Arsip Penulis: Dzikir

Tentang Dzikir

Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang

Kelas Wirausaha

Untuk anda yang sulit mendapatkan rezeki.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dzikir

05/02/2018

Segelap apapun perjalanan hidup kt selama masih bisa bernafas, selama itu kt masih berkesempatan menjadi ahli surga. .

Syuro Alami Jamaah Tabligh

SIAPA YG MENGARAHKAN KALIAN?

1. Maulana Saad DB, sampai sekarang BELUM pernah secara resmi mengangkat dirinya sebagai Amir, TAPI Kalian terus menuduh Beliau ngaku2 sbagai Amir, hanya melalui modal WA yg sdh diedit?

2. Kalian bilang hanya mau ikut TIGA Hadraji dan tdk mau ikut Maulana Saad DB, Padahal Beliau yg ngangkat sebagai Syuro sekaligus Faisalat adalah Hadraji In’amul Hasan?

3. Kalian Bilang dakwah tdk tergantung TEMPAT dan ORANG, Tapi tergantung AMAL? Tapi mengapa Kalian Tinggalkan Nizamudin yg sdh teruji hampir 100 tahun hidup amal dakwah, Lalu kalian pilih Benglor yg belum teruji amalannya sebagai markas dan bahkan kalian pilih Masyaikh yg bukan Syuro apalagi Faisalat sebagai rujukan? Siapa yg mengarahkan kalian?

4. Maulana Saad DB yg masih Syuro dn Faisalat, kalian anggap salah krn menambah UMM dn Muntakhab, TAPI kalian sendiri bikin Jord Petani, Nelayan dn jord karyawan… Ini semua arahan Masyaikh siapa?

5. Kalian jadikan rujukan Mufti Dioban yg ngasih fatwa miring ttg Maulana Saad DB, lalu dgn fatwa itu kalian tinggalkn Beliau dan Nizamudin.. Bukankah tuduhan miring dan Fatwa sesat sdh lama diterima sejak awal munculnya gerakan dakwah Tabligh oleh Mereka/dioband dan Mufti lainnya, namun kalian tdk dengar itu semua, Tapi mengapa kali ini kalian bgitu percaya dn bgitu yaqinnya? Siapa yg mengarahkan kalian?

6. Sdh sekian kali dijelaskan bhw Baiat yg diamalkn di Nizamudin itu Baiat utk MENGUATKAN AMAL bukan BAIAT MENGANGKAT MAULANA SAAD sbgai AMIR, TAPI kalian tetap saja menuduh beliau ngangkat dirinya sbgai AMIR.

7. Termasuk usul dakwah yg harus kita semua taati adalah EMPAT HAL YG HARUS DIJAGA diantaranya: Jaga ketaatan kpd Amir selama Amir tdk nyuruh maksiat TAPI KALIAN TINGGALKAN BELIAU DGN BERBAGAI TUDUHAN MESKI BELUM PERNAH BELIAU MEMERINTAH kpd MAKSIAT..

Empat hal TIDAK BOLEH DISENTUH diantaranya AIB MASYARAKAT TAPI KALIAN MALAH BIKIN BUKU YG ISINYA AIB SYURO, FAISALAT KALIAN SENDIRI..

SIAPA YG MENGARAHKAN KALIAN..????
(Abdurahman Mubarok)
Samarinda, 29 Rabiul Awal 1439H

NASEHAT SYAIKH MAULANA MUHAMMAD ILYAS رحمه الله

Cara Menyelesaikan berbagai permasalahan ummat saat ini hanya dengan usaha dakwah yg berdasarkan satu fikir dan satu gerak.

Segala cara yg di tempuh di luar usaha dakwah, nampaknya saja memberikan hasil dan keuntungan dengan segera, meskipun hanya dengan pengorbanan yg sedikit. Sebaliknya dalam usaha dakwah menghendaki pengorbanan yg besar dan banyak, dan hasilnya tidak segera dapat terlihat. Inilah yg menyebabkan orang-orang menjauh dari usaha dakwah. demikian pula orang yg tergesa gesa dalam mengambil kesimpulan ketika melihat para pekerja dakwah seolah olah tidak produktif atau ketika melihat azas usaha dakwah.

—–

ROSULULLAH BERPESAN BILA ADA PERSELISIHAN RUJUKLAH KEPADA AL-QUR’AN & HADIST BEBERAPA ALASAN MEMILIH TERTIB USAHA DAKWAH MERUJUK KEPADA NIZAMUDIN

-Sistem keamiran yg dikehendaki Al Qur’an

-Sistem keamiran yg ada dalil dalam hadist

-Merujuk kepada Nizamudin berarti merujuk kpd dalil Al Qur’an & Hadist bukan berdasarkan rujukan & dalil atau pendapat tentang aib seseorang yg sebenarnya belum tentu benar di Mata Allah & Rosul-Nya

-Sistem keamiran yg dikendaki para Sahabat Nabi

-Sebuah jamaah itu mesti ada amirnya! Pentingnya sebuah amir dlm jamaah sampai-sampai para Sahabat Nabi mengutamakan memilih amir terlebih dahulu daripada menguburkan jenazah Rasulullah.

-Sistem kepemimpinan yg dikehendaki oleh Sayidina Umar Bin Khattab : “Tidak ada Islam tanpa Jamaah, tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan & tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan (Sayidina Umar bin Khattab)

-merujuk pada sistem perjuangan Hadraji-hadraji sebelumnya yaitu keamiran bukan kesyuroan (tanpa adanya amir yg tetap)

-merujuk Nizamudin berarti merujuk Sanad Dakwah setelah Maulana Inamul Hasan, karena Maulana Saad ditunjuk pada zaman Hadraji Maulana Inamul Hasan yg posisinya sebagai Faisalat bukan anggota syuro. Faisalat lebih tinggi dari pada anggota syuro

-Tertib dakwah adalah taat pada amir & Maulana Sa’ad adalah satu-satunya Faisalat yg masih hidup setelah Hadraji Inamul Hasan

-Merujuk pada Nasab karena ada hadist Nabi tentang kemuliaan kaum Quraisy & kaum Quraisylah yg layak untuk jadi pemimpin, bahkan nanti akan ada amir dr Quraisy yaitu Imam Mahdi

-Dua orang syuro Hadraji Inamul Hasan yang masih hidup ada yg seorang posisinya sebagai Faisalat & satu lagi anggota syuro. Maka yang berhak sebagai Hadraji berikutnya adalah yang Faisalat apalagi Faisalat itu keturunan Quraisy

-merujuk pada tempat yang sdh teruji keberkahannya & itu ada di Nizamudin

-Merujuk pada sanad tempat (markas) yg sama seperti para Hadraji sebelumnya. Hadraji Maulana Ilyas di Nizamudin, Hadraji Maulana Yusuf di Nizamudin, Hadraji Maulana Inamul Hasan di Nizamudin maka mesti Hadraji berikutnya juga bermarkas di Nizamudin

-Al Qur’an memerintahkan kita dlm menjalankan usaha dakwah dengan SABAR. ya mestinya bersabar dg sistem keamiran & markasnya di Nizamudin

-Pesan Almarhum KH. Uzhoiron untuk selalu merujuk pada Nizamudin

-Memuliakan keluarga Maulana Ilyas

-Berprasangka baik kepada keluarga Hadraji Muhammad Ilyas & Hadraji Muhammad Yusuf bahwa Allah akan menolong hambanya apabila hambanya menolong agama-Nya. & pertolongan Allah itu berupa salah satunya diberikan keturunan yg sholeh, Maulana Sa’ad keturunan Maulana Yusuf & Maulana Ilyas. & pendahulu Maulana Sa’ad telah berkorban untuk agama ini jd tidak mungkin bila Allah ingkar janji hingga Maulana Sa’ad itu menyimpang.

-Golongan yg meniru-niru Sahabat Nabi akan memiliki cerita yang mirip dg kehidupan para Sahabat, baik pengorbanannya, penderitaannya, pertolongan Allah. & itu tidak komplit bila tidak ada perselisihan krn sahabat pun berselisih. Maka wajar bila golongan peniru sahabat akan berselisih juga. & perselisihan sahabat ternyata yg benar ada di posisi keamiran Sayidina Ali Bin Abi Tholib yang bernasab Quraisy, Maulana Sa’ad pun bernasab Quraisy

-Tanda-Tanda dari Allah di Indonesia tentang keberkahannya, di tahun 2016 Indonesia diberkahi dg bersatunya umat dlm aksi 212 & itu bersamaan dg tgl & hari ketika Tabligh Indonesia masih bersatu yg mengadakan Jord di Cikampek, di tahun 2017 (tabligh sdh pecah) pengadaan aksi alumni 212 ternyata waktunya bersamaan dg Munas di Temboro yg merujuk Nizamudin.

-Pengikut mazhab terbesar pada Mazhab Imam Syafi’i (Quraisy).Pelopor gerakan aksi 212 adalah Habib Rizieq Shibab (Quraisy) maka jangan aneh bila Hadraji sekarang adalah orang Quraisy

Bayan Orang Lama Sebelum ikhtilaf..

Maulana Zubair rahmatulllah alaih katakan.Tidak ada Markas dunia setelah Nizamudin kecuali kembali ke Makkah& Madinah… Inilah ketetapan Allah yg harus tuan terima..

Sesungguhnya kerusakan usaha agama ini terjadi bukan karena yahudi dan Nasrani.. Tetapi kerusakan terjadi itu ulah perbuatan para pekerja dakwah itu sendiri.. Kuat takazah tetapi maqomi tk hidup… Kuat menargib tetapi lupa mentargib diri sendiri. kuat mengambil Takazah2 agama, tetapi suka berharap kpada makluk..apabila sudah suka berharap kepada makluk maka disinilah sebenarnya letak peluang yahudi untuk membuat perpecahan dari dalam..

.Dan hati mereka membrontak ketika usul mereka tidak diterima. sudah lupa dengan adab dalam musyawarah.. Yg padahal seharus nya mereka bersyukur ketika usul mereka tak diterima..tetapi inilah musibah dalam bermusyawarah..

Dan musibah yg paling merusak kerja ini adalah merasa orang lama didalam dakwah ,merasa ahli korban. sehingga hilang qodrat dan kuasanya Allah dihati mereka .dan perlu tuan2 ketahui cinta nya Allah kepada hamba2nya itu karena satu sisi yg sangat Allah sukai dari orang itu. Kalau Allah suka meskipun dia orang baru dalam dakwah . Allah akan tinggikan derajad nya diantara sebahagian yg lainnya..

Tetapi kalau Allah tak suka meskipun dia orang yg banyak korban dimata makhluk dan bahkan meskipun dia sudah bertemu dengan Rasulullah..kalau Allah tak suka Allah akan sesatkan orang tersebut diakhir ayatnya.seperti Qodim nya Rasulullah yg tugasnya pencatat wahyu..

Usaha ini hanya tawajuh kepada Allah. Tawajuh dengan kehendak Allah..

Allah ta’ala angkat derajadnya bilal radiyallahu’anhum ajma’in karena Allah suka dengan bilal. Meskipun dimata mahkluk bilal hanya bekas budak yg hitam legam..inilah yg perlu tuan2 ketahui…

Maka dalam jangka waktu dua tahun paling lambat tiga tahun tuan2 juga tidak balik ke Nizamudin. Maka tuan2 akan membuat tertib baru dan cara baru dalam dakwah. Kalian akan buat cara kalian sendiri..sudah tidak dengan cara Istijma’iat lagi.

—–

Penjelelasan Maulana Shamim dan Utusan Nizammuddin.

Bayan Maulana Shamin :
Maulana Yusuf katakan penyebab rusak seseorang dalam dakwah :
1. Dia berjalan dalam dakwah tetapi nyari harta dan kekuasaan
2. Dia berjalan dalam Dakwah tapi jadi penyebab perpecahan krn mrasa sbg org besar.

Maulana Ilyas katakan :
Saya tdk khawatir dng kerusakan dr org luar dakwah tp yg saya khawatirkan adalah kerusakan yg dtg dr dalam yaitu org2 kerja dakwah itu sendiri. Sudah merasa kerja padahal belum berbuat apa2.

Maulana Yusuf :
Sudah menjadi ketetapan Allah swt bahwa pusat dakwah berpindah2 dari mekah lalu ke madinah lalu ke tempat2 lain sampai ke Bukhara. Kini Allah swt sdh pilih Nizammuddin sebagai tempat pusat kerja dakwah.

Keutamaan Nizammuddin :
Tempat ini dimulainya kerja dakwah oleh Maulana Ilyas rah.a. Ditempat ini berkumpul ahli korban. Dari tempat ini Maulana Ilyas buat pengorbanan sampai habis hartanya. Begitu juga Maulana Yusuf rah.a. Begitu juga Maulana Inamul Hasan. Tatkala hari ini ada orang yang mau menggiring meninggalkan Nizammudin dng membawa harta mereka. Maka Nizammuddin tidak akan rugi, justru mereka yang keluar dari Nizammuddin yang akan rugi terputus dari keberkahan kerja di Nizammuddin.

Hari ada usaha sekelompok orang yang telah keluar dari Nizammudin utk mengecilkan peran Maulana Saad dalam dakwah. Padahal Siapa itu Maulana Saad ? Beliau adalah keturunan dari Abu Bakar ra dan Ali ra secara sanad. Dan Beliau juga keturunan dari Maulana Ilyas yang asbab pengorbanan beliau dzuriat dari keluarga beliau sudah Allah swt jaga.

Maulana Yusuf adalah kakek beliau yang merawat beliau langsung, membesarkan dan mengajarkan beliau tatkala beliau sudah kehilangan figur orang tuanya dimasa kecil. Beliau tumbuh melalui didikan para masyeikh besar dalam dakwah dan beliau telah melalui berbagai macam penderitaan dalam dakwah ini. Jangan kita biarkan sanad dalam dakwah ini terputus.

Kecintaan Nabi saw kepada usamah bin zaid. ketika dalam suatu perjalanan Nabi saw melihat ada Usamah bin Zaid tertinggal dibelakang. Maka Nabi saw memberhentikan rombongan agar rombongan usamah bisa menyusul. Maka dipanggillah usamah oleh Nabi saw utk mendekat kepada Nabi saw. sekelompok orang dr yaman yg merasa besar berkata, “Apakah karena orang hitam ini Nabi saw menghentikan perjalanan rombongan ini, hanya untuk menunggu org hitam ini.” Asbab penyakit dalam hati ini maka mereka telah menjadi murtad setelah nabi wafat.

2 perkara dunia yg merusak diri kita dalam dakwah :
1. Kekayaan : Obatnya Zuhud
2. Kekuasaan : Obatnya Ikhlas

Tidak mungkin Taqwa datang tanpa kezuhudan. Kaya boleh tapi yg bahaya kecintaan pada harta. Apalagi kita dalam kerja utk mencari harta padahal sahabat semua korbankan harta utk agama. Sahabat dlm diri mrk tdk ada kecintaan sedikitpun pada harta .

Sedangkan Jika Ikhlas sudah keluar dari hati dalam membuat amal ini maka yang muncul adalah Riya. Riya apa ? saya adalah jumidar…. merasa berkuasa dalam dakwah.

___________________________________________

Bayan Jumidar Nizammudin Bhai Syafiq

Sekarang ada usaha sekelompok orang yang merasa dirinya orang besar dalam dakwah untuk menafikan peran Maulana Saad dalam dakwah. Mereka merasa besar dalam dakwah sehingga tidak mau terima fikir dan peran dari orang yg mereka anggap sbg org kecil. fikir2 semacam ini terjadi dengan Firaun dan Abu Jahal. Firaun menolak nabi musa bukan krn tidak percaya bahwa ajaran Musa AS benar melainkan krn Musa hanya org kecil dan Firaun merasa dirinya orang besar.

Begitu juga Abu Jahal ketika ditanya kenapa menolak Agama yg di bawa Nabi SAW. Abu Jahal katakan bahwa aku memiliki harta dan jabatan sementara muhammad hanya anak kemarin sore kenapa aku harus ikut dia.

Jika seseorang sudah merasa ada kebesaran diri dalam hatinya maka dia akan tertolak dari dakwah. Sebagaimana tertolaknya kebenaran dari Firaun dan Abu Jahal.

Mari kita belajar dari Iktilaf antara Abu Bakar ra dan Umar ra tatkala Umar ra meminta agar pasukan Usamah ditunda keberangkatannya untuk melindungi madinah. Orang-orang waktu buat musyawarah kecil2an agar bicara kpd khalifah abu bakar ra. Maka Abu bakar ra tegur umar ra sehingga umar menangis asbab teguran tsb. Ada usaha utk tdk taat kepada amir maka utk sekelas umar walaupun berbeda dia tetap taat pada keputusan khalifah / amir. Inilah keikhlasan.

Namun yang merusak dakwah ini adalah mereka yang tidak siap taat kpd amir lalu buat musyawarah kecil2an utk menolak amir bahkan menjelek2an amir. Ini bukanlah cara dakwah.

Dalam kerja dakwah ini dibutuhkan keikhlasan untuk menghadapi tarbiyah dan ujian dalam dakwah.

Tatkala Khalid bin walid yang terkenal dengan gelar saifullah yaitu pedang Allah berikhtilaf dengan umar ra. Beliau seorang panglima perang dalam perjalan perang namun ditengah jalan diganti oleh Umar ra amirul mukminin. Maka beliau khalid tetap mengikuti perjalanan tersebut sebagai prajurit biasa bayangkan saifullah berjalan sbg prajurit pdhl sblmnya beliau seorang panglima tentara tsb. siapa khalid ? beliau adalah syaifullah bukan orang besar sembarangan. Namun apa kata khalid : “Aku pergi dalam perjalanan ini bukan untuk mencari kekuasaan melainkan untuk mecari Ridho Allah swt.” inilah keikhlasan.

Kaab bin Malik suatu ketika tidak mengikuti peperangan maka turun ayat menegur perbuatan sahabat ra. sehingga kaab bin malik di isolasi oleh para sahabat ra bahkan oleh istrinya sendiri. Namun kaab bin malik tdk protes krn dia tau ini adalah perintah dr Allah swt. tidak ada kaab bin malik demo ataupun menjelekkan nabi krn telah menghukum dia ataupun protes krn nabi tdk memperhitungkan kebaikan2 yg telah dia buat. Kaab ra paham bahwa ini adalah teguran dr Allah swt sehingga dia tetap menebar salam walaupun org2 tidak menjawab salamnya. Inilah keikhlasan

kisah maulana ilyas mengusir org mewat langgar janji. Suatu ketika ada org mewat minta cuti keluar markaz 3 hari ternyata baru balik 5 hr kemudian. Maka Maulana Ilyas ketemu maka dia marah kepada org mewat tsb, “Kamu sudah iktilaf dengan janji kamu, saya tidak suka perkara tersebut ada di mesjid ini.” maka maulana ilyas panggil 2 orang utk mengeluarkan org mewat tersebut keluar mesjid. Maka setelah diusir dan dikeluarkan dr mesjid maka org mewat ini kembali lagi kedalam mesjid. Lalu besoknya Maulana Ilyas nampak orang mewat ini dan berkata, “Kenapa kamu kembali lagi ? saya tidak suka ada ikhtilaf dan keingkaran bagi orang2 yg sudah berjanji ada didalam mesjid ini.” Maka maulana panggil 2 org utk mengusir org mewat tadi.

Maka hari ketiga Maulana Ilyas berjumpa dng org mewat tadi dan bertanya kembali, Kenapa kamu msh kembali kesini padahal engkau sudah ingkar dengan janjimu sendiri ?” maka orang mewat itu menangis tersedu2 dan berkata kepada Maulaan Ilyas,” Wahai kemana lagi aku akan pergi mencari kebaikan, dulu aku orang jahil asbab kerja ini Aku jadi mengenal agama, sekarang semuanya sudah aku korbankan harta dan keluarga utk kerja ini.

Dimana lagi aku bs menemukan kebaikan selain kerja ini, mau bs kemana lagi aku selain kembali ke mesjid ini utk mencari kebaikan.” Maka Maulana Ilyas langsung pelung org mewat tadi dan berkata,”Orang seperti kamulah yang aku cari dalam kerja ini, walaupun telah diusir berkali2 tapi tetap kembali kemari krn Yakin bahwa hanya krn asbab amal dakwah saja kita bisa mengenal kebaikan.”

Dalam dakwah ini jangan kita pakai akal sendiri dan turut nafsu. Tapi ikutilah Allah dan rasulnya dan para sahabat ra. letakkan diri kita dalam musyawarah. Jangan lari dari kerja yang mulia ini.

Ketika Usamah bin Zaid dipilih menjadi amir rombongan ada kelompok kabilah yg protes,”kenapa nabi memilih orang hitam ini menjadi amir, mukanya saja jelek penuh koreng. Apakah tdk ada org lain lagi?” ketika nabi saw wafat kabilah ini termasuk kelompok yang murtad.

Taat kepada Amir

tatkala Nabi saw mentakazakan pedang utk jihad maka Nabi saw serahkan pedang tsb kepada abu durjanah ra. Maka sahabat tdk ada yg protes semua taat kepada Nabi saw. krn meraka paham bahwa segala sesuatu itu ada rencana Allah.

4 penyakit dihindari dalam dakwah :

1. Hasad / Dengki :

kisah saudara yusuf mengirim yusuf k sumur asbab hasad. Padahal saudara2 yusuf punya dara Nabi dalam diri mrk tapi asbab hasad mrk pun Allah swt hinakan. Apalagi kita. padahal saudara2 yusuf besar dari pangkuan seorang Nabi. tapi allah tdk pandang jika ada Hasad. kalo kita pakai kaca mata kuning maka semua akan terlihat kuning, begitu juga jika kaca merah dan biru. maka kita hindari dari kacamata hasad. Setelah Nabi saw Madinah sempat sepi asbab suasana hasad yg disebar shg org keluar dr madinah bahwa madinah telah beda setelah nabi saw wafat udaranya jadi berbeda. Ini karena apa ? Hasad yg tersebar.

2. Prasangka Buruk

Syaidina Utsman mengirim surat k kuffah dalam surat Amirul mukminin menulis dalam surat untuk mengikrom jemaah2 yang datang. Namun krn hasad isi surat dirubah agar jemaah yg dtg dibunuh. Maka muncul prasangka buruk kepada utsman ra ketika itu. Padahal tsk mungkin seorang utsman ra melakukan itu. Asbab prasangka buruk tsb Utsman RA meninggal membawa prasangka buruk org2.

Nizamuddin seperti langit dan kita seperti bintang. tatkala bintang terpisah dr langit maka bintang akan kehilangan nur tapi langit akan tetap menjadi langit. Nizamuddin ini seperti Tempat Radar pesawat, walaupun org sdh tua pilotnya tapi ada dalam radar maka akan selamat namun tatkala pesawat keluar dr radar maka akan hancur.

Fitnah juga terjadi kepada sahabiyah sekelas Aisyah r.ha. Sehingga 3 seorang sahabat ahlul badr telah terjatuh dlm fitnah tersebut. Sahabat saja terjatuh asbab prasangka buruk apalagi kita.

3. Sombong

Nasab maulana saad adalah Nasabnya para ahli korban dlm dakwah ini. Maka kita hati2 dlm membicarakan mrk. Mereka yang melupakan pengorbanan orang tua nizamuddin maka Allah swt tdk butuh kepada mereka dan mereka akan tercampakkan dari kerja ini. karena apa ? kesombongan yg ada dalam diri mereka. Siapa Maulana Ilyas rah.a beliau adalah perintis kerja ini beliau pernah tidak makan berhari2 dan kehabisan makanan dibulan puasa asbab seluruh hartanya dipakai utk berkhidmat tamu2 Allah swt.

Siapa Maulana Yusuf rah.a beliau pernah berbicara dng istrinya asbab istrinya mengikuti beliau kini engkau telah susah karena asbab ikut dalam perjuangan maulana yusuf. padahal engkau kt maulana yusuf sang istri merupakan keturunan dari keluarga yang baik dan berada kini harus susah hidup bersama beliau krn seluruh harta beliau telah dihabiskan utk dakwah. maka sang istri pergi kedalam kamar dan menyerahkan seluruh perhiasan miliknya kepada yusuf utk dipakai dlm perjuangan dakwah. Inilah kehidupan keluarga ahli korban.

Allah swt pilih keluarga mrk untuk kerja dakwah. Pernah suatu ketika maulana yusuf selama 6 bulan tdk balik k rumahnya padahal rumahnya hanya dibalik hijab di markaz saja. Sehingga ketika istrinya jatuh sakit menjelang wafat bbrp orang mendatangi maulana yusuf rah.a. Apa kata maulana yusuf, “Jika istriku menginginkanku pulang maka aku akan pulang mengobatinya tanyakan kepada istriku apa yg d mau istriku ?” maka istri maulana yusuf jawab : “Mungkin saat ini aku tidak bisa bertemu dengan suamiku sekarang, tapi aku berharap sisa waktu ku ini aku berikan kepada suamiku utk kerja dakwah dng harapan nanti Allah swt pertemukan kami lagi di surganya Allah swt.

Begitu juga pengorbanan maulana saad kini bagiamana beliau begitu memikirkan keadaan umat. suatu ketika bangunan baru dibangun d nizammuddin belum selesai sehingga membuat para tamu kedinginan krn hujan di musim dingin. maka ahli khidmat markaz bilang maulana disini bukan tempat kamu kembalilah ketempat kamu sehingga tdk perlu kedinginan berada bersama para tamu. maka maulana saad katakan diam … sampai 3 x ditanya dijawab sama oleh maulana saad.

Beliau berkata bagaimana mungkin saya berada dalam kamar saya penuh kehangatan sementara tamu2 Allah swt berada disini kedinginan.

jadi tatkala kita membicarakan maulana saad dan nasabnya kita harus berhati2 jangan sampai kita tdk menghormati mrk.

4. Kejahilan atau Kebodohan
Asbab nya kita tidak memahami permasalahan akhirnya kita menjadi asbab perpecahan.

ISU SYURA ALAMI BERSAMA BAPAK CECEP H FIRDAUS, SYURA INDONESIA

Mudzakarah Ikhtilaf para masyeikh :
Dulu tatkala Nabi Musa as berdakwah tdk semua org mahu jd pengikutnya.

Setelah Nabi Isa as hadir tidak semua pengikut Nabi Musa a.s mau ikut dgn Nabi Isa as. begitu juga ketika Nabi Muhammad saw hadir, tidak semua pengikut dari Nabi Isa a.s mau ikut.

Padahal kata Allah SWT mereka mengenali Nabi saw melebihi anaknya sendiri. Tapi mereka tidak mahu ikut, kenapa? Kerana ego…. iaitu kenapa bukan kami?

Begitu juga ketika peralihan dari Maulana Ilyas ke Maulana Yusuf tidak semua dari pengikut Maulana Ilyas setuju dgn pengangkatan Maulana Yusuf sbg Amir Dakwah.

Begitu juga dari Maulana Yusuf ke Maulana Inamul Hasan, tidak semua pengikut Maulana Yusuf setuju dgn Maulana Inamul Hasan sbg Amir Dakwah.

Sekarang di era Maulana Saad juga terjadi fitnah sehingga tidak semua pengikut Maulana Inamul Hasan mau menerima Maulana Saad sbg Amir Dakwah.

Dakwah akan kuat jika 3 perkara ini bersatu :
1. Nasab : Individu dalam Dakwah
2. Sanad : Nizamuddin
3. Amal : Dakwah

Ahlul Batil buat kerja untuk melemahkan kerja dakwah ini dengan merosakkan 3 perkara tersebut.
Merosak Nasab iaitu dgn menghancurkan wibawa Maulana Saad sbg penerus kerja dari keluarga Maulana Ilyas rah.a.
Sedangkan Nasab Dakwah kita ini selain dari para masyeikh termasuk yang paling utama adalah keturunan dari keluarga Maulana Ilyas rah.a.
Lalu mereka berusaha memutuskan Sanad Dakwah dari Nizamuddin dengan membuat markaz dakwah baru.

Dan memindahkan amal dakwah keluar dari Nizamuddin.

Mufti Zainal Abidin rah.a pernah cerita tentang kisah 3 sapi vs singa :
1. Sapi warna merah
2. Sapi warna putih
3. Sapi warna hitam

Ketika 3 sapi bersatu, singa tidak dpt mengalahkan mereka. Mulalah singa buat siasatan.

Tahap I
Singa berkata dengan sapi merah dan sapi putih bahawa sapi hitam itu buruk.
Tanpa sapi hitam maka kalian akan kuat bebas dari keburukan sapi hitam.
Maka sapi putih dan sapi merah menyetujuinya. Akhirnya singa menerkam sapi hitam & berhasil sesuai rencananya.

Tahap II

Singa mendekati sapi putih lalu mengatakan bahawa sapi merah tidak sesuai sama sapi putih. Kamu sapi putih akan lebih baik tanpa sapi merah.
Maka sapi putih termakan cakap singa sehingga menyetujuinya. Maka singa pun menerkam sapi merah.

Tahap III
Kini sapi putih sudah sendirian, lemah dari pertahanan menghadapi singa.
Maka singa mendatangi sapi putih dan sedia untuk menerkamnya.
Sapi putih berkata, ketika kamu mulai dari menerkam sapi hitam aku sudah merasakan bahawa sebahagian dari diriku sudah mati.

Kini Ahlul Batil sedang bekerja untuk menghancurkan dakwah dengan fitnah2 kerana kalau dibunuh akan ada pengganti.
Tapi dgn fitnah maka mereka akan berpecah sehingga Nusratullah terhenti.

Maka untuk menjaga amalan dakwah ini berterusan maka penting kita jaga:
1. Individu/Nasab : Masyeikh dan keluarga Maulana Ilyas Rah.a.
2. Markaz/Sanad Dakwah: Nizamuddin
3. Amal : Dakwah

Dulu ketika 3 perkara ini dibuat maka kerja jadi kuat. Nabi saw dan sahabat adalah personel, Markaz masjid Nabawi dan amal dakwah kuat maka hidayah tersebar.
Dakwah juga kuat di era Maulana Ilyas rah.a, Maulana Yusuf rah.a, dan Maulana Inamul Hasan rah.a kerana ada 3 perkara tadi.
Namun kini Ahlul Bathil ingin merosakkan dakwah dgn merosakkan 3 perkara tadi, sama spt kisah 3 sapi vs singa.

Nizamuddin, Raiwind, dan Kakhrail adalah tempat di mana eldest kita dlm dakwah. Sedangkan seluruh masyeikh ini adalah eldest kita, kita harus menghormati mereka dan menyayangi mereka. Kita harus menghormati ketiga tempat tersebut dan menghormati seluruh masyeikh kita dalam dakwah.

Kita tidak memihak namun kita tidak boleh meninggalkan mereka. Kita tidak memihak bukan berarti kita menolak mereka. Kita harus ada hubungan baik dengan semuanya.
Sehingga ketika keadaan kembali seperti semula maka kita tetap dpt berhubungan baik dgn mereka semuanya.

Maulana Saad, beliau juga merupakan dzuriat dari Maulana Ilyas rah.a dan Maulana Yusuf rah.a. dan beliau juga keturunan dari Sayidina Abu Bakar r.a. maka kitapun harus menghormati beliau dan hati2 dalam membicarakan beliau.

Syura Alami, mereka semua juga eldest kita dalam dakwah. Syura Alami adalah kumpulan orang lama dan para ahli korban. Kita juga harus punya hubungan baik dengan mereka.

Bagaimana mungkin kita meninggalkan Nizamuddin sementara setiap orang2 Indonesia, ratusan datang ke Nizamuddin, mahu ke mana kita selain ke Nizamuddin?

Ketika masyeikh Nizamuddin memanggil kita untuk datang, bagaimana mungkin kita tidak menghormati panggilan itu sementara mereka telah berbuat baik kepada kita terutama jemaah2 Indonesia yang datang ke sana.

Di mana adab kita dan akhlaq kita kepada mereka?

Kita di Indonesia sudah dilatih untuk mencintai para masyeikh, untuk mengikuti mereka, memuliakan mereka.
Bagaimana mungkin kini kita diajak untuk membenci mereka, mengecilkan mereka, menghina mereka. Itu bukanlah hasil dari latihan kita.

Ketika Hadratji Inamul Hasan wafat, syura dunia sudah dibentuk untuk meneruskan kerja. Maka wujud pertanyaan, kalau dulu kita ikut Amir kenapa skrg ikut Syura?

Maka Pak Cecep bercerita bahawa Zumidar Jordan ketika itu berkata, mahu syura 10 orang atau 20 orang atau 30 orang, saya tetap akan ikut kerana kerja dakwah ini adalah kerja yang Haq.

Mahu Syura Alami ataupun Nizamuddin semuanya menyuruh kita tawajjuh kepada Amal sahaja maka itu yang akan kita lakukan.

Ketika ini kerja dakwah sedang mengalami ujian besar. Maka kita perlu sangka baik kepada Allah SWT kerana ini adalah kerja Allah SWT, bukan kerja kita. Kita diuji dengan perpecahan dan perasaan yg hancur melihat perselisihan yg terjadi.

Maka ini diperlukan tambahan tawajjuh kepada Allah SWT, kita banyakkan doa kita kepada Allah SWT agar Allah SWT beri kita perlindungan dan kekuatan utk istiqamah dalam masalah dakwah.

– Masalah Maulana Saad vs Syura Alami –

1. Tuduhan Maulana Saad menunjuk dirinya sbg Amir kerana ingin berkuasa / cari kekuasaan.
Jawapan:
Tidak ada satupun ucapan yg keluar dari mulut Maulana Saad yg mengatakan & mengangkat diri sbg Amir atau Hadratji. Namun yg terjadi adalah orang yg mencintai Maulana Saad sehingga mereka memanggil Maulana Saad sbg Hadratji.

2. Sistem Kesyuraan yang tidak disetujui Maulana Saad.
Jawapan l:
Masyeikh Nizamuddin berpendapat bahawa Sistem Kesyuraan yang sah adalah Sistem Kesyuraan 10 syura dari Hadratji Innamul Hasan rah.a.

10 orang syura yang terpilih 3 di antaranya adalah faishala terpilih iaitu Maulana Izhar, Maulana Zubair dan Maulana Saad.

Sedangkan yg lain sbg anggota termasuk Syeikh Hj Abdul Wahab amir Pakistan. Ketika ini dari 10 orang yang tinggal adalah Syeikh Hj Abdul Wahab dan Maulana Saad. Sedangkan Faisala dipegang oleh Maulana Saad.

Dapat disimpulkan bahawa Maulana Saad sbg Faisala tunggal ketika ini adalah merupakan TAKDIR dari Allah SWT tanpa meminta.

Sehingga keadaan ini menimbulkan milintasi dari orang2 yg mencintai Maulana Saad menganggap beliau sbg Hadratji.

Lalu kesyuraan yang baru yg menamakan diri Syura Alami adalah usul dalam musyawarah yang belum menjadi suatu keputusan dari Syura yang sah dari Hadratji Inamul Hasan rah.a yang ketika ini tinggal Syeikh Hj Abdul Wahab dan Maulana Saad Al Khandalawi.

Tidak dipersetujui suatu usul dalam musyawarah tdk seharusnya menyebabkan Makar terhadap Musyawarah itu sendiri.
Inilah punca bakal kerosakan yg menimbulkan konflik asbab tidak taat kepada musyawarah sehingga Makar.

Maulana Saad telah membuat kebijakan agar kedepan setiap negara tempat ijtimaiyat dakwah agar dipimpin oleh syura masing2.

Sehingga India mempunyai Syura sendiri, Pakistan mempunyai Syura sendiri, dan Bangladesh mempunyai syura sendiri.

Keputusan2 dunia dapat dimusyawarahkan secara ijtimaiyat dgn syura2 yang ada sbg faisala adalah Maulana Saad.

Keberadaan Syura Dunia dari Sistem Kesyuraan yang sah masih dpt berjalan dgn baik maka tidak perlu membentuk syura baru.

Isu2 mengenai Maulana Saad menunjuk dirinya sbg Amir atau Hadratji kerana ingin berkuasa adalah Fitnah terhadap Maulana Saad.
Tidak ada satu ucapan pun yg keluar dari mulut Maulana Saad yg meminta dirinya diangkat sbg Hadratji atau meminta agar dirinya diangkat sbg Amir Tabligh.

Namun perpecahan terjadi asbab keberadaan Syura Alami itu sendiri yg menginginkan adanya pembahagian kekuasaan.
Jadi perpecahan terjadi akarnya adalah kerana adanya keinginan utk mendapatkan kekuasaan dalam kesyuraan tersebut.

3. Ajakan untuk keluar dari Ijtimaiyat Nizamuddin asbab Fitnah mengajak makhluk kepada makhluk bukan kepada Allah.
Jawapan:
Nizamuddin adalah tempat ijtimaiyat yg telah disepakati bersama dari zaman Maulana Ilyas rah.a sehingga Hadratji Innamul Hasan RAH.

Sebagaimana Masjidil Haram yang ruhaniatnya terbentuk dari pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim a.s dan Masjid Nabawi terbentuk dari pengorbanan Nabi saw dan para sahabat r.a.

Begitu juga Nizamuddin yg sdh terbentuk asbab pengorbanan para masyeikh dan keluarga Maulana Ilyas Al Khandahlawi.
Maka tidak sepatutnya kita meninggalkan Nizamuddin sbg tempat Ijtimaiyat Amal dan Ahbab dalam dakwah.

Tuduhan bahawa ijtimaiyat di Nizamuddin membawa makhluk kepada makhluk iaitu mengajak umat kpd figure Maulana Saad ini merupakan Fitnah utk memecah belah dan mengajak umat keluar dari Ijtimaiyat Nizamuddin. Maka ini tidak perlu diikuti.

Hadits : Hanya domba yg keluar dari kelompoknya yg akan diterkam serigala (mahfum). Ajakan keluar dari ijtimaiyat inilah yg menyebabkan perpecahan sehingga kita sdh terjebak oleh rencana iblis dalam memecah belah dakwah di seluruh dunia.

Sebelum beberapa masyeikh keluar dari Nizamuddin, ijtimaiyat dpt berjalan dgn baik dan tidak ada ajakan mengajak makhluk kpd makhluk.

Kenapa asbab beberapa masyeikh keluar dari Nizamuddin sehingga di pelintir bahawa jika datang ke Nizamuddin ini sama mengajak makhluk kpd mahluk? Ini fitnah yg keji.

Justru yg harus kita jaga adalah ijtimaiyat di Nizamuddin sbg tempat berkumpulnya para ahlul korban bermusyawarah, bukan mengajak kpd figure spt yg difitnahkan.

4. Ada kesalahan berfikir bahawa kita tidak akan kembali ke Nizamuddin sampai para masyeikh kembali ke Nizamuddin demi menjaga kesatuan di antara masyeikh.

Ini merupakan kesalahan cara berfikir dengan mengajak umat meninggalkan

Nizamuddin. Ketika umat bersepakat untuk meninggalkan Nizamuddin mengikuti masyeikh yang keluar dari Nizamuddin maka yg terjadi justru para Masyeikh semakin tidak akan balik ke Nizamuddin sehingga membawa umat kepada Markaz baru dengan meninggalkan Nizamuddin.

Cara berfikir yang benar adalah kita para penanggungjawab dakwah harus bersepakat tidak akan meninggalkan amalan ijtimaiyat di Nizamuddin sehingga keputusan menjaga ijtimaiyat ini akan menyebabkan para masyeikh yg keluar dari Nizamuddin kembali lagi ke Nizamuddin kerana tdk ada media dakwah ijtimaiyat selain di Nizamuddin.

Perumpamaan Nizamuddin seperti sholat berjamaah. Maka tatkala ada jemaah yg mufaraqah keluar dari jemaah sholat, apakah kita harus ikut mufaraqah? Tentu tidak selama imam tidak kentut atau bacaan al Fatihah salah, misalnya.

Tidak ada satu alasanpun secara syariat agama yang dpt kita kemukakan kenapa kita harus meninggalkan ijtimaiyat berjamaah di Nizamuddin.

Ini hanya isu2 dan sumber dari fitnah, semuanya katanya2 yg dilemparkan oleh org ketiga.

5. Nizamuddin telah berkhidmat kepada jemaah Indonesia.
Ketika ini tidak kurang dari 200 jemaah di Nizamuddin di khidmat oleh Maulana Saad dan para masyeikh di Nizamuddin.

Jemaah kita diberi makan percuma 3x sehari, diberi mudzakarah, diberi route dakwah, tidak mungkin kebaikan ini kita balas dgn akhlaq yg buruk iaitu dengan menidakkan Nizamuddin dan menidakkan Maulana Saad. Ini bukanlah akhlaq yang baik.

Jika kita meninggalkan Nizamuddin maka mahu dibawa ke mana jemaah2 yg kita kirim ke India?

Walaupun ada keinginan membuat markaz baru di luar Nizamuddin ini tidaklah mudah kerana Nizamuddin bukan hanya sekadar bangunan tapi dari sana terbentuk ruhaniat dan pengorbanan dari para masyeikh semenjak zaman Maulana Ilyas rah.a

Membentuk ruhaniyat inilah yg tidak mudah kerana SANAD DAKWAH kita ini datang dari Nizamuddin. Kini ada keinginan utk memutuskan sanad dakwah kita dari Nizamuddin maka yg tidak akan kita ikuti.

Maulana Umar Palanpuri RAH berkata jika kalian berselisih pendapat maka kembalilah kepada Nizamuddin sbg tempat bermusyawarah dan bermufakat. Jangan kalian lari atau keluar dari Nizamuddin.

Kesimpulan Akar Perpecahan:

1. Adanya Fitnah Maulana Saad mengangkat dirinya sbg Hadratji ternyata tidak benar dan tidak ada satupun kata keluar dari mulut Maulana Saad yg menunjuk dirinya sbg Hadratji atau Amir.

2. Akar perpecahan adalah asbab adanya Masyeikh yg Mufaraqah keluar dari ijtimaiyat Nizamuddin dan ingin buat markaz baru. Seharusnya kita jaga amalan ijtinaiyat bukannya keluar dari ijtimaiyat.

3. Syura Alami adalah usulan dalam musyawarah yg belum disetujui oleh Maulana Saad sbg Faisalat yg sah dalam Sistem Kesyuraan Hadratji Inamul Hasan rah.a

Usulan yg belum diterima tidak sepatutnya menyebabkan makar terhadap Maulana Saad sbg Faisalat Syura Dunia yang sah iaitu merujuk kpd Sistem Kesyuraan Hadratji Inamul Hasan rah.a

4. Pengiriman jemaah ke India ketika ini menjadi terganggu asbab adanya gerakan utk keluar dari Nizamuddin. Mahu dibawa ke mana jemaah jika bukan ke Nizamuddin?.

Skrg jemaah yg gerakpun jadi rinyam kerana negara2 yg sepakat ke Nizamuddin sehingga yg pro ke Syura Alami kesulitan mencarikan solusi asbab perpecahan ini.

5. Persyaratan masyeikh yg keluar dari Nizamuddin, mereka sedia kembali dgn beberapa persyaratan:

1. Muntakhab tdk dipakai sbg kitab rujukan.
2. DTI ditiadakan.
3. Taklim rumah tanpa amal musyawarah dan tasykil.

Dipersetujui Syura Dunia. Melihat persyaratan yg diajukan maka sesungguhnya ini bukanlah masalah yg rumit sampai harus makar.

Apa buruknya amalan yg dipersyaratkan? Itupun bukanlah sesuatu hal secara syari’e yg menyebabkan kita harus keluar dari Nizamuddin.

6. Maulana Saad katakan apakah ada dari bayan atau ucapan saya yg mengajak umat bermaksiat kpd Allah atau mengajak umat melanggar perintah Allah? Jika tidak ada maka dapat dipastikan hasut dan dengki sdh menyebar.

7. Sedangkan dlm usul dakwah kita diminta utk menjaga ketaatan pd amir selama amir taat pd Allah dan RasulNya. Makar atas musyawarah yg dibuat Syura Alami merupakan contoh buruk mengajarkan cara kudeta atas amal musyawarah.

8. Terus kita jaga amalan ijtimaiyat. Ijtimaiyat kita adalah musyawarah mahalah lalu halaqah lalu propinsi/musda lalu musyawarah Indonesia lalu musyawarah Indonesia di Nizamuddin dan ijtimaiyat di Raiwind dan Tongi.

9. Kesyuraan itu bukanlah manhaj dari dakwah Nubuwah yg dirintis oleh Maulana Ilyas rah.a. Ketika itu Maulana Ilyas adalah amir dakwah pertama (1926-1940).

Beliau wafat maka tampuk kepemimpinan diserahkan kepada Maulana Yusuf rah.a (1940-1962).
Lalu dari Maulana Yusuf ke Maulana Inamul Hasan rah.a.

Itupun keamiran (1962-1994) setelah melalui musyawarah masyeikh dgn Maulana Zakaria Syaikhul Hadits.
Ketika zaman keamiran Maulana Inamul Hasan rah.a maka dibentuk syura utk menentukan amir berikutnya.

Syura tersebut adalah : 5 dari india : Maulana Izhar, Maulana Zubeir, Maulana Saad, Maulana Umar phalampuri, Meyaji Mehrob, 4 dari Pakistan : Syeikh Abdul Wahab, Mufti Zaenal Abidin, Maulana Said Ahmad Khan, dan Bhai Afdhol, 1 dari Bangladesh : Ir. Abdul Muqit.

Setelah Maulana Inamul Hasan wafat maka syura yg dibentuk bernusyawarah 3 hari 3 malam utk mengeluarkan 1 nama utk menjadi amir. Namun tidak ada 1 namapun yg keluar yg sedia utk dpt dijadikan amir.

Sehingga syura dunia yg dibentuk Maulana Inamul Hasan memutuskan memilih 3 faisalat atau 3 amir musyawarah iaitu : Maulana Izhar, Maulana Saad dan Maulana Zubeir.

Kini anggota syura yang terbentuk tinggal 2 iaitu Syeikh Hj Abdul Wahab dan Maulana Saad. Maka ini dengan sendirinya menjadikan Maulana Saad sbg faisalat tunggal atau Amir.

Dakwah yg berikutnya sesuai yang diharapkan dgn terbentuknya syura dunia awal iaitu menentukan seorang Amir.

Perselisihan pendapat antara para masyaikh dakwah mutakhir ini bukanlah perselisihan syari’e yang mengakibatkan haram atau halalnya sesuatu sehingga yang mengingkari hukum tersebut boleh dihukum kafir.

Perselisihan antara mereka adalah dari segi afdhaliyyah semata-mata. Yakni mana lebih baik antara seorang amir memimpin jemaah Tabligh atau secara berjemaah? Itu saja.

Perselisihan ini tidak mengakibatkan salah satu dari dua golongan tersebut terkeluar dari iman dan akidah Islam.
Perselisihan umat merupakan suatu yang tidak disukai oleh Rasulullah saw kerana akibatnya adalah terangkatnya Nusratullah dan tertutupnya pintu hidayat.

Nabi saw berdoa & merayu meminta pada Allah SWT agar umat ini bersatu padu & tidak berpecah belah, sebab dalam perpecahan ada azab, tapi doa Baginda saw tidak diterima Allah SWT.

Perpecahan umat telah bermula sejak zaman kekhalifahan Sayidina Abu Bakar r.a lagi dan akan berterusan hingga ke hari kiamat.
Apabila berlaku peperangan antara Sayidina Ali r.a dan Muawiyah r.a, di waktu itu sahabat Nabi saw berpecah menjadi 4 golongan.
1) Yang menyokong Amirul Mukminin.
2) Yang menentang Amirul Mukminin.
3) Yang berdiam diri
4) Yang mendamaikan antara kedua kelompok tersebut.

Kelompok kedua dinamakan oleh Rasulullah saw sebagai Al Fiatul Baghiyah (pendurhaka) walaupun mereka merasa mereka dalam kebenaran.
Kelompok yang direstui oleh Nabi saw adalah yang ketiga dan ke empat.
Jadi apabila kita bersua dengan situasi sebegini maka kita letaklah diri kita di kalangan kelompok ketiga dan ke empat.
Jangan jadi kelompok kedua kerana segala amal kita akan musnah bila kita terjun dalam fitnah.

Keadaan yang berlaku sekarang ini adalah fitnah, di zaman fitnah kita kena buka kitabul fitan Wal malahim baca.
Apa nasihat Rasulullah saw kepada para sahabat Baginda saat bertemu dengan fitnah?

Dua nasihat yang boleh kita amalkan:

Pertamanya Baginda saw berpesan jadilah dirimu seperti salah seorang anak Adam yang terbaik (Habil a.s), ketika abangnya Qabil a.s mendesaknya untuk berpedang maka dia mengalah sambil mengatakan:

لين بسطت الي يدك لتقتلني ما انا بباسط يدي إليك لأقتلك

Kedua, pesanan Nabi saw kepada para sahabat iaitu janganlah sesekali kalian terjun melibatkan diri dalam fitnah.

Fitnah yg berlaku bila orang yg berhenti darinya adalah lebih baik dari seorang yang berjalan dalam fitnah.
Seorang yang berjalan di dalamnya lebih baik dari orang yang berlari di dalamnya.

Maknanya nasihat Nabi saw agar kita jangan campur dalam fitnah. Kerana fitnahlah yang akan menghancurkan kekuatan umat Islam.

Apabila ayah dan ibu kita bercerai maka sebagai anak yang baik, apakah kita perlu berpihak kepada mana-mana dari salah satu dari mereka?

Kalau saya sokong ayah lalu saya memburukkan ibu saya apakah saya akan masuk syurga?

Kita tidak memihak ke kedua orang tua kita bukan berarti kita menolak mereka ataupun tidak menghargai salah satu dari mereka.

Justru kita tidak memihak maksudnya ketika kita dipanggil oleh salah satu ataupun keduanya kita datang, melayani mereka dan mengikuti arahan mereka.

Anak tetap anak, tak mungkin kita boleh memburukkan ibu atau ayah kita, sama juga dengan ulamak, mereka tetap ulamak dan kita tetap murid mereka.

Memuji satu golongan dan mengutuk satu golongan, ini bukan yang seharusnya terjadi. Lebih baik DIAM saja daripada berkata-kata yang jelek kepada masyaikh kita.

Ditakuti kerna percakapan kita yang buruk, Allah SWT membuang kita dari usaha agama yang mulia ini. Wal ‘iyazubillah.

Dan mudah-mudahan kita menjadi salah seorang yang sentiasa taat kepada masyaikh kita di Nizamuddin, khususnya kepada Amir atau Hadratji kita Maulana Saad DB.
(Sila sampaikan kpd rakan seusaha yg lain).

—-

SANAD DARI MAULANA ILYAS SAMPAI RASULULLAH SAW

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih berkata bahwa “Usaha yang aku buat ini bukan usaha yang dibuat sekarang. Andai aku lakukan usaha yang ada sekarang maka aku bukan kedepan, malah aku ketinggalan sejauh 1400 tahun. Inilah ketinggian fikir seorang penyambung usaha yang mulia.” Perlu kita ketahui juga bahwa ada beberapa amalan tariqat yang juga mempunyai silsilah sampai kepada Rasulullah. Tapi itu bukan maksud utama untuk ummat ini diutus, sehingga Allah letakkan ummat ini pada satu kedudukan yang tertinggi dibanding ummat terdahulu.

Telah diturunkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan terus pada para Ulama’ hingga saat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari perhimpunan Haji Wada’, 9 Dzulhijjah tahun 9 Hijrah, hari jum’at, selepas shalat ashar “Sampaikan dari ku walaupun satu ayat..”

Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam

||

Abdullah bin ‘Umar bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu

||

Abu Qasiyyah rahmatullah ‘alaih

||

Hassan bin Autiyyah rahmatullah ‘alaih

||

Auza’i rahmatullah ‘alaih

||

Dahhak bin Makhlash rahmatullah ‘alaih

||

Amirul Mukminin Fi Hadits wa Imamul Muhaditsin,

Muhammad bin Isamail bin Al-Barzabah Al-Bukhari rahmatullah ‘alaih

||

Muhammad bin Yusuf Al-Qarbawi rahmatullah ‘alaih

||

Muhammad bin Ahmad At-Tarukhi rahmatullah ‘alaih

||

Muhammad Abdullah Muhammad bin Muzaffar Al-Ra’udi rahmatullah ‘alaih

||

Abdul Awwal Abdul Rahman bin Isa al-Harawi rahmatullah ‘alaih

||

Abu Hussain bin Mubarak Al-jabiili rahmatullah ‘alaih

||

Muhammad bin Ibrahim At-Tanukhi rahmatullah ‘alaih

||

Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Hajar Al-Ashqolani Al-Khinani rahmatullah ‘alaih

||

Zainul Abidin Muhammad bin Zakariyya Al-Ansari rahmatullah ‘alaih

||

Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Ar-Romawi rahmatullah ‘alaih

||

Muhammad bin Ahmad bin Quddus rahmatullah ‘alaih

||

Ahmad Al-Qusyayi rahmatullah ‘alaih

||

Ibrahim Al-Qurdi rahmatullah ‘alaih

||

Abu Tahir bin Ibrahim Al-Qurdi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Muhammad bin Abdul Rahim rahmatullah ‘alaih

||

Syah Waliyullah Muhaditsin Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Abdul Aziz Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Muhammad Bin Ishaq Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Muhammad bin Ali Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Abdul Ghani Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Rasyid Ahmad Gangohi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Muhammad Ilyas bin Ismail Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Muhammad Yusuf bin Ilyas Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana ‘Inamul Hassan Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih

||

Maulana Muhammad Saad Al-Kandahlawi

Petunjuk Hidup Mulai Lahir Hingga Wafat

Petunjuk hidup mulai dari sebelum lahir hingga wafat

Bismillah..

Assalamualaikum Wr Wb

Ringkasan ini diambil dari menyimak youtube tausiah Ustad Adi Hidayat, Lc. MA pada channel Akhyar TV, yang kami tulis dari hasil cek pada Al-Qur’annya, agar diketahui nama, ayat, dan arti suratnya yang kami kutip sebagian tentang petunjuk hidup mulai dari sebelum lahir hingga wafat. Berikut kutipan videonya:

Berikut ringkasan Beliau, semoga Beliau dan keluarga Allah SWT limpahkan rahmat dan barokahnya, amin..
Dalam kandungan sebelum lahir, bagaimana caranya supaya kandungannya enak, nyaman, kelahirannya tenang, dilahirkannya anak yang sholeh, ada di qur’an surat ke 7 (Al-A’raf) ayat ke 189:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَت دَّعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Artinya: Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
Begitu si anak dilahirkan bagaimana caranya supaya asinya mengalir lancar, pembagian tugas suami istri jadi enak, tidak ada perselisihan dan ketegangan, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat ke 233:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Sampai dua tahun disusui bisa maksimal, usia 2 tahun sampai menjelang baliq, pendidikan dini apa yang bisa diberikan supaya anaknya dekat dengan Allah SWT, taat dengan orang tuanya, berakhlak mulia dan bisa berprilaku baik dalam kehidupan. ada di qur’an surat 31 (Luqman) ayat 13-19:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

Artinya: (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Artinya: Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Si anak kemudian mulai belajar, bagaimana supaya saat belajar cepat mengingat materi pelajarannya, meningkat kedekatannya dengan Allah SWT, berkah ilmunya, ada di qur’an surat ke 9 (At-Taubah) ayat ke 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Bagaimana si anak saat belajar bisa berprestasi mampu bersaing dengan yang lainnya, ada di qur’an surat ke 58 (Al-Mujaadalah) ayat ke 11:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَـكُمۡ تَفَسَّحُوۡا فِى الۡمَجٰلِسِ فَافۡسَحُوۡا يَفۡسَحِ اللّٰهُ لَـكُمۡ‌ ۚ وَاِذَا قِيۡلَ انْشُزُوۡا فَانْشُزُوۡا يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ‌ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ‏

Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Saat mulai naik tingkat pendidikannya mulai ketemu temannya, mulai muncul rasa, bergaul lebih dalam lagi, bagaimana supaya tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang mungkin bisa merusak akidah dan akhlaknya, ada di qur’an surat ke 49 (Al-Hujaraat) ayat ke 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Jika mulai ada yang tertarik serius bagaimana caranya mendekatinya, ta’aruf dan lamar, ada di qur’an surat ke 4 (An-Nisa) ayat ke 4:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

Artinya: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

Jika jadi menikah, ada di qur’an surat ke 30 (Ar-rum) ayat 21:

وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنۡ خَلَقَ لَكُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِكُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡكُنُوۡۤا اِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُمۡ مَّوَدَّةً وَّرَحۡمَةً  ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ‏ ﴿۲۱﴾

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Baru menikah bagaimana cara membagi tugas rumah tangganya supaya tenang antara suami dan istri, paham kewajiban dan tugasnya, ada di qur’an surat ke 4 (An-Nisa) ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Suami apa tugas pertamanya?, mulai mencari nafkah, bagaimana cara mencari nafkah yang baik menurut petunjuk Allah SWT, yang standar ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ke 168:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Kalau Anda (suami) mau bergerak sedikit, insyaAllah rizqi sudah mau datang, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat 172:

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

Kalau Anda (suami) belum bergerak, rizqinya sudah menunggu anda, bahkan datang, ada di qur’an surat ke 7 (Al-A’raf) ayat ke 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Tugas istri yang merawat rumah tangga di rumah, kadang tidak mudah merawat anak, kadang anak mengeluh mengatakan “Ah” solusinya bagaimana?, ada di qur’an surat ke 17 (Al-Isra) ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Kadang ada capai, lelah, penyakit2 datang, sesulit apa, jika yang ringan ringan, ada di qur’an surat ke 26 (An-nur) ayat ke 80:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Artinya: dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,

Kalau penyakitnya berat, yang mungkin dokter mengatakan sulit disembuhkan, ada di qur’an surat ke 21 (Al-Anbiya) ayat 83 – 84:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Artinya: dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Artinya: Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Anda (Suami) diperkerjaan kadang ada orang usil, ingin menyingkirkan, menyungkurkan, menjelek jelekan Anda (suami), dsb. bagaimana cara memohon kepada Allah SWT?, ada di qur’an surat ke 17 (Al-Isra) ayat 79 – 81:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

وَقُلۡ جَآءَ الۡحَـقُّ وَزَهَقَ الۡبَاطِلُ‌ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ كَانَ زَهُوۡقًا‏

Artinya: Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Bahkan kadang2 ada yang sampai membuat dada Anda (suami) sesak seperti gelap mata, kapan semua ini akan berakhir, namun jangan mengeluh karena semua itu ujian, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat 155:

وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ‏

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

hadapi dengan sabar sampai dapat solusi, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat 156 – 157:

الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ  ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ‏ ﴿۱۵۶﴾

Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [101]. [101] Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat “istirjaa” (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

اُولٰٓٮِٕكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٌ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُهۡتَدُوۡنَ‏ ﴿۱۵۷﴾

Artinya: Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kuatkan usahamu untuk mengatasinya, ada di qur’an surat ke 3 (Ali imran) ayat 142:

اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَـنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ جَاهَدُوۡا مِنۡكُمۡ وَيَعۡلَمَ الصّٰبِرِيۡنَ‏ ﴿۱۴۲﴾

Artinya: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad [232] diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. [232] Jihad dapat berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.

Kemudian kamu jalani seperti tawakalnya nabi yunus berikhtiar diperut ikan paus, ada di qur’an surat ke 21 (Al-Anbiya) ayat 87-88:

وَ ذَا النُّوۡنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّـقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ  اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌ ۖ ‌ۚ‏ ﴿۸۷﴾

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap [968]: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” [968]. Yang dimaksud dengan “keadaan yang sangat gelap” ialah didalam perut ikan, di dalam laut dan di malam bari.

فَاسۡتَجَبۡنَا لَهٗۙ وَنَجَّيۡنٰهُ مِنَ الۡـغَمِّ‌ؕ وَكَذٰلِكَ نُـنْجِى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ‏ ﴿۸۸﴾

Artinya: Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

Sampai kemudian menjadi lebih bahagia lagi, meningkat harta bendanya, bagaimana mensyukurinya, ada di qur’an surat ke 14 (Ibrahim) ayat ke 7:

وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ ‏ ﴿۷﴾

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kalau ada musibah yang menimpa lagi bagaimana bersabarnya?, hadapi dengan mengelola manajemen konfliknya, manajemen sabarnya, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat 214:

اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَاۡتِكُمۡ مَّثَلُ الَّذِيۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِكُمۡؕ مَسَّتۡهُمُ الۡبَاۡسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُوۡا حَتّٰى يَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَهٗ مَتٰى نَصۡرُ اللّٰهِؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ ‏ ﴿۲۱۴﴾

214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Kalau ada kelebihan cepat infaqkan, supaya berkah hartanya, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat 215:

يَسۡـــَٔلُوۡنَكَ مَاذَا يُنۡفِقُوۡنَ ؕ قُلۡ مَآ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ خَيۡرٍ فَلِلۡوَالِدَيۡنِ وَالۡاَقۡرَبِيۡنَ وَالۡيَتٰمٰى وَالۡمَسٰكِيۡنِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ‌ؕ وَمَا تَفۡعَلُوۡا مِنۡ خَيۡرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيۡمٌ‏ ﴿۲۱۵﴾

Artinya: Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Kalau ada kewajiban zakat cepat tunaikan, ada di qur’an surat ke 9 (At-Taubah) ayat 60:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَالۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡعٰمِلِيۡنَ عَلَيۡهَا وَالۡمُؤَلَّـفَةِ قُلُوۡبُهُمۡ وَفِى الرِّقَابِ وَالۡغٰرِمِيۡنَ وَفِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ‌ؕ فَرِيۡضَةً مِّنَ اللّٰهِ‌ؕ وَاللّٰهُ عَلِيۡمٌ حَكِيۡمٌ‏ ﴿۶۰﴾
Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [647]. [647] Yang berhak menerima zakat ialah: 1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan ma’siat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan ma’siat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Kalau susah diingatkan oleh kawannnya, ada di qur’an surat ke 9 (At-taubah) ayat 103:

خُذۡ مِنۡ اَمۡوَالِهِمۡ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيۡهِمۡ بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡ‌ؕ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمۡ‌ؕ وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ‏ ﴿۱۰۳﴾

103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan [658] dan mensucikan [659] mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda [659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Sampai usia Anda 40 tahun lebih, masih ada orang tuanya, bagaimana cara berbaktinya, karena perlu diketahui karena semua ini tidak mungkin diraih karena jasa orang tua dan tidak mungkin membalas bakti orang tua, tapi Anda bisa mencobanya, ada di qur’an surat 46 (Al-Ahqaaf) ayat ke 15:

وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ اِحۡسَانًا‌ ؕ حَمَلَـتۡهُ اُمُّهٗ كُرۡهًا وَّوَضَعَتۡهُ كُرۡهًا‌ ؕ وَحَمۡلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوۡنَ شَهۡرًا‌ ؕ حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرۡبَعِيۡنَ سَنَةً  ۙ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰٮهُ وَاَصۡلِحۡ لِىۡ فِىۡ ذُرِّيَّتِىۡ ؕۚ اِنِّىۡ تُبۡتُ اِلَيۡكَ وَاِنِّىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ‏ ﴿۱۵﴾

Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Sampai dipengunjung usia Anda mengatakan “Ya Allah apakah saya akan hidup selamanya atau mungkin akan meninggal?”, ketahuilah tidak ada yang abadi, kamu pasti akan pulang, ada di qur’an surat ke 3 (Ali imran) ayat 185:

كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِ‌ؕ وَاِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ اُجُوۡرَكُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ‌ؕ فَمَنۡ زُحۡزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدۡخِلَ الۡجَـنَّةَ فَقَدۡ فَازَ ‌ؕ وَمَا الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ‏ ﴿۱۸۵﴾

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

“Ya Allah kapan waktunya?”, bersiap saja, ada di qur’an surat ke 7 (Al-A’raf) ayat ke 34:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ‌ۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَةً‌ وَّلَا يَسۡتَقۡدِمُوۡنَ‏ ﴿۳۴﴾

Artinya: Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu [537]; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. [537] Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.

“Ya Allah bagaimana cara meninggal itu?, enak atau tidak?”, jika ingin tenang, pelajari surat ke 89 (Al-Fajr) ayat 27 – 30:

يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ  ۖ‏ ﴿۲۷﴾

Artinya: Hai jiwa yang tenang.

ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً‌ ۚ‏ ﴿۲۸﴾

Artinya: Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ‏ ﴿۲۹﴾

Artinya: Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى‏ ﴿۳۰﴾

Artinya: masuklah ke dalam syurga-Ku.

Jika ingin tahu yang menegangkan, ada di qur’an surat ke 8 (Al-Anfaal) ayat ke 50:

وَ لَوۡ تَرٰٓى اِذۡ يَتَوَفَّى الَّذِيۡنَ كَفَرُوا‌ ۙ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ يَضۡرِبُوۡنَ وُجُوۡهَهُمۡ وَاَدۡبَارَهُمۡۚ وَذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِيۡقِ‏ ﴿۵۰﴾

Artinya: Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).

Situasi di alam kubur, saya telah belajar malam pertama di dunia, bagaimana malam pertama dialam kubur, pelajari yang bagus bagus, surat ke 3 (Ali imran)ayat 169 – 171.

وَلَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ قُتِلُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتًا ‌ؕ بَلۡ اَحۡيَآءٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُوۡنَۙ‏ ﴿۱۶۹﴾

Artinya: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup [248] di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. [248] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

فَرِحِيۡنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ ۙ وَيَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِيۡنَ لَمۡ يَلۡحَقُوۡا بِهِمۡ مِّنۡ خَلۡفِهِمۡۙ اَ لَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَ‌ۘ‏ ﴿۱۷۰﴾

Artinya: Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka [249], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [249] Maksudnya ialah teman-temannya yang masih hidup dan tetap berjihad di jalan Allah s.w.t.

يَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضۡلٍۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ  ۛۚ‏ ﴿۱۷۱﴾

Artinya: Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

Jika banyak amal salah, sedikit amal solehnya, rasakan nanti, ada di qur’an surat ke 40 (Al-Mu’min) ayat ke 46 – 47:

اَلنَّارُ يُعۡرَضُوۡنَ عَلَيۡهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚ وَيَوۡمَ تَقُوۡمُ السَّاعَةُ اَدۡخِلُوۡۤا اٰلَ فِرۡعَوۡنَ اَشَدَّ الۡعَذَابِ‏ ﴿۴۶﴾

Artinya: Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang [1325], dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [1325] Maksudnya: dinampakkan kepada mereka neraka pagi dan petang sebelum hari berbangkit.

وَاِذۡ يَتَحَآجُّوۡنَ فِى النَّارِ فَيَقُوۡلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِيۡنَ اسۡتَكۡبَرُوۡۤا اِنَّا كُنَّا لَـكُمۡ تَبَعًا فَهَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا نَصِيۡبًا مِّنَ النَّارِ‏ ﴿۴۷﴾

Artinya: Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Ya Allah bagaimana di yaumil hisab yang menegangkan itu, perbanyaklah amal sholeh, supaya kami bisa melihat Allah SWT saat hisab langsung tanpa sekat, ada di qur’an surat ke 75 (Al-Qiyamah) ayat 22-23:

وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ﴿۲۲﴾

Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri.

اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ‌ ۚ‏ ﴿۲۳﴾

Artinya: Kepada Tuhannyalah mereka melihat.

Masuk surga tanpa hisab, ada kesempatannya, ada di qur’an surat ke 2 (Al-Baqarah) ayat 25:

وَبَشِّرِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِىۡ مِنۡ تَحۡتِهَا الۡاَنۡهٰرُ‌ؕ ڪُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡهَا مِنۡ ثَمَرَةٍ رِّزۡقًا ‌ۙ قَالُوۡا هٰذَا الَّذِىۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ وَاُتُوۡا بِهٖ مُتَشَابِهًا ‌ؕ وَلَهُمۡ فِيۡهَآ اَزۡوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ‌ۙ وَّهُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ‏ ﴿۲۵﴾

Artinya: Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya [32]. [32] Keni’matan di syurga itu adalah keni’matan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani.

Jangan coba2 perbanyak amal salah tanpa ada amal solehnya, karena bisa juga masuk neraka tanpa hisab, ada di qur’an surat 18 (Al-Kahfi) ayat 100 – 101:

وَّعَرَضۡنَا جَهَـنَّمَ يَوۡمَٮِٕذٍ لِّـلۡكٰفِرِيۡنَ عَرۡضَا ۙ‏ ﴿۱۰۰﴾

Artinya: dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu [895] kepada orang-orang kafir dengan jelas, [895] Pada hari makhluk di padang Mahsyar dikumpulkan.

اۨلَّذِيۡنَ كَانَتۡ اَعۡيُنُهُمۡ فِىۡ غِطَآءٍ عَنۡ ذِكۡرِىۡ وَكَانُوۡا لَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ سَمۡعًا‏ ﴿۱۰۱﴾

Artinya: yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.

“Ya Allah di Syurga bagaimana kehidupannya?”, silakan siapkan, ada syurga bersama nabi, ikuti tuntunannya, ada di qur’an surat ke 3 (Ali imran) ayat 31:

قُلۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوۡنِىۡ يُحۡبِبۡكُمُ اللّٰهُ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ‌ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ‏ ﴿۳۱﴾

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

ada syurga ditaman syurga, ada di qur’an surat 51 (Adz-Dzaariyat) ayat 15-23:

اِنَّ الۡمُتَّقِيۡنَ فِىۡ جَنّٰتٍ وَّعُيُوۡنٍۙ‏ ﴿۱۵﴾

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,

ada syurga seluas langit dan bumi, ada di qur’an surat ke 3 (Ali imran) ayat 133-134:

وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ‏ ﴿۱۳۳﴾

Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ‌ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ‌ۚ‏ ﴿۱۳۴﴾

Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

MasyaAllah, semua, ada.

Alhamdulillah, demikiannya yang kami coba tuliskan, semoga bermanfaat.

Wasalamualaikum wr wb.

Syaikhul Hadits Maulana Zakariya al Kandahlawi

1.1 KELUARGA DAN TEMPAT KELAHIRANNYA

Di bahagian barat wilayah utara Uttar Pradesh di sebuah bandar yang diberi nama Muzaffar Naqar di negara India terdapat dua buah desa yang masyhur dengan panggilan Jihinjanah dan Kandalah. Di dalam dua buah desa ini telah menjalani kehidupan sebuah keluarga ilmuan yang memiliki kemulian nama dengan kefaqihan dan keilmuan dalam sumber hukum dan perundangan Islam serta ketekunan dan ketabahan servival (perjuangan) dalam mengimplimentasi agama yang sempurna dalam kehidupan mereka secara keseluruhannya. Moyang keluarga ini ialah seorang ulama yang tersohor pada ketika itu yang bernama al-Syeikh Muhammad Ashraf di mana beliau berkesempatan hidup di zaman Shah Jahan raja India pada masa itu. Para ulamak di zamannya telah bersepakat bahawa beliau adalah pengamal agama yang istiqamah, warak dan pengikut sunnah yang setia.

Keluarga yang mulia ini telah melahirkan ramai alim ulama yang ulung lagi tersohor, di kalangan mereka adalah al-Syeikh al-Mufti Ilahi Baksh al-Kandahlawi yang masyhur di benua kecil India dengan kelebihan dan kebijaksanaanya. Beliau merupakan salah seorang di antara murid-murid al-Syeikh Abd al-Aziz anak lelaki kepada al-Syeikh Waliullah al-Dahlawi yang intelektual dan juga anak murid kepada khalifah al-Imam al-Shahid al-Saiyyid Ahmad al-Brilwi. Beliau telah mengarang lebih dari 60 buah buku ilmiah di dalam Bahasa Arab dan Urdu. Allah s.w.t telah mentaqdirkan pada tahun 1245H beliau meninggal dunia. Di kalangan mereka juga adalah al-Syeikh Abu Hasan dan al-Syeikh Nur al-Hasan, al-Syeikh Muzaffar Hussin, al-Syeikh Muhammad Ismail, al-Syeikh Maulana Muhammad Ilyas dan al-Syeikh Maulana Muhammad Yahya bin al-Syeikh Muhammad Ismail rah.a. Kesemua mereka adalah pendakwah-pendakwah agama Allah s.w.t yang mukhlis dan dari golongan alim ulama yang ulung di zaman masing-masing.

1.2 KELAHIRAN

Rumah Maulana Zakariyya

Al-Syeikh Maulana Muhammad Zakariyya bin al-Syeikh Maulana Muhammad Yahya bin al-Syeikh Maulana Muhammad Ismail adalah dari keluarga yang memiliki asal usul yang mulia ini di mana salasilah beliau bertemu dengan Saidina Abu Bakr al-Siddq r.a seorang sahabat yang paling Nabi Muhammad s.a.w. kasihi. Beliau telah dilahirkan pada jam 11.00 malam pada malam bulan Ramadhan yang ke sebelas tahun 1315 Hijriah bersamaan 12 Februari 1898 Masihi di dalam suasana yang terbaik pada ketika itu di mana amalan soleh mengatasi kemungkaran dan masayarakat di tempatnya berpegang teguh dengan ajaran agama. Pada masa kelahiranya al-Syeikh Maulana Muhammad Yahya menjawat jawatan sebagai tenaga pengajar di Madrasah Mazahir al-Ulum, Saharanpur.

al-Syeikh Abu Hassan Nadwi memberi komentar bahawa al-Kandalawi ditaqdirkan lahir di dalam keluarga yang alim dan warak serta istiqamah dalam menjalankan seluruh perintah Allah s.w.t ini terbukti apabila mereka mempunyai jiwa yang teguh serta kental, sabar dalam menghadapi kesusahan dan bersyukur ketika menerima kurniaan yang mengembirakan. Nenek Maulana merupakan seorang hafizah al-Quran di mana beliau telah menamatkan hafalan keseluruhan al-Quran ketika mengasuh ayahanda Maulana Muhammad Zakariyya.

Pintu masuk rumah Maulana Zakariyya

1.3 PEMBESARANYA

al-Kandahlawi dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang zuhud dan sederhana. Ibu bapa serta nindanya sangat menyayanginya dan mempunyai aspirasi yang tinggi bagi menjadikan beliau seorang insan yang benar-benar beriman kepada Allah s.w.t dengan memiliki ilmu-ilmu agama dan tidak mencintai dunia sehingga bakhil dalam membelanjakan harta di jalan Allah s.w.t dan menjual ilmu agama bagi mendapatkan keuntungan dan kesenangan duniawi yang sementara. Ayahandanya mempunyai kaedah dan caranya yang tersendiri dalam memastikan beliau memiliki ciri-ciri kepimpinan yang intelektual, keterampilan yang progresif dengan paduan antara akhlak dan kewibawaan Rasulullah s.a.w. Tamparan, tengkingan dan pukulan yang menyakitkan lagi memedihkan daripada ayahnya merupakan perkara biasa bagi dirinya sehingga beliau menyatakan dalam kitabnya Aap Beeti berkat dan hasil daripada pukulan ayahandaya serta kesabaran dan ketabahan beliau menghadapinya adalah faktor tercetusnya kebijaksanaan dan kepakaran beliau dalam ilmu agama khususnya dalam bidang hadis.

Beliau beruntung disebabkan sempat hidup sezaman dengan al-Imam al-Rabbani al-Syeikh al-Gangohi dan berpeluang bergaul serta bermuamalah dengan al-Gangohi juga ulama yang lain. Oleh itu beliau telah memperolehi keberkatan menerusi doa dan keberkatan daripada para ulama yang berpegang teguh dengan agama Allah s.w.t yang maha suci yang terdiri daripada golongan fuqaha, muhaddithin dan mereka yang hatinya hampir dengan Allah s.w.t. Oleh yang demikian keadaanya, al-Kandahlawi berpotensi besar menjadi seorang pemuda yang soleh, bertaqwa, berkarisma menarik serta memiliki hati sanubari yang suci dan murni dengan terpelihara daripada anasir-anasir yang boleh merosakkannya dengan berperisai dengan kubu yang kukuh.

Semasa beliau berumur 19 tahun Allah s.w.t telah menetapkan ayahandanya pulang ke rahmatullah pada 10 Zul al-Qacedah 1334 H yang mana beliau mewariskan kepadanya sebuah kedai buku. Dengan perniagaan buku tersebut ayahandanya menyara kehidupan mereka sekeluarga mekipun ayahandanya berkerja sebagai guru di Madrasah Mazahir al-‘Ulum, Saharanpur beliau tidak mengambil sebarang upah atau gaji bulanan walaupun telah didesak beberapa kali untuk menerimanya kerana niatnya yang suci dan murni semata-mata untuk mendapatkan keredhaan dan keampunan Allah s.w.t. Dengan kematian ayahnya juga sebagai guru dan mentornya beliau terpaksa berdikari dan mencari sumber pendapatan sendiri bagi menyara diri dan keluarganya.

Perpustakaan peribadi Maulana Zakariyya

1.4 KEHIDUPAN MAWLANA ZAKARIYA

Kehidupan beliau sibuk dengan perkara-perkara yang bermanfaat yang berlegar di sekitarnya. Beliau menjaga masanya setiap detik dan ketika. Selepas beliau solat fajar beliau duduk sekejap. Beliau sibuk berzikir dan berdoa dengan himpunan doa masnun. Kemudian beliau balik ke rumahnya dan duduk bersama orang ramai sambil minum teh tanpa sarapan dan makan. Kemudian beliau masuk ke biliknya dan sibuk mengulangkaji dan mengarang. Pada masa ini tidak ada sesiapapun yang menziarahinya kecuali orang yang ingin belajar atau mereka yang datang sebagai tetamu. Biliknya lengang dari segala macam perhiasan dan seseorang itu akan terasa berat hati untuk menyusahkan beliau dengan menziarahinya dan berurusan dengan kesibukannya. Selepas solat Zohor beliau sibuk dengan menulis risalah dan jarang sekali beliau tidak melakukan demikian. Kemudian beliau keluar untuk mengajar. Beliau sibuk mengajar selama 2 jam sebelum solat asar. Selepas solat asar beliau duduk bersama orang ramai dan memberi mereka minum teh dan mereka terdiri daripada bilangan orang yang besar. Orang yang menziarahinya menyangka beliau mengadakan kenduri kecil tetapi ia adalah perkara biasa. Selepas solat Maghrib beliau sibuk dengan amalan-amalan sunat dan wirid. Biasanya beliau tidak makan malam kecuali untuk meraikan tetamu yang besar.

Beliau seorang yang pintar membahagiakan waktu antara masa mengulangkaji, mengarang buku ilmiah, menyambut tetamu dan lain-lain lagi. Semua itu tidak menyibukkannya dari kesibukan dengan tuhannya, berseorangan untuk beribadat, bermunajat, mendidik para pelajar dan tidak menyibukkan daripada mengahdiri perhimpunan besar jemaah tabligh serta tidak menyibukkan daripada mengarang kitab dan surat-surat di dalam pengislahan dan mengajak manusia kepada ajaran Allah yang sempurna.

Buku-buku milik Maulana Zakariyya

1.5 PENDIDIKAN

Pendidikan al-Kandahlawi bermula pada tahun 1325 H-1907 M hingga tahun 1336 H-1917 M. Di antara masyaikh yang telah menjadi guru dan pembimbing beliau ialah ayahandanya sendiri al-Syeikh Maulana Muhammad Yahya bin al-Syeikh Maulana Muhammad Isma’il, bapa saudaranya al-Syeikh Maulana Muhammad Ilyas, Syeikh Saharanpuri, Maulana ‘Abd al-Wahid Sanbuli, Maulana ‘Abd al-Latif dan ramai lagi. Beliau belajar membaca dengan Hakim ‘Abd al-Rahman Muzaffarnagar dan menghafal al-Quran melalui bimbingan ayahandanya serta belajar buku parsi dan asas bahasa Arab dengan bapa saudaranya al-Syeikh Maulana Muhammad Ilyas. Bapanya menitikberatkan pendidikan dan mengambil kira mengenainya sehingga al-Kandahlawi disuruh membaca setiap apa yang telah dihafalnya daripada al-Quran al-Karim sebanyak 100 kali dan melarang beliau dari bercampur-gaul dengan orang ramai. Beliau tinggal bersama ayahnya di rumah al-Syeikh Gangohi sehingga 8 tahun. Kemudian beliau bersama dengan bapanya pergi ke Mahazhir al-Ulum, Saharanpur menetap di sana di mana bapanya merupakasan salah seorang tenaga pengajar di situ.

Sebelum memulakan pengajian hadis, bapanya al-Syeikh Maulna Muhammad Yahya akan mandi dan solat dua rakacat. Semasa berada di sini, minat al-Kandahlawi terhadap ilmu hadis semakin menebal ini menyebabkan beliau menjadikan hadis sebagai fokus dan matlamat utama kehidupan yang perlu dikuasainya seperti mana leluhurnya telah perolihi. Di bawah bimbingan dan tunjuk ajar bapanya beliau mahir dalam pengaplikasian Bahasa Arab, nahu, ilmu morfologi, kesusasteraan dan ilmu mantik. Bapanya al-Syeikh Maulana Muhammad Yahya mengajarnya kutub sittah dari pada awal hingga akhir, manakala al-Syeikh Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri mengajarnya sahih al-Bukhari dan sunan al-Tirmidhi buat kali kedua.

Semasa di alam persekolahan lagi al-Kandahlawi telah mula berjinak dalam arena penulisan di mana beliau menjadi penulis dan penyunting kitab Baz al-Majhud syarah Sunan Abu Daud hasil karya al-Syeikh Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Al-Kandahlawi berguru dengannya sehingga beliau meninggal dunia di Madinah al-Munawwarah pada 1346 H. Jenazah beliau dikebumikan di tanah perkuburan Baqi’. Sebelum wafat al-Saharanpuri telah menyatakan hasratnya kepada al-Kandahlawi supaya membantunya menghasilkan sebuah kitab Syarah Sunan Abi Daud yang diberi nama Baz al-Majhud ini kerana beliau tidak terdaya menghasilknya sendiri disebabkan faktor usianya yang telah lanjut dan uzur serta ganguan angota badannya yang kerap kali bergetar dan mengigil, halangan sebegini menyukarkannya menyiapkan kitab ini secara perseorangan.

Tawaran berharga yang diberikan oleh grunya itu tidak dipersia-siakan begitu sahaja ini kerana selain dapat membantu syeikhnya menghasilkan kitab yang berstatus tinggi ini beliau dapat mengasah dan mempertingkatkan kemahiran penulisannya dengan lebih ivovatif, kreatif dan efektif.

Peranan yang dimainkan beliau dalam membantu gurunya menghasilkan penulisan Baz al-Majhud ialah dengan mencari kitab-kitab dan artikel-artikel ilmiah yang ditetapkan oleh al-Saharanpuri samada yang berada di maktabah atau di kutab yang terdapat di Mazahir al-Ulum dan di luar madrasah kemudian menukil fakta-fakta yang sesuai lalu dibentangkan kepada al-Saharanpuri untuk disemak dan dikaji serta dibuat penyusunan fakta. Apabila fakta dan komentar tersebut telah siap disusun al-Saharanpuri akan mengimlakannya kepada al-Kandahlawi dan beliau akan menulisnya mengikut apa yang dibaca oleh gurunya. Dengan semangat juang dan kometmen serta ketekunan yang gigih dalam penulisan ini maka kitab ini dapat disempurnakan dan diterbitkan. Semenjak daripada itu al-Kandahlawi memperolehi keberkatan dan kebaikan dari syeikhnya di mana beliau menjadi khalifah dan naib kepada al-Saharanpuri serta namanya diabadikan di dalam prakata kitab tersebut seperti mana berikut :

Saya telah meminta tolong beberapa orang sahabat saya yang ternama di antaranya adalah saudara dan penyejuk mata serta hati saya Haji Hafiz Mulwi Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam menghasilkan kitab Baz al-Majhud dan beliau menyetujuinya. Saya tidak terdaya menulis dengan tangan disebabkan sentiasa mengeletar serta minda dan semangat yang lemah. Oleh itu saya akan mengimlakan kepadanya dan dia akan menulisnya. Dialah yang mencari maklumat dan fakta yang rumit ditemui di dalam sumber rujukan. Saya bermohon kepada Allah s.w.t. dengan usaha dan komitmen yang diberikan agar mengurniakan kepadanya ganjaran dan keberkatan yang terbaik atas usaha yang telah beliau sumbangkan dalam menjayakan penerbitan kitab ini.

Tempat belajar Maulana Zakariyya

1.6 PERJALANAN KE TANAH SUCI

Pencinta dan penjaga sunnah Rasulullah s.a.w. ini berkesempatan dan berpeluang pergi ke tanah suci iaitu Makah dan Madinah. Beliau telah telah mengerjakan rukun Islam yang kelima ini beberapa kali. Kekerapan beliau datang ke tempat ini meninggalkan kesan yang mendalam dan luar biasa ke atas jiwa raga serta keintelektualannya. Pada tahun 1338 H beliau pergi ke tanah suci mengiringi guru beliau al-Saharanpuri. Ketika berada di sana al-Saharanpuri terjumpa sebuah manuskrip Musnad Abdul Razak, ini menimbulkan keinginan yang mendalam untuk memilikinya tetapi terpaksa dibatalkan hasrat dan keinginannya yang mendalam untuk memilikinya disebabkan penjual mengenakan harga yang melebihi wang yang dimilikinya. Untuk tidak menghampakan gurunya al-Kandahlawi membuat satu inisiatif yang di luar jangkaan al-Saharanpuri di mana beliau meminjam manuskrip tersebut dan menyalinnya semula dengan mengunakan tulisan tangan. al-Kandahlawi berjaya menyalin semula manuskrip tersebut dengan kerjasama yang diberikan oleh kawan-kawanya. Usaha ini mengambil masa selama sepuluh hari bagi menyiapkannya.

Kedai buku milik ayah Maulana Zakariyya

1.7 KEPERIBADIAN DAN CIRI-CIRI KHUSUS

Kondisi yang positif serta semulajadi pada ketika itu telah mencorakkan kehidupan beliau dari remaja hingga dewasa di bawah rahmat ilahi dan tarbiah serta pengawalan yang komprehensif lagi realistik menerusi para pendidik dan pembimbing yang memiliki spiritual yang konkrit lagi intensif dalam mengaplikasi arahan Allah S.W.T. dalam kehidupan mereka. Ini telah menjadikan beliau seorang yang tenang dan mempunyai rohani yang suci lagi bersih, cita rasa yang menepati kehendak Allah S.W.T. dan cenderung kepada semua kebajikan seperti ibadah, taqwa, pengajian, mengarang dan kesempurnaan sifat-sifat mulia yang dapat dibaca menerusi wajah beliau, sentiasa bersedia menemui Allah S.W.T. memiliki hati yang mulia, sangat memuliakan para tetamu dan mempunyai tabiat semulajadi yang mulia.

Beliau memiliki bentuk tubuh badan yang sasa, warna kulit yang putih dan mempunyai bibir mulut yang merah. Beliau sangat rajin tanpa mengenal erti kemalasan. Jiwanya yang halus, bermanis muka, peramah penyayang, banyak bersenda gurau dengan mereka-mereka yang berlembut atau mereka yang menyukai untuk berlembut, mudah menitiskan air mata dan mudah tersentu perasaan ketika mana disebut mengenai sesuatu dari kisah Rasul s.a.w., sahabat, awliya’ atau mengeluarkan bait syair yang merdu. Beliau akan mengalirkan air mata dan tidak dapat mengawal tangisan. Jika beliau diselubungi perasaan hiba maka beliau akan menitiskan air mata.

Manuskrip tulisan tangan Maulana Zakariyya

Di antara sebesar-besar kebanggaan yang dimiliki oleh beliau yang boleh dibanggakan di dalam kehidupannya ialah beliau telah mengahabiskan seluruh masanya untuk perkara yang berguna serta tidak mencuaikan masanya yang penuh berharga dengan sia-sia. Kehidupanya penuh dengan perkara-perkara yang boleh diambil contoh dan intisari ibadat, zikir, mengajar, mengarang, memperbaiki rohani, memberi tunjuk ajar dan nasihat.

1.8 MANHAJ DAN METODOLOGI PENULISAN

al-Kandahlawi bergiat aktif dalam arena penulisan semenjak di alam persekolahan lagi. Beliau berkarya mengunakan Bahasa Urdu dan Arab di mana kepakaran dan kefasaihannya dalam bahasa tersebut tidak perlu dipertikaikan lagi. Seperti mana para cendiakawan Islam yang lain, mereka menulis dalam pelbagai bidang dan pengkhususan ilmu agama seperti hadis, fiqh, aqidah, kelebihan amalan, perundangan islam dan lain-lain lagi begitu juga beliau yang mana telah menghasilkan pelbagai kitab yang berkaitan dengan ilmu di atas. Kitab yang ditulisnya dibaca dan menjadi rujukan samada dari golongan alim ulama dan orang yang jahil ilmu agama. Oleh yang demikian matlamat sasaran pembaca penulisan beliau terbahagi kepada dua iaitu orang yang alim dalam bidang agama dan orang awam biasa yang mana kitab yang ditulis untuk kedua-dua sasaran ini berlainan dan berbeza dari segi metode, uslub bahasa dan fakta.

Kitab kelebihan amal yang mengandungi enam bab iaitu kelebihan solah, zikir, al-quran, Ramadhan, sedeqah, haji dan umrah, tabligh dan hikyah sahabah diterbitkan untuk dibaca oleh orang awam yang tidak mahir dalam ilmu agama bagi tujuan memberi ransangan dan mewujudkan semangat yang berkobar-kobar di dalam sanubari mereka menjalankan amalan agama serta perundangan Islam. Kitab Awjaz al-Masalik syarah kitab al-Muwatta’ Imām Malik, Lami’ al-Dirari Ala Jami’ al-Bukhari, Al-Abwab wa al-Tarajim al-Bukhari, Juz Haj al-Wida’ wa Umrah al-Nabi, Khasail Nabawi Syarh Shamail al-Tirmidhi, Al-I’tidal fi Maratib al-Rijal dan lain-lain dihasilkan untuk orang-orang yang ingin mendalami ilmu agama, para pelajar agama dan alim ulamak sebagi sumber rujukan.

Apakah pegangan al-Kandahlawi mengenai permasalahan kebenaran beramal dengan hadis daif? Pendapat al-Kandahlawi dalam perkara ini sama dengan pendapat jumhur ulamak iaitu dibolehkan beramal dengan hadis daif dalam permasalahan taghib, tarhib, kelebihan-kelebihan amal dan manaqib sahaja dan tidak dibolehkan dalam permasalahan halal haram dan aqidah. Bagaimana sistem yang diaplikasi oleh beliau ketika proses pendidikan? al-Kandahlawi mengikuti sistem dan kaedah dirayah dan riwayah serta mengekalkan sistem sanad dari awal hingga penulis kitab hadis khususnya kutub sittah. Bagi menghasilkan buku untuk tatapan orang awam al-Kandahlawi menulis dan mengeluarkan hadis taghrib dan tahzib yang mana beliau mengunakan kitab hadis (Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasai & Sunan Ibn Majah), kitab al-Targhib wa al-Tarhib oleh al-Munziri, kitab Majma’ al-Zawa’id oleh al-Haitsami dan kitab Jami’ al-Sagir oleh al-Suyuti.

Dalam penulisan hadis al-Kandahlawi mengunakan metodos sanad, matan dan hukum hadis tersebut. Dalam meriwayatkan dan menukilkan sesebuah hadis dalam kitabnya beliau akan menyatakan sanad hadis tersebut dari pembuku hadis sehinggalah kepada Rasulullah s.a.w seperti dalam kitabnya Awjaz al-Masalik, selepas menyatakan matan hadis tersebut beliau menjelaskan jenis dan hukum hadis tersebut samada mursal, munqati’, daif, sahih dan sebagainya. Seperti mana dalam kitab Awjaz al-Masalik beliau menyusun tajuk mengikut bab-bab fiqh seperti salat, wudu’, taharah dan sebagainya. Sebagai seorang yang alim dalam ilmu fiqh beliau akan cuba membuat perbandingan pendapat mazhab yang empat dalam sesuatu permasalahan yang terdapat di dalam hadis yang beliu nukillkan dalam penulisannya sehingga pembaca tidak mengetahui beliau dari mazhab yang mana dalam empat mazhab tersebut.

1.9 KARYA-KARYA

Penyusunan kitab dan usaha yang gigih dalam menghasilkan bahan ilmiah yang tinggi mutu, kualiti dan nilainya merupakan satu bab dalam kehidupan al-Syeikh Muhammad Zakariyya rah, dan kalau dikaji dengan kajian lapangan bahawa berkat daripada penulisan beliau masih melimpah hingga sekarang walaupun beliau telah meninggal dunia 28 tahun yang lalu. Berikut disenaraikan karya penulisan ilmiah yang komprehensif dihasilkan oleh beliau;

a). Tarikh Mazahir dan Tarikh Masyaikh.

Dua buah buku di atas adalah permulaan karya beliau. Makna buah buku ini ialah 50 Tahun Keadaan Madrasah Mazahir Ulum dan Riwayat Hidup Para Masyaikh.

b). Awjaz al-Masalik.

Kitab Aujaz al-Masalik

Kitab yang mempunyai enam jilid serta ditulis dalam Bahasa Arab ini merupakan salah satu dari kitab-kitab beliau yang masyhur dan bersifat kontemperari pada ketika itu. Awjaz al-Masalik ialah syarah kitab al-Muwatta’ Imam Malik hasil usaha serta titik peluh beliau selama kira-kira 40 tahun.

Kitab ini merupakan salah satu dari kitab komentar al-Muwatta’ Imam Malik yang paling komprehensif yang mana mengandungi sains hadis, ilmu perundangan Islam dan komentar hadis.

Dalam kitab ini Maulana menukil kesimpulan yang nyata serta intelek daripada komentar-komentar yang dibuat oleh para cendiakawan hadis lain samada pendapat yang sepakat atau khilaf beserta dengan dalil mereka berhubung sesuatu isu. Kitab ini telah mendapat banyak pujian daripada tokoh-tokoh ulama Hijaz. Di antara tokoh ulamak tersebut ada seorang yang berkata “Seandainya pengarang kitab ini tidak menyatakan di dalam muqaddimahnya bahawa beliau bermazhab Hanafi, maka pasti kami akan menyangka bahawa beliau bermazhab Maliki secara terperinci. Selain itu, beliau dapat mengumpulkan banyak masalah-masalah fiqhiyah mazhab Maliki di mana penjelasan masalah tersebut sukar untuk ditemui dalam mana-mana kitab mazhab Maliki sekalipun.” Alim ulamak dari negara Arab khususnya Arab Sacudi, semoga Allah s.w.t mengurniakan kepadanya kemulian dan keagungan yang tinggi serta alim ulama dari Damsyik sangat berharap kepada al-Kandahlawī agar kitab ini dapat diterbitkan di Beirut, Lebanon. Ada seorang yang kaya raya dari Mekah al-Mukarramah telah menerbitkan kitab ini dengan pembiayaan peribadinya sendiri.

c). Lami’ al-Dirari ‘Ala Jami’ al-Bukhari.

Karya ini mula penulisannya pada hari Rabu 7 Muharram 1376 dan disempurnakan pada 10 Rabic al-Awwal 1388H dan ditulis dalam Bahasa Arab serta mengandungi 3 jilid. kitab syarah Bukhari ini merupakan hasil usaha Syeikh Rashid Ahmad dan bapanya Syeikh Yahya al-Kandahlawi. Maulana Muhammad Zakariyya berperanan mengedit, mentahqiq dan menjelaskan perkara yang perlu diperjelaskan.

d). al-Abwab wa al-Tarajim Li al-Bukhari.

Sebuah penerangan dan penjelasan tentang setiap tajuk yang terdapat di dalam kitab Sahih Imam al-Bukhari. Buku ini mengumpulkan pendapat para sarjana dan ilmuan hadis keunikan dan reasional serta hubungan di antara hadis dan tajuk yang diberikan bagi hadis tersebut. Perkara ini perlu dijelaskan kerana ulama pensyarah Jamic Sahih al-Bukhari menyatakan bahawa fiqh Imam al-Bukhari terletak pada tajuknya. Kita akan mendapati di dalam kitab al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar Min Hadith Rasulullah Wa Sunnah Wa Ayyamih hadis yang ditulis secara berulang dan ketidak sesuaiaan hadis dengan tajuk yang diberikan dari segi pemahaman biasa. Dalam kitab ini al-Kandahlawi bukan sahaja mengambil pendapat daripada imam-imam hadis seperti Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani dan Shah Wali Allah al-Dehlawi tetapi beliau membuat perbandingan di antara komentar mereka dan cuba mendapatkan korelasi berdasarkan research yang beliau jalankan.

e). Juz’ Haj al-Wida’ wa ‘Umrah al-Nabi

Kitab ini mula dihasilkan pada Jumaat 22 Rabi al-Awwal 1341H pada jam 12 tengahari dan selesai penulisannya pada jam 01.30 malam hari Sabtu pada mulanya kemudian disunting untuk diterbitkan pada 15 Rejab 1390. Sebuah kitab bahasa Arab yang komprehensif yang menerangkan mengenai jumlah Nabi Muhammad s.a.w mengerjakan haji dan umrah, cara dan panduan mengerjakan haji, lokasi-lokasi yang akan dilawati semasa mengerjakan haji dan umrah dan lain-lain.

f). Khasail Nabawi Syarh Shamail al-Tirmidhi.

Kitab ini mula ditulis pada 1343H dan berakhir pada 1344H. Kitab syarah al-Syamail al-Muhammadiyyah ini mengandungi koleksi-koleksi hadis yang berhubung sifat dan ciri yang terdapat pada diri Nabi Muhammad s.a.w. Kitab ini telah diterjemah ke pelbagai bahasa.

g). Fadail al-A’amal dikarang pada 1348 H.

h). Fadail Ramadan ditulis pada 1349 H.

i). Fadail Tabligh dihasilkan bertarikh 1350 H.

j). Fadail Namaaz (Solah) diterbitkan pada 1358 H.

k). Fadail Haj, selesai pada 1367 H.

l). Fadail Sadaqah, karya pada tahun 1368 H.

m). Fadail Zikr

n). Fadail Durood Sharif, 1384 H.

o). Fadail Tijarah, 1401 H.

p). Hikayah al-Sahabah, 1357 H.

q). Al-I’tidal fi Maratib al-Rijal, 1357 H.

r). Daari Ka Wujoob.

s). Aap Bieti, mempunyai 5 jilid, 1388-1391 H.

t). Syari’ah wa Tariqah, 1398 H.

u) Um al-Amrad.

v) Fitna al-Maududiah

w) Mowt Ki Yaad

1.10 GURU-GURU MAULANA

Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dirahmati dan dikasihi kerana dapat bertalaqi dan berguru dengan para alim ulamak serta ilmuan yang tinggi ilmu dan keperibadiaanya serta mempunyai tahap kerohaniaan yang agung di benua kecil India. Di antara alim ulamak tersebut ialah ayahandanya sendiri al-Syeikh Maulana Muhammad Yahya bin al-Syeikh Maulana Muhammad Ismail yang lahir pada 1287 H. Beliau seorang sarjana yang mahir serta berpengalaman dalam lapangan hadis juga perundangan islam.

Hasil daripada pukulan dan hukuman serta kata-kata nasihat daripada ayahandanya beliau menjadi seorang yang mempunyai minat yang mendalam terhadap hadis dan mempunyai ketabahan yang amat luar biasa dalam menguasainya. Al-Kandahlawi telah menghafal al-Quran semasa berumur 7 tahun. Ayahnya memerintahkan supaya membaca ayat al-Quran yang telah dihafal sebanyak 100 kali. Selain daripada Maulana Muhammad Yahya, al-Kandahlawi berkesempatan berguru dengan bapa saudaranya al-Syeikh al-Da’ei Maulana Muhammad Ilyas dalam bidang hadis. Beliau berpeluang berguru dengan sarjana hadis yang masyhur dan merupakan muhtamim(pengetua) madrasah Mazahir al-‘Ulum Saharanpur serta penulis kitab Bazl Majhud, di mana di bawah bimbingan dan asuhannya beliau memperolihi kemahiran dan metode dalam penulisan hadis serta gelaran Syeikh al-Hadis.

Selain daripada mereka bertiga al-Kandahlawi dimuliakan dan ditinggikan kerohaniaanya natijah daripada korelasinya dengan para ulama yang berikut yang mana telah menjadi sumber inspirasi, pemangkin semangat kerohanian dan berlakunya anjakan paradigma bagi menjadi seorang yang calim dan faqih dalam aliran hadis nabawi.

a) Maulana Qasim Nanotwi.

b) Maulana Khalil Ahmad Saharanpui.

c) Maulana Rashid Ahmad Gangohi.

d) Maulana Qasim Nanotwi.

e) Maulana Imdadullah

f) Maulana Mahmud al-Hassan

g) Maulana Asyarf Ali Thanwi.

h) Maulana Hussain Ahmad Madani.

i) Maulana Syah Abd al-Qadir Raipuri.

j) Maulana Abu al-Hassan ‘Ali Nadwi.

k) Maulana Sulaiman Nadwi.

l) Maulana ‘Ashiq Ilahi.

m) Shah ‘Abd al-‘Aziz Dahlawi.

n) Maulana al-Haj ‘Abd al-Latif Sahib

o) Maulana Zafar Ahmad Thanwi, Syaikh al-Islam Pakistan, 1310 H.

p) Maulana ‘Abd al-Wahid, 1290 H (tarikh dilahirkan).

q) Hadrah Nazim Sahib.

1.11 KERJAYA DAN MURID-MURIDNYA

al-Kandahlawi telah dilantik menjawat jawatan sebagai tenagan pengajar di Madrasah Mazahir al-‘Ulum, Saharapur dari tahun 1335 H-1916M ketika berusia 20 tahun sehingga 1388H-1968M ketika berusia 72 tahun iaitu dalam jangka masa 52 tahun beliau berbakti dalam arena pendidikan dan pengajaran. Sungguhpun beliau pernah mengajar dan mendapat tawaran mengajar di beberapa buah institusi agama yang lain, Mazahir al-‘Ulum, Saharapur merupakan tempat paling lama beliau mengajar dan berkhidmat. Mazahir al-‘Ulum merupakan sekolah lama beliau di mana selama 11 tahun beliau belajar di situ.

al-Kandahlawi adalah seorang yang zuhud dan tacat serta patuh kepada sunnah nabi s.a.w. Beliau tidak mengunakan agama untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan hidup walaupun peluang ke arah kesenangan terbentang luas baginya. al-Kandahlawi tidak mengambil upah atau gaji dari kerjayanya sebagai tenaga pengajar di Mazahir al-‘Ulum walaupun pihak madrasah telah memperuntukan baginya gaji bulanan tetapi beliau akan memulangkannya semula pada keesokan harinya sebagai sedeqah kepada madrasah. al-Kandahlawi pernah ditawar bertugas sementara di Institut Da-iratul Ma’arif sebagai penulis kitab Asmac al-Rijal bagi kitab hadis al-Imam al-Baihaqi dengan gaji bulanan sebanyak 800Rp, sebuah kereta kerajaan dengan pemandu kereta dan minyak petrol yang dibayar oleh kerajaan serta tempat tinggal yang juga disediakan oleh kerajaan Hyderabad. Namun begitu beliau menolaknya dengan jawapan “aku tidak ingin hidup di bawah ihsan orang lain”.

Terdapat pelbagai bukti memperlihatkan beliau mengambil berat dan perhatian yang mendalam terhadap institusi agama ini. Semasa di madrasah ini, al-Kandahlawi telah mengajar lebih kurang tiga puluh lima buah kitab ilmiah seperti tatabahasa ‘Arab, ilmu morfologi, sastera, ilmu perundangan Islam, kitab hadis seperti kitab al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar Min Hadith Rasulullah Wa Sunnah Wa Ayyamih dan Sunan Abu Daud, Bahkan al-Kandahlawi telah mengajar seluruh kitab yang menjadi sillabus di madrasah tersebut. Beliau telah membuat percapaian yang hebat apabila berjaya menamatkan beberapa buah kitab primier Islam dalam pengajarannya iaitu kitab Nur al-Anwar sebanyak tiga kali, kitab Misykat al-Masabih tiga kali, Sunan Abu Daud sebanyak tiga puluh kali, kitab Bukhari jilid awal sebanyak lima puluh kali dan kitab al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar Min Hadith Rasulullah Wa Sunnah Wa Ayyamih keseluruhannya sebanyak enam belas kali.

Abu al-Hasan Nadwi berkata meskipun al-Kandahlawi adalah salah seorang guru yang paling muda di Mazahir al-‘Ulum dia telah dipilih untuk mengajar pelajaran yang belum pernah ditugaskan kepada guru lain yang sama umur dengannya pada ketika itu. Beliau bukan sahaja menunjukan kebolehannya menjadi seorang guru yang berdidikasi dan berketerampilan malah mampu menghasilkan hasil karangan yang mempunyai kauliti dan nilai yang abstrak. Pada tahun 1345H al-Kandahlawi berkesempatan pergi ke kota Madinah al-Munawwarah selama setahun. Di sana beliau telah ditugaskan mengajar kitab Sunan Abu Daud di Institut Agama al-Sharicah, Madinah al-Munawwarah. Semasa di sana al-Kandahlawi memulakan penulisan Awjaz al-Masalik ila Muwatta’ Imam Malik pada ketika itu beliau berumur dua puluh sembilan tahun.

Apabila beliau kembali ke tanah airnya beliau telah diminta untuk menjawat semula menjawat jawatannya sebagai pengajar di Mazahir al-‘Ulum. Sillabus yang diberikan kepadanya ialah mengajar kitab Sunan Abu Daud, Sunan al-Nasaei, Muwatta’ Imam Muhammad dan sebahagian kitab al-Jamic al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar Min Hadith Rasulullah Wa Sunnah Wa Ayyamih, tetapi selepas kematian pengetua Mazahir al-‘Ulum beliau ditugaskan mengajar seluruh sahih al-Bukhari. Al-Kandahlawi menjadi tenaga pengajar Mazahir al-‘Ulum sehingga 1388H dan menamatkan kerjayanya sebagai guru hadis disebabkan matanya ditumbuhi katarak.

Ramai di kalangan penuntut beliau telah berjaya menamatkan pelajaran hadis melalui beliau dan memperdengarkan pelajaran mereka di hadapannya iaitu sistem talaqi. Ramai juga di antara mereka yang menceburkan diri dalam arena pendidikan dan berkhidmat untuk agama yang syumul dan ilmu agama di pelbagai tempat. Selain dari itu, ramai murid-murid beliau telah tamat pendidikan dan pelajaran melalui beliau yang hati sanubari mereka disinarai makrifah Allah sehingga mereka telah berbai’ah dan janji setia melalui tangan beliau yang mulia, mempelajari ilmu suluk dan ilmu tasawuf secara khusus dan dengan nikmat Allah s.w.t telah berjaya mencapai darjat kerohanian yang tinggi dalam ilmu tersebut.

Terdapat juga di antara mereka mewaqafkan seluruh kehidupan mereka untuk usaha atas agama Allah s.w.t dengan perantaraan bermujahadah, melapangkan masa keluar di jalan Allah s.w.t menemui orang-orang islam yang jauh dari agama Allah supaya mengamalkan dan menjalankan seluruh perintahnya dalam kehidupan serta menjadi dai Allah (penyeru Allah) agar orang-orang Islam faham bahawa masa, harta dan diri mereka bukan kepunyaan mereka tetapi kepunyaan Allah s.w.t serta keluar di jalan Allah s.w.t seantero dunia agar dengan mujahadah dan susah payah yang ditunjukan akan membuka kerahiman Allah s.w.t dan hidayah dapat tersebar ke seluruh alam. Berikut senarai nama-nama murid-murid al-Kandahlawi yang telah menjadi ulamak yang masyhur dan disegani seantero dunia;

1. al-Syeikh Maulana Muhammad Yusuf bin Maulana Muhammad Ilyas (ketua
Jemaah Tabligh yang kedua).

2. Maulana Inamul Hasan (ketua Jemaah Tabligh yang ketiga)

3. Maulana Izhar al-Hassan dan para pelajar di Madrasah Kashif al-cUlum.

4. Maulana Mufti Mahmud Hasan Ganggohi, pengajar hadis di Dar al-cUlum,
Deoband.

5. Maulana Munawwar Husein, Syeikh al-Hadis di Dar al- ‘Ulum Lathifi Kethar.

6. Maulana ‘Abd al-Jabbar, Syeikh al-Hadis di Jami’ah Qasimiah Shahi Muradabad.

7. Maulana Akbar ‘Ali Saharanpuri, pengajar di Madrasah Mazahir al- ‘Ulum dan juga pengajar hadis di Dar al- ‘Ulum Karachi, Pakistan.

8. Maulana Ubaidillah Belyawi, pengajar hadis di Madrasah Kashif al- ‘Ulum,
Delhi.

9. Mufti Muzaffar Husein, pengajar hadis dan wakil Madrasah Mazahir al- ‘Ulum
Saharanpur.

10. Maulana Muhammad Yunus Jupuri, Syeikh al-Hadis Madrasah Mazahir
al- ‘Ulum Saharanpur.

11. Maulana Muhammad ‘Aqīl, pengajar hadis di Madrasah Sadhar Mudarisin juga di Madrasah Mazahir al- ‘Ulum Saharanpur.

12. Maulana Muhammad Ashik Ilahi Balanshari, pengajar hadis di Madrasah Dar al- ‘Ulum Karachi.

13. Maulana Muhammad Salman pengajar hadis di madrasah Mazahir al- ‘Ulum
Saharanpur.

14. Maulana Taqiyuddin, pengajar hadis.

15 Maulana Saad al Kandahlawi

16 Maulana Bashir Ahmad, pengajar hadis di Dar al- ‘Ulum Tanbu di Rangoon.

dan masih banyak lagi. muridnya yang tersebar di seluruh dunia

Tilawati Cara Mudah Baca al Quran

ANAK Anda masih susah membaca Al Quran? Coba saja pakai metode tilawati. Metode baca Al Quran yang akhir-akhir ini sedang digandrungi memberikan bukti nyata.

Metode tilawati ini menggunakan nada lagu ross, salah satu jenis lagu yang digunakan dalam membaca Al Quran. Metode tilawatiinilah yang dikenalkan kepada anak-anak dalam pelatihan standarisasi guru metode tilawati tahun 2016 di Pesantren Nurul Falah Surabaya, medio Februari lalu.

“Musik atau lagu yang dinyanyikan sambil memperkenalkan huruf hijaiyah akan sangat membantu daya ingat buah hati tanpa harus memaksakannya untuk menghafalkan saat itu juga,” ujar salah satu ustadz pemandu pelatihan.

Saat ini memang sudah marak pembelajaran Al Quran dengan metode tilawati. Ada beberapa tahap yang harus diterapkan saat metode pembelajaran dimulai.

Pertama, mengenalkan satu per satu huruf  hijaiyah tersebut. Bisa dengan alat peraga, masing-masing dari alat peraga tertulis satu huruf. Setelah itu baru memberitahu huruf hijaiyah pada anak, tanyalah kembali apa nama dari huruf hijaiyah yang telah diajarkan tadi dengan alat peraga yang berbeda, yaitu alat peraga yang tertulis dengan macam-macam huruf hijaiyah. Ini penting untuk menanyakannya.

Tentunya dengan lagu sehingga otomatis si anak juga akan menjawabnya dengan lagu. Begitu seterusnya. Sehingga hari-hari berikutnya dapat membiasakan anak-anak untuk mengikuti metode yang diajarkan oleh guru.

Metode tersebut, terdiri dari tiga tahap, yaitu :

1. Ustadz membaca, anak-anak mendengarkan.

2. Ustadz membaca dan anak-anak menirukan. Perlu digarisbawahi karena pada saat anak-anak menirukan ustadz juga mengiringi atau ikut membaca.

3. Membaca bersama-sama antara ustadz dan juga anak-anak.

Tiga tahapan itu hanya berlaku pada 15 pertemuan pertama, untuk pertemuan ke 16 dan selanjutnya, tahapnya hanya satu yaitu membaca bersama-sama atau tahap tiga. Demikianlah yang selalu dilakukan setiap sore, pada jam mengajar di taman pendidikan Al Quran. Anda bisa mengadopsinya untuk mengajari anak-anak di rumah

METODE TILAWATI AJARKAN AL-QURAN DENGAN SENI

ebagian guru Al Qur’an mendapati kesulitan ketika mengajar. Hal ini membuat para pengajar Al Qur’an berkreasi mencari metode yang mudah dan menyenangkan sehingga membuat murid tidak merasa bosan.

Salah satu metode belajar Al Qur’an yang berhasil ditemukan adalah metode tilawati. Metode ini menekankan bagaimana mengajarkan Al Qur’an kepada murid dengan pendekatan seni. Optimalisasi otak kanan dalam belajar Al Qur’an akan lebih menyenangkan sehingga murid tidak merasa bosan saat belajar.

Berikut wawancara Mi’raj Islamic News Agency (MINA) dengan Ust Muhammad Daiman, S,Ag, trainer tilawati cabang Balik Papan, Kalimantan Timur.

MINA: Apa kelebihan Metode tilawati ?

Ust M. Daiman : Metode tilawati adalah suatu metode mengajar membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidah dan aturannya. Mereka para ahli atau praktisi pengajar Al Qur’an melakukan penelitian dari berbagai metode yang ada, khususnya di Indonesia dan akhirnya lahirlah metode tilawati ini.

Tilawati adalah salah satu dari sekian banyak metode mengajar Al Qur’an di dunia Islam. Penekanannya adalah, dengan metode ini semua murid mendapatkan waktu yang sama dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) nya. Jadi antara yang datang duluan dengan yang datang belakangan mendapatkan alokasi waktu sama karena menggunakan metode klasikal efektif.

Selain itu, metode tilawati juga sangat menekankan pengajaran dengan pendekatan seni dengan melagukan setiap marteri ajar. Seperti yang ada di dunia seni baca Qur’an ada gaya rosy, bayati, syika, nahawa dan lain-lain. Gaya-gaya seperti itu kita gunakan di setiap materi pelajaran.

MINA: Lalu apa dampaknya bagi murid ?

Ust M. Daiman : Hasilnya, alhamdulillah, para murid tidak mengalami kebosanan dalam kegiatan belajarnya. Tilawati ini mencoba melakukan pendekatan belajar dengan menggunakan otak kanan. Sedangkan sebagian metode yang ada di Indonesia menggunakan pendekatan belajar dengan otak kiri.

Metode ini juga dapat menjadi alternatif bagi para pengajar yang menemui masalah dalam cara pembelajarannya. Jika para murid merasa bosan, kurang konsentrasi dalam belajar, atau kesulitan dalam pembagian waktu, maka di Tilawati ini penyajian materi menjadi sangat mengasyikkan, baik terhadap murid maupun gurunya.

Tentu setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak boleh merasa baling bagus dari yang lainnya. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan dalam belajar. InsyaAllah akan mendapat hasil maksimal.

MINA: Dari mana inspirasi metode dan nama Tilawati itu didapat ?

Ust M. Daiman : Dalam firman Allah surah Al Muzzammil ayat ke-4, disana Allah menyatakan bacalah Al Qur’an dengan tartil, juga dalam surah Al Baqarah ayat ke-121 yang memerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an dengan benar (tilawah). Berangkat dari kedua ayat inilah, metode dan nama Tilawati ini muncul.

Pengalaman yang didapat dari para pengajar Al Qur’an juga menjadi bahan inspirasi dari pembuatan metode ini. Semangat yang selalu kita usung, bagaimana mengajar Al Qur’an dengan benar, dan murid merasa senang dengan suasana, juga cara belajarnya.

MINA: Tentang membaca Al Qur’an dengan seni, seperti apa penerapannya ?

Ust M. Daiman : Ya, sejak jilid satu, kita sudah ajarkan kepada murid dengan lagu. Ada beberapa lagu dalam membaca Al Qur’an seperti yang sudah saya paparkan diatas. Setiap halaman kita selalu ajarkan dengan melagukannya sehingga murid mudah mengingatnya. Menurut penelitian kami, seseorang akan lebih mudah mengingat sesuatu dengan lagu.

Pengenalan lagu-lagu dalam membaca Al Qur’an sedini mungkin juga lebih efektif bagi murid agar mereka ketika sudah lancar membacanya, dapat memerdukan suaranya melalui lagu tersebut. Bukankan yang paling bagus bacaan Al Qur’an seseorang adalah yang paling merdu dalam membacanya, begitulah Rasulullah bersabda.

MINA: Apakah ada pengaruhnya lagu dalam membaca Al Qur’an dengan karakter seseorang ?

Ust M. Daiman: Memang, belajar dengan menggunakan pendekatan otak kanan lebih nyaman, baik bagi murid maupun gurunya sendiri. Mudah-mudahan dengan murid belajar Al Qur’an dengan otak kanan, mereka akan memiliki sifat-sifat yang terpuji, tidak gampang emosi, lebih kreatif, memiliki empati kepada sesama teman, maupun makhluk Allah yang ada di sekitarnya.

Seperti yang dijelaskan oleh banyak ahli psikologi, bahwa dengan mengoptimalkan otak kanan, seseorang akan memiliki kreativitas, intuisi, penemuan ide bisnis, inspirasi dan imaginasi baru. Namun, bukan berarti belahan otak kanan lebih penting daripada belahan otak yang kiri, ataupun sebaliknya.

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa hasil otak kanan yang sepertinya ide brilian, kreatif, imaginasi, inspirasi, perlu ditindaklanjuti oleh pemikiran kritis otak kiri yang benar-benar kritis sehingga menghasilkan karya yang gemilang.

MINA: Berapa lama murid dapat lancar dan fasih membaca Al Qur’an dengan metode Tilawati ini ?

Ust M. Daiman : Bervariasi, bergantung kepada muridnya. Rata-rata, jika murid usia SD (MI) sampai SMA (MA) belajar setiap hari dengan alokasi 45 menit, mereka akan merampungkan dalam waktu enam bulan. Namun jika muridnya dewasa dan sudah pernah belajar Al Qur’an sebelumnya, mereka mungkin akan lebih singkat menguasainya.

Intinya, cepat atau lambatnya murid dalam menguasai suatu ilmu, bergantung kepada dia sendiri, gurunya dalam mengajar, fasilitas dan perlengkapan yang mendukungnya (termasuk metode yang dipakai), dan dukungan dari lingkungan sekitar.

MINA: Setelah lancar membaca, apa ada kelanjutannya ?

Ust M. Daiman : Tentu saja ada. Secara umum Tilawati dibagi dalam tiga tahapan. Pertama tahap membaca dengan fasih, sesuai kaidah-kaidah yang benar. Kedua, tahap pemahaman terjemahan dan tafsirnya, dan ketiga, tahap mendakwahkan dengan mengajarkannya kepada orang lain. Tentu tahap ketiga ini memerlukan pelatihan khusus, terutama ilmu mengajar yang efektif dan menyenangkan

Metode Tilawati pertama kali dikembangkan di Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya.

Nama Tilawati Center dipilih karena tekad dan ghiroh para pengurus dalam mewujudkan sebuah lembaga dakwah yang menjadi pusat peningkatan mutu guru-guru Al-Qur’an, melalui pembinaan-pembinaan dan pelatihan-pelatihan yang telah diprogramkan.

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pembelajaran Al-Qur’an di berbagai pelosok Indonesia terus bertambah banyak, baik formal (TK, SD, SMP, SMA, dan PT), maupun non formal (TPQ, Madrasah Diniyah, Pesantren, Majelis Qur’an, dll). Tentu saja, hal ini sangat menggembirakan.

Namun demikian, satu sisi ada problem-problem bermunculan di dalam pembelajaran Al-Qur’an. Mulai dari guru Al-Qur’an yang belum standart bacaannya, mutu lembaga yang masih kurang, pendekatan dan metode pembelajaran yang masih monoton, dan sebagainya.

Maka beranjak dari permasalahan di atas, Tilawati Center bertekad ingin membenahi persoalan tersebut. Dan berusaha mewujudkan model pembelajaran Al-Qur’an yang selaras dan sesuai dengan zaman saat ini.

Visi:

Menjadi lembaga dakwah yang profesional dan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan Al-Qur’an

Misi:

Mendirikan lembaga pendidikan Al-Qur’an
Mewujudkan guru Al-Qur’an yang berkualitas
Mengembangkan ilmu-ilmu yang ber kaitan dengan metode pengajaran Al-Qur’an

Download Pdf 77 masalah sholat Ust Abdul Somad Lc MA

Download Pdf 77 masalah sholat Ust Abdul Somad Lc MA. Isi:

Pertanyaan 1: Apakah shalat itu?
Pertanyaan 2: Apakah dalil yang mewajibkan shalat?
Pertanyaan 3: Bilakah Shalat diwajibkan?
Pertanyaan 4: Bilakah seorang muslim mulai diperintahkan melaksanakan shalat?
Pertanyaan 5: Apakah shalat mesti dilaksanakan secara berjamaah?
Pertanyaan 6: Apa saja keutamaan shalat berjamaah itu?
Pertanyaan 7: Apakah hukum perempuan shalat berjamaah ke masjid?
Pertanyaan 8: Bagaimanakah cara meluruskan shaf?
Pertanyaan 9: Bagaimanakah posisi Shaf anak kecil?
Pertanyaan 10: Apakah hukum shalat orang yang tidak berniat?
Pertanyaan 11: Apakah hukum melafazkan niat?
Pertanyaan 12: Bilakah waktu berniat?
Pertanyaan 13: Apakah batasan mengangkat kedua tangan ketika Takbiratul-Ihram?
Pertanyaan 14: Berapa posisi mengangkat kedua tangan dalam shalat?
Pertanyaan 15: Bagaimanakah letak tangan dan jari jemari?
Pertanyaan 16: Apakah hukum membaca doa Iftitah?
Pertanyaan 17: Adakah bacaan Iftitah yang lain?
Pertanyaan 18: Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah, apakah dianjurkan membacaTa’awwudz (A’udzubillah)?
Pertanyaan 19: Ketika membaca al-Fatihah, apakah Basmalah dibaca Jahr atau sirr?
Pertanyaan 20: Apakah hukum membaca al-Fatihah bagi Ma’mum?
Pertanyaan 21: Apakah hukum membaca ayat? Apa standar panjang dan pendeknya?
Pertanyaan 22: Ketika ruku’ dan sujud, berapakah jumlah tasbih yang dibaca?
Pertanyaan 23: Apakah bacaan pada Ruku’?
Pertanyaan 24: Bagaimana pengucapan [ ]تشع الله تظن تزدهdan ucapan [ +ربنا لك اتضمدketika bangun dari ruku’ bagi imam, ma’mum dan orang yang shalat sendirian?
Pertanyaan 25: Adakah bacaan tambahan?
Pertanyaan 26: Ketika sujud, manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?
Pertanyaan 27: Apakah bacaan sujud?
Pertanyaan 28: Apakah bacaan ketika duduk di antara dua sujud?
Pertanyaan 29: Apakah ketika bangun dari sujud itu langsung tegak berdiri atau duduk istirahat sejenak?
Pertanyaan 30: Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?
Pertanyaan 31: Apakah bacaan Tasyahhud?
Pertanyaan 32: Bagaimanakah lafaz shalawat?
Pertanyaan 33: Apa hukum menambahkan kata Sayyidinasebelum menyebut nama nabi?
Pertanyaan 34: Bagaimanakah posisi jari jemari ketika Tasyahhud?
Pertanyaan 35: Jika saya masbuq, ketika imam pada rakaat terakhir, sementara itu bukan rakaat terakhir bagi saya, imam duduk Tawarruk, bagaimanakah posisi duduk saya, Tawarruk atau Iftirasy?
Pertanyaan 36: Bagaimanakah posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?
Pertanyaan 37: Adakah doa lain sebelum salam?
Pertanyaan 38: Adakah doa tambahan lain sebelum salam?
Pertanyaan 39: Bagaimanakah salam mengakhiri shalat?
Pertanyaan 40: Ke manakah arah duduk imam setelah salam?
Pertanyaan 41: Ketika shalat, apakah Rasulullah Saw hanya membaca di dalam hati, atau dilafazkan?
Pertanyaan 42: Apakah arti thuma’ninah? Apakah standarnya?
Pertanyaan 43: Bagaimana shalat orang yang tidak ada thuma’ninah?
Pertanyaan 44: Apa pendapat ulama tentang Qunut Shubuh?
Pertanyaan 45: Apakah dalil hadits tentang adanya Qunut Shubuh?
Pertanyaan 46: Apakah ketika membaca Qunut mesti mengangkat tangan?
Pertanyaan 47: Jika seseorang shalat di belakang imam yang membaca Qunut, apakah ia mesti mengikuti imamnya?
Pertanyaan 48: Adakah dalil keutamaan berdoa setelah shalat wajib?
Pertanyaan 49: Adakah dalil mengangkat tangan ketika berdoa?
Pertanyaan 50: Apakah dalil zikir setelah shalat?
Pertanyaan 51: Apakah ada dalil zikir jahar setelah shalat?
Pertanyaan 52: Apakah Sutrah itu?
Pertanyaan 53: Apakah dalil shalat menghadap sutrah?
Pertanyaan 54: Apakah hukum menggunakan sutrah?
Pertanyaan 55: Adakah hadits yang menyebut Rasulullah Saw shalat tidak menghadap Sutrah?
Pertanyaan 56: Apakah boleh membaca ayat ketika ruku’ dan sujud?
Pertanyaan 57: Apakah boleh berdoa ketika sujud?
Pertanyaan 58: Apakah boleh membaca doa yang tidak diajarkan nabi dalam shalat?
Pertanyaan 59: Apakah boleh berdoa bahasa Indonesia dalam shalat?
Pertanyaan 60: Berapa lamakah shalat nabi ketika shalat malam?
Pertanyaan 61: Apakah ayat yang dibaca nabi?
Pertanyaan 62: Apakah boleh shalat Dhuha berjamaah?
Pertanyaan 63: Apakah dalil membaca surat as-Sajadah pada shubuh jum’at?
Pertanyaan 64: Bagaimana jika dibaca terus menerus?
Pertanyaan 65: Ketika akan sujud, apakah imam bertakbir?
Pertanyaan 66: Apakah dalil shalat sunnat Rawatib?
Pertanyaan 67: Apakah shalat sunnat Rawatib yang paling kuat?
Pertanyaan 68: Apakah ada perbedaan antara shalat Shubuh dan shalat Fajar?
Pertanyaan 69: Jika terlambat melaksanakan shalat Qabliyah Shubuh, apakah bisa diqadha’?
Pertanyaan 70: Adakah dalil shalat sunnat Qabliyah Maghrib?
Pertanyaan 71: Waktu hanya cukup shalat dua rakaat, antara Tahyatalmasjid dan Qabliyah, apakah shalat
Tahyatalmasjid atau Qabliyah?
Pertanyaan 72: Berapakah jarak musafir boleh shalat Jama’/Qashar?
Pertanyaan 73: Berapa hari boleh Qashar/Jama’?
Pertanyaan 74: Bagaimanakah cara shalat khusyu’?
Pertanyaan 75: Apakah fungsi shalat?
Pertanyaan 76: Apakah shalat yang tertinggal wajib diganti?
Pertanyaan 77: Apakah hukum orang yang meninggalkan shalat secara sadar dan sengaja

Download Buku 77 Tanya Jawab Shalat (PDF)

Allah ada tanpa tempat dan arah

menjawab pertanyaan Dimanakah Allah ? Allah Ada Tanpa Arah dan Tempat. Ulama sepakat. Ini dalil nya
Pertanyaan:

Banyak orang yang bertanya dimana Allah, bahkan ada yang menjawab dengan Allah ada dimana-mana. Ustadz, bagaimana sebenarnya hakikat Allah mengenai tempat dan arah?
Bagaimana dengan hadits al-Jariyah yang menyatakan bahwa Rasul ketika ditanya dimana Allah, beliau menjawab “Fi al-Sama”?

Khoirul Umam, Jombang

Jawaban:

Imam Syafi’i رحمه الله sebagaiman termaktub dalam kitab Ithaf al-Sadati al-Muttaqin, berkata :

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. [Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36].

إنه تعالى كان ولا مكان

“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat”

Maksudnya adalah bahwa Allah telah ada tanpa permulaan, disebut azali atau qadim, dan belum ada tempat seperti ‘Arasy, langit, bumi, dan segala makhluk lain nya. Allah ta’ala sudah sempurna dengan segala sifat-Nya yang azali sebelum ada apa pun selain-Nya. Sifat-sifat dzat Allah tidak lantas bertambah ketika Allah menciptakan makhluk-Nya;

فخلق الـمكان وهو على صفة الأزل

“Maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya”

Maksudnya, kemudian Allah menciptakan tempat, artinya bukan tempat Allah, tapi menciptakan makhluk-Nya. Imam Syafi’i رحمه الله berkata bahwa Allah tetap atas sifat azali-Nya, artinya sekalipun setelah ada makhluk-Nya, Allah tetap bersifat dengan sifat-sifat azali-Nya. Tidak ada sifat yang bertambah bagi Allah setelah adanya makluk-Nya. Karena sifat yang baru ada setelah adanya makhluk, itu juga termasuk makhluk.

كما كان قبل خلقه الـمكان

“Sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat”

Maksudnya, sebagaimana Allah ada sebelum adanya makhluk, dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Begitu juga Allah dan sifat-Nya setelah adanya makhluk, tidak dapat memberi pengaruh apa pun terhadap dzat dan sifat Allah, Allah maha sempurna jauh sebelum adanya makhluk.

لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”

Maksudnya, tidak boleh (mustahil) ada perubahan pada dzat dan sifat Allah. Tidak terjadi perubahan pada Allah bukan berarti itu kelemahan atau kekurangan Allah, tapi justru bila berubah, dapat menimbulkan kekurangan bagi Allah, karena Allah maha sempurna. Berubah dari sempurna tentu dapat menjadi kekurangan bagi-Nya. Setiap perubahan adalah makhluk, karena tidak ada yang dapat berubah dengan sendiri nya kecuali Allah yang menciptakan perubahan tersebut, sementara Allah adalah khaliq, bukan makhluk.

Maka dengan memahami perkataan Imam Syafi’i رحمه الله di atas, dapat pula kita pahami Aqidah Imam Asy-Syafi’i رحمه الله bahwa Imam Syafi’i رحمه الله meniadakan tempat bagi dzat Allah. Allah ada tanpa arah dan tempat, inilah hakikat aqidah ulama salaf, sangat bertolak-belakang dengan aqidah kaum mujassimah (yang menjisimkan Allah), dan kaum musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Mereka menduga ‘Arasy adalah tempat persemayaman Tuhan, padahal ‘Arasy juga makhluk-Nya, yang baru ada ketika diciptakan oleh-Nya. Lagipula sifat-sifat kesempurnaan Allah telah ada sebelum adanya ‘Arasy dan segala makhluk lain nya.

Terkait hadits riwayat Imam Muslim, tentang fi sama’, maka mesti dikembalikan pada ayat muhkamat bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, dan karena itulah Allah tidak bertempat. Jadi takwil fi sama itu adalah Allah Maha Luhur.

Dalam sebuah haditnya riwayat Imam Bukhari Rasulullah bersabda:

كان الله ولم يكن شيء غيره

“Allah ada (wujud), dan tidak ada (belum ada) sesuatupun selainnya”

Hadits lain:

انت الظاهر فليس فوقك شيء وانت الباطن فليس دونك شيء

“Engkau dhahir, maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu, dan Engkau adalah bathin, maka tak ada sesuatu pun yang ada di bawah-Mu”

Demikian pula Sayyidina Ali yang mengatakan:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته لا مكانا لذاته

“Sesungguhnya Allah itu menciptakan arasy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan sebagai tempat (bersemayam) untuk dzat-Nya.

Untuk itu, dalam memahani sebuah hadits tidak bisa hanya sekali duduk, artinya harus membandingkan dengan al-Qur’an dan hadits lain yang bisa jadi bertentangan. Atau, dalam memahami hadits, harus memahami asbabl wurud, sebab-sebab hadits tersebut dikeluarkan.

Maha suci Allah dari Arah dan tempat.

Download Buku 37 Masalah Populer Karya Ustadz Abdul Somad

Download Buku 37 Masalah Populer Karya Ustadz Abdul Somad. Buku 37 Masalah Populer merupakan salah satu buku yang paling banyak dicari saat ini. Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk membantu masyarakat yang ingin mendapatkan buku ini secara gratis. Buku berbentuk PDF ini telah diizinkan oleh Ustadz Abdul Somad untuk disebarkan seluas-luasnya di Internet agar semakin banyak yang tercerahkan.

Berikut daftar isi buku 37 Masalah Populer:

Ikhtilaf dan Mazhab
Bid’ah
Memahami Ayat dan Hadits Mutasyabihat
Beramal Dengan Hadits Dha’if
Isbal
Jenggot
Kesaksian Untuk Jenazah
Merubah Dhamir (Kata Ganti) Pada Kalimat “Allahummaghfir lahu”
Duduk di Atas Kubur
Azab Kubur Talqin Mayat
Amal Orang Hidup Untuk Orang Yang Sudah Wafat
Bacaan al-Qur’an Untuk Mayat
Membaca alQur’an di Sisi Kubur
Keutamaan Surat Yasin
Membaca al-Qur’an Bersama
Tawassul
Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha
Shalat di Masjid Ada Kubur
Doa Qunut Pada Shalat Shubuh
Shalat Qabliyah Jum’at
Bersalaman Setelah Shalat
Zikir Jahr Setelah Shalat
Berdoa Setelah Shalat
Doa Bersama
Berzikir Menggunakan Tasbih
Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Mengusap Wajah Setelah Berdoa
Malam Nishfu Sya’ban
‘Aqiqah Setelah
Dewasa
Memakai Emas Bagi Laki-Laki
Poto
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw
Benarkah Ayah dan Ibu Nabi Kafir?
as-Siyadah (Mengucapkan “Sayyidina Muhammad Saw”)
Salaf dan Salafi
Syi’ah.

Insya Allah buku ini dapat menjawab berbagai pertanyaan populer yang sering membuat masyarakat bingung, dan semoga dapat meluruskannya. saatnya umat islam sudah selesai dengan hal-hal dasar ini. dan siap untuk berkarya untuk kejayaan kita bersama.

Download Buku 37 Masalah Populer Karya Ustadz Abdul Somad

SURAT YASSIN ADALAH HATI AL QURAN

SURAT YASSIN ADALAH HATI ALQUR’AN

PERTANYAAN :

ada pertanyaan titipan dari temen…. Adakah Sunnah (hadits) atau keterangan para ulama mengenai SURAT YASIN adalah JANTUNGNYA AL-QUR’AN????

JAWABAN :

Memang terdapat keterangan yang menyatakan bahwa surat yaasiin adalah qalb al-Quraan (hati alquraan)

وهي مكية ، وروى مقاتل بن حيان ، عن قتادة ، عن أنس ، عن النبي قال : ‘ إن لكل شيء قلبا ، وإن قلب القرآن سورة يس ، ومن قرأ سورة يس أعطاه الله ثواب قراءة القرآن عشر مرات .

“Surat Yaasin termasuk Makkiyyah (surat yang diturunkan dikota makah) Muqootil Bin Hayan meriwayatkan dari Sahabat Anas dari Nabi shallaahu alaihi wasallam “Sesungguhnya setiap sesuatu memilik hati, sedang hati alQuran adalah surat yaasiin, maka barangsiapa membaca surat yasin, Allah memberi pahala padanya sepuluh bacaan alquran”. [ Tafsiir as-Sam’aani IV/265, Al-Lubaab Fii ‘Uluum al-Kitaab XVI/268 ].

وروى الإمام أحمد وأبو داود والنسائي واللفظ له وابن ماجه والحاكم وصححه مرفوعا : [ [ قلب القرآن سورة يس لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر له ] ]

[ Al-‘Uhuud al-Muhammadiyyah I/119 ].

Download Syumila NU – Maktabah Syamilah Ahlussunnah (Kitab Kuning dan Terjemah)

Syumila NU 1.0 adalah salah satu software yang berisi kompilasi dan koleksi kitab-kitab Islam dan kamus dalam berbagai bahasa. Dalam program software Islami ini terdapat berbagai kitab ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) seperti kitab tauhid, fiqih, akhlaq, nahwu shorof, tasawuf, tajwid dan lain sebagainya. Aplikasi Islam ini juga telah dilengkapi dengan keyboard Bahasa Arab, kamus Bahasa Arab-Indonesia, e-Pustaka Islami, dan Maktabah Syamilah.

Dibandingkan dengan software sejenis seperti Maktabah Syamilah, program Syumila NU mempunyai banyak kelebihan. Sesuai dengan namanya yang berembel-embel NU alias Nahdlatul Ulama, software ini memang asli karya santri NU. Di dalamnya dimuat bermacam-macam kitab yang biasanya dikaji di pesantren-pesantren salafiyah NU. Selain itu, maktabah NU ini mengandung kajian amaliah ahlussunnah NU dan hal-hal yang berhubungan dengan NU.

Kelebihan lain yang paling penting adalah software Syumila NU dijamin aman dari aksi nakal tangan-tangan jahil. Insya Allah isinya tidak ada distorsi atau tahrif (mengalami perubahan) atau pemalsuan kitab seperti yang banyak dilakukan oleh Salafi Wahabi. Kitab-kitab yang terdapat didalamnya pun bebas dari kitab-kitab ulama Salafi Wahabi, hanya berisikan kitab-kitab dari ulama ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) saja, tidak seperti Maktabah Syamilah yang isinya banyak mengandung kitab karangan ulama Salafi Wahabi. Untuk itulah kita mesti hati-hati dengan software Islam Maktabah Syamilah (Shamela, المكتبة الشاملة) karena bisa jadi kitab yang anda baca adalah kitab Salafi Wahabi.

Sampai detik ini, software Syumila NU mungkin satu-satunya software Islami yang mewakili khazanah pesantren salaf dan acuan para ulama sepuh. Nuansa dan karakteristik Islam Nusantara tampak terlihat jelas dalam software itu. Hal ini bisa dilihat dengan dimasukannya ribuan lebih hasil bahtsul masail Nahdlatul Ulama dan kumpulan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), kitab-kitab kuning pesantren, terjemahan dari berbagai kitab pethuk, lagu dan mp3 puji-pujian sebelum sholat, film sejarah NU, beragam mp3 adzan dan panduan rumus qiro’ah, pustaka sejarah nabi, wali, dan do’a-do’a, ijazah-an serta amalan ahlussunnah lainnya.

NU syamilah

Software ini bersifat freeware, artinya gratis dan boleh disebarluaskan, dan hanya untuk personal, tidak boleh dikomersialkan.
DOWNLOAD SYUMILA NU 1.0 GRATIS


Ukuran file download Syumila NU sekitar 9 GB dalam bentuk file archive RAR dan bila diekstrak menjadi sekitar 16 GB. Cukup besar memang dan mungkin ada yang susah untuk mengunduhnya. Bagi siapapun yang kesulitan dalam hal download Syumila NU, silahkan pesan langsung melalui WA 081234066080, insya Allah dapat membantu anda mengirimkan sofware tersebut ke alamat anda.

Belajar 7 Jenis Langgam Al Quran Ustadz Kris

FLASHDISK BELAJAR MENGUASAI LANGGAM QURAN. Sering terkesima bahkan menitikkan air mata saat mendengarkan lantunan ayat Alquran yang dibawakan oleh qari populer? Ingin belajar tapi tidak tahu harus ke mana karena ilmu ini langka? Tidak percaya diri menjadi imam sholat? Ingin mengajari anak membaca Alquran namun sebenarnya Anda sendiri pun butuh bantuan? Percayalah! Anda tidak sendiri. Ribuan orang sudah bergabung bersama kami, baik dari dalam negeri ataupun mancanegara.

flashdisk langgam quran ust kris

flashdisk langgam quran ust kris

 

Cukup dengan sebuah flashdisk, kita dapat mempelajari 7 irama Alquran dengan metode yang mudah diikuti. Setelah mempelajari ketujuh irama Alquran, kita dapat memilih satu yang paling cocok dengan karakter suara kita dan mendalaminya.

Ribuan kopi telah tersebar ke seluruh pelosok tanah air dan berbagai negara. Buktikan sendiri bagaimana sebuah flashdisk bisa memperbaiki hubungan kita dengan Alquran. Jadilah saksi bahwa siapapun – tanpa background pesantren sekalipun – bisa melantunkan ayat Alquran dengan indah dan penuh penghayatan.

Rumusnya sederhana namun efeknya luar biasa jika dikuasai. Pesan sekarang sebelum kehabisan. Ribuan orang sudah bergabung bersama kami dan terus bertambah setiap harinya.
Semoga bermanfaat dan semoga kita semua diberi kemudahan oleh Allah untuk mempelajari Alquran.

Season 1 berisi 28 video di mana masing – masing irama dipelajari 4 pertemuan.

Manfaat:
1. Memfasilitasi umat Islam yang ingin belajar langgam Alquran.
2. Meningkatkan rasa percaya diri saat membaca Alquran atau menjadi imam.
3. Memberikan tontonan yang baik dan bermanfaat bagi keluarga.
4. Mempermudah menirukan bacaan syekh / qari populer.

PLQM (Pembelajaran Langgam Quran Mingguan) adalah sebuah reality show dalam bentuk web series berisi tayangan saat Ustadz Kris mengajar langgam Alquran. Konsep reality show dipilih agar materi tersampaikan dengan santai, fun, dan mudah dipahami, bahkan bagi pemula non-pesantren sekalipun.


Harga Flash Disk Belajar Langgam Quran
Rp. 150.000
blm ongkir dari Surabaya
Konfirmasi Flashdisk Langgam Quran Ust Kris:
WA +6281234066080

 

amar ma’ruf nahi mungkar arti dalil dan haditsnya

amar ma’ruf nahi munkar pengertian menurut bahasa dan istilah (al`amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.

dalil hadits amar ma’ruf nahi munkar

HR: Tirmidzi no. 2095
dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan

1 mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian,

2 kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.”

Abu Isa berkata; Hadits ini hasan.

Cara menghafal al quran tidak mudah lupa

cara menghafal alquran dengan cepat dan tidak mudah lupa waktu 40 hari bisa untuk anak efektif semudah tersenyum

HR: Tirmidzi no. 3493

Ibnu Abbas ra bahwa ia berkata; ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba Ali bin Abu Thalib datang, dan berkata; ayah dan ibuku kurelakan untuk aku korbankan, Al Qur’an telah hilang dari dadaku, aku tidak mendapati diriku mampu untuk membacanya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Wahai Abu Al Hasan, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah memberimu manfaat, dan memberikan manfaat kepada orang yang engkau ajari serta memantapkan apa yang telah engkau pelajari dalam hatimu?”

Ia berkata; ya wahai Rasulullah! Ajarkan kepadaku! beliau berkata “Apabila tiba malam Jum’at, jika engkau mampu bangun pada sepertiga malam terakhir, ketahuilah bahwa waktu itu merupakan malam yang disaksikan (para malaikat), dan doa pada malam tersebut terkabulkan, dan saudaraku Ya’qub telah berkata kepada anak-anaknya; aku akan memintakan kalian ampunan kepada Tuhanku.

Ucapan ini terus beliau ucapkan hingga datang malam Jum’at. Jika engkau tidak mampu maka bangunlah pada pertengahan malam, jika engkau tidak mampu maka bangunlah pada awal malam, kemudian shalatlah empat raka’at dan engkau baca pada raa’at pertama surat Al Fatihah dan Surat Yaasiin, dan pada raka’at kedua engkau baca Surat Al Fatihah dan Surat Ad Dukhan, dan pada raka’at ketiga engkau baca Surat Al Fatihah dan Alif laam miim As Sajdah, dan pada raka’at keempat engkau baca Surat Al Fatihah dan Surat Tabarak (Surat Al Mulk).

Kemudian apabila engkau telah selesai dari tasyahud maka pujilah Allah dengan sebaik-baiknya, ucapkanlah shalawat kepadaku serta seluruh para nabi dengan sebaik-baiknya, mintakan ampunan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta saudara-saudaramu yang telah mendahuluimu beriman,

kemudian ucapkan di akhir semua itu: “ALLAAHUMMARHAMNII BITARKIL MA’AASHII ABADAN MAA ABQAITANII, WAR HAMNII AN ATAKALLAFA MAA LAA YA’NIINII, WARZUQNII HUSNAN NAZHARI FIIMAA YURDHIIKA ‘ANNII. ALLAAHUMMA BADII’AS SAMAAWATI WAL ARDHI DZAL JALAALI WAL IKRAAM, WAL ‘IZZATIL LATII KAA TURAAMU. AS-ALUKA YAA ALLAAHU, YAA RAHMAANU BI JALAALIKA WA NUURI WAJHIKA AN TULZIMA QALBII HIFZHA KITAABIKA KAMAA ‘ALLAMTANII, WARZUQNII AN ATLUWAHU ‘ALAN NAHWILLADZII YURDHIIKA ‘ANNII. ALLAAHUMMA BADII’AS SAMAAWAATI WAL ARDHI, DZAL JALAALI WAL IKRAAM, WAL ‘IZZILLATII LAA TURAAM, AS-ALUKA YAA ALLAAHU, YAA RAHMAANU BI JALAALIKA WA NUURI WAJHIKA AN TUNAWWIRA BIKITAABIKA BASHARII WA AN TUDHLIQA BIHI LISAANII, WA AN TUFARRIJ BIHI ‘AN QALBII, WA AN TASYRAH BIHI SHADRII, WA AN TAGHSIL BIHI BADANII. FAINNAHU LAA YU’IINUNII ‘ALAL HAQQI GHAIRUKA, WA LAA YU`TIIHI ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BIKA Al ‘ALIYYIL ‘AZHIIM.”

(Ya Allah, rahmatilah aku untuk meninggalkan kemaksiatan selamanya selama Engkau masih menghidupkanku, dan rahmatilah aku untuk tidak memperberat diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku, berilah aku rizki berupa kenikmatan mencermati perkara yang mendatangkan keridhaanMu kepadaku. Ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan serta keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk. Aku memohon kepadaMu ya Allah, wahai Dzat yang Maha pengasih, dengan kebesaranMu dan cahaya wajahMu agar mengawasi hatiku untuk menjaga kitabMu, sebagaimana Engkau telah mengajarkannya kepadaku, dan berilah aku rizki untuk senantiasa membacanya hingga membuatMu ridha kepadaku. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki kebesaran, kemulian dan keperkasaan yang tidak mungkin diinginkan oleh makhluk. Aku memohon kepadaMu ya Allah, wahai Dzat yang Maha pengasih, dengan kebesaranMu dan cahaya wajahMu agar Engkau menyinari hatiku dan membersihkan badanku, sesungguhnya tidak ada yang dapat membantuku untuk mendapatkan kebenaran selain Engkau, dan juga tidak ada yang bisa memberi kebenaran itu selainMu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Wahai Abu Al Hasan, engkau lakukan hal tersebut sebanyak tiga Jum’at atau lima atau tujuh niscaya engkau akan dikabulkan dengan idzin Allah.

Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, Allah tidak bakalan lupa memberi seorang mukmin.”

Abdullah bin Abbas berkata; demi Allah, Ali tidak berdiam kecuali hanya lima atau tujuh Jum’at hingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam majelis tersebut.

Kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, dahulu aku hanya mengambil empat ayat atau sekitar itu dan apabila aku membacanya dalam hatiku maka ayat tersebut hilang, dan sekarang aku mempelajari empat puluh ayat atau sekitar itu, dan apabila aku membacanya dalam hati maka seolah-olah Kitab Allah ada di depan mataku.

Dan dahulu aku mendengar hadits, apabila aku mengulangnya maka hadits tersebut hilang, dan sekarang aku mendengar beberapa hadits, kemudian apabila aku membacanya maka aku tidak mengurangi satu huruf pun darinya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Disaat demikian itu maka engkau adalah seorang mukmin demi Tuhan Pemilik Ka’bah wahai Abu Al Hasan.”

niat amal dan sampaikan 🙏

Dalil Puasa Bulan Rajab

KONTROVERSI HUKUM PUASA RAJAB: SUNNAH/ BID’AH?

Oleh : Buya Yahya. Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العلمين. وبه نستعين على أمور الدنيا والدين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم أجمعين.

قال الله تعالى :  إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين. الأية

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى  محمد  وشر الأمور  محدثاتها  وكل بدعة ضلالة.
PENDAHULUAN
Ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam membahas masalah puasa Rajab. Pertama; Tidak ada riwayat yang benar dari Rasulullah SAW  yang melarang puasa Rajab.  Kedua; Banyak riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa Rajab yang tidak benar dan palsu. Didalam masyarakat kita terdapat 2 kutub ekstrim.

Pertama adalah sekelompok kecil kaum muslimin yang menyuarakan dengan lantang bahwa puasa bulan Rajab adalah bid’ah. Kedua; Sekelompok orang yang biasa melakukan atau menyeru puasa Rajab akan tetapi tidak menyadari telah membawa riwayat-riwayat tidak benar dan  palsu. Maka dalam risalah kecil ini kami ingin mencoba menghadirkan riwayat yang benar sekaligus pemahaman para ulama 4 madzhab tentang puasa di bulan Rajab. 
Sebenarnya masalah puasa rojab sudah dibahas tuntas oleh ulama-ulama terdahulu dengan jelas dan gamblang. Akan tetapi  karena adanya kelompok kecil hamba-hamba Alloh yang biasa MENUDUH BID’AH ORANG LAIN menyuarakan dengan lantang  bahwa amalan puasa di bulan Rajab adalah sesuatu yang bid’ah. Dengan Risalah kecil ini mari kita lihat hujjah para ulama tentang puasa bulan Rajab dan mari kita juga lihat perbedaan para ulama di dalam menyikapi hukum puasa di bulan Rajab,  yang jelas bulan Rajab adalah termasuk bulan Haram yang ada 4 (Dzulqo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rajab) dan bulan haram ini dimuliakan oleh Alloh SWT sehingga tidak diperkenankan untuk berperang di dalamnya dan masih banyak keutamaan di dalam bulan-bulan  haram tersebut khususnya bulan Rajab. Dan di sini kami hanya akan membahas masalah puasa Rajab untuk masalah yang lainya seperti hukum merayakan isro’ mi’roj dan sholat malam di bulan Rajab akan kami hadirkan pada risalah yang berbeda. 

Tidak kami pungkiri adanya hadits-hadits dho’if atau palsu (Maudhu’) yang sering dikemukakan oleh sebagian pendukung puasa Rajab. Maka dari itu wajib untuk kami menjelaskan agar jangan sampai ada yang membawa hadits-hadits palsu biarpun untuk kebaikan seperti memacu orang untuk beribadah hukumnya adalah HARAM dan DOSA besar sebagaimana ancaman Rosulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ 
Artinya : “Barang siapa sengaja berbohong atas namaku maka hendaknya mempersiapkan diri untuk menempati neraka”.

Dan perlu diketauhi bahwa dengan banyaknya hadits-hadits palsu tentang keutamaan puasa Rajab  itu  bukan berarti tidak ada hadist  yang benar yang membicarakan tentang keutamaannya bulan Rajab. 
A. Dalil-dalil tentang puasa Rojab

• Dalil-dalil tentang puasa Secara umum

Himbauan secara umum untuk memperbanyak puasa kecuali di hari-hari yang diharamkan yang 5 dan bulan Rajab adalah bukan termasuk hari-hari yang diharamkan. Dan juga anjuran-anjuran  memperbanyak di hari-hari seperti puasa hari senin, puasa hari kamis, puasa hari-hari putih, puasa Daud dan lain-lain yang itu semua bisa dilakukan , dan puasa tersebut tetap dianjurkan walaupun di bulan Rajab. Berikut ini adalah riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa. Hadits Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori No.5472:
كُلُّ عَمَلِ ابْن أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
“Semua amal anak adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya”

Imam Muslim No.1942:
لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari qiamat”

Yang dimaksud Alloh akan  membalasnya sendiri adalah pahala puasa tidak terbatas hitungan tidak seperti pahala ibadah sholat jama’ah dengan keutamaan sholat jama’ah 27 derajat atau ibadah selain yang 1 kebaikkan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikkan.

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori No.1063 dan Imam Muslim No.1969:
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا
“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka”

• Dalil-dalil puasa Rajab secara khusus
a. Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ حَكِيْمٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ: ” سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍعَنْ صَوْمِ رَجَبَ ؟ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِيْ رَجَبَ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ  حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ”
“Sesungguhnya Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.”
Dari riwayat tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab  dengan utuh, dan Nabi-pun pernah tidak berpuasa dengan utuh. Artinya di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib .  Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW, jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya  itu menunjukan amalan itu bukan suatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.
b. Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah
عَنْ مُجِيْبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيْهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ :أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالَتُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَا تَعْرِفُنِيْ. قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيِّ الَّذِيْ جِئْتُكَ عَامَ اْلأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلاَّ بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ. ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِيْ فَإِنَّ بِيْ قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاَثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا. رواه أبو داود 2/322
“Dari Mujibah Al-Bahiliah  dari ayahnya atau pamannya sesungguhnya ia (ayah atau paman) datang kepada Rasulullah SAW kemudian berpisah dan kemudian dating lagi kepada rasulullah setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah (kurus), dia berkata : Yaa Rasululallah apakah engkau tidak mengenalku? Rasulullah SAW menjawab : siapa engkau? Dia pun berkata : Aku Al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu. Rasulullah SAW bertanya : apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar-bugar), ia menjawab : aku tidak makan kecuali pada malam hari

(yakni berpuasa) semenjak berpisah denganmu, maka Rasulullah SAW bersabda : mengapa engkau menyiksa dirimu, berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan, lalu ia berkata : tambah lagi (yaa Rasulallah) sesungguhnya aku masih kuat. Rasulullah SAW berkata : berpuasalah 2 hari (setiap bulan), dia pun berkata : tambah lagi ya Rasulalloh. Rasulullah SAW berkata : berpuasalah 3 hari (setiap bulan), ia pun berkata: tambah lagi (Yaa Rasulallah), Rasulullah SAW bersabda :jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharrom) dan jika engkau menghendaki maka tinggalkanlah, beliau mengatakan hal  itu tiga kali sambil menggemgam 3 jarinya kemudian membukanya.

Imam nawawi  menjelaskan hadits tersebut.
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ” إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة . المجموع 6/439
“Sabda Rasulullah SAW : 

صم من الحرم واترك

“Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah” 

Sesungguhnya nabi saw memerintahkan berbuka kepadaorang tersebut karena dipandang puasa terus- menerus akan memberatkannya  dan menjadikan fisiknya berubah. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa dibulan Rajab seutuhnya adalah sebuah keutamaan. Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 6 hal. 439
c. Hadits riwayat Usamah Bin Zaid
قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. رواه النسائي 4/201
“Aku berkata kepada Rasulullah : Yaa Rasulallah aku tidak  pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW menjawab : bulan sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dan bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201 
Imam Syaukani menjelaskan
ظاهر قوله في حديث أسامة : ” إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب ; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجبا به  . نيل الأوطار 4/291
Secara tersurat yang dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan” ini menunjukkan bahwa puasa Rajab adalah sunnah sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi Saw bahwa mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rajab dengan berpuasa”. Naylul Author juz 4 hal 291
B. Kesimpulan

Dari penjelasan dari ulama empat madhab sangat jelas bahwa puasa bulan Rojab adalah sunnah hanya menurut madhab imam Ahmad saja yang makruh. Dan  ternyata kemakruhan puasa Rajab menurut madhab Imam Hanbali itu pun jika dilakukan sebulan penuh adapun kalau dibolongi satu hari saja maka kemakruhannya sudah hilang atau bisa disambung dengan sehari saja sebelum atau sesudah Rajab. Dan mereka tidak mengatakan Bid’ah  sebagaimana yang marak akhir-akhir ini disuarakan oleh kelompok orang dengan menyebar selebaran, siaran radio atau  internet .

Wallohu a’lam bishshowab
Harap disebarkan, sebab Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Barang siapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya”. HR. Imam Muslim

wirid KH Abdul Hamid Pasuruan

Mampukah melakukan riyadhah dan melanggengkan wirid  spt KH Abdul Hamid ini?

KH. ABDUL HAMID PASURUAN

Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.
Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.
Pada suatu saat orde baru ingin mengajak Kyai Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya. Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.
Inilah beberapa dari banyak karomah Kyai Hamid. Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Allah yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah yang mumpuni dan kekuatan musyahadah atas nur tajalli dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan-tahapan amaliyah dan maqamat tarekat yang beliau jalani dan beliau istiqamahkan. Setidaknya -dari sirah Kyai Hamid yang dapat kita baca-, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak langkah beliau. Kewara’an, kezuhudan, ketawadlu’an, kesabaran, keistiqamahan, dan riyadlah.
Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari tiap orang yang mengenalnya. Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.
Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.
Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.
Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.
Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.
Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”
Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.
Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.
Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.

Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi. Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.

Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.
Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Tanggal 9 rabiul awal 1403 H beliau berpulang ke rahmatulloh. Umat menangis, gerak kehidupan di Pasuruan seakan terhenti. Ratusan ribu orang membanjiri Pasuruan, memenuhi relung Masjid Agung Al Anwar dan alun alun serta memadati gang dan ruas jalan. Beliau dimakamkan di belakang masjid agung Pasuruan. Ribuan umat menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.
Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah wirid kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain. 
Diantara ijazah beliau adalah:

1. Membaca SURAT AL-FATIHAH 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang tak terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.

2. Membaca HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL sebanyak 450 kali sehari semalam.

3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.

4. Membaca kitab DALA’ILUL KHAIRAT. Kitab yang berisi kumpulan shalawat.

5. Wirid rutin AL-WIRD AL-LATHIF dan RATIB AL-HADDAD. Dua wirid yang diajarkan oleh Kyai Hamid dan diwariskan hingga sekarang kepada para santri dan keluarganya.

Terakhir, berikut Syiir doa beliau yang pernah dimuat di KWA

بسم الله الرّحمن الرّحيم

يَا رَبَّنا اعْتَرَفْنا * بِأَنَّنَا اقْتَرَفْنَا

Wahai Tuhan kami! kami mengakui telah berbuat dosa

وَاَنَّنَا اَسْرَفْنَا * عَلَى لَظَى اَشْرَفْنَا

Sungguh kami telah melampaui batas dan kami hampir masuk neraka ladho

فَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةْ * تَغْسِلْ لِكُلِّ حَوْبَةْ

Maka berilah kami taubat, sucikanlah kami dari segala dosa

وَاسْتُرْ لَنَا الْعَوْرَاتِ * وَاَمِنِ الرَّوْعَاتِ

Tutuplah segala keburukan kami, amankanlah dari segala ketakutan

وَاغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا * رَبِّ وَمَوْلُوْدِيْنَا

Wahai Tuhan ampunilah orang tua kami dan anak-anak kami

وَالْاَلِ وَالْاِخْوَانِ * وَسَائِرِالْخِلَّانِ

Ampunilah keluarga, teman-teman dan semua saudara

وَكُلِّ ذِيْ مَحَبَّةَ * أَوْ جِيْرَةٍ أَوْ صُحْبَحْ

Ampunilah kekasih, tetangga dan semua sahabat

وَالْمُسْلِمِيْنَ اَجْمَعْ * اَمِيْنَ رَبِّ اِسْمَعْ

serta semua muslim, Wahai Tuhan semoga Kau dengar kau kabulkan

فَضْلًا وَجُوْدًا مَّنَّا * لَا بِاكْتِسَابٍ مِنَّا 

Dengan anugrah, kemurahan, dan kemuliaanMu, bukanlah sebab usaha kami

بِاالْمُصْطَفَى الرَّسُوْلِ * نَحْظَى بِكُلِّ سُوْلِ

Dengan wasilah Rasul Terpilih, kami peroleh segala permintaan

صَلَّى وَسَلَّمْ رَبِّ * عَلَيْهِ عَدَّ الْحَبِّ

Semoga Allah memberi rahmat dan keselamatan kepada Rasul sebanyak bijian (sebanyak-banyaknya).

وَاَلِهِ وَالصَّحْبِ * عَدَدَ طَشِّ السُّحْبِ

Kepada dan keluarganya sebanyak rintikan hujan yang turun

وَالْحَمْدُ لِلْاِلَهِ * فِيْ الْبَدْءِ وَالتَّنَاهِى

Segala puji bagi Allah dari permulaan dan penghabisan

Pertolongan Allah dalam Perang Badar

Pertolongan Allah dalam Perang Badar. Umar bin Khattab ra dia berkata, “Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang.

Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a:

👇👇👇

“ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU’BAD FIL ARDLI

(Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini).’

👆👆👆

Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya.

Abu Bakar lalu mendatangi beliau seraya mengambil selendang dan menaruhnya di bahu beliau, dan dia selalu menyeratai di belakang beliau.”

Abu Bakar kemudian berkata, “Ya Nabi Allah, cukuplah kiranya anda bermunajat kepada Allah, karena Dia pasti akan menepati janji-Nya kepada anda.”

Lalu Allah menurunkan ayat: ‘((ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut) ‘ (Qs. Al Anfaal: 9),

Allah lalu membantunya dengan tentara Malaikat.”

Abu Zumail berkata, “Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, dia katakan, “Pada hari itu, ketika seorang tentara Islam mengejar tentara Musyrikin yang berada di hadapannya, tiba-tiba terdengar olehnya bunyi suara cemeti di atas kepala seorang Musyrik itu, dan suara seorang penunggang kuda berkata, “Majulah terus wahai Haizum!.

Tanpa diduga, seorang Musyrik yang berada di hadapannya telah mati terkapar dengan hidungnya bengkak, dan mukanya terbelah seperti bekas pukulan cambuk serta seluruh tubuhnya menghijau.

Lalu tentara Muslim itu datang melaporkan peristiwa yang baru saja dialaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Kamu benar, itu adalah pertolongan Allah dari langit ketiga.”

(HR Muslim)

Dzikir Pahala Besar

Dzikir Pahala Besar Dalam dzikir Al-ma’surat terdapat sebuah doa yang berbunyi : “Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridhaka nafsihi, wa ziinata ‘Arsyihi, wa midada kalimatihi’ “

(Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak bilangan ciptaan-Nya dan keridhaan-Nya, dan sebesar bobot ‘arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya 3x )

“Dari Juwairiyah (Ummul Mukminin Radhiyallahu`anha), Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari sisinya pagi-pagi untuk shalat shubuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu dhuha, sementara ia masih duduk di sana. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Engkau masih duduk sebagaimana ketika aku tinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “Ya.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, aku telah mengatakan kepadamu empat kata sebanyak tiga kali, yang seandainya empat kata itu ditimbang dengan apa saja yang engkau baca sejak tadi tentu akan menyamainya, (empat kata itu) yakni: “Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridhaka nafsihi, wa ziinata ‘Arsyihi, wa midada kalimatihi’ “
(HR Muslim)

Hadits ini berisikan percakapan antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama salah satu istri beliau yaitu ibunda Juwairiyah. Diceritakan pada saat itu Rasulullah sedang bermalam di rumah ibunda Juwairiyah, kemudian saat memasuki waktu Subuh, Rasul berangkat ke masjid dan melihat ibunda Juwairiyah pun yang sudah siap duduk menunggu untuk melakukan solat subuh dikamarnya. Masuk waktu dhuha, Rasul pun kembali ke kamar beliau dan didapatinya Juwairiyah masih duduk dengan posisi yang sama seperti di subuh tadi sambil melakukan ibadah-ibadah lain seperti membaca Quran,dll. Akhirnya Rasulullah pun menegur dengan mengingatkan keistimewaan dari 4 kata di dalam doa tersebut. Pahala yang didapat dengan membaca 4 kata sebanyak 3x itu sama beratnya dengan ibadah yang dilakukan ibunda dalam beberapa menit/jam di tempat duduknya. Setelah itu, ibunda Juwairiyah pun tidak melakukannya lagi.

Pesan Rasulullah : Rasulullah mengetahui bahwa seorang wanita/Ibu/Ummahat pastinya memiliki tugas-tugas istimewa di pagi hari yaitu menyiapkan keperluan suami untuk bekerja, menyiapkan keperluan anak-anak untuk sekolah, menyiapkan sarapan, dan berbagai aktifitas rumah sehari-hari. Maka dengan berbagai aktifitas istimewa inilah Rasul mengingatkan, bahwa dalam 4 kata doa Al-Ma’surat itu pun dibuat begitu istimewa untuk mereka dengan ganjaran pahala yang luar biasa,yaitu sama dengan ibadah-ibadah yang dilakukan ketika duduk hingga waktu dhuha. Sehingga waktu mereka bisa digunakan seoptimal mungkin untuk melakukan tugas lainnya.

Lalu apakah penjelasan dari 4 kata istimewa yang tadi sudah kita sebut?
4 kata tersebut dimulai dari kata ‘adada khalqihi karena kata Subhanallahi wa bihamdihi merupakan kata pembuka saja. 4 kata tersebut menerangkan pahala-pahala yang bisa kita dapatkat jika istiqomah membaca doa ini. InsyaAllah akan dibahas satu persatu secara ringkas.

Rincian 4 kata :

1. ‘adada khalqihi, (Sejumlah makhluk yang Allah ciptakan)
Kita tidak akan pernah mengetahui jumlah pasti dari seluruh makhluk yang telah Allah ciptakan, mulai dari terkecil seperti mikroba hingga yang besar. Namun harus selalu kita yakini bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah dan kita yakin bahwa setiap makhluk yang Allah ciptakan pun beribadah pada-Nya. Dan pahala yang kita dari doa ini bisa sebesar jumlah makhluk yang Allah ciptakan. MasyaAllah…

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al Isro’:44)

Allah menciptakan makhluknya menjadi 5 golongan:
Insani — Manusia
Ruhani — makhluk seperti malaikat, syaitan, dll (gaib)
Nabati — tumbuh-tumbuhan
Hayawani — semua binatang
Jamadi — planet-planet

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Qs. An-Nur:41)

2. wa ridhaka nafsihi (Serela diri-Nya)
Allah akan selalu rela memberikan yang terbaik buat hamba-Nya yang senantiasa membaca kata ini.
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”
(Qs. Az-Zumar:53-54)

3. wa ziinata ‘Arsyihi (Seberat Arasy-Nya)
Arasy — ibarat singasana / pelaminan
Hendaknya manusia senantiasa patuh dan memuliakan Allah, jika diibaratkan menurut bahasa kita seperti saat kita menghormati pasangan pengantin yang berada di pelaminannya saat kita mendatangi sebuah undangan pernikahan. Maka Allah pun jauh lebih mulia dan berada di singasananya yaitu arasy.

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Qs. Thoha:5 )

Ada 3 hal tentang hakikat ‘Arsy :
1. Hanya Allah yang Maha Tahu tentang hakikatnya
2. Hanya Allah yang Maha Tahu keberadaannya
3. Hanya Allah yang Maha Tahu bersemayamnya

“Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Tuhan bagi ‘Arsy yang mulia.” (Qs Al Mukminun:116)

*bagi yang masih bingung tentang ‘arsy, yuk masing2 diri mencari lagi penjelasan detilnya, atau tanyakan pada guru ngajimu agar keyakinan kita pada kekuasaan Allah makin bertambah 🙂

4. wa midada kalimatihi’ (Sebanyak tinta (bagi) kalimat-Nya)
MasyaAllah… berkah dan rahmat yang bisa kita dapatkan yaitu sebanyak kalimat Allah yang pastinya tak akan habis jika dituliskan.

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (Qs. Al-Kahfi:109 )

Hikmah :
Pahala ketika membaca doa ini, terlebih lagi bisa istiqomah pagi petang setiap hari yaitu mendapatkan pahala yang bisa sebanyak makhluk Allah, kemudian Allah akan jauh lebih rela kepada diri kita, pahalanya pun juga bisa seberat ‘Arsy Allah, yang terakhir berkah dan rahmat Allah sebanyak kalimat Allah yang tak bisa habis jika ditulis.

Begitulah ringkasan 4 kata istimewa yang terdapat dalam salah satu doa Al-Ma’surat yang mungkin selama ini kita sudah rutinkan namun belum mengetahui rincian/ penjelasan dibalik doa tersebut yang ternyata memiliki berbagai hal yang luar biasa. Jadi, tidak ada kata “MALAS” lagi untuk merutinkan membaca dzikir doa Alma’surat. Semoga Allah senantiasa memberkahi niat dan amalan ibadah-ibadah kita. Aamiin…
Wallahu a’lam Bishowab

Wassalam….

Doa sholat Hajat

​Doa Sholat Hajat

 

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

 

LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIMUL KARIIM, SUBHANALLAAHI RABBIL ‘ARSYIL ‘ADZIIM, AL HAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN, AS’ALUKA MUUJIBAATI RAHMATIKA WA AZAA’IMA MAGHFIRATIKA WAL GHANIIMATA MIN KULLI BIRRIN WAS SALAAMATA MIN KULLI ITSMIN, LAA TADA’ LI DZAMBAN ILLAA GHAFARTAHU WALAA HAMMAN ILLAA FARRAJTAHU WALAA HAAJATAN HIYA LAKA RIDLAN ILLA QADLAITAHA YAA ARHAMAR RAHIMIIN

 

Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang maha lembut lagi Maha pemurah, Mahasuci Allah Rabb pemilik ‘Arsy yang Mahaagung, segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam, aku mengharap rahmatMU, ketetapan hati (untuk meraih) ampunanMu, mendapatkan keberuntungan dengan segala kabaikan dan keselamatan dari segala perbuatan dosa, jangan Engkau biarkan dosa padaku kecuali Engkau mengampuninya, dan jangan Engkau biarkan kegundahan kecuali Engkau membukakannya, dan jangan Engkau biarkan kebutuhan-kebutuhan yang Engkau ridlai kecuali Engkau penuhi, wahai Dzat yang maha pengasih

 

sholat 2 rokaat lalu baca doa ini

 

H.R. Tirmidzi 479

غريب – ضعيف (الألباني)

TEMPAT-TEMPAT ISTIMEWA DAN MUSTAJAB

​*TEMPAT-TEMPAT ISTIMEWA DAN MUSTAJAB*

Selain istimewa, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi merupakan tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa. Multazam, Raudhah, dan Arafah adalah tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Lebih lengkap, dalam kitab Al Majimu, Imam Nawawi menyebutkan tempat-tempat yang istimewa di Tanah Suci sekaligus tempat mustajab, adalah:

1. Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah)

“Merupakan bagian dinding yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, sekitar 2 meter panjangnya. Multazam lah yang oleh Rasulullah disebutkan sebagai tempat “paling mujarab” untuk berdoa, seperti di riwayatkan Al Baihaqi dan Ibnu Abbas: “Antara rukun Aswad—sudut tempat  Hajar Aswad dan pintu Ka’bah disebut Multazam, melainkan Allah mengabulkan permintaannya.

2. Rukun Yamani dan Hajar Aswad (Masjidil Haram)

Rukun adalah sandi atau tiang, yakni 4 sudut Ka’bah yang diberi nama Rukun Aswad, Rukun Iraqi, Rukun Syami, dan Rukun Yamani. Rukun Aswad yang lebih dikenal dengan Hajar Aswad merupakan posisi “batu hitam” yang turut sebagian riwayat adalah batu dari yang menggantung setinggi 1,5 meter dari atas tanah. Saat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mendapat perintah dari ALLAH untuk meninggikan pondasi Ka’bah, Hajar Aswad dijadikan salah satu pondasi. “Dan (ingatlah), ketika ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS Al Baqarah: 127). Hajar Aswad adalah posisi permulaan bagi jemaah haji untuk melakukan tawaf. Karena keistimewaannya, berdoa di hajar aswad juga sangat mustajab. Disunnahkan juga untuk mencium batu hitam tersebut.

3. Maqam Ibrahim (dekat Ka’bah)

Bukanlah kuburan, namun batu yang tercetak pijakan kaki Nabi Ibrahim saat beliau akan membangun Ka’bah. Diriwayatkan, batu tersebut dapat naik dan turun sendiri sesuai kemauan Nabi Ibrahim saat melakukan pemasangan batu untuk dinding ka’bah. Ibnu Abbas menyebutkan: “tidak ada sesuatupun di dunia ini yang berasal dari surga, kecuali Hajar Aswad dan maqam Ibrahim.” Kini batu tersebut disimpan dalam bangunan kristal berkrangka besi dan tertutup kaca tebal. Di sekitar maqam ibrahim ini orang melakukan shalat sunnah apabila telah selesai tawaf. Istimewannya maqam ini di sebutkan ALLAH dalam QS Al Baqarah: 125, “Dan jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim itu sebagai tempat shalat.”

4. Hijir Ismail (dekat Ka’bah)

Terletak di sebelah utara Ka’bah, berbentuk setengah lingkaran. Hijir Ismail dibangun Nabi Ibrahim sebagai tempat berteduh sewaktu membangun Ka’bah. Hijir Ismail pada awalnya masuk dalam bagian Ka’bah dari kerusakan, karena kekurangan biaya mereka mengurangi bangunan Ka’bah 6 hasta. Rasulullah bersabda, “Dari Aisyah ra berkata: Aku ingin sekali masuk kedalam ka’bah untuk shalat di dalamnya.” Maka Rasulullah SAW menarik tanganku masuk ke Hijir Ismail seraya berkata “Apabila engkau mau masuk ke dalam ka’bah, maka sesungguhnya hijir ini sebagian dari Ka’bah. Karena kaummu ketika membina Ka’bah kembali menguranginya hingga Hijir itu berada di luar Ka’bah.” (hadist riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Tirmizi). Oleh karena sebagian Hijir Ismail termasuk bagian ka’bah, maka pelaksanaan tawaf di lakukan di luar Hijir Ismail, termasuk juga shalat fardhu.
5. Dalam Ka’bah
Di dalamnya terdapat 3 tiang utama yang berfungsi menyangga atap Ka’bah. Di situ ada mihrab, dimana Rasulullah pernah shalat. Ada pula tangga untuk naik ke atap. Dinding-dinding di dalamnya di lapisi batu mualam dan marmer yang di hiasi kaligrafi.
6. Mizhab atau talang emas (di depan Hijir Ismail)
Mizhab adalah talang air yang terletak pada sisi bagian utara menghadap Hijir Ismail. Awalnya Ka’bah tak memiliki atap sehingga tidak memerlukan talang (saluran) air. Saat suku Quraisy merenovasi dan melengkapi dengan atap, maka di perlukan talang untuk membuang air hujan. Pada masa khalifah Walid bin Abdul Malik (Bani Umayyah) talang Ka’bah telah di selaputi emas. Semasa pemerintahan Sultan Abdul Majid (1267 H) bin Mahmud Khan (istanbul) talang tersebut di ganti dengan emas seluruhnya, dengan berat sekitar 40 kg.

7. Sumur Zam-zam (Masjidil Haram)

Rasulullah SAW meminum air dari sumur zam-zam dan beliau bersabda:“Air Zam-zam penuh berkah dan makanan yang mengenyanginya dan obat bagi penyakit. Jibril mencuci hatiku pada malam isra’ adalah dengan air sumur itu.”(HR Bukhari Muslim)

8. Bukit Shafa dan Marwah (komplek masjidil haram)

Kisah Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya, Ismail as, menjadi dasar bagi prosesi sa’i dalam Ibadah Haji dan Umrah. Jarak antara Shafa-Marwah 415 meter (sebagian sumber menyebut 405 dan 450 meter). Kedua bukit ini sekarang sudah termasuk bangunan Masjidil Haram. Namun hukum kesuciannya tetap berlaku “terpisah” , bahwa lokasi tersebut adalah lokasi di luar masjid. Sehingga muslimah yang sedang haid boleh melakukan sa’i.

9. Raudhah (Masjid Nabawi, Madinah)

“Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman surga dan mimbarku berada di atas telagaku,” begitu sabda Rasulullah saw (Muttafaq alaihi). Selain multazam, Raudhah merupakam tempat berdoa paling mustazab. Tak heran, di masa haji, tempat tempat ini menjadi “rebutan” para jamaah haji untuk shalat dan berdoa. Raudhah merupakan “bekas” rumah Rasulullah yang kini termasuk dalam Masjid Nabawi. Posisinya antara makam Rasulullah dan Mimbar Rasulullah, dengan luas kurang lebih 144 meter persegi. Raudhah berarti “taman surga”. Beberapa ahli meriwayatkan bahwa tempat tersebut kelak setelah kiamat akan benar benar ALLAH pindahkan ke surga, sehingga ia menjadi bagian taman surga.

10. Padang Arafah (saat wuquf)

Merupakan tempat untuk melakukan wuquf, salah satu rukun Haji, yang bila tidak di laksanakan maka hajinya batal (tidak sah). Keutamaan arafah sebagai tempat yang mustazab untuk berdoa adalah berdasar sabda Rasulullah saw, : “Doa yang paling afdol adalah doa di hari arafah.” Dalam riwayat lain, rasulullah bersabda, “tidak ada hari yang paling banyak ALLAH menentukan pembebasan hambanya dari neraka, kecuali hari arafah.”

11. Mina (saat hari tasyriq)

Sesungguhnya mina itu seperti rahim, yang ketika terjadi kehamilan diluaskan oleh ALLAH swt,” sabbda Rasulullah saw mengenai keistimewaan tempat yang terletak 7 kilometer dari Masjidil Haram ini. “keajaiban” mina memang kemampuannya menampung seluruh jemaah Haji yang datang menjelang tanggal 10 zulhijah untuk melontar jumrah. Dua juta orang berkumpul namun mina seakan selalu menjadi lebih luas layaknya rahim seorang ibu yang sedang mengandung.

12. Mudzalifah (saat mabit)

Terletak diantara Mina dan Mekkah, Muzdalifah merupakan lembah yang panjangnya sekitar 4 kilometer. Di tempat ini jemaah haji mabit awal (berhenti sejenak) untuk mengumpulkan 7 butir batu.

13. Di Jumratul Aqabah, Jumratul Wustha, dan Jumratul Ula (tiga pilar di tempat melempar batu di mina)

Saat Nabi Ibrahim as di perintahkan ALLAH untuk menyembelih putranya Ismail, setan menggoda beliau agar tidak melaksanakan perintah itu. Tiga kali beliau di goda setan, tiga kali juga beliau melemparkan batu kepada setan. Di tempat-tempat Nabi Ibrahim melemparlah di bangun tugu-tugu peringatan. Jumlah ula terletak di dekat Masjid Khaif, jumlah wustha berjarak 150 meter dari jumrah ula, dan jumrah aqabah berada di pintu gerbang mina, berjarak sekitar 190 meter dari jumrah wustha.