّانَا تَعْبُدُونَ

Wayauma nahsyuruhum jamii’an tsumma naquulu lil-ladziina asyrakuu makaanakum antum wasyurakaa’ukum fazai-yalnaa bainahum waqaala syurakaa’uhum maa kuntum ii-yaanaa ta’buduun(a)

029

“Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dan kamu, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami)’.” – (QS.10:29)

فَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ إِنْ كُنَّا عَنْ عِبَادَتِكُمْ لَغَافِلِينَ

Fakafa billahi syahiidan bainanaa wabainakum in kunnaa ‘an ‘ibaadatikum laghaafiliin(a)

030

“Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan, dari apa yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka, apa yang mereka ada-adakan.” – (QS.10:30)

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلاهُمُ الْحَقِّ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Hunaalika tabluu kullu nafsin maa aslafat warudduu ilallahi maulaahumul haqqi wadhalla ‘anhum maa kaanuu yaftaruun(a)

031

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rejeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (memberi) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan (menjadikan) yang hidup dari yang mati (ditiupkan-Nya ruh) dan yang mengeluarkan (menjadikan) yang mati dari yang hidup (diangkat-Nya ruh), dan siapakah yang mengatur segala urusan’. Maka mereka menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’.” – (QS.10:31)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

Qul man yarzuqukum minassamaa-i wal ardhi am man yamlikussam’a wal abshaara waman yukhrijul hai-ya minal mai-yiti wayukhrijul mai-yita minal hai-yi waman yudabbirul amra fasayaquuluunallahu faqul afalaa tattaquun(a)

032

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah, Rabb-kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?.” – (QS.10:32)

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Fadzalikumullahu rabbukumul haqqu famaadzaa ba’dal haqqi ilaadh-dhalalu fa-anna tushrafuun(a)

033

“Demikianlah telah tetap hukuman Rabb-mu, terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.” – (QS.10:33)

كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Kadzalika haqqat kalimatu rabbika ‘alaal-ladziina fasaquu annahum laa yu’minuun(a)

034

“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya kembali (berkembang-biak, menghidupkan dan mematikan)’ katakanlah: ‘Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (menyembah ilah selain Allah)’.” – (QS.10:34)

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

Qul hal min syurakaa-ikum man yabdaul khalqa tsumma yu’iiduhu qulillahu yabdaul khalqa tsumma yu’iiduhu fa-anna tu’fakuun(a)

035

“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu, ada yang menunjuki kepada kebenaran?’. Katakanlah: ‘Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran’. Maka apakah orang-orang (sesuatu) yang menunjuki (kamu) kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti, ataukah orang (sesuatu) yang tidak dapat memberi petunjuk, kecuali (bila) diberi petunjuk?. Mengapa kamu (berbuat demikian)?. Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?.” – (QS.10:35)

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمْ مَنْ لا يَهِدِّي إِلا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Qul hal min syurakaa-ikum man yahdii ilal haqqi qulillahu yahdii lilhaqqi afaman yahdii ilal haqqi ahaqqu an yuttaba’a am man laa yahiddii ilaa an yuhda famaa lakum kaifa tahkumuun(a)

036

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti, kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun, untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka kerjakan.” – (QS.10:36)

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Wamaa yattabi’u aktsaruhum ilaa zhannan innazh-zhanna laa yughnii minal haqqi syai-an innallaha ‘aliimun bimaa yaf’aluun(a)

037

“Tidaklah mungkin Al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam.” – (QS.10:37)

وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Wamaa kaana hadzaal quraanu an yuftara min duunillahi walakin tashdiiqal-ladzii baina yadaihi watafshiilal kitaabi laa raiba fiihi min rabbil ‘aalamiin(a)

038

“Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya’. Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya, dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil, (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar’.” – (QS.10:38)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Am yaquuluunaaftaraahu qul fa’tuu bisuuratin mitslihi waad’uu maniistatha’tum min duunillahi in kuntum shaadiqiin(a)

039

“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan, apa yang mereka belum mengetahuinya, dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka, telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat, (atas) orang-orang yang zalim itu.” – (QS.10:39)

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Bal kadz-dzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmihi walammaa ya’tihim ta’wiiluhu kadzalika kadz-dzabal-ladziina min qablihim faanzhur kaifa kaana ‘aaqibatuzh-zhaalimiin(a)

040

“Di antara mereka, ada orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabb-mu lebih mengetahui, tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.” – (QS.10:40)

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لا يُؤْمِنُ بِهِ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ

Waminhum man yu’minu bihi waminhum man laa yu’minu bihi warabbuka a’lamu bil mufsidiin(a)

041

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: ‘Bagiku pekerjaanku, dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan, dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan’.” – (QS.10:41)

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Wa-in kadz-dzabuuka faqul lii ‘amalii walakum ‘amalukum antum barii-uuna mimmaa a’malu wa-anaa bariyun mimmaa ta’maluun(a)

042

“Dan di antara mereka, ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar, walaupun mereka tidak mengerti?.” – (QS.10:42)

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ وَلَوْ كَانُوا لا يَعْقِلُونَ

Waminhum man yastami’uuna ilaika afaanta tusmi’ush-shumma walau kaanuu laa ya’qiluun(a)

043

“Dan di antara mereka, ada orang yang melihat kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan?.” – (QS.10:43)

وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْكَ أَفَأَنْتَ تَهْدِي الْعُمْيَ وَلَوْ كَانُوا لا يُبْصِرُونَ

Waminhum man yanzhuru ilaika afaanta tahdiil ‘umya walau kaanuu laa yubshiruun(a)

044

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia, sedikitpun, akan tetapi manusia itulah, yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” – (QS.10:44)

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Innallaha laa yazhlimunnaasa syai-an walakinnannaasa anfusahum yazhlimuun(a)

045

“Dan (ingatlah) akan hari yang (di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari, di waktu itu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” – (QS.10:45)

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Wayauma yahsyuruhum kaan lam yalbatsuu ilaa saa’atan minannahaari yata’aarafuuna bainahum qad khasiral-ladziina kadz-dzabuu biliqaa-illahi wamaa kaanuu muhtadiin(a)

046

“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah kamu akan melihatnya) atau (jika) Kami wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan.” – (QS.10:46)

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ

Wa-immaa nuriyannaka ba’dhal-ladzii na’iduhum au natawaffayannaka fa-ilainaa marji’uhum tsummallahu syahiidun ‘ala maa yaf’aluun(a)

047

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil, dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.” – (QS.10:47)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

Walikulli ummatin rasuulun fa-idzaa jaa-a rasuuluhum qudhiya bainahum bil qisthi wahum laa yuzhlamuun(a)

048

“Mereka mengatakan: ‘Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika kamu orang-orang yang benar?’.” – (QS.10:48)

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Wayaquuluuna mata hadzaal wa’du in kuntum shaadiqiin(a)

049

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan, dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah’. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya, barang sesaatpun, dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” – (QS.10:49)

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلا نَفْعًا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ

Qul laa amliku linafsii dharran walaa naf’an ilaa maa syaa-allahu likulli ummatin ajalun idzaa jaa-a ajaluhum falaa yasta’khiruuna saa’atan walaa yastaqdimuun(a)

050

“Katakanlah: ‘Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian, siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu, minta disegerakan juga?’.” – (QS.10:50)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُهُ بَيَاتًا أَوْ نَهَارًا مَاذَا يَسْتَعْجِلُ مِنْهُ الْمُجْرِمُونَ

Qul ara-aitum in ataakum ‘adzaabuhu bayaatan au nahaaran maadzaa yasta’jilu minhul mujrimuun(a)

051

“Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya?. Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta, supaya disegerakan?.” – (QS.10:51)

أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ آلآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

Atsumma idzaa maa waqa’a aamantum bihi aalaana waqad kuntum bihi tasta’jiluun(a)

052

“Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu: ‘Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan, melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan’.” – (QS.10:52)

ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

Tsumma qiila lil-ladziina zhalamuu dzuuquu ‘adzaabal khuldi hal tujzauna ilaa bimaa kuntum taksibuun(a)

053

“Dan mereka menanyakan kepadamu: ‘Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?’. Katakanlah: ‘Ya, demi Rabb-ku, sesungguhnya azab itu adalah benar, dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya)’.” – (QS.10:53)

وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

Wayastanbi-uunaka ahaqqun huwa qul ii warabbii innahu lahaqqun wamaa antum bimu’jiziin(a)

054

“Dan kalau setiap diri yang zalim (musyrik) itu mempunyai, segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya, ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka, dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.” – (QS.10:54)

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الأرْضِ لافْتَدَتْ بِهِ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

Walau anna likulli nafsin zhalamat maa fiil ardhi laaftadat bihi wa-asarruunnadaamata lammaa raawuul ‘adzaaba waqudhiya bainahum bil qisthi wahum laa yuzhlamuun(a)

055

“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah, apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).” – (QS.10:55)

أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Alaa inna lillahi maa fiis-samaawaati wal ardhi alaa inna wa’dallahi haqqun walakinna aktsarahum laa ya’lamuun(a)

056

“Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” – (QS.10:56)

هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Huwa yuhyii wayumiitu wa-ilaihi turja’uun(a)

057

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu, pelajaran dari Rabb-mu, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit, (yang berada) dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat, bagi orang-orang yang beriman.” – (QS.10:57)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Yaa ai-yuhaannaasu qad jaa-atkum mau’izhatun min rabbikum wasyifaa-un limaa fiish-shuduuri wahudan warahmatul(n)-lilmu’miniin(a)

058

“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik, dari apa yang mereka kumpulkan’.” – (QS.10:58)

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Qul bifadhlillahi wabirahmatihi fabidzalika falyafrahuu huwa khairun mimmaa yajma’uun(a)

059

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku, tentang rejeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal’. Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan ijin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap (tentang) Allah?’.” – (QS.10:59)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Qul ara-aitum maa anzalallahu lakum min rizqin faja’altum minhu haraaman wahalaalan qul aa-llahu adzina lakum am ‘alallahi taftaruun(a)

060

“Apakah dugaan orang-orang, yang mengada-adakan kebohongan terhadap (tentang) Allah, pada hari kiamat?. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia, (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” – (QS.10:60)

وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَشْكُرُونَ

Wamaa zhannul-ladziina yaftaruuna ‘alallahil kadziba yaumal qiyaamati innallaha ladzuu fadhlin ‘alannaasi walakinna aktsarahum laa yasykuruun(a)

061

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan, dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an, dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu, di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu, biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” – (QS.10:61)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَلا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Wamaa takuunu fii sya’nin wamaa tatluu minhu min quraanin walaa ta’maluuna min ‘amalin ilaa kunnaa ‘alaikum syuhuudan idz tufiidhuuna fiihi wamaa ya’zubu ‘an rabbika min mitsqaali dzarratin fiil ardhi walaa fiissamaa-i walaa ashghara min dzalika walaa akbara ilaa fii kitaabin mubiinin

062

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” – (QS.10:62)

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Alaa inna auliyaa-allahi laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun(a)

063

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” – (QS.10:63)

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Al-ladziina aamanuu wakaanuu yattaquun(a)

064

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” – (QS.10:64)

لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Lahumul busyra fiil hayaatiddunyaa wafii-aakhirati laa tabdiila likalimaatillahi dzalika huwal fauzul ‘azhiim(u)

065

“Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya, kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.” – (QS.10:65)

وَلا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Walaa yahzunka qauluhum innal ‘izzata lillahi jamii’an huwassamii’ul ‘aliim(u)

066

“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah, semua yang ada di langit, dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti, kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.” – (QS.10:66)

أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

Alaa inna lillahi man fiis-samaawaati waman fiil ardhi wamaa yattabi’ul-ladziina yad’uuna min duunillahi syurakaa-a in yattabi’uuna ilaazh-zhanna wa-in hum ilaa yakhrushuun(a)

067

“Dialah yang menjadikan malam bagi kamu, supaya kamu beristirahat padanya, dan (menjadikan) siang terang-benderang, (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya, pada yang demikian +itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), bagi orang-orang yang mendengar.” – (QS.10:67)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Huwal-ladzii ja’ala lakumullaila litaskunuu fiihi wannahaara mubshiran inna fii dzalika li-aayaatin liqaumin yasma’uun(a)

068

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Allah mempunyai anak’. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap (tentang) Allah, apa yang tidak kamu ketahui?.” – (QS.10:68)

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَذَا أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

Qaaluuuut-takhadzallahu waladan subhaanahu huwal ghanii-yu lahu maa fiis-samaawaati wamaa fiil ardhi in ‘indakum min sulthaanin bihadzaa ataquuluuna ‘alallahi maa laa ta’lamuun(a)

069

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap (tentang) Allah, tidak beruntung’.” – (QS.10:69)

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

Qul innal-ladziina yaftaruuna ‘alallahil kadziba laa yuflihuun(a)

070

“(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka, siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.” – (QS.10:70)

مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Mataa’un fiiddunyaa tsumma ilainaa marji’uhum tsumma nudziiquhumul ‘adzaabasy-syadiida bimaa kaanuu yakfuruun(a)

071

“Dan bacakanlah kepada mereka berita penting, tentang Nuh, di waktu dia berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku), dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu, dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” – (QS.10:71)

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلا تُنْظِرُونِ

Waatlu ‘alaihim nabaa nuuhin idz qaala liqaumihi yaa qaumi in kaana kabura ‘alaikum maqaamii watadzkiirii biaayaatillahi fa’alallahi tawakkaltu fa-ajmi’uu amrakum wasyurakaa-akum tsumma laa yakun amrukum ‘alaikum ghummatan tsummaaqdhuu ilai-ya walaa tunzhiruun(i)

072

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun, darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh, supaya aku termasuk golongan, orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)’.” – (QS.10:72)

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Fa-in tawallaitum famaa saaltukum min ajrin in ajriya ilaa ‘alallahi wa-umirtu an akuuna minal muslimiin(a)

073

“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia, dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” – (QS.10:73)

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

Fakadz-dzabuuhu fanajjainaahu waman ma’ahu fiil fulki waja’alnaahum khalaa-ifa wa-aghraqnaal-ladziina kadz-dzabuu biaayaatinaa faanzhur kaifa kaana ‘aaqibatul mundzariin(a)

074

“Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman, karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.” – (QS.10:74)

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ نَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِ الْمُعْتَدِينَ

Tsumma ba’atsnaa min ba’dihi rusulaa ila qaumihim fajaa-uuhum bil bai-yinaati famaa kaanuu liyu’minuu bimaa kadz-dzabuu bihi min qablu kadzalika nathba’u ‘ala quluubil mu’tadiin(a)

075

“Kemudian sesudah rasul-rasul itu, kami utus Musa dan Harun, kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mu’jizat-mu’jizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” – (QS.10:75)

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى وَهَارُونَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Tsumma ba’atsnaa min ba’dihim muusa wahaaruuna ila fir’auna wamala-ihi biaayaatinaa faastakbaruu wakaanuu qauman mujrimiin(a)

076

“Dan tatkala telah datang kepada mereka, kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata’.” – (QS.10:76)

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا إِنَّ هَذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ

Falammaa jaa-ahumul haqqu min ‘indinaa qaaluuu inna hadzaa lasihrun mubiinun

077

“Musa berkata: ‘Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran, waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?’, padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan’.” – (QS.10:77)

قَالَ مُوسَى أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ أَسِحْرٌ هَذَا وَلا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ

Qaala muusa ataquuluuna lilhaqqi lammaa jaa-akum asihrun hadzaa walaa yuflihussaahiruun(a)

078

“Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami, untuk memalingkan kami, dari apa yang kami dapati, (yang) nenek moyang kami mengerjakannya, dan (itu kalian lakukan) supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi, kami tidak akan mempercayai kamu berdua’.” – (QS.10:78)

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الأرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ

Qaaluuu aji-atanaa litalfitanaa ‘ammaa wajadnaa ‘alaihi aabaa-anaa watakuuna lakumaal kibriyaa-u fiil ardhi wamaa nahnu lakumaa bimu’miniin(a)

079

“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): ‘Datangkanlah kepadaku, semua ahli-ahli sihir yang pandai!’.” – (QS.10:79)

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ

Waqaala fir’aunuu-atuunii bikulli saahirin ‘aliimin

080

“Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: ‘Lemparkanlah, apa yang hendak kamu lemparkan’.” – (QS.10:80)

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ

Falammaa jaa-assaharatu qaala lahum muusa alquu maa antum mulquun(a)

081

“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada mereka: ‘Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak-benarannya’. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan.” – (QS.10:81)

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ

Falammaa alqau qaala muusa maa ji-atum bihissihru innallaha sayubthiluhu innallaha laa yushlihu ‘amalal mufsidiin(a)

082

“Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).” – (QS.10:82)

وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

Wayuhiqqullahul haqqa bikalimaatihi walau karihal mujrimuun(a)

083

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut, bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” – (QS.10:83)

فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

Famaa aamana limuusa ilaa dzurrii-yatun min qaumihi ‘ala khaufin min fir’auna wamala-ihim an yaftinahum wa-inna fir’auna la’aalin fiil ardhi wa-innahu laminal musrifiin(a)

084

“Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri’.” – (QS.10:84)

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

Waqaala muusa yaa qaumi in kuntum aamantum billahi fa’alaihi tawakkaluu in kuntum muslimiin(a)

085

“Lalu mereka berkata: ‘Kepada Allah-lah kami bertawakal!. Ya Rabb-kami, janganlah Engkau jadikan kami, sasaran fitnah bagi kaum yang zalim,” – (QS.10:85)

فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Faqaaluuu ‘alallahi tawakkalnaa rabbanaa laa taj’alnaa fitnatal(n)-lilqaumizh-zhaalimiin(a)

086

“dan selamatkanlah kami, dengan rahmat Engkau, dari (tipu-daya) orang-orang yang kafir’.” – (QS.10:86)

وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Wanajjinaa birahmatika minal qaumil kaafiriin(a)

087

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua, beberapa buah rumah di Mesir, untuk tempat tinggal bagi kaummu, dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat, dan dirikanlah olehmu shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman’.” – (QS.10:87)

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Wa-a-uhainaa ila muusa wa-akhiihi an tabau-waaa liqaumikumaa bimishra buyuutan waaj’aluu buyuutakum qiblatan wa-aqiimuush-shalaata wabasy-syiril mu’miniin(a)

088

“Musa berkata: ‘Ya Rabb-kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Rabb-kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Rabb-kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman, hingga mereka melihat siksaan yang pedih’.” – (QS.10:88)

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأهُ زِينَةً وَأَمْوَالا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ

Waqaala muusa rabbanaa innaka aataita fir’auna wamal-ahu ziinatan wa-amwaaalan fiil hayaatiddunyaa rabbanaa liyudhilluu ‘an sabiilika rabbanaaathmis ‘ala amwaalihim waasydud ‘ala quluubihim falaa yu’minuu hatta yarawuul ‘adzaabal aliim(a)

089

“Allah berfirman: ‘Sesungguhnya, telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus, dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti, jalan orang-orang yang tidak mengetahui’.” – (QS.10:89)

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Qaala qad ujiibat da’watukumaa faastaqiimaa walaa tattabi’aanni sabiilal-ladziina laa ya’lamuun(a)

090

“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: ‘Saya percaya, bahwa tidak ada Ilah, melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” – (QS.10:90)

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Wajaawaznaa bibanii israa-iilal bahra fa-atba’ahum fir’aunu wajunuuduhu baghyan wa’adwan hatta idzaa adrakahul gharaqu qaala aamantu annahu laa ilaha ilaal-ladzii aamanat bihi banuu israa-iila wa-anaa minal muslimiin(a)

091

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka, sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” – (QS.10:91)

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Aalaana waqad ‘ashaita qablu wakunta minal mufsidiin(a)

092

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran, bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia, lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” – (QS.10:92)

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

Fal yauma nunajjiika bibadanika litakuuna liman khalfaka aayatan wa-inna katsiiran minannaasi ‘an aayaatinaa laghaafiluun(a)

093

“Dan sesungguhnya, Kami telah menempatkan Bani Israil, di tempat kediaman yang bagus, dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabb-kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” – (QS.10:93)

وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّى جَاءَهُمُ الْعِلْمُ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Walaqad bau-wa’naa banii israa-iila mubau-waa shidqin warazaqnaahum minath-thai-yibaati famaaakhtalafuu hatta jaa-ahumul ‘ilmu inna rabbaka yaqdhii bainahum yaumal qiyaamati fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun(a)

094

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan, tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah, kepada orang-orang yang membaca kitab, sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu, dari Rabb-mu, sebab itu, janganlah sekali-kali, kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” – (QS.10:94)

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Fa-in kunta fii syakkin mimmaa anzalnaa ilaika faasalil-ladziina yaqrauunal kitaaba min qablika laqad jaa-akal haqqu min rabbika falaa takuunanna minal mumtariin(a)

095

“Dan sekali-kali janganlah kamu, termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi.” – (QS.10:95)

وَلا تَكُونَنَّ مِنَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Walaa takuunanna minal-ladziina kadz-dzabuu biaayaatillahi fatakuuna minal khaasiriin(a)

096

“Sesungguhnya orang-orang (para pendusta itu), yang telah pasti terhadap mereka, kalimat Rabb-mu, tidaklah akan beriman.” – (QS.10:96)

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ

Innal-ladziina haqqat ‘alaihim kalimatu rabbika laa yu’minuun(a)

097

“Meskipun datang kepada mereka, segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” – (QS.10:97)

وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ

Walau jaa-athum kullu aayatin hatta yarawuul ‘adzaabal aliim(a)

098

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota, yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus, Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka, azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka, sampai pada waktu yang tertentu.” – (QS.10:98)

فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

Falaulaa kaanat qaryatun aamanat fanafa’ahaa iimaanuhaa ilaa qauma yuunusa lammaa aamanuu kasyafnaa ‘anhum ‘adzaabal khizyi fiil hayaatiddunyaa wamatta’naahum ila hiinin

099

“Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang, yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia?, supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman, semuanya.” – (QS.10:99)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Walau syaa-a rabbuka li-aamana man fiil ardhi kulluhum jamii’an afaanta tukrihunnaasa hatta yakuunuu mu’miniin(a)

100

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan ijin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” – (QS.10:100)

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يَعْقِلُونَ

Wamaa kaana linafsin an tu’mina ilaa biidznillahi wayaj’alurrijsa ‘alaal-ladziina laa ya’qiluun(a)

101

“Katakanlah: ‘Perhatikanlah, apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah, dan rasul-rasul yang memberi peringatan, bagi orang-orang yang tidak beriman’.” – (QS.10:101)

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ

Quliinzhuruu maadzaa fiis-samaawaati wal ardhi wamaa tughniiaayaatu wannudzuru ‘an qaumin laa yu’minuun(a)

102

“Mereka tidak menunggu-nunggu, kecuali (kejadian-kejadian) yang sama, dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang terdahulu, sebelum mereka. Katakanlah: ‘Maka tunggulah, sesungguhnya akupun termasuk orang-orang yang menunggu, bersama kamu’.” – (QS.10:102)

فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

Fahal yantazhiruuna ilaa mitsla ai-yaamil-ladziina khalau min qablihim qul faantazhiruu innii ma’akum minal muntazhiriin(a)

103

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami, dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami, (untuk) menyelamatkan orang-orang yang beriman.” – (QS.10:103)

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

Tsumma nunajjii rusulanaa waal-ladziina aamanuu kadzalika haqqan ‘alainaa nunjil mu’miniin(a)

104

“Katakanlah: ‘Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan, tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah, yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah, yang akan mematikan kamu, dan aku telah diperintah, supaya termasuk orang-orang yang beriman’,” – (QS.10:104)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Qul yaa ai-yuhaannaasu in kuntum fii syakkin min diinii falaa a’budul-ladziina ta’buduuna min duunillahi walakin a’budullahal-ladzii yatawaffaakum wa-umirtu an akuuna minal mu’miniin(a)

105

“dan (aku telah diperintah): ‘Hadapkanlah mukamu kepada agama, yang (dengan) tulus dan ikhlas, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” – (QS.10:105)

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Wa-an aqim wajhaka li-ddiini haniifan walaa takuunanna minal musyrikiin(a)

106

“Dan janganlah kamu menyembah, apa-apa yang tidak memberi manfaat, dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu, selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu kalau begitu, termasuk orang-orang yang zalim’.” – (QS.10:106)

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

Walaa tad’u min duunillahi maa laa yanfa’uka walaa yadhurruka fa-in fa’alta fa-innaka idzan minazh-zhaalimiin(a)

107

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu, kepada siapa yang dikehendaki-Nya, di antara hamba-hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” – (QS.10:107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Wa-in yamsaskallahu bidhurrin falaa kaasyifa lahu ilaa huwa wa-in yuridka bikhairin falaa raadda lifadhlihi yushiibu bihi man yasyaa-u min ‘ibaadihi wahuwal ghafuurur-rahiim(u)

108

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu, kebenaran (Al-Qur’an) dari Rabb-mu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga, terhadap dirimu (kaum yang sesat)’.” – (QS.10:108)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Qul yaa ai-yuhaannaasu qad jaa-akumul haqqu min rabbikum famani ihtada fa-innamaa yahtadii linafsihi waman dhalla fa-innamaa yadhillu ‘alaihaa wamaa anaa ‘alaikum biwakiilin

109

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah, hingga Allah memberi keputusan, dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” – (QS.10:109)

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Waattabi’ maa yuuha ilaika waashbir hatta yahkumallahu wahuwa khairul haakimiin(a)

 

  

Teratas

Surah Ar Rahman dan Terjemahan

Surah Ar Rahman dan Terjemahan

Surat 55: Ar-Rahmaan

(Yang Maha Pemurah)

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang)

No.

Teks terjemahan

Teks Qur’an dan latinnya

001

“(Rabb) Yang Maha Pemurah,” – (QS.55:1)

الرَّحْمَنُ

Ar-rahman(u)

002

“Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” – (QS.55:2)

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

‘Allamal quraan(a)

003

“Dia menciptakan manusia,” – (QS.55:3)

خَلَقَ الإنْسَانَ

Khalaqa-insaan(a)

004

“Mengajarnya pandai berbicara.” – (QS.55:4)

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

‘Allamahul bayaan(a)

005

“Matahari dan bulan (beredar), menurut perhitungan.” – (QS.55:5)

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Asy-syamsu wal qamaru bihusbaanin

006

“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan, kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” – (QS.55:6)

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

Wannajmu wasy-syajaru yasjudaan(i)

007

“Dan Allah telah meninggikan langit; dan Dia meletakkan neraca (keadilan).” – (QS.55:7)

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

Wassamaa-a rafa’ahaa wawadha’al miizaan(a)

008

“Supaya kamu jangan melampaui batas, tentang neraca itu.” – (QS.55:8)

أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

Alaa tathghau fiil miizaan(i)

009

“Dan tegakkanlah timbangan dengan adil, dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” – (QS.55:9)

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Wa-aqiimuul wazna bil qisthi walaa tukhsiruul miizaan(a)

010

“Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(-Nya),” – (QS.55:10)

وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأنَامِ

Wal ardha wadha’ahaa lil-anaam(i)

011

“di bumi itu ada buah-buahan, dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.” – (QS.55:11)

فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأكْمَامِ

Fiihaa faakihatun wannakhlu dzaatul akmaam(i)

012

“Dan biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya.” – (QS.55:12)

وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ

Wal habbu dzuul ‘ashfi warraihaan(u)

013

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan;” – (QS.55:13)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

014

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering, seperti tembikar,” – (QS.55:14)

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

Khalaqa-insaana min shalshaalin kal fakh-khaar(i)

015

“Dia menciptakan jin dari nyala api.” – (QS.55:15)

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

Wakhalaqal jaanna min maarijin min naarin

016

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:16)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

017

“Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari, dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” – (QS.55:17)

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

Rabbul masyriqaini warabbul maghribain(i)

018

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:18)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

019

“Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu,” – (QS.55:19)

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

Marajal bahraini yaltaqiyaan(i)

020

“antara keduanya ada batas, yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” – (QS.55:20)

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ

Bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan(i)

021

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:21)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

022

“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” – (QS.55:22)

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

Yakhruju minhumaallu’lu’u wal marjaan(u)

023

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:23)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

024

“Dan kepunyaan-Nya-lah, bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan, laksana gunung-gunung.” – (QS.55:24)

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ

Walahul jawaaril munsyaaatu fiil bahri kal a’laam(i)

025

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:25)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

026

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” – (QS.55:26)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Kullu man ‘alaihaa faanin

027

“Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu, yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” – (QS.55:27)

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Wayabqa wajhu rabbika dzuul jalali wal-ikraam(i)

028

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:28)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

029

“Semua yang ada di langit di bumi selalu minta (berdo’a) kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” – (QS.55:29)

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Yasaluhu man fiis-samaawaati wal ardhi kulla yaumin huwa fii sya’nin

030

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:30)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

031

“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu (amal perbuatanmu), hai manusia dan jin.” – (QS.55:31)

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ

Sanafrughu lakum ai-yuhaats-tsaqalaan(i)

032

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:32)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

033

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya, kecuali dengan kekuatan (tenaga).” – (QS.55:33)

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ

Yaa ma’syaral jinni wal-insi iniistatha’tum an tanfudzuu min aqthaaris-samaawaati wal ardhi faanfudzuu laa tanfudzuuna ilaa bisulthaanin

034

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:34)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

035

“Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya).” – (QS.55:35)

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ

Yursalu ‘alaikumaa syuwaazhun min naarin wanuhaasun falaa tantashiraan(i)

036

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:36)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

037

“Maka apabila langit telah terbelah, dan menjadi merah mawar seperti (berkilapan) minyak.” – (QS.55:37)

فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ

Fa-idzaaan-syaqqatis-samaa-u fakaanat wardatan kaddihaan(i)

038

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:38)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

039

“Pada waktu itu, manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya (karena pasti diketahui oleh Allah).” – (QS.55:39)

فَيَوْمَئِذٍ لا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ

Fayauma-idzin laa yusalu ‘an dzanbihi insun walaa jaannun

040

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:40)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

041

“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka (untuk diseret ke neraka).” – (QS.55:41)

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالأقْدَامِ

Yu’raful mujrimuuna bisiimaahum fayu’khadzu binnawaashii wal aqdaam(i)

042

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:42)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

043

“Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.” – (QS.55:43)

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ

Hadzihi jahannamullatii yukadz-dzibu bihaal mujrimuun(a)

044

“Mereka berkeliling di antaranya, dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.” – (QS.55:44)

يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ

Yathuufuuna bainahaa wabaina hamiimin aanin

045

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:45)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

046

“Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabb-nya, ada dua surga.” – (QS.55:46)

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Waliman khaafa maqaama rabbihi jannataan(i)

047

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:47)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

048

“kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.” – (QS.55:48)

ذَوَاتَا أَفْنَانٍ

Dzawaataa afnaanin

049

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:49)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

050

“Di dalam kedua surga itu, ada dua buah mata air yang mengalir.” – (QS.55:50)

فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ

Fiihimaa ‘ainaani tajriyaan(i)

051

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:51)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

052

“Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan.” – (QS.55:52)

فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ

Fiihimaa min kulli faakihatin zaujaan(i)

053

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:53)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

054

“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” – (QS.55:54)

مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

Muttaki-iina ‘ala furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wajanal jannataini daanin

055

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:55)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

056

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan (dan) menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia, sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” – (QS.55:56)

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ

Fiihinna qaashiraatuth-tharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun

057

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:57)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

058

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” – (QS.55:58)

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

Kaannahunnal yaaquutu wal marjaan(u)

059

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:59)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

060

“Tidak ada balasan (atas) kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” – (QS.55:60)

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ

Hal jazaa-u-ihsaani ilaa-ihsaan(u)

061

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:61)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

062

“Dan selain daripada surga itu, ada dua surga lagi.” – (QS.55:62)

وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

Wamin duunihimaa jannataan(i)

063

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan,” – (QS.55:63)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

064

“kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.” – (QS.55:64)

مُدْهَامَّتَانِ

Mudhaammataan(i)

065

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:65)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

066

“Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar.” – (QS.55:66)

فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ

Fiihimaa ‘ainaani nadh-dhaakhataan(i)

067

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:67)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

068

“Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma, serta delima.” – (QS.55:68)

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

Fiihimaa faakihatun wanakhlun warummaanun

069

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:69)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

070

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik, lagi cantik-cantik.” – (QS.55:70)

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ

Fiihinna khairaatun hisaanun

071

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:71)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

072

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.” – (QS.55:72)

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

Huurun maqshuuraatun fiil khiyaam(i)

073

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:73)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

074

“Mereka (para bidadari) tidak pernah disentuh oleh manusia , sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” – (QS.55:74)

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ

Lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun

075

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:75)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

076

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.” – (QS.55:76)

مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

Muttaki-iina ‘ala rafrafin khudhrin wa’abqarii-yin hisaanin

077

“Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan.” – (QS.55:77)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

078

“Maha Agung nama Rabb-mu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.” – (QS.55:78)

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Tabaarakaasmu rabbika dziil jalali wal-ikraam(i)

surah al mulk dan terjemahannya

surah al mulk dan terjemahannya

  

Surat 67: Al-Mulk

(Kerajaan)

 

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang)

 

 

No.

Teks terjemahan

Teks Qur’an dan latinnya

001

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” – (QS.67:1)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tabaarakal-ladzii biyadihil mulku wahuwa ‘ala kulli syai-in qadiirun

002

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” – (QS.67:2)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Al-ladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ai-yukum ahsanu ‘amalaa wahuwal ‘aziizul ghafuur(u)

003

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.” – (QS.67:3)

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

Al-ladzii khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqan maa tara fii khalqir-rahmani min tafaawutin faarji’il bashara hal tara min futhuurin

004

“Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu, dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” – (QS.67:4)

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Tsummaarji’il bashara karrataini yanqalib ilaikal basharu khaasi-an wahuwa hasiirun

005

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” – (QS.67:5)

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Walaqad zai-yannaassamaa-addunyaa bimashaabiiha waja’alnaahaa rujuuman li-sysyayaathiini wa-a’tadnaa lahum ‘adzaabassa’iir(i)

006

“Dan orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” – (QS.67:6)

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Walil-ladziina kafaruu birabbihim ‘adzaabu jahannama wabi-asal mashiir(u)

007

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak,” – (QS.67:7)

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

Idzaa ulquu fiihaa sami’uu lahaa syahiiqan wahiya tafuur(u)

008

“hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia), seorang pemberi peringatan?’.” – (QS.67:8)

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

Takaadu tamai-yazu minal ghaizhi kullamaa ulqiya fiihaa faujun saalahum khazanatuhaa alam ya’tikum nadziirun

009

“Mereka menjawab: ‘Benar ada’, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu (Muhammad) tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar’.” – (QS.67:9)

قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ

Qaaluuu bala qad jaa-anaa nadziirun fakadz-dzabnaa waqulnaa maa nazzalallahu min syai-in in antum ilaa fii dhalalin kabiirin

010

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala’.” – (QS.67:10)

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Waqaaluuu lau kunnaa nasma’u au na’qilu maa kunnaa fii ashhaabissa’iir(i)

011

“Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” – (QS.67:11)

فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لأصْحَابِ السَّعِيرِ

Faa’tarafuu bidzanbihim fasuhqan ashhaabissa’iir(i)

012

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” – (QS.67:12)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Innal-ladziina yakhsyauna rabbahum bil ghaibi lahum maghfiratun wa-ajrun kabiirun

013

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” – (QS.67:13)

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Wa-asirruu qaulakum awiijharuu bihi innahu ‘aliimun bidzaatish-shuduur(i)

014

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus, lagi Maha Mengetahui.” – (QS.67:14)

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Alaa ya’lamu man khalaqa wahuwallathiiful khabiir(u)

015

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rejeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” – (QS.67:15)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Huwal-ladzii ja’ala lakumul ardha dzaluulaa faamsyuu fii manaakibihaa wakuluu min rizqihi wa-ilaihinnusyuur(u)

016

“Apakah kamu (aman) merasa terhadap Allah, yang di langit, bahwa Dia menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang,” – (QS.67:16)

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Aamintum man fiissamaa-i an yakhsifa bikumul ardha fa-idzaa hiya tamuur(u)

017

“atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah, yang di langit, bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui, bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” – (QS.67:17)

أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Am amintum man fiissamaa-i an yursila ‘alaikum haashiban fasata’lamuuna kaifa nadziir(i)

018

“Dan sesungguhnya, orang-orang yang sebelum mereka, telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” – (QS.67:18)

وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

Walaqad kadz-dzabal-ladziina min qablihim fakaifa kaana nakiir(i)

019

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung, yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka. Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.” – (QS.67:19)

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

Awalam yarau ilath-thairi fauqahum shaaffaatin wayaqbidhna maa yumsikuhunna ilaar-rahmanu innahu bikulli syai-in bashiirun

020

“Atau siapakah dia yang menjadi tentara (pengawal) bagimu, yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah. Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.” – (QS.67:20)

أَمْ مَنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلا فِي غُرُورٍ

Am man hadzaal-ladzii huwa jundun lakum yanshurukum min duunir-rahmani inil kaafiruuna ilaa fii ghuruurin

021

“Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rejeki, jika Allah menahan rejeki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri.” – (QS.67:21)

أَمْ مَنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

Am man hadzaal-ladzii yarzuqukum in amsaka rizqahu bal lajjuu fii ‘utuu-win wanufuurin

022

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu, lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.” – (QS.67:22)

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Afaman yamsyii mukibban ‘ala wajhihi ahda am man yamsyii sawii-yan ‘ala shiraathin mustaqiimin

023

“Katakanlah: ‘Dia-lah yang menciptakan kamu, dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” – (QS.67:23)

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

Qul huwal-ladzii ansyaakum waja’ala lakumussam’a wal abshaara wal af-idata qaliilaa maa tasykuruun(a)

024

“Katakanlah: ‘Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang-biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kelak kamu dikumpulkan’.” – (QS.67:24)

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الأرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Qul huwal-ladzii dzaraakum fiil ardhi wa-ilaihi tuhsyaruun(a)

025

“Dan mereka berkata: ‘Kapankah datangnya ancaman itu, jika kamu adalah orang-orang yang benar’.” – (QS.67:25)

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Wayaquuluuna mata hadzaal wa’du in kuntum shaadiqiin(a)

026

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya, aku (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’.” – (QS.67:26)

قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

Qul innamaal ‘ilmu ‘indallahi wa-innamaa anaa nadziirun mubiinun

027

“Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.” – (QS.67:27)

فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُونَ

Falammaa ra-auhu zulfatan sii-at wujuuhul-ladziina kafaruu waqiila hadzaal-ladzii kuntum bihi tadda’uun(a)

028

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku, atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih’.” – (QS.67:28)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَنْ مَعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَنْ يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Qul ara-aitum in ahlakaniyallahu waman ma’iya au rahimanaa faman yujiirul kaafiriina min ‘adzaabin aliimin

029

“Katakanlah: ‘Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata’.” – (QS.67:29)

قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Qul huwar-rahmanu aamannaa bihi wa’alaihi tawakkalnaa fasata’lamuuna man huwa fii dhalalin mubiinin

030

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku, jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?’.” – (QS.67:30)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

Qul ara-aitum in ashbaha maa’ukum ghauran faman ya’tiikum bimaa-in ma’iinin

 

  

surah yasin dan terjemahan

surah yasin dan terjemahan

  

Surah YaaSiin

(YaaSiin)

 

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang)

 

 

No.

Teks terjemahan

Teks Qur’an dan latinnya

001

“Yaa siin.” – (QS.36:1)

يس

Yaa siin

002

“Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,” – (QS.36:2)

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

Wal quraanil hakiim(i)

003

“sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,” – (QS.36:3)

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

Innaka laminal mursaliin(a)

004

“(yang berada) di atas jalan yang lurus,” – (QS.36:4)

عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

‘Ala shiraathin mustaqiimin

005

“(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa, lagi Maha Penyayang,” – (QS.36:5)

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

Tanziilal ‘aziizir-rahiim(i)

006

“agar kamu memberi peringatan kepada kaum, yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai.” – (QS.36:6)

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

Litundzira qauman maa undzira aabaa’uhum fahum ghaafiluun(a)

007

“Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah), terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.” – (QS.36:7)

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Laqad haqqal qaulu ‘ala aktsarihim fahum laa yu’minuun(a)

008

“Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka bertengadah.” – (QS.36:8)

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ

Innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilal adzqaani fahum muqmahuun(a)

009

“Dan Kami hadirkan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat.” – (QS.36:9)

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ

Waja’alnaa min baini aidiihim saddan wamin khalfihim saddan fa-aghsyainaahum fahum laa yubshiruun(a)

010

“Sama saja bagi mereka, apakah kamu memberi peringatan kepada mereka, ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” – (QS.36:10)

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Wasawaa-un ‘alaihim aandzartahum am lam tundzirhum laa yu’minuun(a)

011

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan, kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan, dan takut kepada Yang Maha Pemurah, walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka khabar gembira, dengan ampunan dan pahala yang mulia.” – (QS.36:11)

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

Innamaa tundziru maniittaba’adz-dzikra wakhasyiyar-rahmana bil ghaibi fabasy-syirhu bimaghfiratin wa-ajrin kariimin

012

“Sesungguhnya Kami menghidupkan (membangkitkan) orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan, dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” – (QS.36:12)

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Innaa nahnu nuhyiil mauta wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syai-in ahshainaahu fii imaamin mubiinin

013

“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka,” – (QS.36:13)

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ

Waadhrib lahum matsalaa ashhaabal qaryati idz jaa-ahaal mursaluun(a)

014

“(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian kami kuatkan dengan (utusan) ke tiga, maka ke tiga utusan itu berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu’.” – (QS.36:14)

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ

Idz arsalnaa ilaihimuutsnaini fakadz-dzabuuhumaa fa’azzaznaa bitsaalitsin faqaaluuu innaa ilaikum mursaluun(a)

015

“Mereka menjawab: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka’.” – (QS.36:15)

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا تَكْذِبُونَ

Qaaluuu maa antum ilaa basyarun mitslunaa wamaa anzalar-rahmanu min syai-in in antum ilaa takdzibuun(a)

016

“Mereka berkata: ‘Rabb-kami lebih mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.” – (QS.36:16)

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ

Qaaluuu rabbunaa ya’lamu innaa ilaikum lamursaluun(a)

017

“Dan kewajiban kami tidak lain, hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas’.” – (QS.36:17)

وَمَا عَلَيْنَا إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ

Wamaa ‘alainaa ilaal balaaghul mubiin(u)

018

“Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya, kami bernasib malang, karena kamu, sesungguhnya, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu, dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami’.” – (QS.36:18)

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Qaaluuu innaa tathai-yarnaa bikum la-in lam tantahuu lanarjumannakum walayamassannakum minnaa ‘adzaabun aliimun

019

“Utusan-utusan itu berkata: ‘Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)?. Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas’.” – (QS.36:19)

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Qaaluuu thaa-irukum ma’akum a-in dzukkirtum bal antum qaumun musrifuun(a)

020

“Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: ‘Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu,” – (QS.36:20)

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Wajaa-a min aqshal madiinati rajulun yas’a qaala yaa qaumiittabi’uul mursaliin(a)

021

“ikutilah orang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” – (QS.36:21)

اتَّبِعُوا مَنْ لا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Attabi’uu man laa yasalukum ajran wahum muhtaduun(a)

022

“Mengapa aku tidak menyembah (Ilah) yang telah menciptakanku, dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?.” – (QS.36:22)

وَمَا لِيَ لا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Wamaa liya laa a’budul-ladzii fatharanii wa-ilaihi turja’uun(a)

023

“Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku, dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?.” – (QS.36:23)

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلا يُنْقِذُونِ

Aattakhidzu min duunihi aalihatan in yuridnir-rahmanu bidhurrin laa tughni ‘annii syafaa’atuhum syai-an walaa yunqidzuun(i)

024

“Sesungguhnya aku kalau begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” – (QS.36:24)

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Innii idzan lafii dhalalin mubiinin

025

“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabb-mu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku’.” – (QS.36:25)

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

Innii aamantu birabbikum faasma’uun(i)

026

“Dikatakan (kepadanya): ‘Masuklah ke surga’. Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,” – (QS.36:26)

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

Qiilaadkhulil jannata qaala yaa laita qaumii ya’lamuun(a)

027

“apa yang menyebabkan Rabb-ku, memberikan ampun kepadaku, dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan’.” – (QS.36:27)

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

Bimaa ghafara lii rabbii waja’alanii minal mukramiin(a)

028

“Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya, sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit, dan tidak layak Kami menurunkan-nya.” – (QS.36:28)

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِينَ

Wamaa anzalnaa ‘ala qaumihi min ba’dihi min jundin minassamaa-i wamaa kunnaa munziliin(a)

029

“Tidak ada siksaan atas mereka, melainkan satu teriakan suara saja (tiupan sangkakala); maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” – (QS.36:29)

إِنْ كَانَتْ إِلا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ

In kaanat ilaa shaihatan waahidatan fa-idzaa hum khaamiduun(a)

030

“Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkan-nya.” – (QS.36:30)

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Yaa hasratan ‘alal ‘ibaadi maa ya’tiihim min rasuulin ilaa kaanuu bihi yastahzi-uun(a)

031

“Tidakkah mereka mengetahui, berapa banyak umat-umat sebelum mereka, yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali (terjadi) kepada mereka.” – (QS.36:31)

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لا يَرْجِعُونَ

Alam yarau kam ahlaknaa qablahum minal quruuni annahum ilaihim laa yarji’uun(a)

032

“Dan setiap mereka semuanya, akan dikumpulkan lagi kepada Kami.” – (QS.36:32)

وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

Wa-in kullun lammaa jamii’un ladainaa muhdharuun(a)

033

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka, adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu, dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan.” – (QS.36:33)

وَآيَةٌ لَهُمُ الأرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

Waaayatun lahumul ardhul maitatu ahyainaahaa wa-akhrajnaa minhaa habban faminhu ya’kuluun(a)

034

“Dan Kami jadikan padanya, kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,” – (QS.36:34)

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ

Waja’alnaa fiihaa jannaatin min nakhiilin wa-a’naabin wafajjarnaa fiihaa minal ‘uyuun(i)

035

“supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?.” – (QS.36:35)

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلا يَشْكُرُونَ

Liya’kuluu min tsamarihi wamaa ‘amilathu aidiihim afalaa yasykuruun(a)

036

“Maha Suci Rabb, yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dan dari diri mereka, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” – (QS.36:36)

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Subhaanal-ladzii khalaqal azwaaja kullahaa mimmaa tunbitul ardhu wamin anfusihim wamimmaa laa ya’lamuun(a)

037

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta-merta mereka dalam kegelapan,” – (QS.36:37)

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

Waaayatun lahumullailu naslakhu minhunnahaara fa-idzaa hum muzhlimuun(a)

038

“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” – (QS.36:38)

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Wasy-syamsu tajrii limustaqarrin llahaa dzalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliim(i)

039

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan, manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia (bulan) sebagai bentuk tandan yang tua.” – (QS.36:39)

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

Wal qamara qaddarnaahu manaazila hatta ‘aada kal ‘urjuunil qadiim(i)

040

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” – (QS.36:40)

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Laasy-syamsu yanbaghii lahaa an tudrikal qamara walaallailu saabiqunnahaari wakullun fii falakin yasbahuun(a)

041

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka, adalah Kami angkut keturunan mereka, dalam bahtera yang penuh muatan,” – (QS.36:41)

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

Waaayatun lahum annaa hamalnaa dzurrii-yatahum fiil fulkil masyhuun(i)

042

“dan Kami ciptakan untuk mereka, yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.” – (QS.36:42)

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ

Wakhalaqnaa lahum min mitslihi maa yarkabuun(a)

043

“Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong, dan tidak pula mereka diselamatkan.” – (QS.36:43)

وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلا صَرِيخَ لَهُمْ وَلا هُمْ يُنْقَذُونَ

Wa-in nasya’ nughriqhum falaa shariikha lahum walaa hum yunqadzuun(a)

044

“Tetapi (Kami selamatkan mereka), karena Rahmat yang besar dari Kami, dan untuk memberikan kesenangan hidup, sampai kepada suatu ketika.” – (QS.36:44)

إِلا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ

Ilaa rahmatan minnaa wamataa’an ila hiinin

045

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu, dan siksa yang akan datang, supaya kamu mendapat rahmat’, (niscaya mereka berpaling).” – (QS.36:45)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Wa-idzaa qiila lahumuuttaquu maa baina aidiikum wamaa khalfakum la’allakum turhamuun(a)

046

“Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka, suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb-mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari-nya.” – (QS.36:46)

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

Wamaa ta’tiihim min aayatin min aayaati rabbihim ilaa kaanuu ‘anhaa mu’ridhiin(a)

047

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Nafkahkanlah sebagian dari rejeki, yang diberikan Allah kepadamu’, maka orang-orang yang kafir itu berkata, kepada orang-orang yang beriman: ‘Apakah Kami akan memberi makan kepada orang-orang, yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu, melainkan dalam kesesatan yang nyata’.” – (QS.36:47)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Wa-idzaa qiila lahum anfiquu mimmaa razaqakumullahu qaalal-ladziina kafaruu lil-ladziina aamanuu anuth’imu man lau yasyaa-ullahu ath’amahu in antum ilaa fii dhalalin mubiinin

048

“Dan mereka berkata: ‘Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit), jika kamu adalah orang-orang yang benar?’.” – (QS.36:48)

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Wayaquuluuna mata hadzaal wa’du in kuntum shaadiqiin(a)

049

“Mereka tidak menunggu, melainkan satu teriakan saja, yang akan membinasakan mereka, ketika mereka sedang bertengkar.” – (QS.36:49)

مَا يَنْظُرُونَ إِلا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

Maa yanzhuruuna ilaa shaihatan waahidatan ta’khudzuhum wahum yakhish-shimuun(a)

050

“Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiatpun, dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.” – (QS.36:50)

فَلا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

Falaa yastathii’uuna taushiyatan walaa ila ahlihim yarji’uun(a)

051

“Dan ditiuplah sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya, (menuju kembali) kepada Rabb-mereka.” – (QS.36:51)

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الأجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

Wanufikha fiish-shuuri fa-idzaa hum minal ajdaatsi ila rabbihim yansiluun(a)

052

“Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami, dari tempat tidur kami (kubur)?’. Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah, dan benarlah Rasul-rasul(-Nya).” – (QS.36:52)

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Qaaluuu yaa wailanaa man ba’atsanaa min marqadinaa hadzaa maa wa’adar-rahmanu washadaqal mursaluun(a)

053

“Tidak adalah teriakan itu (tiupan sangkakala kedua), selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.” – (QS.36:53)

إِنْ كَانَتْ إِلا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

In kaanat ilaa shaihatan waahidatan fa-idzaa hum jamii’un ladainaa muhdharuun(a)

054

“Maka pada hari itu, seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun, dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” – (QS.36:54)

فَالْيَوْمَ لا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Fal yauma laa tuzhlamu nafsun syai-an walaa tujzauna ilaa maa kuntum ta’maluun(a)

055

“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu, bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” – (QS.36:55)

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ

Inna ashhaabal jannatil yauma fii syughulin faakihuun(a)

056

“Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertekan di atas dipan-dipan.” – (QS.36:56)

هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلالٍ عَلَى الأرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

Hum wa-azwaajuhum fii zhilalin ‘alal araa-iki muttaki-uun(a)

057

“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan, dan memperoleh apa yang mereka minta.” – (QS.36:57)

لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ

Lahum fiihaa faakihatun walahum maa yadda’uun(a)

058

“(Kepada mereka dikatakan): ‘Salam’, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” – (QS.36:58)

سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

Salaamun qaulaa min rabbin rahiimin

059

“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): ‘Berpisahlah kamu (dari orang-orang Mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.” – (QS.36:59)

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

Waamtaazuul yauma ai-yuhaal mujrimuun(a)

060

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah syaitan?. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu,” – (QS.36:60)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Alam a’had ilaikum yaa banii aadama an laa ta’buduusy-syaithaana innahu lakum ‘aduu-wun mubiinun

061

“dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” – (QS.36:61)

وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Wa-anii’buduunii hadzaa shiraathun mustaqiimun

062

“Sesungguhnya, syaitan itu telah menyesatkan sebagaian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?.” – (QS.36:62)

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

Walaqad adhalla minkum jibilaa katsiiran afalam takuunuu ta’qiluun(a)

063

“Inilah Jahanam, yang dahulu kamu diancam (dengannya).” – (QS.36:63)

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Hadzihi jahannamullatii kuntum tuu’aduun(a)

064

“Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini, disebabkan kamu dahulu mengingkarinya’.” – (QS.36:64)

اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Ashlauhaal yauma bimaa kuntum takfuruun(a)

065

“Pada hari (kiamat) ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka, terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” – (QS.36:65)

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Al-yauma nakhtimu ‘ala afwaahihim watukallimunaa aidiihim watasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun(a)

066

“Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka betapakah mereka dapat melihat (jalannya).” – (QS.36:66)

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ

Walau nasyaa-u lathamasnaa ‘ala a’yunihim faastabaquush-shiraatha fa-anna yubshiruun(a)

067

“Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada (dari jalan yang telah diketahuinya); maka mereka tidak sanggup berjalan lagi, dan tidak (pula) sanggup kembali.” – (QS.36:67)

وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلا يَرْجِعُونَ

Walau nasyaa-u lamasakhnaahum ‘ala makaanatihim famaaastathaa’uu mudhii-yan walaa yarji’uun(a)

068

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?.” – (QS.36:68)

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلا يَعْقِلُونَ

Waman nu’ammirhu nunakkishu fiil khalqi afalaa ya’qiluun(a)

069

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran, dan kitab yang memberi penerangan,” – (QS.36:69)

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

Wamaa ‘allamnaahusy-syi’ra wamaa yanbaghii lahu in huwa ilaa dzikrun waquraanun mubiinun

070

“supaya dia (Muhammad) memberi peringatan, kepada orang-orang yang hidup (hatinya), dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” – (QS.36:70)

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

Liyundzira man kaana hai-yan wayahiqqal qaulu ‘alal kaafiriin(a)

071

“Dan apakah mereka tidak melihat, bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan, dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?.” – (QS.36:71)

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ

Awalam yarau annaa khalaqnaa lahum mimmaa ‘amilat aidiinaa an’aaman fahum lahaa maalikuun(a)

072

“Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka, dan sebagiannya mereka makan.” – (QS.36:72)

وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ

Wadzallalnaahaa lahum faminhaa rakuubuhum waminhaa ya’kuluun(a)

073

“Dan mereka memperoleh padanya, manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?.” – (QS.36:73)

وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلا يَشْكُرُونَ

Walahum fiihaa manaafi’u wamasyaaribu afalaa yasykuruun(a)

074

“Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.” – (QS.36:74)

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ

Wa-attakhadzuu min duunillahi aalihatan la’allahum yunsharuun(a)

075

“Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka (di hari kiamat); Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara, yang disiapkan untuk menjaga mereka (saat disiksa di neraka).” – (QS.36:75)

لا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ

Laa yastathii’uuna nashrahum wahum lahum jundun muhdharuun(a)

076

“Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui, apa yang mereka rahasiakan, dan apa yang mereka nyatakan.” – (QS.36:76)

فَلا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

Falaa yahzunka qauluhum innaa na’lamu maa yusirruuna wamaa yu’linuun(a)

077

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan, bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!.” – (QS.36:77)

أَوَلَمْ يَرَ الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

Awalam yara-insaanu annaa khalaqnaahu min nuthfatin fa-idzaa huwa khashiimun mubiinun

078

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; (ketika) ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang hancur telah luluh?’.” – (QS.36:78)

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

Wadharaba lanaa matsalaa wanasiya khalqahu qaala man yuhyiil ‘izhaama wahiya ramiimun

079

“Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Rabb, yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,” – (QS.36:79)

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Qul yuhyiihaal-ladzii ansyaahaa au-wala marratin wahuwa bikulli khalqin ‘aliimun

080

“yaitu Rabb yang menjadikan untukmu, api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu’.” – (QS.36:80)

الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الأخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ

Al-ladzii ja’ala lakum minasy-syajaril akhdhari naaran fa-idzaa antum minhu tuuqiduun(a)

081

“Dan bukankah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu, berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu (menciptakan generasi manusia berikutnya)?. Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta, lagi Maha Mengetahui.” – (QS.36:81)

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلاقُ الْعَلِيمُ

Awalaisal-ladzii khalaqas-samaawaati wal ardha biqaadirin ‘ala an yakhluqa mitslahum bala wahuwal khalaaqul ‘aliim(u)

082

“Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” – (QS.36:82)

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Innamaa amruhu idzaa araada syai-an an yaquula lahu kun fayakuun(u)

083

“Maka Maha Suci (Allah), yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” – (QS.36:83)

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Fasubhaanal-ladzii biyadihi malakuutu kulli syai-in wa-ilaihi turja’uun(a)

 

  

surah an naml dan terjemahan

surah an naml dan terjemahan

  

Surah an naml

(semut)

 

(Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang)

 

 

No.

Teks terjemahan

Teks Qur’an dan latinnya

001

“Thaa Siin. (Surat) ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan,” – (QS.27:1)

طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ

Thaa siin tilka aayaatul quraani wakitaabin mubiinin

002

“untuk menjadi petunjuk dan berita gembira, bagi orang-orang yang beriman,” – (QS.27:2)

هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Hudan wabusyra lilmu’miniin(a)

003

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.” – (QS.27:3)

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Al-ladziina yuqiimuunash-shalaata wayu’tuunazzakaata wahum bil-aakhirati hum yuuqinuun(a)

004

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).” – (QS.27:4)

إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ

Innal-ladziina laa yu’minuuna bil-aakhirati zai-yannaa lahum a’maalahum fahum ya’mahuun(a)

005

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang buruk (di dunia), dan mereka di akhirat, adalah orang-orang yang paling merugi.” – (QS.27:5)

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ

Uula-ikal-ladziina lahum suwul ‘adzaabi wahum fii-aakhirati humul akhsaruun(a)

006

“Dan sesungguhnya, kamu telah diberi Al-Qur’an, dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui.” – (QS.27:6)

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

Wa-innaka latulaqqal quraana min ladun hakiimin ‘aliimin

007

“(Ingatlah), ketika Musa berkata kepada keluarganya: ‘Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar darinya, atau aku membawa kepadamu suluh api, supaya kamu dapat berdiang’.” – (QS.27:7)

إِذْ قَالَ مُوسَى لأهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

Idz qaala muusa ahlihi innii aanastu naaran saaatiikum minhaa bikhabarin au aatiikum bisyihaabin qabasin la’allakum tashthaluun(a)

008

“Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: ‘Bahwa telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Rabb semesta Alam’.” – (QS.27:8)

فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Falammaa jaa-ahaa nuudiya an buurika man fiinnaari waman haulahaa wasubhaanallahi rabbil ‘aalamiin(a)

009

“(Allah berfirman): ‘Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana,” – (QS.27:9)

يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Yaa muusa innahu anaallahul ‘aziizul hakiim(u)

010

“dan lemparkanlah tongkatmu’. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Karenanya Allah berfirman:) ‘Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku,” – (QS.27:10)

وَأَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى لا تَخَفْ إِنِّي لا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

Wa-alqi ‘ashaaka falammaa raaahaa tahtazzu kaannahaa jaannun walla mudbiran walam yu’aqqib yaa muusa laa takhaf innii laa yakhaafu ladai-yal mursaluun(a)

011

“tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” – (QS.27:11)

إِلا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ilaa man zhalama tsumma baddala husnan ba’da suu-in fa-innii ghafuurun rahiimun

012

“Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar), bukan karena penyakit. (Kedua mu’jizat ini) termasuk sembilan buah mu’jizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’.” – (QS.27:12)

وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ فِي تِسْعِ آيَاتٍ إِلَى فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Wa-adkhil yadaka fii jaibika takhruj baidhaa-a min ghairi suu-in fii tis’i aayaatin ila fir’auna waqaumihi innahum kaanuu qauman faasiqiin(a)

013

“Maka tatkala mu’jizat-mu’jizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: ‘Ini adalah sihir yang nyata’.” – (QS.27:13)

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Falammaa jaa-athum aayaatunaa mubshiratan qaaluuu hadzaa sihrun mubiinun

014

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka menyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” – (QS.27:14)

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Wajahaduu bihaa waastaiqanathaa anfusuhum zhulman wa’uluu-wan faanzhur kaifa kaana ‘aaqibatul mufsidiin(a)

015

“Dan sesungguhnya, Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami, dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman’.” – (QS.27:15)

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

Walaqad aatainaa daawuda wasulaimaana ‘ilman waqal-al hamdu lillahil-ladzii fadh-dhalanaa ‘ala katsiirin min ‘ibaadihil mu’miniin(a)

016

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: ‘Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung, dan kami diberi segala sesuatu (kekayaan). Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata’.” – (QS.27:16)

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

Wawaritsa sulaimaanu daawuda waqaala yaa ai-yuhaannaasu ‘ullimnaa manthiqath-thairi wa-uutiinaa min kulli syai-in inna hadzaa lahuwal fadhlul mubiin(u)

017

“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” – (QS.27:17)

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Wahusyira lisulaimaana junuuduhu minal jinni wal-insi wath-thairi fahum yuuza’uun(a)

018

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari’,” – (QS.27:18)

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

Hatta idzaa atau ‘ala waadinnamli qaalat namlatun yaa ai-yuhaannam-luudkhuluu masaakinakum laa yahthimannakum sulaimaanu wajunuuduhu wahum laa yasy’uruun(a)

019

“maka dia tersenyum dengan tertawa, karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: ‘Ya Rabb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu, yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh’.” – (QS.27:19)

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Fatabassama dhaahikan min qaulihaa waqaala rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alai-ya wa’ala waalidai-ya wa-an a’mala shaalihan tardhaahu wa-adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash-shaalihiin(a)

020

“Dan dia memeriksa burung-burung, lalu berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.” – (QS.27:20)

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ

Watafaqqadath-thaira faqaala maa liya laa aral hudhuda am kaana minal ghaa-ibiin(a)

021

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang’.” – (QS.27:21)

لأعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لأذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

A’adz-dzibannahu ‘adzaaban syadiidan au adzbahannahu au laya’tiyannii bisulthaanin mubiinin

022

“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: ‘Aku telah mengetahui sesuatu, yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba, suatu berita penting yang diyakini.” – (QS.27:22)

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

Famakatsa ghaira ba’iidin faqaala ahathtu bimaa lam tuhith bihi waji-atuka min saba-in binaba-in yaqiinin

023

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu, serta mempunyai singgasana yang besar.” – (QS.27:23)

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Innii wajadtuumraatan tamlikuhum wa-uutiyat min kulli syai-in walahaa ‘arsyun ‘azhiimun

024

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,” – (QS.27:24)

وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ

Wajadtuhaa waqaumahaa yasjuduuna li-sysyamsi min duunillahi wazai-yana lahumusy-syaithaanu a’maalahum fashaddahum ‘anissabiili fahum laa yahtaduun(a)

025

“agar mereka tidak menyembah Allah, Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi, dan Yang mengetahui, apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.” – (QS.27:25)

أَلا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

Alaa yasjuduu lillahil-ladzii yukhrijul khab-a fiis-samaawaati wal ardhi waya’lamu maa tukhfuuna wamaa tu’linuun(a)

026

“Allah, tiada Ilah Yang disembah, kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy yang besar’.” – (QS.27:26)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Allahu laa ilaha ilaa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhiim(i)

027

“Berkata Sulaiman: ‘Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” – (QS.27:27)

قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Qaala sananzhuru ashadaqta am kunta minal kaadzibiin(a)

028

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan’.” – (QS.27:28)

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

Adzhab bikitaabii hadzaa fa-alqihi ilaihim tsumma tawalla ‘anhum faanzhur maadzaa yarji’uun(a)

029

“Berkatalah ia (Balqis): ‘Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.” – (QS.27:29)

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلأ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ

Qaalat yaa ai-yuhaal malaa innii ulqiya ilai-ya kitaabun kariimun

030

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman (kepada Balqis), dan sesungguhnya, (isi)nya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.” – (QS.27:30)

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Innahu min sulaimaana wa-innahu bismillahir-rahmanir-rahiim(i)

031

“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri’.” – (QS.27:31)

أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Alaa ta’luu ‘alai-ya wa’tuunii muslimiin(a)

032

“Berkatalah dia (Balqis): ‘Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini), aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan, sebelum kamu berada dalam majelis(ku)’.” – (QS.27:32)

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ

Qaalat yaa ai-yuhaal malaa aftuunii fii amrii maa kuntu qaathi’atan amran hatta tasyhaduun(i)

033

“Mereka menjawab: ‘Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan, dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan’.” – (QS.27:33)

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالأمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

Qaaluuu nahnu uuluu quu-watin wa-uuluu ba’sin syadiidin wal amru ilaiki faanzhurii maadzaa ta’muriin(a)

034

“Dia berkata: ‘Sesungguhnya raja-raja, apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” – (QS.27:34)

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

Qaalat innal muluuka idzaa dakhaluu qaryatan afsaduuhaa waja’aluu a’izzata ahlihaa adzillatan wakadzalika yaf’aluun(a)

035

“Dan sesungguhnya, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu’.” – (QS.27:35)

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

Wa-innii mursilatun ilaihim bihadii-yatin fanaazhiratun bima yarji’ul mursaluun(a)

036

“Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: ‘Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta?. Maka apa yang diberikan Allah kepadaku, lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” – (QS.27:36)

فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

Falammaa jaa-a sulaimaana qaala atumidduunani bimaalin famaa aataaniyallahu khairun mimmaa aataakum bal antum bihadii-yatikum tafrahuun(a)

037

“Kembalilah kepada mereka (kaum negeri Saba), sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara, yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina, dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina’.” – (QS.27:37)

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

Arji’ ilaihim falana’tiyannahum bijunuudin laa qibala lahum bihaa walanukhrijannahum minhaa adzillatan wahum shaaghiruun(a)

038

“Berkata Sulaiman: ‘Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku, sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri’.” – (QS.27:38)

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Qaala yaa ai-yuhaal malaa ai-yukum ya’tiinii bi’arsyihaa qabla an ya’tuunii muslimiin(a)

039

“Berkata Jin Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu, sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya, lagi dapat dipercaya’.” – (QS.27:39)

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

Qaala ‘ifritun minal jinni anaa aatiika bihi qabla an taquuma min maqaamika wa-innii ‘alaihi laqawii-yun amiinun

040

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu, sebelum matamu berkedip’. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: ‘Ini termasuk karunia Rabb-ku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya, lagi Maha Mulia’.” – (QS.27:40)

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Qaalal-ladzii ‘indahu ‘ilmun minal kitaabi anaa aatiika bihi qabla an yartadda ilaika tharfuka falammaa raaahu mustaqirran ‘indahu qaala hadzaa min fadhli rabbii liyabluwanii aasykuru am akfuru waman syakara fa-innamaa yasykuru linafsihi waman kafara fa-inna rabbii ghanii-yun kariimun

041

“Dia berkata: ‘Ubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat, apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)’.” – (QS.27:41)

قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لا يَهْتَدُونَ

Qaala nakkiruu lahaa ‘arsyahaa nanzhur atahtadii am takuunu minal-ladziina laa yahtaduun(a)

042

“Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: ‘Serupa inikah singgasanamu’. Dia menjawab: ‘Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya, dan kami adalah orang-orang yang berserah diri’.” – (QS.27:42)

فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ

Falammaa jaa-at qiila ahakadzaa ‘arsyuki qaalat kaannahu huwa wa-uutiinaal ‘ilma min qablihaa wakunnaa muslimiin(a)

043

“Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.” – (QS.27:43)

وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ

Washaddahaa maa kaanat ta’budu min duunillahi innahaa kaanat min qaumin kaafiriin(a)

044

“Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam istana’. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: ‘Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca’. Berkatalah Balqis: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam’.” – (QS.27:44)

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Qiila lahaaadkhuliish-sharha falammaa raathu hasibathu lujjatan wakasyafat ‘an saaqaihaa qaala innahu sharhun mumarradun min qawaariira qaalat rabbi innii zhalamtu nafsii wa-aslamtu ma’a sulaimaana lillahi rabbil ‘aalamiin(a)

045

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud, saudara mereka Shaleh (yang berseru): ‘Sembahlah Allah’. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuh-musuhan.” – (QS.27:45)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

Walaqad arsalnaa ila tsamuuda akhaahum shaalihan anii’buduullaha fa-idzaa hum fariiqaani yakhtashimuun(a)

046

“Dia berkata: ‘Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan, sebelum (kamu minta) kebaikan?. Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat’.” – (QS.27:46)

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Qaala yaa qaumi lima tasta’jiluuna bissai-yi-ati qablal hasanati laulaa tastaghfiruunallaha la’allakum turhamuun(a)

047

“Mereka menjawab: ‘Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu’. Shaleh berkata: ‘Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji’.” – (QS.27:47)

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

Qaaluuuuth-thai-yarnaa bika wabiman ma’aka qaala thaa-irukum ‘indallahi bal antum qaumun tuftanuun(a)

048

“Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” – (QS.27:48)

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ وَلا يُصْلِحُونَ

Wakaana fiil madiinati tis’atu rahthin yufsiduuna fiil ardhi walaa yushlihuun(a)

049

“Mereka berkata: ‘Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba, beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya, (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya, kita adalah orang-orang yang benar’.” – (QS.27:49)

قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

Qaaluuu taqaasamuu billahi lanubai-yitannahu wa-ahlahu tsumma lanaquulanna liwalii-yihi maa syahidnaa mahlika ahlihi wa-innaa lashaadiquun(a)

050

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh, dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” – (QS.27:50)

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

Wamakaruu makran wamakarnaa makran wahum laa yasy’uruun(a)

051

“Maka perhatikanlah, betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.” – (QS.27:51)

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ

Faanzhur kaifa kaana ‘aaqibatu makrihim annaa dammarnaahum waqaumahum ajma’iin(a)

052

“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh, disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” – (QS.27:52)

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Fatilka buyuutuhum khaawiyatan bimaa zhalamuu inna fii dzalika li-aayatan liqaumin ya’lamuun(a)

053

“Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman, dan mereka itu selalu bertaqwa.” – (QS.27:53)

وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Wa-anjainaal-ladziina aamanuu wakaanuu yattaquun(a)

054

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, sedang kamu melihat(nya)?.” – (QS.27:54)

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

Waluuthan idz qaala liqaumihi ata’tuunal faahisyata wa-antum tubshiruun(a)

055

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita?. Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)’.” – (QS.27:55)

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

A-innakum lata’tuunarrijaala syahwatan min duuninnisaa-i bal antum qaumun tajhaluun(a)

056

“Maka tidak (ada yang) lain jawaban kaumnya, melainkan mengatakan: ‘Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih’.” – (QS.27:56)

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

Famaa kaana jawaaba qaumihi ilaa an qaaluuu akhrijuu aala luuthin min qaryatikum innahum unaasun yatathahharuun(a)

057

“Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menakdirkan dia (istri Luth), termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” – (QS.27:57)

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِينَ

Fa-anjainaahu wa-ahlahu ilaaamraatahu qaddarnaahaa minal ghaabiriin(a)

058

“Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.” – (QS.27:58)

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

Wa-amtharnaa ‘alaihim matharan fasaa-a matharul mundzariin(a)

059

“Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah, dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?’.” – (QS.27:59)

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

Qulil hamdu lillahi wasalaamun ‘ala ‘ibaadihil-ladziina-ashthafa aa-llahu khairun ammaa yusyrikuun(a)

060

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” – (QS.27:60)

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ

Amman khalaqas-samaawaati wal ardha wa-anzala lakum minassamaa-i maa-an fa-anbatnaa bihi hadaa-iqa dzaata bahjatin maa kaana lakum an tunbituu syajarahaa ailahun ma’allahi bal hum qaumun ya’diluun(a)

061

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” – (QS.27:61)

أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Amman ja’alal ardha qaraaran waja’ala khilaalahaa anhaaran waja’ala lahaa rawaasiya waja’ala bainal bahraini haajizan ailahun ma’allahi bal aktsaruhum laa ya’lamuun(a)

062

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kamu mengingat-ingat(-Nya).” – (QS.27:62)

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Amman yujiibul mudhtharra idzaa da’aahu wayaksyifussuu-a wayaj’alukum khulafaa-al ardhi ailahun ma’allahi qaliilaa maa tadzakkaruun(a)

063

“Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan, dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai khabar gembira, sebelum (kedatangan) rahmat-Nya (air hujan)?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Maha Tinggi Allah, terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).” – (QS.27:63)

أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Amman yahdiikum fii zhulumaatil barri wal bahri waman yursilurriyaaha busyran baina yadai rahmatihi ailahun ma’allahi ta’aalallahu ‘ammaa yusyrikuun(a)

064

“Atau siapakah yang menciptakan (makhluk), kemudian mengulanginya (berkembang-biak, menghidupkan dan mematikan), dan siapa (pula) yang memberikan rejeki kepadamu dari langit dan bumi; Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang-orang yang benar’.” – (QS.27:64)

أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Amman yabdaul khalqa tsumma yu’iiduhu waman yarzuqukum minassamaa-i wal ardhi ailahun ma’allahi qul haatuu burhaanakum in kuntum shaadiqiin(a)

065

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui, bila (kapan) mereka akan dibangkitkan.” – (QS.27:65)

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Qul laa ya’lamu man fiis-samaawaati wal ardhil ghaiba ilaallahu wamaa yasy’uruuna ai-yaana yub’atsuun(a)

066

“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta darinya (tidak dapat memahaminya).” – (QS.27:66)

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الآخِرَةِ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْهَا بَلْ هُمْ مِنْهَا عَمُونَ

Baliiddaaraka ‘ilmuhum fii-aakhirati bal hum fii syakkin minhaa bal hum minhaa ‘amuun(a)

067

“Berkatalah orang-orang yang kafir: ‘Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)?.” – (QS.27:67)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ

Waqaalal-ladziina kafaruu a-idzaa kunnaa turaaban waaabaa’unaa a-innaa lamukhrajuun(a)

068

“Sesungguhnya kami telah diberi ancaman dengan ini, dan (juga) bapak-bapak kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala’.” – (QS.27:68)

لَقَدْ وُعِدْنَا هَذَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

Laqad wu’idnaa hadzaa nahnu waaabaa’unaa min qablu in hadzaa ilaa asaathiirul au-waliin(a)

069

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat (yang diterima oleh) orang-orang yang berdosa’.” – (QS.27:69)

قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

Qul siiruu fiil ardhi faanzhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mujrimiin(a)

070

“Dan janganlah kamu (Muhammad) berduka-cita terhadap (olok-olokan) mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit, terhadap apa yang mereka tipu-dayakan.” – (QS.27:70)

وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلا تَكُنْ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Walaa tahzan ‘alaihim walaa takun fii dhaiqin mimmaa yamkuruun(a)

071

“Dan mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Bilakah datangnya azab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar’.” – (QS.27:71)

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Wayaquuluuna mata hadzaal wa’du in kuntum shaadiqiin(a)

072

“Katakanlah: ‘Mungkin telah hampir datang kepadamu, sebagian dari (azab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu’.” – (QS.27:72)

قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ رَدِفَ لَكُمْ بَعْضُ الَّذِي تَسْتَعْجِلُونَ

Qul ‘asa an yakuuna radifa lakum ba’dhul-ladzii tasta’jiluun(a)

073

“Dan sesungguhnya, Rabb-mu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” – (QS.27:73)

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَشْكُرُونَ

Wa-inna rabbaka ladzuu fadhlin ‘alannaasi walakinna aktsarahum laa yasykuruun(a)

074

“Dan sesungguhnya, Rabb-mu benar-benar mengetahui, apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan.” – (QS.27:74)

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

Wa-inna rabbaka laya’lamu maa tukinnu shuduuruhum wamaa yu’linuun(a)

075

“Tiada sesuatupun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” – (QS.27:75)

وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Wamaa min ghaa-ibatin fiissamaa-i wal ardhi ilaa fii kitaabin mubiinin

076

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil, sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.” – (QS.27:76)

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Inna hadzaal quraana yaqush-shu ‘ala banii israa-iila aktsaral-ladzii hum fiihi yakhtalifuun(a)

077

“Dan sesungguhnya, Al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” – (QS.27:77)

وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Wa-innahu lahudan warahmatul(n)-lilmu’miniin(a)

078

“Sesungguhnya Rabb-mu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui.” – (QS.27:78)

إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ بِحُكْمِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

Inna rabbaka yaqdhii bainahum bihukmihi wahuwal ‘aziizul ‘aliim(u)

079

“Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata.” – (QS.27:79)

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ

Fatawakkal ‘alallahi innaka ‘alal haqqil mubiin(i)

080

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati (mata hatinya, dapat) mendengar(kan kebenaran), dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli (mata hatinya, dapat) mendengar panggilan (kepada kebenaran), apabila mereka telah berpaling membelakangi (kebenaran).” – (QS.27:80)

إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

Innaka laa tusmi’ul mauta walaa tusmi’ush-shummaddu’aa-a idzaa wallau mudbiriin(a)

081

“Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta (mata hatinya) dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar(kan kebenaran), kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.” – (QS.27:81)

وَمَا أَنْتَ بِهَادِ الْعُمْيِ عَنْ ضَلالَتِهِمْ إِنْ تُسْمِعُ إِلا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ

Wamaa anta bihaadil ‘umyi ‘an dhalaalatihim in tusmi’u ilaa man yu’minu biaayaatinaa fahum muslimuun(a)

082

“Dan apabila (di hari kiamat),) perkataan (azab) telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi, yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya, manusia dahulu (di dunia) tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” – (QS.27:82)

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الأرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لا يُوقِنُونَ

Wa-idzaa waqa’al qaulu ‘alaihim akhrajnaa lahum daabbatan minal ardhi tukallimuhum annannaasa kaanuu biaayaatinaa laa yuuqinuun(a)

083

“Dan (ingatlah) hari (kiamat, ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat, segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).” – (QS.27:83)

وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ

Wayauma nahsyuru min kulli ummatin faujan mimman yukadz-dzibu biaayaatinaa fahum yuuza’uun(a)

084

“Hingga apabila mereka datang, Allah berfirman: ‘Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya (tidak dapat membantah kebenarannya); atau apakah (maksud sebenarnya dari hal-hal) yang telah kamu kerjakan?’.” – (QS.27:84)

حَتَّى إِذَا جَاءُوا قَالَ أَكَذَّبْتُمْ بِآيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْمًا أَمَّاذَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Hatta idzaa jaa-uu qaala akadz-dzabtum biaayaatii walam tuhiithuu bihaa ‘ilman ammaadzaa kuntum ta’maluun(a)

085

“Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan (oleh) kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa).” – (QS.27:85)

وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لا يَنْطِقُونَ

Wawaqa’al qaulu ‘alaihim bimaa zhalamuu fahum laa yanthiquun(a)

086

“Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam, supaya mereka beristirahat padanya, dan siang yang menerangi. Sesungguhnya pada demikian itu, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” – (QS.27:86)

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Alam yarau annaa ja’alnaallaila liyaskunuu fiihi wannahaara mubshiran inna fii dzalika li-aayaatin liqaumin yu’minuun(a)

087

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala (pertama), maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” – (QS.27:87)

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Wayauma yunfakhu fiish-shuuri fafazi’a man fiis-samaawaati waman fiil ardhi ilaa man syaa-allahu wakullun atauhu da-aakhiriin(a)

088

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” – (QS.27:88)

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

Wataral jibaala tahsabuhaa jaamidatan wahiya tamurru marrassahaabi shun’allahil-ladzii atqana kulla syai-in innahu khabiirun bimaa taf’aluun(a)

089

“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram, dari kejutan yang dahsyat pada hari (kiamat) itu.” – (QS.27:89)

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ

Man jaa-a bil hasanati falahu khairun minhaa wahum min faza’in yauma-idzin aaminuun(a)

090

“Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi (karena kemarahan Allah kepadamu), melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” – (QS.27:90)

وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Waman jaa-a bissai-yi-ati fakubbat wujuuhuhum fiinnaari hal tujzauna ilaa maa kuntum ta’maluun(a)

091

“(berkata Muhammad:) ‘Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah), yang telah menjadikannya suci, dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan, supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” – (QS.27:91)

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Innamaa umirtu an a’buda rabba hadzihil baldatil-ladzii harramahaa walahu kullu syai-in wa-umirtu an akuuna minal muslimiin(a)

092

“Dan supaya aku membacakan Al-Qur’an (kepada manusia)’. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan’.” – (QS.27:92)

وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Wa-an atluwal quraana famani ihtada fa-innamaa yahtadii linafsihi waman dhalla faqul innamaa anaa minal mundziriin(a)

093

“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Rabb-mu tiada lalai, dari apa yang kamu kerjakan’.” – (QS.27:93)

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Waqulil hamdu lillahi sayuriikum aayaatihi fata’rifuunahaa wamaa rabbuka bighaafilin ‘ammaa ta’maluun(a)

 

  

Nyanyian dengan Menggunakan Ayat Suci Al-Qur’an

NYANYIAN DENGAN MENGGUNAKAN AYAT-AYAT SUCI AL-QURAN

NYANYIAN DENGAN MENGGUNAKAN AYAT-AYAT SUCI AL-QURAN. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya pada tanggal 27 Shafar 1404 H, yang bertepatan dengan tanggal 3 Desember 1983 M, di Jakarta setelah :

Menimbang :

1. Bahwa pada dasamya agama Islam dapat menerima semua karya seni yang tidak bertentangan dengan ajaran dan hukum Islam;

2. Bahwa berda’wah juga dapat dilakukan melalui media seni;

3. Bahwa pada akhir-akhir ini telah tumbuh group musik yang membawakan lagu yang syairnya diambil dari terjemahan ayat-ayat suci a1-Quran;

4. Bahwa agar kesucian dan kehormatan serta keagungan al-Quran tetap terpelihara dipandang perlu Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang hal tersebut.

Memperhatikan :

1. Al-Quran surat Yasin : 69
“Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.”

2. Hadits riwayat Tabrani dan Baihaqi :
“Bacalah al-Quran dengan gaya bahasa orang-orang Arab. Dan janganlah dengan gaya bahasa orang Yahudi dan orang Nasrani dan orang-orang yang fasik. Sesungguhnya akan datang sesudahku orang-orang yang melagukan al-Quran semacam lagu nyanyian, lagu penyembahan patung, dan lagu berteriak teriak. Apa yang mereka baca tidak melalui
tenggorokan mereka, yakni tidak sampai ke hati. Hati mereka terkena fitnah dan juga terkena fitnah hati orang-orang yang membanggakan keadaan mereka.”

3. Dan bacalah al-Quran itu dengan tertib (sesuai dengan tajwid).

Mendengar :

Pendapat dan saran-saran anggota Komisi Fatwa dalam rapatnya tanggal tersebut di atas.

Memutuskan :

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMFATWAKAN

1. Melagukan ayat-ayat suci al-Quran harus mengikuti ketentuan ilmu tajwid.

2. Boleh menyanyikan/melagukan terjemahan al-Quran, karena terjemahan al-Quran tidak temasuk hukum al-Quran.

Ditetapkan : Jakarta, 27 Shafar 1404 H / 3 Desember 1983 M

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua
ttd
Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML

Sekretaris
ttd
H. Mas’ud Saiful Alam, BA

cara menghafal al quran

Cara Menghafal Al Quran

Cara menghafal Al Quran dengan metode 15 langkah Menghafal Al Qur’an.

Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah Firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering diulang-ulang oleh manusia.

Baca lebih lanjut

onedayonejuz1

40 Rabbana dalam Al Quran

40 Rabbana dalam Al Quran yang merupakan doa, dapat kita amalkan sehari2 permohonan kepada Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang.

1. Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [QS 2:127]

Rabbana taqabbal minna innaka antas Samiiul Aliim

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ
[البقرة :127]

2. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [QS 2:128]

Rabbana wa-j’alna Muslimayni laka wa min Dhurriyatina ‘Ummatan Muslimatan laka wa ‘Arina Manasikana wa tub ‘alayna ‘innaka ‘antat-Tawwabu-Rahiim

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
[البقرة :128]

3. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.[QS 2:201]

Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil ‘akhirati hasanatan waqina ‘adhaban-nar

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
[البقرة :201]

4. Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. [QS 2:250]

Rabbana afrigh ‘alayna sabran wa thabbit aqdamana wansurna ‘alal-qawmil-kafirin

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِينَ
[البقرة :250]

5. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. [QS 2:286]

Rabbana la tu’akhidhna in-nasina aw akhta’na

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
[البقرة :286]

6. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. [QS 2:286]

Rabbana wala tahmil alayna isran kama hamaltahu ‘alal-ladhiina min qablina

رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا
[البقرة :286]

7. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir [QS 2:286]

Rabbana wala tuhammilna ma la taqata lana bihi wa’fu anna waghfir lana wairhamna anta mawlana fansurna ‘alal-qawmil kafiriin

رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
[البقرة :286]

8. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [QS 3:8]

Rabbana la tuzigh quluubana ba’da idh hadaytana wa hab lana milladunka rahmah innaka antal Wahhab

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
[8: آل عمران]

9. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. [QS 3:9]

Rabbana innaka jami’unnasi li-Yawmil la rayba fi innAllaha la yukhliful mi’aad

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لاَّ رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
[آل عمران :9]

10. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. [QS 3:16]

Rabbana innana amanna faghfir lana dhunuubana wa qinna ‘adhaban-Naar

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
[آل عمران :16]

11. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). [QS 3:53]

Rabbana amanna bima anzalta wattaba ‘nar-Rusula fak-tubna ma’ash-Shahidiin

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَِ
[آل عمران :53]

12. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. [QS 3:147]

Rabbana-ghfir lana dhunuubana wa israfana fi amrina wa thabbit aqdamana wansurna ‘alal qawmil kafiriin

ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَِ
[آل عمران :147]

13. Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.[QS 3:191]

Rabbana ma khalaqta hadha batila Subhanaka faqina ‘adhaban-Naar

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
[آل عمران :191]

14. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. [QS 3:192]

Rabbana innaka man tudkhilin nara faqad akhzaytah wa ma liDh-dhalimiina min ansar

رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
[آل عمران :192]

15. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman.[QS 3:193]

Rabbana innana sami’na munadiyany-yunadi lil-imani an aminu bi Rabbikum fa’aamanna

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا
[آل عمران :193]

16. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. [QS 3:193]

Rabbana faghfir lana dhunuubana wa kaffir ‘ana sayyi’aatina wa tawaffana ma’al Abrar

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ
[آل عمران :193]

17. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. [QS 3:194]

Rabbana wa ‘atina ma wa’adtana ‘ala rusulika wa la tukhzina yawmal-Qiyamah innaka la tukhliful mi’aad

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَاد
[آل عمران :194]

18. Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).[QS 5:83]

Rabbana aamana faktubna ma’ ash-shahidiin

رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
[المائدة :83]

19. Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama. [QS 5:114]

Rabbana anzil ‘alayna ma’idatam minas-Samai tuknu lana ‘idal li-awwa-lina wa aakhirna wa ayatam-minka war-zuqna wa anta Khayrul-Raziqiin

رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاء تَكُونُ لَنَا عِيداً لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
[المائدة :114]

20. Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. [QS 7:23]

Rabbana zalamna anfusina wa il lam taghfir lana wa tarhamna lana kunan minal-khasiriin

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
[الأعراف :23]

21. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu. [QS 7:47]

Rabbana la taj’alna ma’al qawwmi-dhalimiin

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
[الأعراف :47]

22. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. [QS 7:89]

Rabbanaf-tah baynana wa bayna qawmina bil haqqi wa anta Khayrul Fatihiin

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ
[الأعراف :89]

23. Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu). [QS 7:126]

Rabbana afrigh ‘alayna sabraw wa tawaffana Muslimiin

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
[الأعراف :126]

24. Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. [QS 10:85-86]

Rabbana la taj’alna fitnatal lil-qawmidh-Dhalimiin wa najjina bi-Rahmatika minal qawmil kafiriin

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ; وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
[ 85-86:يونس]

25. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. [QS 14:38]

Rabbana innaka ta’lamu ma nukhfi wa ma nu’lin wa ma yakhfa ‘alal-lahi min shay’in fil-ardi wa la fis-Sama’

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللّهِ مِن شَيْءٍ فَي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء
[إبرهيم :38]

26. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.[QS 14:40]

Rabbana wa taqabbal Du’a

رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
[إبرهيم :40]

27. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). [QS 14:41]

Rabbana ghfir li wa li wallidayya wa lil Mu’miniina yawma yaqumul hisaab

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
[إبرهيم :41]

28. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). [QS 18:10]

Rabbana ‘atina mil-ladunka Rahmataw wa hayyi lana min amrina rashada

رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
[الكهف :10]

29. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. [QS 20: 45]

Rabbana innana nakhafu any-yafruta ‘alayna aw any-yatgha

رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَن يَطْغَى
[طه :45]

30. Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. [QS 23: 109]

Rabbana amanna faghfir lana warhamna wa anta khayrur Rahimiin

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
[المؤمنون :109]

31. Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. [QS 25: 65-66]

Rabbanas-rif ‘anna ‘adhaba jahannama inna ‘adhabaha kana gharama innaha sa’at musta-qarranw wa muqama

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
[65-66: الفرقان]

32. Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [QS 25:74]

Rabbana Hablana min azwaajina wadhurriy-yatina, qurrata ‘ayioni wa-jalna lil-muttaqiina Imaama

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
[الفرقان :74]

33.Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. [QS 35: 34]

Rabbana la Ghafurun shakur

رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
[فاطر :34]

34. Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. [QS 40:7]

Rabbana wasi’ta kulla sha’ir Rahmatanw wa ‘ilman faghfir lilladhina tabu wattaba’u sabilaka waqihim ‘adhabal-Jahiim

آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
[غافر :7]

35. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. [QS 40:8-9]

Rabbana wa adhkhilhum Jannati ‘adninil-lati wa’attahum wa man salaha min aba’ihim wa azwajihim wa dhuriyyatihim innaka antal ‘Azizul-Hakim, waqihimus sayyi’at wa man taqis-sayyi’ati yawma’idhin faqad rahimatahu wa dhalika huwal fawzul-‘Adhiim

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُم وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَن تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
[8-9:غافر]

36. Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. [QS 59:10]

Rabbana-ghfir lana wa li ‘ikhwani nalladhina sabaquna bil imani wa la taj’al fi qulubina ghillal-lilladhina amanu

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا
[الحشر :10]

37.Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. [QS 59:10]

Rabbana innaka Ra’ufur Rahim

رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
[الحشر :10]’

38. Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. [QS 60:4]

Rabbana ‘alayka tawakkalna wa-ilayka anabna wa-ilaykal masir

رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
[الممتحنة :4]

39. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS 60:5]

Rabbana la taj’alna fitnatal lilladhina kafaru waghfir lana Rabbana innaka antal ‘Azizul-Hakim

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
[الممتحنة :5]

40. Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS 66:8]

Rabbana atmim lana nurana waighfir lana innaka ‘ala kulli shay-in qadir

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
[التحريم :8]

Silahkan disebarkan, sampaikan walau satu ayat.

Adab Membaca Al Quran

Menjadi Hafidz Al Quran

Pahala Membaca, Menghafal dan Mengamalkan isi Al-Qur’an

Dari Ali karramallaahu wajhah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa membaca al Qur’an dan menghafalnya, lalu menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allah Swt. akan memasukannya ke dalam Surga dan allah menjaminnya untuk member syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang kesemuanya telah diwajibkan masuk neraka.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi)

Setiap mu’min insya Allah akan masuk surge, meskipun ada yang harus dibersihkan dulu denga azab disebabkan dosa-dosanya.

Namun bagi hafizh al Qur’an, ia memiliki keutamaan masuk Surga pertama kali. Bahkan seorang hafizh al Qur’an dapat member syafaat kepada sepuluh orang yang fasik dan banyak berbuat dosa besar, tetapi orang kafir tidak akan memperoleh syafaat itu.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah (dengan sesuatu), maka telah Allah haramkan baginya Surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (al Maidah [5] : 72)

Firman-Nya yang lain:
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (Qs. At Taubah [9] :113)

Dalil-dalil diatas dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada ampunan bagi kaum musyrikin, sehingga syafaat seorang hafizh hanya terbatas bagi kaum muslimin yang harus masuk neraka karena dosa-dosa mereka.

Oleh sebab itu, barangsiapa ingin selamat dari api neraka, sedangkan ia bukan seorang hafizh dan tidak mampu menjadi seorang hafizh, maka sekurang-kurangnya hendaklah ia berusaha menjadikan salah seorang diantara keluarganya atau kerabatnya hafizh al Qur’an. Disamping itu, ia sendiri harus selalu berusaha menjauhi segala dosa sehingga terhindar dari azab.

Syukur kepada Allah atas nikmat-Nya kepada orang ini (Syaikh Zakariya, penyusun kitab ini –pent.) yang telah menjadikan ayahnya, pamannya, nenek dan kakeknya, ibunya, dan seluruh ahli keluarganya sebagai hafizh-hafizh alQuran.

Semoga Allah menambah rahmah-Nya lebih banyak lagi.

Baca Juga: Amalan Jika Sulit Menghafal Al Quran

dzikir

7 Mukjizat dan Keistimewaan Al Quran

Setidaknya ada 7 keistimewaan Al Qur’an yang patut diketahui oleh umat Islam.

Bahwa sesungguhnya Al Qur’an ini memang benar-benar dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Apa sajakah Keistimewaan Al Qur’an itu.

1. Terpelihara Keasliannya

Al Quran adalah satu-satunya kitab di dunia yang sempurna dan terpelihara keasliannya, karena sendirilah yang memeliharnya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (al-Hijr : 9)

Al Quran adalah satu-satunya kitab yang menantang manusia kafir untuk membuat yang semisalnya. Di dalam al Quran ada empat kali dan tahapan penantangan kepada manusia.

1. Allah menantang untuk membuat yang seperti al quran, sebagaimana tertera dalam surat Ath Thur 33-34

2. Allah merendahkan tantanganNya, yaitu hanya beberapa surat saja, tertera dalam Surat Hud 13

3. Allah menantang yang ketiga kalinya,yang lebih ringan dari sebelumnya.Dengan hanya membuat satu surat saja. Hal ini tertera dalam Al Qur’an surat Yunus 38

4. Dan tantangan yang inipun,mereka tak sanggup memenuhinya.Maka Allah menantang dengan tantangan yang terakhir yang paling ringan. Yaitu, mendatangkan semisal ayat-ayat Al Qur’an. Hal ini tercantum dalam surat Al Baqoroh ayat 23.

Upaya-upaya untuk memalsukan Al Quran ataupun membuat yang semisal dengan Al Quran telah dilakukan oleh orang-orang kafir sejak zaman dahulu, namun usaha-usaha itu tak pernah berhasil.

Di zaman Rasulullah ada seorang Nabi palsu, Musailamah Al-Kadzab, yang ingin menyaingi Rasulullah dengan mendakwakan dirinya sebagai Nabi. Musailamah Al-Kadzab bersahabat dengan ‘Amr bin Ash, salah satu sahabat Nabi yang termasuk terakhir dalam memeluk Islam. Ketika surat Al-‘Ash turun, ‘Amr bin Ash belum masuk Islam, tetapi ia sudah mendengarnya.

Ketika Musailamah Al-Kadzab berjumpa dengan ‘Amr bin Ash, Musailamah bertanya : “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Mekah itu?” ’Amr bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang begitu singkat, tetapi dengan makna yang begitu luas.” “Coba bacakan kepadaku surat itu!” Kemudian surat Al-’Ashr ini dibacakan oleh ‘Amr bin Ash.

Musailamah merenung sejenak, ia berkata, “Persis kepadaku juga turun surat seperti itu.” ‘Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab: “Ya wabr, ya wabr. Innaka udzunani wa shadr. Wa sãiruka hafrun naqr. (Hai kelinci, hai kelinci. Kau punya dada yang menonjol dan dua telinga. Dan di sekitarmu ada lubang bekas galian.)” Mendengar itu ‘Amr bin Ash, yang masih kafir, tertawa terbahak-bahak, “Demi , engkau tahu bahwa aku sebetulnya tahu bahwa yang kamu omongkan itu adalah dusta.”

Di saat yang lain Musailamah Al Kadzab mencoba meniru surat Al Fiil dengan surat yang dikarangnya “Alfiil, maal fiil, wa maa adrakamaal fiil, lahu dzanabun wabiilun, wa khurthuumun thawiil” yang artinya: “Gajah. Tahukah anda gajah?Apakah gajah itu?Dan tahukah anda apakah gajah itu? Ia berekor pendek & berbelalai panjang”. Lucu sekali bukan?

Di era modern ini upaya pemalsuan Al Quran juga dilakukan dengan lebih gencar, salah satunya yaitu penerbita Al Quran Palsu pada tahun 2009 yang dilakukan oleh Penerbit asal Amerika, Omega 2001 dan One Press dengan judul hard cover “Furqanul Haq” dalam huruf Arab dan “True Furqan” dalam huruf Latin. Dan usaha ini pun gagal total

2. Dihafalkan Banyak Manusia

Al Quran satu-satunya kitab suci yang dihafalkan banyak manusia. Al Quran yang jumlah halamannya mencapai 600 halaman mampu dihafal dengan tepat dan akurat, sampai huruf per huruf bahkan panjang pendeknya. Al Quran bisa dihafalkan oleh orang yang tidak mampu berbahasa arab sekalipun, sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada kitab-kitab lainnya.

Al Quran mampu dihafalkan oleh anak-anak yang masih sangat belia, Ibnu Sina Hafal Al-Quran umur 5 tahun, Ibnu Khaldun Hafal Al-Quran usia 7 tahun, Imam Syafi’I Hafal Al-Quran ketika usia 7 tahun, Imam Ath-Thabari hafal Al-Quran pada usia 7 tahun, As-Suyuthi hafal al-Qur’an sebelum umur 8 tahun, Ibnu Hajar al-Atsqalani hafal al-Qur’an usia 9 tahun, Ibnu Qudamah Hafal Al-Quran usia 10 tahun.

Di parlemen Mesir sekarang ada 140 anggotanya hafal al-Qur’an 30 juz dan ada 180 orang yang hafal lebih 15 juz Al Qur’an. Di jalur Gaza Palestina yang sedang mengalami penjajahan, hampir setiap tahun mewisuda ribuan pengafal Al Quran. Di Indonesia kita bisa melihat keluarga Ustadz Mutaminul Ula mantan anggota DPR periode 2004-2009 yang 10 orang putra-putrinya menjadi penghafal Al Quran, sebagaimana dikisahkan dalam buku “Sepuluh Bersaudara Bintang Al Quran”

Sungguh benar firman Allah “Dan sungguh telah kami mudahkan al-Qur’an untuk diingat, apakah ada yang mau mengingatnya?” (al-Qamar: 18). Dan juga firmannya “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran”. [al-Qamar: 32]

3. Sesuai Dengan Sains Modern

Al Quran terbukti sesuai dengan sains modern. Banyak fakta-fakta ilmiah yang baru terbongkar pada era modern ini dan kesemuanya ternyata telah disebutkan dalam Al Quran lebih dari 14 abad silam. Sebagai contohnyabisa kita baca dari tulisan yang berjudul “Tinjauan tentang embriologi manusia dalam Al Quran dan Hadis” karya Prof. Keith L. Moore, seorang professor anatomi dari universitas Toronto, Kanada, 1982. Tulisan tersebut menguraikan bagaimana Al Quran mampu menggambarkan detail proses pembentukan embrio dengan sangat tepat, disaat tekhnologi di masa itu sama sekali belum menjangkaunya.

Contoh bukti kesesuaian Al Quran dengan sains modern lainnya yaitu tentang peristiwa digantinya kulit manusia di neraka. Kulit adalah pusat kepekaan rasa panas. Maka, jika kulit telah terbakar api seluruhnya, maka akan lenyaplah kepekaannya. Karena itulah maka Allah akan menghukum orang-orang yang tidak percaya akan Hari Pembalasan dengan mengembalikan kulit mereka waktu demi waktu, sebagaimana firmanNya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisaa’ (4) :56). Dan ayat inilah yang telah mendorong Dr. Tagata Tejasen Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai, Thailand untuk bersyahadat.

Contoh lain lagi yaitu proses pembentukan hujan, sebagaimana Allah firmankan “Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (Al Qur’an, 30:48). Jumlah air hujan yang turun ternyata juga sangat terukur, hal ini sebagaimana firmannya “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (Al Qur’an, 43:11)

Banyak sekali bukti-bukti lainnya yang menunjukan kesesuaian Al Quran dengan sains modern, bisa dilihat pada tulisan DR. Maurice Bucaile tentang “the bible, the quran and sience” atau kumpulan karya-karya Harun Yahya yang sangat fenomenal.

4. Gaya Bahasa Sastra Tinggi

Al Quran diturunkan di tanah Arab yang pada saat itu sangat menghargai sastra. Al Quran turun dengan gaya bahasa yang tinggi yang tidak mampu ditandingi siapapun. Dan hal ini pun di akui oleh musuh-musuh Islam saat itu, seperti ucapan Al Walid bin Mughirah salah seorang tokoh pembesar Quraisy: “Demi Allah, ini bukanlah syair dan bukan sihir serta bukan pula igauan orang gila, dan sesungguhnya ia adalah Kalamullah yang memiliki kemanisan dan keindahan. Dan sesungguhya ia (al-Qur’an) sangat tinggi (agung) dan tidak yang melebihinya”. [Lihat Ibnu Katsir juz 4 hal 443].

Atau dalam redaksi lain sebagaimana ditulis Syaikh Syafiurrahman Al Mubarakfuri dalam kitab Sirohnya “Demi Allah! Sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan indah. Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian menuduhnya dengan salah satu dari hal tersebut melainkan akan diketahui kebatilannya.

5. Menjadi Obat Baik Penyakit Fisik Maupun Non Fisik

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Israa’:82)

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad mengatakan: “Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsis-ten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurna-kan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang mem-bimbing kepada obat dan sebab (kesem-buhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)

Al-Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri, beliau berkata: “Sekelompok shahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka. Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking).

Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’

Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu?

Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’Mereka pun setuju untuk memberi upah berupa 3 ekor kambing. Maka dia (salah seorang shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.

Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’ Merekapun menghadap Rasulullah kemudian melaporkan hal tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau tertawa.”

6. Al-Qur’an Mempunyai Pengaruh yang Kuat Terhadap Jiwa Manusia dan Jin

Al Quran mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia dan jin, banyak kisah dimasa lalau maupun di masa kini yang telah membuktikan kutanya pengaruh Al Quran pada jiwa manusia.

Pada suatu hari di bulan Ramadhan Rosulullah mendatangi masjidil Haram, dimana saat itu kaum muslimin dan musyrikin sedang berkumpul disana. Secara tiba-tiba Rosulullah membacakan surat An Najm, semuanya mendengarkan dengan seksama dan ketika sampai pada ayat 62 semua yang hadir disitu serempak bersujud pada Allah. Tidak ada satupun yang mampu menahan dirinya untuk tidak bersujud.

Kisah masuk Islamnya Umar bin Khotob juga dimulai dari sentuhan Al Quran kedalam jiwanya. Sebagaimana dikisahkan bahwa pada suatu malam Umar bin Khotob bersembunyi dibalik tirai kabah dan mendengarkan Rosulullah membacakan surat Al Haqqah dan mulai malam itulah benih Islam mulai tertanam dalam dadanya. Benih ini semakin tumbuh subur ketika ia membaca surat Toha di kediaman adik perempuannya.

Begitu juga kisah Utbah bin Rabi’ah yang diutus kaumnya untuk meminta Rosulullah menghentikan dakwahnya. Ketika dia berjumpa dengan Rosulullah dan kemudian dibacakan Surat Al Fushilat 1-5 maka tersentuhlah jiwanya, dan ketika kembali ke kaumnya dia berkata “yang aku bawa, bahwa aku telah mendengar suatu perkataan yang demi Allah belum pernah sama sekali aku dengar semisalnya. Demi Allah! Ia bukan syair, bukan sihir dan bukan pula tenung! Wahai kaum qurays! Patuhilah aku, serahkan urusan ini kepadaku serta biarkanlah orang ini melakukan apa yang dia lakukan……”

Adapun (pengaruh yang kuat terhadap) jin, maka sekelompok jin telah berkata: “Katakanlah (hai Muhammad :” Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya : sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur’an) , lalu mereka berkata : Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseoranpun dengan Rabb kami”. [al-Jin : 1-2]

Di Era modern ini kuatnya Al Quran dalam mempengaruhi jiwa manusia juga bisa kita lihat bagaimana banyaknya orang-orang kafir yang kemudian memutuskan diri menjadi mualaf setelah berinteraksi dengan Al Quran, salah satunya yaitu Cat Steven seorang penyanyi inggris yang kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam.

7. Menceritakan Masa Lalu dan Akan Datang Dengan Sangat Tepat

Al Quran telah menceritakan kejadian masa lalu dan meramalkan kejadian masa datang dengan sangat tepat. Salah satunya yaitu ramalan Al Quran tentang kemenangan bangsa Romawi setelah sebelumnya mengalami keksalahan “Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). (Ar Rum 1-4)

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar-Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Romawi dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Romawi secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Romawi, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Romawi. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.). Akhirnya, kemenangan bangsa Romawi yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur’an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun pada masa itu. Dalam ayat ketiga Surat Ar-Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan “Adnal Ardhi” dalam bahasa Arab, diartikan sebagai “tempat yang dekat” dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata “Adna” dalam bahasa Arab diambil dari kata “Dani”, yang berarti “rendah” dan “Ardhi” yang berarti “bumi”. Karena itu, ungkapan “Adnal Ardli” berarti ‘tempat paling rendah di bumi’.

Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Romawi dan Persia, ketika Romawi dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. Laut Mati, terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi. Ini berarti bahwa Romawi dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Ramalan lainnya yaitu kemenangan Umat Islam terhadap kafir Quraisy sebagaimana disebutkan dalam Al Quran “Golongan itu (yakni kafirin Quraisy) pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (al-Qamar: 45). Saat itu sepertinya kondisinya sangat tidak mungkin karena umat Islam berada dalam keadaan yang serba kesusahan, baru saja di boikot, khodijah wafat, Abu Tholib wafat dan umat Islam dalam kondisi yang lemah. Tapi Allah benar-benar menunjukan janjinya, dimana kemudian orang-orang musyrik kalah dalam perang Badar, mereka lari dari medan peperangan. Al-Qur’an (juga) banyak memberitakan tentang perkara-perkara yang ghaib, kemudian terjadi setelah itu.

8. Membacanya Bernilai Ibadah

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan الــم ialah satu huruf, akan tetapi ا satu huruf, ل satu huruf dan م satu huruf. [HR. Bukhari]

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari]

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir dengan al-Qur’an bersama malaikat yang mulia, sedang orang yang membaca al-Qur’an dengan tertatih-tatih dan ia bersemangat (bersungguh-sungguh maka baginya dua pahala” [HR. Bukhari-Muslim].

semoga bermanfaat

quran-al-mumayyaz

penyebutan Warna dalam Al Quran

penyebutan Warna dalam Al Quran

1. Merah
Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya MERAH di waktu senja, (Q.S. Al-Insyiqaaq : 16)

2. Kuning Biasa
Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin (kepada tumbuh-tumbuhan) lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi KUNING (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar. (Q.S. Ar-Ruum : 51)

3. Kuning Tua
Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang KUNING TUA warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” (Q.S. Al-Baqarah : 69)

4. Hijau Biasa
Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang HIJAU dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”(Q.S. Yusuf : 63)

5. Hijau Tua
Kedua syurga itu (kelihatan) HIJAU TUA warnanya. (Q.S. Ar-Rahmaan : 64)

6. Biru
(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang BIRU muram; (Q.S. Thaahaa : 102)

7. Putih
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis PUTIH dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.(Q.S. Faathir : 27)

8. Hitam
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang HITAM pekat.(Q.S. Faathir : 27)

Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala firman-Nya

Baca juga:

quran

Fakta Al Quran

Fakta Al Quran.
silahkan disebarkan ke seluruh alam

ama2 surah al-Quran yg dinamakan dgn nama para Nabi ada 6: Yunus (10), Hud (11), Yusuf (12), Ibrahim (14), Muhammad (47), dan Nuh (71).

Ayat al-Quran yang boleh membawa kita ke syurga ialah ayat Kursi, iaitu apabila kita membacanya setiap kali selepas solat fardhu.

Tahukah anda Nabi yg diceritakan kisah hidupnya dlm al-Quran dari kecil hingga dewasa dlm 1 surah? Itulah Nabi Yusuf as. di dlm surah Yusuf.

Baca lebih lanjut

belajar menulis al quran

Belajar Menulis Al Quran 30 Juz

Salah satu cara agar kita senantiasa mencintai Al Quran, berinteraksi dengan al Quran, Disamping mengikuti arahan Masyaikh dengan membacanya minimal 1 juz per hari.. Coba deh.. Menulis Al Quran 30 Juz

quran

Caranya:
1. Siapkan 30 buku tulis quarto biasa yang 100 lembar (mulai dari 1 buku, tulis di sampul Juz 30)
2. Tulis Arab dan artinya dalam Bahasa Indonesia
3. Tulis Surat al Fatihah, an Naas s/d an Naba

Baca lebih lanjut