Tahlilan

MANFAAT DAN KEUTAMAAN TAHLILAN
Para ulama telah sepakat bahwa sampainya kiriman pahala sedekah atas nama orang yang telah meninggal.
Seperti yang telah di sebutkan dalam hadis-hadis yang sahih di antaranya;

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﻥَّ ﺃُﻣِّﻲ ﺍﻓْﺘُﻠِﺘَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺃَﻇُﻨُّﻬَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﺟْﺮٌ ﺇِﻥْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢ
Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Nabi ﷺ : “Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah untuknya (atas namanya)?”. Beliau menjawab: “Ya, benar”. (HR. Bukhari )

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis yang semisal di dalam kitab sahihnya pada bab;
ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ .
Sampainya pahala sedekah kepada mayit.

Islam tentunya agama yang mengayomi semua lapisan baik yang kaya maupun yang miskin . Jika si kaya mampu bersedekah dengan hartanya, tentu si miskinpun ada cara agar mereka juga bisa bersedekah.
Seperti yang di jelaskan dalam hadis yang sahih ;

Rasulullah ﷺ bersabda :
ﺇِﻥَّ ﺑِﻜُﻞِّ ﺗَﺴْﺒِﻴﺤَﺔٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﻜْﺒِﻴﺮَﺓٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﺤْﻤِﻴﺪَﺓٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﻬْﻠِﻴﻠَﺔٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً
Sesungguhnya pada setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah,.(HR. Muslim)
Tidak di pungkiri lagi bahwa bacaan kalimat tasbih, takbir, tahmid dan tahlil merupakan salah satu bentuk sedekah.
Di dalam Al-Quran di sebutkan:
ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻴَﺎﺕُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺛَﻮَﺍﺑًﺎ ﻭَﺧَﻴْﺮٌ ﺃَﻣَﻼً
Amalan-amalan yang kekal lagi saleh (al-baqiyatus salihat) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi: 46)

Banyak ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan amalan-amalan yang kekal lagi saleh (al-baqiyatus salihat) adalah bacaan;
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ، ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ، ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.

Diantara manfaat dan keutamaan bacaan tersebut yaitu ;
Merupakan bacaan yang paling di sukai oleh Allah ﷻ

Rasulullah ﷺ bersabda:
ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮ َ
“Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala; 1. Subhanallah,
2. Al Hamdulillah,
3. Laa ilaaha illallah,
4. Allahu Akbar. . (HR. Muslim)

Dan juga merupakan bacaan yang paling di cintai oleh Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:

ﻟَﺄَﻥْ ﺃَﻗُﻮْﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻲَّ ﻣِﻤَّﺎ ﻃَﻠَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ
Sesungguhnya membaca, Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena oleh sinar matahari. (HR. Muslim

Dan juga merupakan bacaan yang merontokkan dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺗَﻨْﻔُﺾُ ﺍﻟْﺨَﻄَﺎﻳَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻨْﻔُﺾُ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺓُ ﻭَﺭَﻗَﻬَﺎ
“Sesungguhnya bacaan ‘subhaanAllah wal hamdu lillaah wa laa ilaaha illa Allah wa Allahu akbar’ merontokkan dosa-dosa sebagaimana sebatang pohon yang merontokkan daunnya.”
(HR. Ahmad, Abu Daud , Ibnu Majah)
Inilah sesungguhnya hakikat tahlilan, yaitu Amaliyah yang di himpun dari Al-Quran dan As-sunnah .

Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat – kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, asma’ul husna, shalawat dan lain – lain.

Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ?

Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?
Menghadiahkan Fatihah, atau yaasiin, atau dzikir, tahlil, atau shadaqah, atau qadha puasanya dan lain – lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan nash yang jelas dalam Shahih Muslim hadits No.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa“seorang sahabat meng-hajikan untuk ibunya yang telah wafat”, dan Rasulullah saw pun menghadiahkan Sembelihan Beliau saw saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits No.1967).

Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz :

“Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pada lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YANG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat “DAN ORAN ORANG YANG BERIMAN YANG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”.

Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila wafat keturunan Adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), Shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya, maka orang – orang lain yang mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas – jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah saw menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Alqur’an untuk mendoakan orang yang telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YANG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS. Al Hasyr : 10).

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam – Imam yang memungkirinya, siapa pula yang memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang tak suka dengan dzikir.

Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Alqur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat – buat untuk mempermudah muslimin terutama yang awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab.

Bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ? Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yang wafat) tidak di Alqur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yang mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang melarangnya, itu adalah perkara MASHLAHAH MURSALAH yang sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.
Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan komputer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yang ada di masjid – masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya. Sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : “Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits No.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah Fatihah maka ia membaca Al Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat Al Ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw :

“Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Berkata Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini beliau berkata :

ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺩَﻟِﻴﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻮَﺍﺯِ ﺗَﺨْﺼِﻴﺺِ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺑِﻤَﻴْﻞِ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺍﻟِﺎﺳْﺘِﻜْﺜَﺎﺭِ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻌَﺪُّ ﺫَﻟِﻚَ ﻫِﺠْﺮَﺍﻧًﺎ
ﻟِﻐَﻴﺮِْﻩِ
“pada riwayat ini menjadi dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat Alqur’an dengan keinginan diri padanya, dan memperbanyaknya dengan kemauan sendiri, dan tidak bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah mengucilkan surat lainnya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Juz 3 hal 150 Bab Adzan)

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tersebut dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.

Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul saw

1. Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.

2. Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”. Ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H

3. Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

Mendoakan ayah ibu, guru ngaji, saudara2 muslim yang sudah wafat,..
.
“mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa kaum mukminin, baik yang laki-laki maupun perempuan.” (Muhammad: 19)
.
“Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan segenap orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Ibrohim: 41)
.
“Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)
.
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata kepadanya: “Ya Allah, kabulkanlah, dan semoga bagimu juga mendapatkan balasan yang sama.” (HR. Muslim)
.
Diakhirat nanti, setiap orang beriman saling memberi syafaat (bayan alm KH Uzairon TA, temboro)
.
Wali Songo sgt terkenal sbg Da’i Awal Indonesia. Mrk ITTIBA’ Nabi dg Hijrah Battah yakni hijrah sempurna tak balik ke tanah airnya. Dakwah smp mati tinggalkan anak,istri,kel dll demi Tinggikan Asma Allah. Tak heran mrk dpt Nusratulloh Luar Biasa, shg Majapahit yg dulu Kerajaan Hindu terbesar No.3 sedunia. Kini jd Neg Muslim mayoritas No. 1 di dunia.

Apa resepnya? Yakni: Dakwah dg bhs kaum itu & Dakwah dg Bashiroh. Salah satu Sarana Dakwah mrk adlh Acara Tahlilan.

Ide awalnya adlh Kerisauan mrk lihat org hindu beri makanan sesajen kpd trimurti (siwa,wisnu & brahma) utk slametan jk ada yg mati di keluarganya. Mrk ingin org² ini msk Islam & tinggalkan acara itu.

Tp org² ini sulit tinggalkan tradisi yg sdh 800 th itu. Mk dg Bashirah/Ilmu yg tinggi, Wali² ini gantikan itu dg Acara Tahlilan. Niatnya adlh Menyelisihi slametan 3 dewa itu gantikan dg Sunnah Nabi SAW.

Acara ini intinya adlh Undang Makan Berjama’ah atw ShodaQoh Jariyah makanan. Jd tak ada lg acara sesajen makanan.

Lalu mantera diganti bc QS. Yasin sbg Ibrah bg yg msh hidup. Kalo mau Mati Mulia,mk matilah spt Habib An Najar kisah nyata dlm QS. Yasin. Yaitu mati sbg Anshor yg bantu Jama’ah Dakwah yg hijrah dr kota².

Sbb gol yg Mati Mulia dlm Islam cuma 2,yakni: Muhajirin yg Dakwah dg hijrah dr rmhnya ke tmp lain. Dan Anshor yg bantu/tlg Dakwahnya Muhajirin.
Mksd Wali Songo,agar org² yg baru msk Islam itu diminta jd Anshor yg bantu Dakwah Wali Songo spy Mulia Matinya spt Hb. An Najar.

Trus dilanjutkan dg Acara Do’akan si mati. Dg diawali Dzikrulloh yg terdiri: baca Ismul’Adhom, Tahlil,Takbir, Tahmid, Tasbih,Istighfar & Sholawat sbg Tawasul. Lalu do’akan si mati. Akhirnya acara ditutup dg Makan Berjama’ah utk gantikan sesaji makanan di pura yg cuma akan Mubazirkan makanan.

Maka lengkaplah Acara Tahlilan ini spt Sabda Nabi SAW bhw: “Bila Anak Adam mati,mk putuslah smua amalnya kec 3, yakni: ShodaQoh Jariyah, Ilmu yg Manfa’at & Do’a Anak yg Sholeh”.

Sejatinya Tahlilan adlh Wujud Amaliyah Sabda Nabi tsb. Tapi krgnya ilmu kt tlah sbbkan kita salah paham thd Wali Songo. Yang kita kira beliau² ajarkan acara bid’ah. Adlh Na’if & MUSTAHIL,bila Allah Ridho’i sebuah acara bid’ah jd Asbab tersebarnya Islam di Indonesia. Sbb dg acara inilah awal tersebarnya Islam dibekas Kerajaan Hindu Majapahit.

Wali Songo inilah yg tersohor sbg Ulama’ Salaf jauh sblm Salafi dtg ke Indonesia. Dan mrk itulah yg terkenal sbg Ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah bahkan jauh sblm gurunya Salafi lahir di Nejd. Dan kini tugas kitalah utk teruskan Dakwah Wali Songo. Dan sempurnakan bila msh ada kekurangannya. Smg kita tak cuma jd pencela & penghujat Dakwah para pendahulu kita Wali Songo…

allahu alam bishowab

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s