Mensucikan Najis

Mensucikan Najis. Ngaji Kitab Kuneng Syarh Sullam Taufiq

👉🏾Wajib hukumnya mensucikan najis yang tidak dimaafkan baik dari tempat, pakaian atau badan dengan cara:

1. Jika najisnya najis ainiyah (najis yang bisa dilihat dan dirasa oleh panca indra) maka harus menghilangkan benda najisnya yakni rasa, warna dan baunya dengan menggunakan air yang mensucikan. Maka tidak cukup mensucikan najis menggunakan api atau angin. Dan andai yang tersisa hanya warnanya seperti warna darah haid, atau yang tersisa hanya baunya saja dan sulit untuk dihilangkan maka warna atau bau tersebut tidak berpengaruh pada kesuciannya artinya menjadi suci secara hakikat bukan menjadi najis yang dimaafkan, baik najis mugholladhoh ataupun lainnya. Namun jika yang tersisa keduanya (warna dan bau) maka hal tersebut berpengaruh pada kesuciannya yakni tetap najis karena adanya warna dan bau menunjukkan adanya benda najis tersebut. Begitu juga tetap mutanajjis kalau hanya tersisa rasanya saja yakni tidak suci.

2. Jika najisnya berupa najis hukmiyah (najis yang tidak bisa dilihat dan dirasa oleh indra) seperti air kencing yang sudah kering dan tidak membekas maka cukup dengan mengalirkan air atas tempat najis tersebut.

3. Jika najisnya sebangsa anjing (anjing, babi hutan, dan semua keturunannya) baik ludah, darah, keringat dan lain sebagainya, maka cara mensucikannya adalah dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali sekalipun dengan cara menggerak-gerakkan didalam air banyak, dan salah satunya dicampur dengan debu yang mensucikan sekiranya air tersebut keruh dengan debu dan dengan perantara air debu tersebut bisa sampai pada semua bagian tempat najis tersebut. Maka tidak cukup dicampur dengan debu yang najis atau dengan debu yang sudah dipakai (mustakmal), dan tidak cukup kalau hanya menggosok tempat najisnya dengan debu tanpa dicampuri dengan air.

4. Jika najisnya najis ringan (mukhoffafah) seperti kencingnya bayi laki-laki yang berusia dibawah dua tahun dan belum makan sesuatu selain ASI maka cukup mengalirkan air atas najis tersebut. Jika air yang digunakan hanya sedikit (kurang dari dua qullah) maka disyaratkan air tersebut mendatangi atau didatangkan pada tempat najisnya (disiramkan). Oleh karena itu jika najis yang mendatangi air (dimasukkan pada air) maka air tersebut menjadi najis sebab bertemu dengan benda najis. Namun jika airnya banyak (dua qullah atau lebih) maka tidak ada bedanya antara mendatangi najis atau didatangi najis. Wallohu A’lam.

📝OLEH SEGENAP ADMIN GROUP WA AL HAROMAIN ASY SYARIFAIN.

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s