Bayan Usaha Dakwah Usaha Nubuwah

Usaha Nubuwah adalah suatu usaha atas hati-hati manusia untuk dapat kenal kepada Allah dan mau taat kepada seluruh perintah Allah. Usaha nubuwah ini adalah Kerja Dakwah dan Tabligh yang dilakukan oleh para Anbiya AS dan Rasullullah SAW.

Dalam gerakan ini usaha nubuwah ini merupakan sarana tarbiyat atau pendidikan ummat untuk mencapai kesempurnaan agama dalam diri mereka dan dalam diri manusia di seluruh alam sehingga mereka siap untuk melanjutkan risalat kenabian. Hasil yang dicari dari sarana tarbiyat ini adalah Tazkiyatun Nafs (Perbaikan Nafsu atau Sifat) dan Tazkiyatun Iman (Perbaikan Iman). Melalui sarana tarbiyat ini manusia akan terdidik untuk mendapatkan sifat-sifat kenabian dan sifat-sifat para sahabat Nabi SAW.

Mengapa kita memerlukan latihan ini ? Hewan bila di tarbiyah (dilatih / dididik) maka akan memberikan banyak manfaat kepada manusia, tetapi bila dibiarkan saja maka akan menjadi liar hingga mendatangkan banyak masalah dan kerugian bagi manusia. Seperti kerbau akan bermanfaat jika didik dalam menggarap sawah, jika kerbau tidak di didik maka kerbau ini akan menjadi liar yang merusak sawah petani. Begitu juga dengan kuda yang menjadi kendaraan, gajah yang buat angkutan, anjing yang untuk melacak, dan kera yang buat memetik buah, semuanya perlu pelatihan atau tarbiyah untuk bisa mendatangkan manfaat. Namun jika kuda, gajah, anjing dan kera tersebut tidak di latih, maka mereka dapat menjadi binatang perusak. Begitu juga dengan manusia apabila ditarbiyah atau dididik melalui napak tilas kehidupan dan perjuangan Nabi SAW dan Sahabatnya maka akan terbentuk pada diri mereka sifat-sifat kenabian dan qualitas para sahabat RA. Qualitas tersebut seperti keyakinan yang benar, akhlaq yang baik, ketaqwaan yang tinggi, dan ksih sayang terhadap ummat. Tetapi bila dibiarkan begitu saja tanpa latihan yang benar maka yang lahir adalah sifat-sifat yang liar seperti binatang perusak tadi. Sehingga mereka bisa menjadi manusia yang hina bahkan lebih hina dari binatang. Walaupun dia suka membaca buku agama yang banyak, jika tidak ada latihan / didikan yang benar tetap saja manusia ini mempunyai kecenderungan menjadi liar. Ini dikarenakan Sifat dan Keimanan ini akan datang melalui mujahaddah.

Mujahaddah itu adalah segala bentuk kesusahan, kesulitan, pengorbanan, yang dilewati demi agama bukan melalui bacaan. Seperti seorang petinju jika dia ingin menjadi petinju namun dia tidak melatih diri, hanya dengan membaca buku cara bertinju saja, maka ketika ada pertandingan ternyata hasilnya berbeda dari yang diharapkan. Di buku mungkin dia bisa tahu definisi hook dan cara bertinju lainnya namun karena tidak ada latihan, ternyata sekali pukul sudah jatuh, langsung KO. Jadi untuk bisa jadi seorang petinju ini perlu ada latihan dan mujahaddah dalam berlatih agar bisa menjadi kebiaasaan. Sehingga nanti ketika datang pertandingan tinju dia sudah siap dan sudah terbiasa dengan keadaan yang akan dihadapinya. Begitu juga sholat, jika kita tidak ada latihan, mujahaddah membiasakan diri, pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah tepat pada waktunya, walaupun kita banyak baca buku agama, kita akan terasa berat untuk ke mesjid. Seperti waktu subuh jika kita tidak ada latihan atau kurang latihan sholat subuh berjamaah di mesjid maka ketika adzan datang kita lansung KO, tidak bisa bangun dari tidur untuk pergi sholat. Ini karena kita belum terbiasa untuk datang ke mesjid untuk sholat berjamaah. Untuk menjadikan sholat ke mesjid menjadi kebiasaan kita, maka ini diperlukan latihan agar terbiasa. Jika kita sudah biasa melatih diri, bermujahaddah membiasakan diri sholat lima waktu ke mesjid maka Insya Allah, ke mesjid untuk sholat berjamaah pada waktunya bukan hal yang sulit seperti sebelumnya. Inilah pentingnya latihan dan mujahaddah dalam agama. Melalui Mujahaddah ini akan lahir pengalaman Iman yang akan membentuk sifat seseorang menjadi seperti sifat nabi-nabi AS dan para sahabat RA. Inilah yang diajarkan Nabi SAW kepada sahabat, bukan membaca buku tetapi melalui latihan, pengamalan, dan pengorbanan.

Konsep Usaha Nubuwah

Methode yang di ambil dalam sistem nubuwah ini adalah dengan mengunakan konsep pemanfaatan waktu untuk mengamalkan agama. Jadi yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah pemanfaatan waktu. Hari ini banyak orang yang bilang bahwa dunia dan akherat harus seimbang. Jika benar berarti 50% dari 24 jam harus kita gunakan untuk agama yaitu 12 jam dan 50% lagi untuk dunia yaitu 12 jam. Jika tidur kita sudah 8 jam berarti waktu dunia kita cuman 4 jam. Hari ini siapa yang mampu melakukannya. Jika kita tidur 8 jam sehari berarti itu adalah 1/3 hidup kita sudah terpakai hanya untuk tidur. Jika kita berumur 60 tahun berarti 20 tahun dari umur kita sudah kita pakai hanya untuk tidur. Sekarang bagaimana kita mensiasati sisanya yang 40 tahun untuk mempersiapkan bekal di akherat tanpa harus melupakan dunia.

Mahfum Hadits, Nabi SAW bersabda :

“wahai sahabat-sahabatku jika Allah beri 10 perintah kepada kalian, lalu kalian melanggar 1 perintahnya, maka ini sudah bisa menjadi asbab kalian masuk ke dalam Neraka Allah. Namun nanti ada umatku sesudah kalian, Allah beri mereka 10 perintah namun 1 perintah saja mereka laksanakan sudah dapat menjadi asbab mereka masuk ke dalam SurgaNya Allah Ta’ala.”

(Al Hadits)

Sahabat dari 10 perintah Allah, satu saja mereka langgar maka sudah dapat menjadi asbab mereka masuk kedalam neraka. Namun, umat sesudah sahabat di akhir zaman ini kata Nabi SAW dalam mahfum hadits ini, satu perintah saja yang mereka laksanakan dari 10 perintah yang Allah kasih, sudah dapat menjadi asbab mereka masuk kedalam SurgaNya Allah Ta’ala. Atas dasar ini, yang di dapat dari hadits tersebut adalah 1 perintah dari 10 perintah berarti 1/10 nya. Bilangan ini digunakan sebagai tertib waktu untuk mempermudah kita mengamalkan agama secara sempurna melalui tahapan-tahapan. Tertib ini merupakan hasil dari Ijtihad para Ulama, sebagai cara atau methode untuk mempermudah manusia dalam beramal dan menjalankan usaha nubuwah atau usaha atas Iman. Atas perkara inilah Ulama membuat tertib atau tahapan untuk mempermudah manusia mewujudkan kesempurnaan agama dalam diri mereka dan diri umat seluruh alam.

Syekh Ibnu Atha’illah Rah.A berkata :

“Jika Allah cinta pada seorang hambanya maka Allah akan sibukkan dia setiap waktu dalam amal-amal Agama. Seluruh waktunya sibuk dengan perkara yang Allah cintai yaitu amal-amal Agama.”

Tahapan itu adalah dengan mensedekahkan waktu kita untuk agama :

1. Minimal memberikan 1/10 waktunya untuk agama dengan patokan umur ± 60 – 70 : 2.5 jam tiap hari, 3 hari tiap bulan, 40 hari tiap tahun, minimal 4 bulan seumur hidup. ( Tertib Minimum = Tertib Sedekah : 1/10 penghasilan kita = 1/10 waktu kita ) : Ijtihad Ulama

2. Memberikan 1/ 3 hidupnya untuk agama : 8 jam tiap hari, 10 hari tiap bulan, 4 bulan tiap tahunnya. ( Tertib Umar Al Faroukh RA. ) : Umar RA pernah menanyakan pada istri-istri prajurit islam batas kesiapan mereka untuk ditinggal pergi oleh suaminya ketika fissabillillah yaitu 4 bulan. Sehingga Shift prajurit yang berperang diputar setiap 4 bulan.

3. Memberikan seluruh waktunya untuk Agama : Tidak ada Nishab lagi yang ada hanya kesiapan mengambil takaza kapan saja diperlukan. ( Tertib Abu Bakar R.A ) : Dalam suatu riwayat ketika datang takaza menyumbangkan harta untuk Fissabillillah, saat itu, Utsman RA memberikan 1/3 hartanya untuk agama, Umar menyumbangkan 1/2 untuk agama, sedangkan Abu Bakar RA menyumbangkan seluruh harta dan waktunya untuk agama. Inilah menurut sebagian ulama level keimanan yang paling tinggi setelah kenabian yaitu tahapan shidiqqien.

Hari ini kehidupan kita sudah jauh daripada kehidupan yang dicontohkan oleh para sahabat RA, bukan dari keduniaannya, tetapi dari segi amal-amal agama yang mereka kerjakan. Ini disebabkan karena kehidupan kita dari segi pengorbanan untuk agama sudah sangat jauh tertinggal dari kehidupan sahabat yang penuh dengan pengorbanan untuk agama. Dan Latihan yang dilakukan sahabat juga sudah kita tinggalkan hari ini. Latihan seperti apa yang telah kita tinggalkan ? yaitu latihan melawan hawa nafsu, meninggalkan harta, anak, istri, perdagangan, demi agama. Dengan tahapan ini tujuannya adalah bagaimana kehidupan dan pengorbanan kita dapat ditingkatkan sehingga tidak tertinggal jauh daripada pengorbanan para sahabat RA. Asbab pengorbanan inilah Allah telah ridho pada mereka dan pertolongan Allah selalu bersama mereka dimanapun mereka berada. Melalui usaha nubuwah ini bagaimana pengorbanan dan kehidupan kita dapat mencapai tingkat pengorbanan dan tingkat derajat kehidupan para Sahabat RA. Ketika tahapan Iman sudah sampai kepada tingkatan keimanan para Sahabat RA, maka kefahamanpun akan Allah berikan pula kepada kita dan keluarga kita. Allah telah berikan kefahaman bukan hanya kepada para sahabat tetapi juga kepada anak, istri, dan keluarga mereka asbab pengorbanan mereka. Sebagaimana anak-anaknya Abu Bakar RA, Aisyah R.ha dan Asma R.ha, yang menghibur kakeknya yang marah kepada ayah mereka, karena pergi dijalan Allah tetapi tidak meninggalkan bekal untuk keluarganya. Apa yang dilakukan anak-anak Abu Bakar RA, yaitu Aisyah R.ha dan Asma R.ha, ketika itu ? yaitu mereka tidak mengadu pada kakeknya atau mengeluh mengenai sikap ayahnya tersebut, tetapi mereka justru memikirkan jalan keluar untuk ayah mereka agar kakek mereka tidak berprasangka buruk pada anaknya yaitu Abu Bakar RA. Ketika itu mereka menggiring tangan kakeknya ke lemari yang tergeletak disana batu batuan dengan mengatakan bahwa itu emas yang disentuh tangan kakeknya yang ditinggalkan ayahnya sebagai bekal untuk keluarga mereka. Ayah Abu Bakar RA yang buta itupun akhirnya merasa tenang setelah cucunya mengatakan demikian. Inilah kelebihan yang Allah berikan kepada keluarga yang mau mengorbankan seluruh waktu dan hartanya untuk agama yaitu rasa cukup dan kefahaman atas agama.

Nabi SAW di hina, di caci, di timpuki, menderita karena agama tetapi mengapa pertolongan Allah tidak turun kepada Nabi SAW ketika itu di mekkah. Padahal Nabi SAW adalah mahluk yang paling Allah cintai. Ini karena Allah hendak meletakkan standard pengorbanan bagi Umat ini terutama kepada para sahabat ketika itu. Ketika Nabi SAW bersedih atas cobaan yang dia hadapi dan kesusahan yang maha dahsyat, Allah menghibur beliau SAW dengan kisah-kisah perjuangan, pengorbanan, dan kesusahan Nabi-Nabi dan Ummat-ummat terdahulu dalam membawa agama. Ketika pengorbanan dan keimanan sampai kepada level yang Allah mau, maka ketika itu baru Nusroh Ghaibiyah ( Pertolongan Allah ) akan nampak, seperti yang terjadi pada perang Badr. Allah kirimkan tentara malaikat di perang Badr sehingga pasukan sahabat yang jumlahnya 300 orang tanpa perlengkapan perang yang lengkap mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya 3 kali lipat yaitu ± 1000 orang dengan persenjataan yang lengkap. Maiyatullah (Kebersamaan dengan Allah) akan bersama orang-orang yang siap bermujahaddah membantu agama Allah. Bagaimana kita mendzohirkan Qudratullah dalam kehidupan kita ? Masyaikh berkata caranya adalah dengan menafikan ( menolak ) logika dan penglihatan kita, dan membenarkan perintah Allah dalam segala keadaan. Kita jangan terkesan dengan keadaan-keadaan, jangan terkesan dengan apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki atau, tetapi kesankan diri kita hanya pada Janji Allah dan hanya membenarkan perintahNya dalam segala keadaan. Baru ketika itu pertolongan Allah akan nampak. Terus tingkatkan pengorbanan, karena pertolongan Allah akan datang jika pengorbanan kita untuk agama bertambah.

Syeikh Meiji Mehrab Rah.A dari India berkata :

“Iman akan naik jika ada usaha atas Iman, Iman akan turun jika usaha atas Iman menurun, Iman akan istiqomah jika usaha atas Iman juga Istiqomah.”

Kini kebendaan naik dan meningkat karena adanya usaha atas kebendaan yang terus meningkat. Jika Iman manusia ini tidak di usahakan maka demand atau permintaan atau keinginan manusia atas hidayah atau Iman akan berkurang. Tetapi jika ada usaha atas Iman maka deman atau permintaan atau keinginan manusia akan hidayah akan bertambah.

Maulana Saad, Masyeikh India, berkata Iman manusia ada tiga tingkatan :

1. Iman Kuat : Dia Tau, Dia Taat, dan Dia Ridha pada seluruh Perintah Allah.

2. Iman Lemah : Dia Tau Perintah Allah tetapi tidak ada usaha atas Ketaatan

3. Iman Keluar : Dia Tau Perintah Allah tetapi dia menghindar demi kepentingan dunia
Mudzakaroh Pengorbanan Nabi SAW dan Sahabat RA

Hubungan kita dengan Allah Ta’ala hanya dapat dilakukan dalam Agama. Agama adalah hal-hal yang di inginkan Allah Ta’ala pada diri manusia dalam setiap waktu, tempat, dan keadaan. Dengan Dakwah maka kita dapat mewujudkan Agama dalam diri kita. Target dari dakwah adalah membuat sifat dan membentuk Iman dalam diri kita. Sebagaimana sahabat mendapat sifat dan Iman melalui dakwah yang penuh pengorbanan, sehingga Iman dan sifat Mereka terbentuk sesuai dengan yang Allah Ta’ala inginkan. 13 tahun sahabat berdakwah atas perkara Iman saja, sebelum syariat diturunkan. Pengorbanan yang mereka lakukan membuat Iman mereka menjadi kuat. Sehingga setiap perintah yang turun dapat dengan mudah dilaksanakan oleh sahabat.

Para sahabat disiksa hanya untuk mempertahankan Iman. Bilal RA dipanggang dan ditiban batu yang melebihi bobot badannya ditengah terik panas matahari namun Imannya tidak goyang. Kabab RA dipanggang punggungnya di atas bara namun Imannya tidak goyah. Ammar RA disiksa dengan ayah ibunya dipasir yang panas sehingga orang tuanya Syahid. Namun demi yang namanya Iman mereka bersabar atas penderitaan. Inilah kesabaran para Sahabat dalam memperjuangkan Agama.

Begitu pula penderitaan yang dialami Nabi SAW semenjak kecil. Ketika lahir ayahnya telah tiada. Rasulullah SAW hanya merasakan kasih sayang seorang ibu dalam 2 bulan saja. Baru merasakan sedikit kebahagiaan dengan kakeknya, Rasulullah SAW harus bersabar melihat kakeknya meninggal hanya dalam waktu kurang dari setahiun. Tarbiyah demi tarbiyah Allah berikan kepada Nabi SAW supaya siap menerima tanggung jawab kenabian. Tarbiyah yang Allah berikan kepada Nabi SAW ini telah membentuk sifat dalam diri Nabi SAW.

Setelah ayat pertama turun yaitu ayat Iqro : “Bacalah”, Nabi SAW dituntut untuk membaca keadaan ummat. Namun karena takutnya menerima wahyu pertama kali, untuk beberapa saat Nabi berusaha menenangkan diri. Lalu turunlah perintah “Ya hayyuhal Mudatsir Kum Fa Anzir Farabbaka Fakabbir.” Artinya : “Wahai orang yang berselimut bangunlah dan besarkanlah nama tuhanmu.” Inilah awal dari perintah Allah SWT kepada Nabi SAW untuk memulai dakwah. Jadi kita berdakwah bukan karena nafsu kita tetapi ini karena perintah Allah sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi SAW. Setelah turun ayat ini, Nabi SAW berkata kepada istrinya, “Mulai hari ini tidak ada waktu untuk istirahat lagi.” Semenjak itu Nabi SAW tidak pernah berhenti dari kerja dakwah. Pergi pagi baju bersih pulang petang baju sudah kotor. Pernah suatu hari Nabi SAW asbab keletihan dari menyampaikan agama pada orang, beliau hendak beristirahat sebentar. Namun belum sempat tertidur turunlah ayat : “Ya Ayyuhal Muzammil Kumillaila illa qollila…” Ketika itu Nabi SAW diperintahkan untuk bangun malam menghadap Allah, mendirikan ibadah malam, sehingga hilanglah waktu untuk istirahat beliau SAW. Inilah kerja Nabi SAW yang tidak mengenal waktu dan lelah. Cobaan dan kepayahan dilewati oleh Nabi SAW, sampai-sampai Nabi SAW berkata mahfum : “Tidak ada satu manusiapun yang penderitaannya melebihi aku”. Pernah Nabi SAW membawa Siti Fatimah ke Masjidil Haram, ketika dalam keadaan sujud Nabi SAW badannya di lempari kotoran onta oleh orang kafir Quraish, sehingga membuat Siti Fatimah yang masih kecil menangis melihat keadaan ayahnya. Melihat kotoran yang menempel pada badan ayahnya, Siti Fatimah sambil menangis berusaha membersihkan kotoran onta tersebut dari ayahnya. Ketika beliau berdakwah, orang-orang yang memberikan beliau gelar Al-Amin, berbalik menghina beliau dengan panggilan Al Majnun ( orang gila ). Kehidupan beliau diboikot sehingga beliau berhari-hari dengan istrinya tidak makan apapun selain biji korma dan air putih. Selama 3 bulan dapur nabi SAW tidak mengeluarkan asap, tidak ada masakan atau makanan.

Belum lagi ketika beliau ke Thaif dengan penuh harapan penduduk Thaif mau memeluk Islam, ternyata yang diterimanya adalah siksaan. Rasululllah SAW dihina dan dilemparkan batu, sampai keluar kotapun masih dihajar. Darah segar Rasullullah SAW mengalir dari kepala beliau SAW banyak sekali. Disinilah Rasulullah SAW berdoa yang doanya menggetarkan hati seluruh penduduk langit. Ketika itu seluruh penduduk langit murka dan Allah Ta’ala telah memerintahkan malaikat untuk siap menerima perintah apapun dari Nabi SAW jika Nabi SAW berkeinginan menghancurkan Thaif. Tetapi apa yang dikatakan Nabi SAW menjawab kesediaan para malaikat tersebut yaitu Nabi SAW berdoa yang bunyinya : “Ya Allah bukan ini yang aku mau, aku berdoa karena kelemahanku dalam berdakwah, karena ketidak mampuanku dalam menyampaikan “. Lalu Nabi SAW malah mendoakan kebaikan untuk para penduduk Thaif agar suatu saat nanti mereka mau memeluk Islam. Inilah yang dilakukan Nabi SAW yaitu membalas keburukan dengan kebaikan. Inilah kesabaran Rasullullah SAW dalam menghadapi cobaan. Ketika semua malaikat telah siap untuk menghancurkan Thaif yang telah menyiksa beliau, tetapi beliau malah mendoakan kebaikan buat mereka yang telah menyiksa beliau SAW. Namun cobaan dan ujian kepada Nabi SAW tidak hanya berhenti sampa di Thaif saja, masih banyak lagi cobaan dan penderitaan yang harus dilewati Nabi SAW. Di saat penting-pentingnya Dakwah Rasulullah SAW di Mekkah berturut-turut Rasulullah SAW harus kehilangan 2 orang yang dicintai dan mendukungnya dalam berdakwah yaitu istrinya, Khadijah R.ha, yang selalu menghiburnya ketika sedih dan pamannya Abu Thalib yang selalu membelanya dari siksaan orang kafir Quraisy. Cobaan demi cobaan, kesusahan demi kesusahan, terus di alami Nabi SAW hingga akhir hayatnya. Menjelang ajalnya Nabi SAW barulah bisa berkata, “Tidak akan ada lagi kesusahan setelah hari ini.”

Sahabat RA ini mencintai Nabi SAW melebihi cinta mereka pada keluarganya, pada orang tuanya, bahkan melebihi kecintaan mereka pada dirinya sendiri. Sahabat untuk bersabar ketika harus meninggalkan anak, istri dan mendapat berbagai macam siksaan, ini mudah saja bagi mereka. Tetapi Tidaklah mudah bagi sahabat menahan kesabaran ketika mereka melihat Rasulullah SAW dihina dan disiksa. Ini karena mereka. sahabat dahulu adalah seorang yang pemberani dan pendekar-pendekar perang. Ketika Hamzah RA mendengar Rasulullah SAW ditimpuki kotoran oleh Abu Jahal, beliau RA langsung menyampiri Abu Jahal dan memukulnya hingga jatuh dan berdarah, didepan para petinggi quraisy pada waktu itu. Padahal waktu itu Rasulullah SAW tidak pernah menyuruh mereka mambalas atau menyatakan perang kepada orang kafir Quraish atas perlakuan mereka. Justru beliau malah menyuruh mereka, para sahabat RA, untuk bersabar atas orang kafir quraisy. Para sahabat rela bersabar diatas segala penderitaan demi Agama Allah. Mereka disiksa, keluarga mereka dibunuh, dihina dan dicaci maki, tetapi apa yang nabi anjurkan kepada mereka, yaitu bersabar, bukan membalas dengan nafsu dan dendam.

Allah Ta’ala menguji kesabaran para sahabat ketika susah dan sempit yaitu ketika di Mekkah, dan Allah Ta’ala menguji mereka ketika senang dan lapang ketika di Madinah. Ketika perjanjian Hudaiybiyah, para sahabat RA ditest kehormatannya oleh Allah Ta’ala. Sejauh mana mereka siap mengorbankan kehormatan mereka untuk Agama. Ketika perjanjian Hudaibiyah, saat itu para sahabat RA sudah dalam posisi siap tempur, dan keuntungan keadaan berpihak pada sahabat RA ketika itu. Namun apa yang terjadi disaat sahabat sudah merasa ini waktunya bagi mereka untuk membalas semua kekejaman kaum Quraish kepada mereka dan keluarga mereka. Justru keadaan yang menguntungkan itu ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah SAW. Bahkan Rasullullah SAW menerima tawaran kafir quraisy yang tidak seimbang dan merugikan posisi mereka pada waktu itu. Secara logika apa yang diputuskan oleh Nabi SAW tidak dapat diterima oleh akal dan nalar para sahabat RA ketika itu. Hal ni membuat harga diri para sahabat ketika itu tercabik-cabik. Namun karena ini sudah menjadi keputusan Rasulullah SAW, maka mereka harus taat. Inilah kesabaran sahabat ketika mereka telah telah diujung kesabaran mereka untuk menggempur kafir quraisy, mereka masih tetap taat kepada Nabi SAW. Tetapi kejadian ini diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Quran sebagai kemenangan umat Islam, walaupun para sahabat mengalami kekecewaan.

Bagaimana diceritakan ketika penaklukan kota Mekkah, orang kafir quraisy ketakutan melihat kekuatan umat Islam ketika itu. Abu Sofyan, Jendral orang quraisy yang ikut diberbagai pertempuran melawan umat Islam, Hindun yang memakan hati paman Nabi, semua orang yang pernah menyiksa sahabat orang yang sama ketika itu sangat ketakutan. Namun apa yang terjadi, ketika Nabi berbicara di depan ka’bah kepada orang kafir Quraish, ”Tahukah kalian apa yang akan aku lakukan kepada kalian?” mereka menjawab dengan ketakutan, “tidak ya Rasulullah” Rasulullah SAW bersabda, “Aku akan membebaskan kalian sebagaimana saudaraku Yusuf AS membebaskan saudara-saudaranya.” Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW kepada orang yang sama yang telah menyiksa beliau SAW dan para sahabatnya.

Inilah kesabaran yang harus dipunyai seorang beriman. Sedangkan hari ini kita sudah merasa kehilangan kesabaran terhadap saudara sendiri, keluarga sendiri, teman sendiri, terhadap lingkungan sendiri. Bagaimana kita bisa menjadi seperti mereka, Nabi dan para Sahabat RA, jika kita tidak mempunyai kesabaran seperti yang mereka miliki. Para sahabat juga dihina ketika sedang berdakwah, tetapi mereka bisa bersabar diri. Keadaan kita dibandingkan para sahabat sangatlah jauh berbeda. Karena pengorbanan yang mereka lakukan dalam berdakwah berbeda dengan kita, sehingga tingkat kesabaran yang kita punya juga berbeda dengan mereka. Asbab kesabaran dan pengorbanan mereka, hidayah tersebar. Masalah sahabat dibandingkan dengan masalah yang kita hadapi sangatlah tidak sebanding, karena kita tidak melalui penyiksaan-penyiksaan, pembunuhan massal terhadap orang yang kita cintai, ditimpuki, dan lain-lain. Untuk itu penting kita keluar di jalan Allah untuk melatih diri kita agar bisa mendapatkan sifat para sahabat. Dengan tarbiyat yang kita dapati ketika berdakwah, ini dapat membentuk sifat-sifat mulia dalam diri kita. Inilah yang dilakukan para Anbiya AS dan para sahabat dalam menjalankan usaha atas agama, “The Efforts of Deen”, atau Dakwah. Mereka harus melakukan total pengorbanan sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala dan Nabi SAW.

Mudzakaroh Pengorbanan Ibrahim AS dan keluarganya

Ibrahim AS baru bisa mempunyai anak ketika beliau berumur 98 tahun. Ketika itu beliau diuji 2 kali oleh Allah Ta’ala. Pertama ketika beliau harus meninggalkan anak yang baru ia punya dan yang ia dambakan, dan istrinya dipadang pasir. Disini terlihat bahwa Allah hendak menguji Ibrahim AS dengan perintahNya, agar Ibrahim AS ini hatinya senantiasa terpaut pada Allah. Hari ini seseorang yang pulang kerja saja tidak sabar buru-buru pulang ingin bertemu dengan anak dan istrinya, tetapi lihat Ibrahim AS malah diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya. Dengan penuh kesedihan dan kesabaran dalam menjalankan perintahNya, Ibrahim AS tinggalkan anak dan istrinya di padang pasir. Demi menjalankan perintah Allah, keluargapun Ibrahim AS rela mengorbankannya. Ibrahim AS di test kesabaran dan keyakinannya oleh Allah untuk meninggalkan anak dan istrinya di padang pasir.

Setelah Siti Hajar mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah maka dia pun Ridho di tinggal Ibrahim AS ditengah padang pasir. Inilah keyakinan siti hajar dan ketaatannya terhadap perintah Allah. Hari ini orang jika melihat suami meninggalkan anak dan istri untuk mendekatkan diri kepada Allah, orang-orang sudah mencapnya sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Jika suami pergi untuk mencari keduniaan di anggap sebagai orang yang penuh tanggung jawab. Inilah kesalah fahaman kita hari ini, dikira kita yang menghidupkan keluarga kita. Orang yang mau berkorban untuk agama di jelekkan dan orang yang buat usaha atas dunia di muliakan.

Allah telah buktikan bahwa Allah tidak perlu Ibrahim AS, Uang, atau Mahluk apapun dalam memelihara Siti Hajar dan Ismail AS dipadang pasir yang tandus. Allahlah yang memelihara segala-galanya, mahluk tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah. Asbab keyakinan dan ketaatan Ibrahim AS dan keluarganya yaitu Siti Hajar dan Ismail AS, Allah telah buat Mekkah daerah yang tandus dan tidak ada manusia yang mau datang menjadi daerah yang berkah keluar air zam zam dan ramai pengunjung. Setelah beberapa lama tidak bertemu, Ibrahim AS Allah izinkan untuk bertemu dengan siti hajar dan Ismail AS, dengan syarat tidak boleh turun dari kudanya dan tidak boleh berbicara. Setelah itu Ibrahim AS harus balik lagi ke Palestina tempat dia harus berdakwah. Hari jika kita diposisi nabi Ibrahim AS, sudah lama di jalan Allah rindu pada keluarga, sekalinya bertemu tidak boleh turun dari kuda, tidak boleh memeluknya, dan tidak boleh berbicara. Inilah kesabaran seorang Nabi dan seorang Da’inya Allah. Setelah lolos dari ujian ini baru Allah izinkan Ibrahim AS berkumpul dengan Siti Hajar dan Ismail AS.

Ujian kedua, ketika Ibrahim AS lagi senang-senangnya bermain bersama Ismail AS, turun perintah untuk menyembelih Ismail AS. Inilah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam membuktikan kecintaannya terhadap Allah Ta’ala, bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah di hatinya. Ini adalah ujian dari Allah untuk membuktikan bahwa hati Ibrahim AS tidak mendua kepada Allah dan kepada selain Allah walaupun itu keluarga. Ketaatan kepada Allah Ta’ala bagi Ibrahim AS lebih berharga dibanding keluarganya. Inilah kesiapan dan kesabaran seorang Nabi dan seorang da’i dalam menjalankan perintah Allah.

Begitupula kepada siti hajar dan Ismail AS ketika mendapatkan perintah ini. Nabi Ibrahim dan Ismail AS digoda setan dengan perkataan, “Wahai Ibrahim ini adalah anakmu bagaimana kamu bisa membunuh darah dagingmu sendiri, apakah kamu tega.” Mendengar godaan dari setan ini maka Ismail AS mengusir setan itu dengan melemparkan batu. Lalu Ismail AS berkata kepada ayahnya, ”wahai ayah jika ini perintah Allah jalankanlah, saya ikhlas menerimanya.” Begitu juga Siti Hajar yang di goda oleh setan yang mengatakan bahwa saat ini Ibrahim AS akan membunuh anaknya. Siti Hajar terperanjat kaget saekan-akan tidak percaya. Lalu Siti Hajar bertanya, “Apakah ini adalah perintah dari Allah ?” si setan menjawab,”benar.” Mendengar ini siti hajar menimpuk setan itu dengan batu dan berkata, “Kalau begitu kamu ini setan, masa Ibrahim AS harus melanggar perintah tuhannya.” Inilah keyakinan dan kesabaran keluarganya seorang Nabi dan Da’inya Allah dalam menjalankan perintah Allah. Ini berlaku bagi siapa saja yang siap berkorban di jalan Allah maka nanti Allah akan buat keluarganya mempunyai keyakinan dan ketaatan seperti keluarganya Ibrahim AS.

Keadaan ini tidak hanya Allah berikan kepada Nabi Ibrahim AS tetapi juga kepada para sahabat RA seperti Abu Bakar RA. Asbab pengorbanan Abu Bakar RA, anak-anaknyapun mempunyai keyakinan yang sama seperti ayahnya. Suatu ketika Abu Bakar hendak keluar di jalan Allah, ia telah korbankan seluruh hartanya untuk digunakan di jalan Allah. Lalu Nabi SAW bertanya apa yang telah kamu tinggalkan untuk rumahmu, dia menjawab, “Saya tinggalkan Allah dan RasulNya.” Ketika ayah Abu Bakar RA yang buta dan masih dalam keadaan Kafir berkunjung kerumahnya Abu Bakar, dia berkata dengan nada marah kepada cucunya, “Pasti Abu Bakar telah meninggalkan kalian pergi tanpa meninggalkan apapun.” Lalu Siti Aisyah R.ha beserta adiknya Asma R.ha membimbing kakeknya ke arah meja dan berkata, “Tidak kakek, ayah telah meninggalkan kita batu emas ini.” Seraya membimbing tangan kakeknya ke meja memegang batu yang dikira emas oleh kakekanya. Inilah keyakinan yang ditanamkan Allah kedalam anaknya Abu Bakar RA, sehingga mereka rela ditinggalkan oleh ayahnya tanpa ditinggali apapun.

Nusrottulloh, pertolongan Allah Ta’ala, akan datang kepada orang yang melakukan total pengorbanan dan mempunyai kecintaan terhadap agama seperti sahabat RA. Suatu ketika anak laki-laki Abu Bakar berkata kepada ayahnya, “wahai Ayah, ketika perang Badr, saya mempunyai kesempatan 3 kali untuk membunuhmu, tetapi setiap saya hendak melakukannya, rasa cintaku kepadamu menghalangiku untuk melakukannya “. Lalu Abu Bakar menjawab, ”wahai anakku, jika saat itu aku mendapatkan kesempatan untuk memenggal kepalamu, pasti aku akan melakukannya tanpa ragu-ragu karena aku lebih mencintai Allah Ta’ala dan RasulNya daripada kamu.”

Inilah cinta sahabat RA terhadap Allah Ta’ala, dan inilah kecintaan yang Allah Ta’ala mau, tidak mendua kepada yang lain. Seorang sahabat ditanya oleh Rasulullah. ”Apakah yang akan engkau lakukan jika engkau malihat istri engkau berduaan dengan lelaki lain dalam kamarmu.” Sahabat menjawab, “Akan saya penggal leher lelaki itu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda mahfumnya, ”Saya lebih pencemburu dari kamu, dan Allah lebih pencemburu dari saya. Begitu pula cemburunya Allah Ta’ala terhadap hambanya jika dapatiNya dalam hati hambanya kebesaran mahkluk selain kebesaran Allah Ta’ala”

Ada seorang sahabat yang tidak bisa tidur sebelum melihat wajah Nabi SAW karena sangking cintanya kepada Nabi SAW. Seorang sahabat berkata, “Sebelum aku memeluk Islam tidak ada seorangpun yang kubenci melebihi Muhammad SAW, tetapi setelah aku memeluk Islam tidak ada satu manusiapun yang lebih aku cintai daripada Nabi SAW”. Sahabat sangking cintanya kepada nabi SAW rela mengorbankan anak, istri, pekerjaan, jabatan, harta, dan harga diri. Tetapi jika takaza agama dibentangkan maka mereka rela meninggalkan Nabi SAW demi agama. Sebagaimana perpisahan Nabi SAW dengan Muadz yang akan pergi berdakwah ke Yaman. Nabi SAW berkata kepadanya bahwa ini adalah pertemuan mereka yang terakhir, namun Muadz RA dengan hati yang hancur dan kesedihan yang luar biasa karena harus berpisah dengan orang yang paling dicintainya tetap melanjutkan perjalanan demi kepentingan agama.

Para sahabat ketika takaza jihad dibentangkan maka mereka langsung meninggalkan segala yang mereka cintai seperti istri yang baru dinikahi pada malam pertama, kebun korma yang siap dipanen, seluruh harta bendanya untuk agama. Bahkan keluarga merekapun diberi semangat oleh anggota keluarga mereka sendiri untuk berjihad di jalan Allah. Namun karena lemahnya iman kita maka kita belum mampu melakukan pengorbanan seperti mereka. Kesalah fahaman yang terjadi saat ini adalah kita menyangka bahwa diri dan harta kita adalah milik kita. Padahal semua yang kita miliki dan yang kita lihat ini adalah milik Allah Ta’ala. Untuk membenarkan kesalah fahaman ini maka kita harus keluar dijalan Allah Ta’ala belajar berkorban seperti para Nabi AS dan para sahabat RA.
Bagaimana cara memperbaiki Ummat dan menyelesaikan masalah Ummat ?

Satu-satunya cara terbaik memperbaiki ummat yaitu dengan cara mengenalkan agama kepada mereka dan memperbaiki keimanan mereka. Hanya dengan keimanan yang benar kepada Allah dan pengamalan agama yang sempurna maka kehidupan manusia akan terperbaiki. Namun Agama tidak mungkin bisa diamalkan secara sempurna tanpa keimanan yang benar. Dan untuk memperbaiki keimanan ini yang sifatnya Ghaib hanya bisa menggunakan methode Rasullullah SAW yang caranya langsung diajarkan oleh Allah Ta’ala.

Imam Malik Rah.A berkata :

“Tidak ada cara yang terbaik dalam memperbaiki Ummat saat ini selain cara yang digunakan Rasullullah SAW pada kurun waktu awal Islam”

Bagaimana Nabi SAW memperbaiki umat yaitu dengan cara berdakwah, mengenalkan agama kepada manusia. Hanya dengan adanya dakwah, umat dapat mengenal siapa Allah dan manfaat daripada agamanya. Asbab adanya kerja dakwah ini maka Madinah yang tadinya kota penuh kemaksiatan menjadi kota pusat peradaban Islam. Sehingga Madinah mendapatkan gelar Al Munawarah, tempat terpancarnya cahaya. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan kehidupan seperti di madinah, atau bangsa yang Madani ( Bangsa Madinah ) yang kita idam-idamkan. Cara pertama adalah dengan mengirimkan rombongan dan menerima rombongan seperti yang dilakukan Nabi SAW di mesjid Nabawi. Ini perlu dilakukan agar ummat bisa mendapat tarbiyah yang sama seperti sahabat ketika pergi di jalan Allah dan belajar kepada Nabi SAW di Mesjid Nabawi. Apa targetnya ketika kita keluar di jalan Allah :

I. Target Kedalam :

Bagaimana dalam diri kita dapat terbentuk Sifat dan Qualitas Sahabat
Bagaimana Amal Agama ini dapat sempurna kita kerjakan
Bagaimana Fikir dan Risau Nabi SAW, Kecintaan dan Kesedihan Nabi SAW, Maksud Hidup Nabi SAW, Kerja Nabi SAW menjadi bagian dari kita juga.
Tazkiyatun Nafs, Tazkiyatun Amal, Tazkiyatun Iman.

Target Keluar :

Membentuk Syukbah ( Persahabatan dan Pertemanan à Ukhwah Islamiyah )
Membentuk Biyah ( Suasana Amal / Maqomi : Dakwah, Taklim, Dzikir, Khidmat )
Mengeluarkan Rombongan Fissabillillah ( Menyiapkan Ummat untuk terlibat dalam Dakwah )

Jika kerja dakwah ini dikerjakan dengan maksimal, maka hasil dari kerja dakwah ini adalah :

Dakwah ↑ – Iman ↑ – Amal ↑ – Ilmu ↑ – Akhlaq ↑ – Maksiat ↓ – Ukhwah ↑ – Perpecahan ↓ :

Ketika Agama akan wujud, keberkahan akan turun dari langit dan dari bumi, ekonomi akan membaik, orang akan lebih memilih hidup sederhana, sehingga harga barang akan turun, import akan berkurang, mata uang akan menguat, harga akan stabil, inflasi dapat ditekan. Ketika ini kondisi umat akan membaik, yang bathil akan lenyap, keamanan dan ketentraman akan wujud, kebaikan akan meningkat, doa akan di dengar, pertolongan Allah akan turun, dan kejayaan umat islam akan kembali.

Dakwah ↓ – Iman ↓ – Amal ↓ – Ilmu ↓ – Akhlaq ↓ – Maksiat ↑ – Ukhwah ↓ – Perpecahan ↑ :

Ketika ini Agama akan hancur, keberkahan akan Allah cabut, kondisi umat akan memburuk, orang banyak maunya, permintaan akan barang meningkat, sehingga harga-harga akan naik, ekonomi akan berantakan, gap antara yang kaya dan yang miskin akan sangat mencolok, korupsi dimana-mana, kejahatan merajalela, kerusakan dimana-mana. Kita akan lihat orang akan berbondong-bondong keluar dari islam, maksiat akan tersebar, yang bathil akan masuk, manusia mulai merusak, keamanan dan ketentraman akan hilang, doa tidak akan didengar, pertolongan Allah tidak akan datang, yang turun adalah adzab dari Allah, dan islam akan dihinakan dimana-mana. Ketika ini maka Allah akan datangkan berbagai macam bencana dan musibah kepada ummat manusia.

Jika Dakwah yang Haq ditegakkan maka kebaikan-kebaikan akan datang dan Maksiat akan lenyap. Tetapi jika Dakwah yang Haq tidak ditegakkan, maka Dakwah yang Bathil akan masuk dan Maksiat akan merajalela. Apa itu Dakwah yang bathil yaitu segala bentuk usaha yang mengajak manusia untuk bermaksiat kepada Allah dari iklan TV, cara berniaga, tempat-tempat hiburan, perjudian, fashion show, club-club malam untuk bermabuk-mabukan dan perzinaan. Hari ini mengapa kejahatan gampang tersebar, bahkan semakin hari semakin canggih kejahatannya. Kejahatan makin maju padahal tidak ada sekolahnya untuk ilmu dan sistem kejahatan. Ini karena tidak perlu sekolah untuk jadi orang jahat, cukup berkumpul dan bertemu dengan pencuri maka kita akan mendapatkan keahlian mencurinya, begitu juga dengan pemabuk, penjudi, dan lain-lain. Padahal kalau kita perhatikan sekolah umum yang mengajarkan ilmu agama banyak, sarjana agama banyak, pesantren dan madrasah pendidikan agama ada dimana-mana, tetapi mengapa kini yang namanya kebaikan tidak tersebar ? Jawabannya adalah ini dikarenakan para Ahlul Kebaikan tidak menyebar, atau tidak adanya pergerakan orang-orang baik yang menyebarkan kebaikan. Sedangkan hari in yang bergerak adalah kejahatan dan para ahlul maksiat. Mereka bergerak, menyebar ke mana-mana, dan ketika bertemu saling mengajarkan sehingga tercipta suasana kejahatan diantara mereka. Jadi asbab adanya pertemuan dan pergerakan bisa membuat kejahatan makin tersebar dan semakin maju. Cukup dengan pergerakan saja, tidak perlu ada promosi dengan kata-kata, maka sesuatu itu dapat mudah tersebar. Seperti cara berpakaian group musik rock yang terkenal misalnya. Mereka para the rocker ini tidak banyak bicara, tetapi hanya bergerak bertemu orang, tau-tau yang lain sudah mengikuti gaya dan penampilan mereka. Begitu juga dengan kebaikan, mengapa kebaikan tidak tersebar, ini karena para ahli kebaikan, para ahli agama tidak bergerak. Mereka hanya duduk-duduk saja di tempatnya. Maka jika keadaannya seperti ini, bisa dipastikan kebaikan tidak akan tersebar dan tidak akan meningkat. Mungkin akan datang suatu masa dimana kebaikan akan hilang dan kebathilan akan tersebar dimana-mana jika para ahlul agama dan ahlul kebaikan tidak mau bergerak menyebarkan yang haq. Dengan keluar di jalan Allah menyebar ke permukaan bumi memberi contoh yang baik dan mengajak orang kepada Allah maka kita sudah menyebarkan kebaikan dan menegakkan yang Haq.

Jadi untuk dapat menyelesaikan masalah ummat itu mudah saja, tidak usah banyak teori, cukup dalam sunnah saja, kehidupan sahabat sudah dapat menyelesaikan masalah semuanya. Caranya yaitu ummat islam kembali pada kerja dakwah ini dan keluar di jalan Allah, berganti-ganti atau bergiliran. Nanti Allah Ta’ala akan selesaikan semua masalah. Ummat islam dan amal islam akan menjadi kuat. Ummat islam ini di ibaratkan oleh ulama adalah seperti air. Air ini jika ia mengalir atau bergerak maka air ini adalah suci dan mensucikan. Jika aliran sungai ini melewati kotoran-kotoran dipinggiran sungai, maka pinggiran sungaipun akan terbersihkan dari kotoran. Tetapi jika air ini tidak bergerak seperti air yang ada dikubangan, maka air yang seperti ini akan membawa banyak masalah, seperti menjadi tempat najis, banyak kotoran, sarang penyakit, tidak bersih, tidak sehat, dan tidak bisa mensucikan. Semua kotoran menumpuk di air kubangan, atau di air yang tidak bergerak, berbeda dengan air yang bergerak atau mengalir. Jadi kalau ummat islam ini tidak bergerak, maka masalah akan banyak timbul dan ummat akan menjadi sarang kotoran sebagaimana air yang tidak bergerak yaitu menjadi air yang membawa masalah. Selama Ummat Islam dalam keadaan bergerak, berdakwah fissabillillah, maka Allah akan selesaikan semua masalah. Allah akan tolong ummat ini dan Allah akan ciutkan hati orang kafir terhadap ummat islam. Dan Allah akan bersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam hati ummat islam. Atas perkara inilah kita perlu membawa ummat ini untuk bergerak, pergi dijalan Allah untuk berdakwah. Inilah pergerakan memperbaiki ummat dalam Dakwah dan Tabligh, yaitu dengan mengirimkan rombongan dakwah pergi bergerak dijalan Allah dan memakmurkan mesjid Allah dengan amal-amal agama.

Dakwah membentuk Syukbah ( Persahabatan ) dan Biyah ( Suasana Amal )

Nabi SAW menyatukan ummat ini dengan kerja dakwah. Sehingga timbul diantara mereka rasa sepenanggungan dan seperjuangan. Inilah yang terjadi antara kaum muhajjirin dan anshor di madinah. Inilah rasa yang dimiliki antara Nabi SAW dan para sahabatnnya RA yaitu perasaan syukbah, rasa persahabatan dan sepenanggungan dengan Nabi SAW. Lalu Biyah akan datang dengan membentuk suasana amal seperti di mesjid Nabawi. Sehingga ketika suasana amal ini wujud di mesjid Nabawi bisa membuat seorang kafir masuk ke mesjid nabawi keluar-keluar sudah menjadi orang beriman.

Lalu bagaimana caranya membentuk Syukbah dan Biyah ini dikalangan umat ?

Mengirimkan rombongan-rombongan dakwah untuk pergi di jalan Allah

membentuk syukbah diantara jemaah dan mesjid yang didatangi

Menerima rombongan-rombongan dakwah dan para pelajar di mesjid-mesjid kita

membuat suasana amal atau Biyah dengan program-program agama

Inilah yang dilakukan Nabi SAW dalam mengenalkan agama yaitu dengan mengirimkan rombongan dakwah dan menerima rombongan atau orang-orang yang mau belajar di mesjid Nabawi. Sehingga terbentuk suasana syukbah, persahabatan antara Nabi SAW dan para sahabatnya. Dan terbentuk pula suasana amal, biyah, dari orang-orang yang mau belajar kepada Nabi SAW. Di jaman Nabi SAW sampai ke jaman Khulafaur Rasyidin jika orang masuk ke mesjid Nabawi maka akan terlihat halaqoh-halaqoh pembicaraan Iman dan pengajaran agama. Sehingga suasana ini di mesjid Nabawi mampu memberikan kesan kepada orang-orang yang tidak mengenal agama. Sehingga ketika itu kita lihat banyak orang kafir masuk islam karena terkesan dengan suasana amal dan suasana persahabatan yang dibuat Nabi SAW di mesjid Nabawi.

Ketika syukbah dan Biyah sudah terbentuk, maka ketika itu akan terlihat orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Inilah cara Islam mengenalkan agama yaitu dengan dakwah sehingga terbentuk yang namanya syukbah dan Biyah di kehidupan umat. Masalahnya mengenalkan agama dan mengamalkan agama adalah dua hal yang berbeda. Agar umat dapat mengamalkan agama diperlukan keimanan yang kuat. Sedangkan Iman ini akan kuat jika ada Hidayah dari Allah. Hidayah akan datang jika ada pengorbanan dari orang tersebut untuk membuat usaha atas Iman atau Hidayah. Inilah yang dilakukan Nabi SAW dalam mendidik sahabat untuk mendapatkan yang namanya Iman, yaitu membuat usaha atas hidayah Allah.

Hari ini mengapa umat tidak bisa mengamalkan agama secara sempurna ini dikarenakan umat tidak di bawa kepada pengorbanan untuk agama seperti sahabat RA. Melalui pengorbanan akan datang kesadaran dalam beramal dan rasa tanggung jawab terhadap agama. Nabi SAW mendidik sahabat untuk mendapatkan Iman dengan cara membawa mereka kepada pengorbanan untuk agama. Hanya dengan melalui pengorbanan untuk agama maka keimanan akan datang. Seperti Bilal RA ketika disiksa oleh Abu Jahal agar Bilal mau murtad dari islam. Bilal disiksa dipadang pasir yang panas terpanggang oleh panasnya padang pasir, tubuhnya ditiban batu besar yang melebihi bobot badannya saat itu, tetapi siapa yang di ingat oleh Bilal ketika itu ? “Ahad…Ahad”, yaitu Allah yang diingatnya, bukannya Abu Jahal yang menyiksanya ketika itu. Waktu bilal menyebut “Ahad..ahad..” ketika itulah Iman telah masuk. Mengingat Allah dalam keadaan susah dan bersabar atasnya inilah yang dapat mendatangkan Iman. Lalu bagaimana nasehat atau respon Nabi SAW ketika tahu Bilal RA di siksa ? Nabi SAW menasehati Bilal RA untuk bersabar karena dibalik kesabaran dalam mujahaddah atas agama tersimpan rahasia-rahasia Allah berupa kefahaman agama dan kekuatan Iman. Ketika Bilal ditanya oleh seseorang kapan masa yang paling bahagia di dalam kehidupannya, Bilal menjawab yaitu ketika Abu Jahal menyiksanya dipadang pasir ketika itu. Saat itulah masa yang paling bahagia bagi Bilal karena saat itulah dia dapat merasakan manisnya Iman. Bilal RA dapat merasakan manisnya Iman dan kebahagiaan dalam beragama yaitu ketika dia berkorban untuk agama. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh sahabat-sahabat RA lainnya ketika mereka merasakan manisnya Iman melalui pengorbanan untuk agama.

Iman ini adalah bukan suatu benda yang dapat disentuh, atau dilihat oleh mata, atau dibeli oleh uang, tetapi keimanan ini adalah pemberian dari Allah. Allah berikan yang namanya Iman ini karena adanya keinginan dan usaha seseorang atas Hidayah atau Keimanan. Iman inilah yang memberikan kekuatan pada seseorang untuk dapat mengamalkan agama secara sempurna. Iman ini adalah seperti ruh pada jasad, ruh ini tidak nampak, tetapi mampu menghidupkan jasad manusia untuk bergerak. Dan Iman ini akan datang melalui pengorbanan seseorang atas Iman. Melalui pengorbanan inilah Nabi SAW mendidik sahabat agar datang kepada mereka keimanan yang sempurna untuk dapat menerima dan mentaati seluruh perintah-perintah Allah. Pendidikan Keimanan yang diberikan oleh Nabi SAW kepada sahabat ini berlangsung selama 13 tahun sebelum perintah sholat turun. Hari ini mengapa orang susah sholat, ini dikarenakan belum adanya kesiapan atas keimanan mereka untuk menerima perintah-perintah Allah.

Kesempurnaan keimanan sahabat mampu membawa mereka ketingkat keyakinan bahwa ada harta tidak ada harta tidak ada masalah. Hari ini ummat karena kekurangan harta maka mereka berlaku anarkis, merusak, bahkan menjadi liar melebihi liarnya binatang. Beda dengan jaman sahabat, mereka mampu berkeyakinan bahwa harta yang mereka miliki tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah. Sehingga orang seperti Abu Bakar RA mampu menyerahkan seluruh hartanya uintuk agama. Nabi SAW rumahnya sangat kecil, sangking kecilnya ketika hendak sholat saja harus menyingkirkan kaki Aisyah R.ha. Pernah dapur nabi tidak mengepul asap selama 2 bulan berarti selama itu dirumah Nabi SAW kekasih Allah tidak terdapat makanan. Pakaiannya hanya 2 helai saja dan makannnya dari roti gandum yang kasar yang untuk merngunyahnya saja harus menggunakan minyak samin agar lunak. Tetapi Nabi SAW tidak pernah mengeluh, bahkan setiap pulang selalu mengucapkan, “Bayyiti Jannati..” yaitu rumahku surgaku. Begitu juga ketika Allah menawarkan Nabi SAW untuk menjadi Nabi yang kaya tetapi beliau SAW menolaknya dan lebih memilih amalan sehari lapar dan sehari kenyang karena ketika lapar bisa bersabar dan ketika kenyang bisa bersyukur. Inilah yang diajarkan Nabi SAW kepada umatnya yaitu mencari kebahagiaan dan kenikmatan dengan amal bukan kebendaan. Nabi SAW faham dibalik amal ini ada pertolongan Allah untuk segala masalah.

Pertanyaannya sekarang adalah : “apakah itu mungkin mencari kenikmatan dan ketenangan hidup lewat amal walaupun keadaan kita susah ?” jawabnya mungkin dan bisa karena memang sudah ada buktinya dan contohnya yaitu Nabi SAW dan para Sahabat RA. Ini dikarenakan tingkat keimanan pada level tertentu mampu mendatangkan kenikmatan walaupun dalam keadaan susah. Inilah yang didakwahkan oleh para Nabi AS, Sahabat RA, Tabi’in, dan para ulama yaitu bagaimana umat bisa sampai pada derajat Iman yang sudah tidak terkesan pada keadaan baik miskin atau kaya, menang atau kalah, sehat atau sakit. Bagi orang yang sudah sampai pada derajat keimanan seperti itu, mereka hanya terkesan pada perintah Allah saja. Apa perintah Allah pada diri mereka pada saat itu, inilah yang menjadi prioritas orang-orang yang sudah sampai pada kesempurnaan Iman.

Jika keimanan sudah wujud dalam kehidupan umat, maka kehidupan umat akan sendirinya terperbaiki seperti kehidupan sahabat yang tadinya jahil menjadi kehidupan yang mulia. Bahkan Sahabat yang tadinya jahil asbab keimanan mereka maka kehidupan mereka menjadi percontohan ummat dan menjadi pusat peradaban manusia sedunia. Jika Iman sudah wujud dalam diri ummat, maka yang namanya tingkat kejahatan akan menurun, kehidupan sosial manusia akan membaik, ekonomi akan membaik, dan lain-lain. Ini semua asbab adanya perbaikan keimanan. Jika Iman baik, maka amal akan meningkat, akhlaq manusia akan membaik, perbuatan maksiat dari mencuri, berzina, mabuk-mabukan, penganiayaan, kerusakan akan berkurang. Suasana inilah yang perlu kita semua wujudkan, dengan Iman yang benar, manusia akan terhindar dari prilaku anarkis dan vandalisme. Langkah pertama untuk mendatangkan keimanan ini adalah dengan mengorbankan sedikit harta dan waktu kita untuk Khuruj Fissabillillah, pergi di jalan Allah, semampu kita.

Allah berfirman :

“ Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaikan (Iman) yang sempurna, sebelum kamu menginfakkan (korbankan) sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya ” ( 3 : 92 ).

Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“Tidak sempurna Iman kamu sebelum engkau mencintai aku melebihi perkara-perkara yang kamu cinta dari anak kamu, istri kamu, harta kamu, perdagangan kamu, kedua orang tuamu, bahkan dirimu sendiri.” (Al Hadits )
Mudzakaroh Cara Abu Bakar RA menyelesaikan Masalah Ummat

Setelah Nabi SAW wafat ketika itu terjadi goncangan hebat didalam ummat islam. Banyak masalah bermunculan yang harus dihadapi ummat islam ketika itu :

Orang murtad dimana-mana
Orang islam tidak mau membayar zakat
Nabi-nabi palsu bermunculan
Musuh Islam di luar madinah sudah siap menyerang ummat islam.

Ketika itu kira-kira 1 minggu, 7 hari saja, sahabat-sahabat di kota Madinah semuanya buntu, tidak mempunyai jalan keluar atau solusi. Orang-orang di madinah hanya memikirkan bagaimana nasib orang-orang islam dan siapa yang akan menggantikan Nabi SAW, ini saja kesibukan sahabat selama seminggu. Asbab kefakuman sahabat ini, tidak ada fikir untuk agama, maka tidak ada lagi yang keluar di jalan Allah, semua rombongan tertunda. Akibatnya ketika itu karena tidak ada fikir agama adalah 100.000 orang islam menjadi murtad. Satu minggu saja sahabat ini vakum dari dakwah, dari keluar di jalan Allah, walaupun di jaman itu hidup ulama-ulama besar dan sahabat-sahabat yang besar dan kuat, 100.000 orang murtad dari islam. Lalu Nabi palsu bermunculan, dan tentara Romawi sudah sampai di perbatasan siap masuk ke madinah untuk menghancurkan ummat islam.

Setelah Abu Bakar RA dilantik menjadi khalifah, bagaimana cara Abu Bakar RA menyelesaikan masalah ini. Keputusan pertama yang dibuat Abu Bakar RA adalah segara mengirimkan rombongan yang tertunda pergi di jalan Allah, yaitu yang telah dibentuk oleh Nabi SAW sebelum beliau SAW wafat. Abu Bakar RA memutuskan untuk mengirim seluruh orang beriman yang laki-laki untuk keluar di jalan Allah semuanya. Para sahabat bingung dengan keputusan Abu Bakar RA. Mereka memikirkan jika semua laki-laki keluar dijalan Allah, maka siapa yang akan menjaga madinah dari musuh, siapa yang akan menjaga ummul mukminin dan keluarga Nabi SAW. Maka Abu Bakar RA dengan suara lantang berkata, “Kalian tetap keluar di jalan Allah, nanti Allah yang akan menjaga semuanya.” Ketika itu yang orang-orang fikirkan adalah keselamatan orang-orang islamnya, padahal yang harus dirisaukan adalah bagaimana menyelamatkan agamanya terlebih dahulu. Inilah yang difikirkan Abu Bakar RA. Inilah perbedaan fikir yang mencolok antara satu orang sahabat ini melawan fikir sahabat-sahabat yang lain. Disini ada perbedaan pendapat diantara sahabat yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya.

Ketika itu Abu Bakar RA yakin sepenuhnya jika kita menolong agamaNya, maka Allah pasti akan menolong mereka. Jika kita keluar di jalan Allah untuk melaksanakan perintah Allah, maka pasti Allah akan tolong kita. Jadi keputusan Abu Bakar ini untuk mengeluarkan seluruh laki-laki ke luar madinah di jalan Allah ini sungguh tidak masuk diakal bagi sahabat yang lainnya. Apalagi ketika itu hewan-hewan buas bisa masuk kapan saja memangsa wanita dan anak-anak di Madinah, jika semua laki-lakinya keluar dari Madinah. Secara logika laki-laki yang ada seharusnya dibagi menjadi dua yaitu yang menjaga dalam kota dan yang menjaga diluar kota atau yang pergi di jalan Allah. Tetapi disini Abu Bakar RA justru menyuruh laki-lakinya untuk semuanya keluar, pergi di jalan Allah.

Abu Bakar RA menyelesaikan masalah dengan menggunakan 2 prinsip :

Prinsip Taqwa :

“Saya tidak rela agama berkurang di jaman kekhalifahan saya ini walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat di leher hewan qurban.”

Takwa ini maksudnya adalah Sempurna Amal. Jadi atas dasar prinsip ini, Abu Bakar RA tidak rela dijamannya agama ini berkurang sedikitpun walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher hewan korban. Fikirnya Abu Bakar RA ini adalah bagaimana agama dapat sempurna diamalkan oleh umat islam ketika itu. Inilah prinsip yang digunakan untuk menghadapi orang-orang islam yang tidak mau membayar zakat. Jadi mereka diancam akan diberantas jika mereka tidak mau membayar zakat.

Prinsip Tawakkul :

“Keluarkan semua laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Nanti biar Allah yang menjaga Ummul mukminin, keluarga nabi dan wanita-wanita di madinah.”

Abu Bakar RA lebih rela melihat keluarga Nabi dalam bahaya, dibanding harus melihat agama dalam bahaya. Jadi bagi Abu Bakar RA, derajat Agama ini lebih utama dibanding keluarga Nabi SAW dan ummat islam itu sendiri. Agama lebih penting untuk diselamatkan dibandingkan ummat itu sendiri. Abu Bakar RA, mengirimkan semua laki-laki keluar dijalan Allah dan berserah diri kepada Allah atas keadaan di Madinah inilah Tawakkalnya Abu Bakar RA. Prinsip ini yang digunakan untuk menghadapi orang murtad, nabi palsu, dan musuh islam yang mau menyerang madinah dari luar.

Disinilah terdapat 2 perbedaan pemikiran dan menyangkut kepada masalah keimanan. Dimana Abu Bakar RA yakin jika semua pergi di jalan Allah mendakwahkan agama Allah, maka nanti Allah akan selesaikan semua masalah : orang murtad, nabi palsu, yang tidak mau bayar zakat, dan pasukan romawi yang sudah siap menyerang. Hanya dalam waktu tempo 3 hari saja setelah semua pergi di jalan Allah akhirnya masalah terselesaikan : Madinah tetap aman, 100.000 orang murtad masuk islam lagi, orang membayar zakat lagi, Nabi palsu dapat ditumpas, dan Pasukan Romawi mundur. Jadi risaunya Abu Bakar RA ini adalah Islamnya atau Agamanya dulu, bukan orang-orang Islamnya. Hari ini ada pemikiran seperti yang terjadi ketika sahabat berbeda pendapat dahulu. Sekarang kebanyakan kita ini risaunya adalah orang-orang islamnya, seperti orang islam ada yang dibunuh, diperkosa, diperangi, hak-haknya dirampas, kekurangan makan, miskin keadaannya, pengungsi-pengungsi, ini boleh saja. Tetapi seharusnya yang lebih penting lagi adalah risau atas islamnya. Akibat islamnya tidak dijaga, sehingga Allah tidak menjaga ummat islam. Ini karena islam itu sendiri sudah diacuhkan oleh orang islam. Kita lihat hari ini orang islam kebanyakan tidak sholat, mesjid kosong. Sholat berjamaah di masjid sudah tidak diacuhkan oleh umat saati ini. Lalu sunnah-sunnah Rasullullah SAW sudah ditinggalkan oleh orang islam, bahkan dianggap aneh bagi yang mengamalkannya. Kehidupan orang islam sudah seperti kehidupan orang yahudi dan nasrani, tidak ada bedanya dengan cara-cara atau kehidupan orang kafir, sulit dibedakan mana yang beriman dan mana yang kafir. Semua kehidupan sunnah Nabi SAW sudah ditinggalkan oleh ummat islam itu sendiri. Tetapi begitu terjadi musibah, semua orang berpikir sama, “Apa dosa saya ? Kenapa ini bisa terjadi, musibah seperti ini ? Kenapa Allah tidak tolong kita ?”. Ummat islam diusir, dibunuh, dijajah, diperkosa hak-haknya, tetapi fikirnya hanya diri mereka sendiri saja (“Apa dosa saya ?”). Padahal jemaah-jemaah dakwah sudah datang mengajak kepada sunnah, kembali kepada amal Nabi SAW, amalkan islam, taat pada perintah Allah. Walaupun perkara-perkara ini sudah didengar berkali-kali, tetapi tetap saja sama tidak ada peningkatan amal. Ditaskil, diminta untuk keluar di jalan Allah tidak mau, maka itulah akibatnya, musibah banyak datang. Tetapi fikirnya “Apa dosa saya ?”. Islamnya sudah kita tinggalin, kita acuhkan, tetapi ketika musibah tiba-tiba datang tidak terpikir amal-amal kita yang buruk, bahkan bertanya, “Kenapa Allah tinggalkan kita ? kenapa Allah tidak tolong kita ?”

Inilah sifat manusia, ketika senang mereka beramai-ramai meninggalkan perintah Allah, melupakan Allah, tidak mempedulikan kehendakNya. Tetapi ketika musibah datang baru nangis-nangis kepada Allah minta ditolong. Sudah menjadi sifat manusia hanya ingat kepada Allah dikala susah dan suka melupakan Allah dikala senang. Bahkan ketika kesusahan itu datang bisanya hanya merengek minta tolong tetapi tidak mau memikirkan apa yang Allah kehendaki atas dirinya saat itu dan tidak mau memikirkan kekurangan atau keburukan amal yang telah dia perbuat. Orang seperti ini bagaimana do’anya mau di dengar oleh Allah ? Jadi kalau mau masalah ummat selesai, kirimkan rombongan untuk pergi di jalan Allah sebanyak-banyaknya secara bergiliran. Nanti Allah akan selesaikan masalah yang ada pada ummat ini sebagaimana Allah selesaikan masalah yang terjadi pada kekhalifahan Abu Bakar RA.

Mudzakaroh “Learning By Doing” – Belajar dengan Beramal

Hari ini banyak orang yang membicarakan tentang pengorbanan Nabi SAW dan para sahabat RA untuk agama. Namun masalahnya pada hari ini tidak semua orang yang mengerti dan memahami maksud dan kepentingan dari pengorbanan Nabi SAW dan para Sahabat RA tersebut. Ini disebabkan karena kita tidak melakukan pengorbanan yang sama seperti mereka. Untuk bisa merasakan pengorbanan Nabi SAW dan Sahabat dalam memperjuangkan agama maka kita harus ikuti napak tilas mereka. Seperti pelatih renang dan orang yang baru mau belajar berenang. Walaupun si pelatih ini juara dunia dan juara olimpiade renang dan ahli dalam menjelaskan tentang air dan teknik renang kepada muridnya, tetapi jika si murid renang ini tidak terjun ke air maka dia tidak akan mampu memahami apa yang dikatakan dan dijelaskan gurunya. Tetapi jika si murid sudah terjun ke air, maka dia akan tau apa yang dirasakan dan dimaksud gurunya. Semakin dicoba dan diusahakan semakin mengerti dia akan penjelasan gurunya, sampai pada akhirnya dia bisa berenang bahkan menjadi sehebat gurunya. Ini karena si murid tersebut sudah merasakannya langsung pengorbanan gurunya ketika berada di dalam air. Begitu juga mengapa hari ini umat sangat jauh dari agama, sehingga yang tinggal hanya pengetahuan atau teori saja, bangunan-bangunan saja, tulisan-tulisan saja, ini dikarenakan umat tidak dilibatkan dalam pengorbanan untuk agama sebagaimana Nabi SAW telah melibatkan para sahabat dalam pengorbanan untuk agama. Sehingga hari ini umat hanya tahu saja tetapi tidak ada kefahaman dan kerisauan terhadap agama.

Tujuan dari keluar di jalan Allah itu sendiri sebagai individu adalah dalam rangka islah atau perbaikan diri, sebagaimana trainingnya atau latihannya seorang tentara yang dikirim ke barak untuk peningkatan qualitas. Ketika tentara ini balik ke barak maka dia akan di evaluasi kekurangannya dan akan menjalankan traning atau latihan-latihan kembali dalam rangka meningkatkan kualitas. Sehingga ketika tentara balik ke medan pertempuran maka kemampuan dan kesiapannya akan menjadi lebih tambah baik lagi. Jadi kita perlu mengembalikan umat islam ini kepada baraknya agar bisa dilatih kembali dan ditingkatkan qualitasnya. Namun hari ini permasalaannya ummat hari ini sedang terjangkit penyakit lemah Iman. Asbab lemah Iman ini ummat tidak ada gairah atau tidak ada kekuatan untuk memperbaiki diri, atau meningkatkan amal ibadah. Maka untuk mengobati lemah iman ini perlu perawatan khusus. Ibarat orang sakit maka mesjid ini adalah rumah sakitnya orang beriman agar orang beriman ini dapat terperbaiki Iman dan Hatinya. Jika kita sakit badan maka kita bisa pergi ke dokter dan tinggal di rumah sakit. Tetapi rusaknya hati atau iman ini hanya Allah yang bisa memperbaiki yaitu di rumah sakitnya orang beriman, di mesjid. Jika mesjid tempat pabriknya perbaikan untuk orang beriman sudah tidak digunakan lagi, maka bisa dijamin bahwa kehidupan ummat saat ini sudah terjangkit banyak penyakit hati dan penyakit iman. Mengapa diri kita bisa terperbaiki dengan keluar di jalan Allah ? Dengan keluar di jalan Allah maka kita akan mempunyai waktu khusus untuk memperbaiki keimanan dan amaliat kita. Kita keluar di jalan Allah ini adalah latihan meninggalkan perkara-perkara yang kita cintai sebagaimana sahabat telah meninggalkan perkara-perkara yang mereka cintai demi agama Allah. Dengan demikian akan terbentuk dalam diri kita keyakinan bahwa bukan kitalah yang memelihara keluarga kita tetapi Allah lah yang memelihara keluarga kita. Dengan keluar di jalan Allah kita akan mendapatkan kefahaman dan perasaan yang dirasakan oleh sahabat ketika mereka berkorban untuk agama di jalan Allah sampai tidak ada lagi yang bisa mereka korbankan untuk agama Allah.

Semakin bertambah pengorbanan kita maka akan semakin bertambah pemahaman kita atas pengorbanan sahabat untuk agama Allah. Sampai pada akhirnya kecintaan pada agama akan timbul, ketaqwaan dalam menjalankan perintah Allah akan meningkat, dan kehidupan agama kita, keluarga kita, kerabat kita, tetangga kita, akan terperbaiki. Dengan keluar di jalan Allah kita akan mendapatkan banyak pelajaran seperti dari bertemu dengan ulama-ulama untuk mendapatkan pengajaran dari mereka, berteman dengan orang-orang sholeh, menambah pertemanan, meningkatkan ilmu dan wawasan, menambah pengalaman, merasakan napak tilas nabi dan sahabat sehingga wujud didalam diri kita kecintaan sahabat pada agama, kerisauan Nabi SAW terhadap ummat, dan lain-lain.

Da’i ini hanya mempunyai 2 keadaan saja :

Maqomi
Khuruj Fissabillillah

Khuruj Fissabillillah atau Keluar di Jalan Allah ada 2 cara :

Nishab Waktu Keluar yang di istiqomahkan
Takaza Pembentangan Kepentingan Agama

Namun untuk dapat menggerakkan ummat ke arah kebaikan ini diperlukan risau dan fikir yang sungguh-sungguh, sebagaimana risau dan fikir Nabi SAW. Begitu juga dalam menyiapkan Ummat ini diperlukan sifat-sifat Nabi SAW dan Sahabat. Para Sahabat ini dimuliakan oleh Allah karena memiliki sifat-sifat dan qualitas-qualitas yang Allah sukai. Jika kita bisa mendapatkan qualitas atau sifat ini, maka kemuliaan yang Allah berikan kepada para Sahabat RA, juga akan Allah berikan kepada kita. Sifat, Risau, dan Fikir ini akan datang melalui keadaan-keadaan mujahaddah atas agama, pengalaman berjuang untuk agama.

Bagaiaman cara mendapatkan Sifat, Risau, dan Fikir ini :

Pergi Khuruj Fissabillillah ( Keluar di jalan Allah )
Membuat Amal Maqomi

Inilah kepentingan kita bawa fikir ketika kita pergi di jalan Allahingan ketika ah dengan amal-amal agama.dijalan ALlah ak, berbeda dengan air yang bergerak atau mengalir. h. etang h :

Bagaimana diri kita bisa terperbaiki atau meningkat qualitasnya
Bagaimana Amal Maqomi dapat wujud di mesjid yang dikunjungi

3. Bagaimana rombongan dari mesjid itu bisa keluar di jalan Allah

Sedangkan maksudnya Dakwah ini adalah untuk memenuhi takaza ( pembentangan atau penawaran kerja agama ) yang ada, bukan nishab ( waktu yang di istiqomahkan untuk keluar ) saja. Jika waktunya nishab tetapi datang takaza, maka tinggalkan nishab untuk memenuhi takaza. Sahabat-sahabat RA menurut ulama, nishab harian mereka itu 12 jam untuk agama, sisanya buat selain agama. Sahabat meluangkan waktu mereka untuk mesjid itu 12 jam, sedangkan takazanya mereka 24 jam, kapan saja diminta mereka siap tinggalkan semua. Jadi sahabat ini nishab 12 jam, sedangkan kesiapan mereka untuk ditaskil ( dipanggil ) memenuhi takaza, yaitu 24 jam. Jadi dengan gerak yang dilakukan seperti sahabat ini maka Allah akan tolong ummat islam. Maksud daripada Dakwah ini adalah memenuhi takaza, dimana daerah yang belum islam, dimana daerah yang belum mengucapkan syahadat, dimana daerah yang belum dimasuki jemaah, dimana daerah yang belum hidup amal mesjid Nabawi ? kita siap berangkat kapan saja. Keadaan sahabat itu seperti itu, siap kapan saja berangkat ketika dibentangkan takaza.

Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman :

“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”

Keadaannya di jaman Nabi ini beda dengan kita, ketika itu para sahabat selalu dalam keadaan siap mengambil takaza lagi dan lagi. Sekali taskil sahabat itu lamanya mereka pergi di jalan Allah adalah 4 bulan full, yaitu di jaman Umar RA. Ketika mereka pulang dari ambil takaza, ternyata ada takaza lagi, sehingga mereka berangkat lagi 4 bulan di jalan Allah. Inilah kehidupan sahabat dalam memenuhi takaza agama. Dalam setahun berarti sahabat ini 8 bulan di jalan Allah dan hanya 4 bulan saja tinggal di kampungnya. Sahabat ini 4 bulan dikampungnya adalah 2 bulan untuk mesjid, dan sisanya 2 bulan lagi adalah 1 bulan di rumah bersama keluarga dan 1 bulan ( 24 jam x 30 hari = waktu sahabat di pasar / di sawah selama 1 tahun ) lagi untuk buat kerja yang mampu memenuhi keperluan untuk 1 tahun. Allah telah ringkaskan buat sahabat kerja untuk 1 tahun dapat dilakukan dalam 1 bulan saja. Ini karena apa ? ini adalah berkat amalan dakwah sehingga kehidupan sahabat ini penuh dengan keberkahan. Sedangkan kita kini kerja satu tahun tidak cukup untuk satu bulan, berbeda dengan keberkahan yang didapat oleh para Sahabat RA. Inilah yang terjadi jika ummat telah meninggalkan kerja dakwah ini, maka Allah akan cabut keberkahan rizki dari kehidupan ummat. Kalau ummat islam ini kembali kepada amalan dakwah, sibuknya mengambil takaza, maka kerja 3 hari saja bisa mencukupi kerja satu bulan. Tetapi jika ummat islam sibuk mengurusi dunia saja, tinggalkan amalan dakwah, tidak mau mengambil takaza agama, maka kerja 1 bulan tidak bisa mencukupi keperluan 3 hari, tidak ada keberkahan. Ini semuanya karena manusia sudah melecehkan Allah dan perjuangan untuk agama Allah. Padahal semua rezki itu datang dari Allah, dan sedangkan syetan itu hanya menakut-nakuti kita.

Allah berfirman :

“Inna syaithon ya adzikumul fakro waya’murukum bil fahsya…”

artinya :

“Setan itu menakut-nakuti kamu dengan kefakiran.”

Setan akan membisikkan : “Kalau kamu korban, ambil takaza lagi, lalu ambil takaza lagi, maka miskin kamu nantinya. Bangkrut nanti usaha kamu. Terlantar nanti rumah tangga kamu.” Masalahnya hari ini kita lebih percaya pada perkataan syetan dibanding percaya pada perkataan Allah. Sedangkan Allah menjanjikan kepada yang pergi di jalan Allah ampunan dan keuntungan-keuntungan.

Keuntungan Dunia-Akherat :

Keuntungan dunia Rizki yang berkah
Keuntungan Akherat Ampunan ( masuk surganya Allah )

Allah berfirman :

“Walladzina’amanu wahajaru wajahadu fissabillillahi walladzina awawwa nasharu ulaika humul mukminuna haqqan lahummaghfirotuw warizqun kariim.” ( 8 : 74 )

Artinya :

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah ( Muhajjir ) serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman ( Anshor ) dan memberi pertolongan (kerja sama antara Muhajjir dan Anshor / orang tempatan), mereka itulah orang-orang yang beriman dengan Haq ( yang benar-benar beriman ). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.”

Keadaan dalam kerja dakwah ini hanya 2 saja :

1. Muhajjir orang-orang yang Hijrah untuk agama Allah

2. Anshor orang-orang yang Nushroh ( memberi pertolongan )

Orang yang melakukan 2 keadaan ini, merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenarnya, Iman yang Haq. Apa yang Allah ganjarkan untuk mereka ? Allah akan ampuni dosa-dosa mereka dan Allah akan berikan mereka rizki yang mulia. Siapa bilang orang yang dakwah akan menjadi miskin ? Sedangkan Allah mengatakan akan memberikan ampunan dan rizki yang mulia lagi. Bagaimana datangnya rizki yang mulia ? itu adalah kerjanya Allah, bukan kerjanya kita. Sedangkan kerja kita :

1. Buat Amalan Dakwah Maqomi dan Intiqoli ( Khuruj Fissabillillah )

2. Nusroh Menolong para Muhajjirin / Pendatang

Kita jangan memikirkan kerjanya Allah. Allah itu Maha Tahu bagaimana cara mendatangkan rizki yang mulia itu. Kerja Dakwah ini bukan kerja yang susah, tetapi kerja yang sangat mudah. Sangking mudahnya dapat diberikan dan dibawa oleh semua orang dari yang Raja, yang jelata, yang cendikia, yang tidak pernah sekolah, yang tua, yang muda, yang miskin, yang kaya, yang ulama, yang awam, yang sehat, dan yang sakit sekalipun. Lalu bagaimana caranya ? mudah saja, yaitu ngikut saja, ikutin saja programnya. Dengan cara ikut-ikutan saja, mengikuti jalan ini, maka dia akan faham dan mengerti maksudnya.

Contoh :

Seperti di kampung, ketika seseorang belajar bagaimana menanam padi. Dia tidak dikasih kuliah ama petani, atau dimasukin ke kampus pertanian. Bagaimana cara nyangkul, cara menggaruk, cara menyebar benih, cara menanam, cara membersihkannya, cara mengatur air, ini tidak ada kuliahnya sama sekali. Lalu bagaimana cara belajarnya ? yaitu dengan mengikuti bapak kita atau petani ke sawah, belajar langsung dengan mengikuti apa yang mereka lakukan di sawah. Belajar langsung dengan pengamalannya, “Learning by Doing”. Bapak pagi-pagi bangun habis sholat bawa cangkul langsung ke sawah, maka kitapun demikian juga bawa cangkul ke sawah. Bapak mencangkul disawah, kita lihat sebentar, lalu kita ikut nyangkul. Ini caranya, ikutin saja, amalkan saja, lama-lama mahir juga, lama-lama faham juga, karena sehari-hari begitu saja kerjanya maka lama-kelamaanpun jadi bisa. Tanpa kuliah, tanpa masuk keperguruan tinggi, seseorang bisa langsung menjadi petani. Sekarang kalau kita lihat orang-orang yang lulus dari perguruan tinggi bidang pertanian, dengan gelar professor, doktor, ahli pertanian, yang nanam padi juga bukan mereka, tetapi menanam orang kampung juga, para petani lapangan lansung yang tidak pernah sekolah. Yang mengirim beras ke kota itu siapa ? yang mengirim beras kepada orang-orang pintar di kota itu adalah orang bodoh-bodoh juga dari desa yang mengirimkannya. Justru beras datangnya dari mereka yang tidak pernah kuliah dikirim kepada ahli-ahli pertanian yang kuliah.

Ashabul Kahfi adalah satu rombongan pemuda yang risau terhadap iman, dan bagaimana menyelamatkan Iman. Mereka bermusyawarah, mengambil keputusan untuk melarikan diri dari kemaksiatan yang ada. Mereka hijrah ke gunung, dan kehutan-hutan. Mereka mengambil keputusan tidak mau mati dikampungnya demi menyelamatkan iman mereka. Dalam perjalanan ikutlah seekor anjing, karena ngikut saja, mengekor perjalanan pemuda ashabul kahfi ini, maka anjingpun Allah selamatkan juga. Pemuda-pemuda ini adalah mereka yang cinta pada Allah dan cinta kepada Iman. Mereka ini risau atas keselamatan iman mereka. Sehingga mereka buat keputusan bahwa mereka harus pergi dari kampung mereka, menjauhi suasana kemaksiatan, dan tinggal di goa. Atas fikir mereka ini, maka Allah selamatkan mereka. Sedangkan anjing yang cuman ngikut-ngikut mereka saja, Allah selamatkan juga. Inilah keberkahan dengan mengikuti jejak langkah orang yang pergi di jalan Allah untuk menyelamatkan Iman. Anjing ini binatang najis, dan tidak berakal, tidak mengerti apa-apa, tetapi karena dia ngikut saja, maka selamat juga. Ketika pemuda itu berjalan, si anjing berjalan juga. Ketika si pemuda berhenti, si anjing berhenti. Ketika pemuda-pemuda itu masuk ke dalam goa, si anjingpun ikut-ikutan masuk juga. Ketika para pemuda itu tidur, maka si anjingpun ikut tidur. Akhirnya ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun. Anjing Ashabul Kahfi ini adalah satu-satunya anjing yang masuk surga. Kalau anjing saja ikut pergi dijalan Allah diselamatkan, apalagi kita yang beriman mau keluar di jalan Allah. Sedangkan kita ini ummat yang da’i, modal kita bukan tinggal dihutan, masuk kegoa mengucilkan diri, tidur disana, kita ini bukan yang seperti itu. Kita bukan lari dari tempat yang penuh dengan kemungkaran dan kemaksiatan, bahkan kita tetap berada ditempat yang seperti itu dengan buat kerja untuk merubah tempat itu menjadi tempat yang penuh dengan ketaatan kepada Allah. Nanti Allah akan tolong kita dan selamatkan kita. Sedangkan orang-orang yang ikut-ikut kitapun juga akan Allah selamatkan, walaupun tidak mengerti apa-apa, tidak pernah ke madrasah, tidak bisa ngaji, Insyaallah akan diselamatkan juga. Jadi kerja ini sangat mudah, ikut saja dengan rombongan, lalu ikutin amalannya, seperti anjingnya ashabul kahfi yang Allah selamatkan juga. Jika anjing yang mengikuti ahli ibadah saja selamat, apalagi anjing yang mengikutin para ahlul dakwah.

Mudzakaroh Pentingnya Memakmurkan Mesjid

Nabi SAW sudah memberikan kita warning, peringatan, kepada kita dalam mahfum hadits dikatakan nanti di akhir zaman jika kita tidak buat dakwah, maka akan terjadi :

1. Tidak tertinggal dari Islam melainkan hanya sekedar nama saja

Hari ini di KTP orang Indonesia banyak yang menyatakan agamanya Islam tetapi kelakuan dan kehidupannya jauh dari yang dicontohkan Nabi SAW

2. Tidak tertinggal dari Al Qur’an hanya sekedar tulisannya saja

Hari ini berapa banyak mesjid yang ramai dari ukiran-ukiran kaligrafi Al Qur’an tetapi kosong dari amal agama mesjidnya.

3. Tidak tertinggal dari mesjid melainkan hanya bangunan-bangunan megah saja

Hari ini orang berlomba-lomba membangun mesjid tetapi tidak memikirkan bagaimana memakmurkannya, sehingga mesjidnya kosong dari jemaah.

Hari ini mesjid banyak dimana-mana tetapi kosong dari amal agama. Di Kordova, Spanyol, Mesjid Kordova pernah menjadi pusat perkembangan Islam di dunia, namun kini telah menjadi pusat pariwisata, bahkan didalamnya terdapat gereja. Ini asbab ditinggalkannya Dakwah

sehinggah fungsi mesjid telah hilang dan orang tidak ada lagi yang peduli dengan mesjid. Di Indonesia saja ada ± 300.000 mesjid, dan di jakarta berapa banyak mejid mewah dan megah. Namun berapa banyak mesjid yang 5 waktu orang ramai sholat berjamaah. Dan berapa banyak yang sudah makmur hidup dengan Amalan mesjid Nabawi ? Hari ini orang ke mesjid bukan bertambah keimanannya, tetapi malah makin rusak seperti dipakai untuk berbisnis, membicarakan aib orang lain, dipakai sebagai sarana untuk politik, hujat menghujat orang lain. Hari ini di Mesjid bukan terlihat suasana akherat tetapi malah suasana maksiat kepada Allah seperti wanita yang memakai pakaian yang terlihat auratnya. Padahal di jaman Nabi, ketika orang kafir masuk mesjid ke mesjid Nabi, setelah keluar telah bisa menjadi orang beriman. Di zaman Nabi SAW setiap ada masalah bisa langsung ke mesjid, lalu pulang-pulang masalah bisa terselesaikan dan hati bisa tenang. Beda kita hari ini, orang kafir ke mesjid malah dipakai foto-foto untuk pariwisata, dan ketika orang Islam ke mesjid bukannya hilang masalah malah tambah masalah, seperti ditagih sumbanganlah, musti berpihak pada siapalah dan lain-lain. Mengapa hari ini kita lihat orang ke mesjid buat melaksanakan ibadah tetapi ketika keluar dari mesjid masih terus bermaksiat dan tidak berhenti dari berbuat dosa. Padahal Mesjid ini Allah perintahkan dibangun atas dasar Taqwa, Takut kepada Allah. Tetapi mengapa ketaqwaan kita tidak bertambah ketika kita masuk ke mesjid. Ini dikarenakan mesjid tersebut tidak mempunyai ruh. Apa itu ruh dari mesjid yaitu amal-amal agama, dan inilah yang dibentuk oleh Nabi SAW dimesjid Nabawi yaitu membuat Amal Mesjid. Apa itu Amal Mesjid Nabawi yaitu Dakwah, Taklim, Dzikir Ibadah, dan Khidmat. Sehingga orang yang tadinya kafir masuk ke mesjid nabawi keluar-keluar sudah masuk Islam. Ini dikarenakan di mesjid hidup amal-amal agama. Nabi SAW itu sendiri adalah Ketua Mesjid pertama, Awallun Takmir Mesjid, yang kerjanya memikirkan bagaimana Mesjid Nabawi ini dan mesjid-mesjid kecil disekitar Madinah bisa makmur dengan jemaah dan amal-amal agama. Caranya adalah dengan mengirimkan rombongan Dakwah dan menerima rombongan orang-orang yang mau belajar agama. Inilah fikir Nabi SAW, bahkan ketika hijrah ke madinah yang Nabi SAW fikirkan pertama kali bukannya tempat tinggal untuk dirinya, dimana keluarga dia tinggal, tetapi bagaimana mesjid dapat berdiri. Di sekitar Madinah ini ada mesjid-mesjid kecil dimana Nabi SAW mengirim rombongan dakwah ke mesjid-mesjid itu dan menerima rombongan atau perorangan dari mesjid-mesjid itu buat belajar agama kepada beliau SAW.

Madinah sebelum Islam masuk merupakan kota yang tidak kalah Jahilnya dari Mekkah. Di Madinah ketika islam belum masuk terdapat banyak sekali rumah-rumah perjudian, pelacuran, bahkan orang-orangnya bisa dibilang Jahil dan Barbar. Namun asbab dihidupkannya Dakwah dari Mesjid Madinah oleh Nabi SAW, ini seperti cahaya yang menerangi kegelapan. Jadi bagaimana kita bisa menghilangkan kegelapan, maka perlu kita hadirkan amalan nuraniat, atau amalan yang dapat menghadirkan nur cahaya dari Allah. Jika cahaya masuk kegelapan pasti hilang. Sehingga lambat laun rumah-rumah yang mempunyai bendera putih atau lambang kemaksiatan ketika itu perlahan-lahan lenyap dari kota madinah asbab dakwahnya Nabi SAW dan para Sahabat RA. Lalu penduduknya menjadi orang-orang yang Allah muliakan dan kotanya diberi gelar Al Munawaroh yaitu tempat terpancarnya Cahaya atau Hidayah. Begitu juga kalau kita sering ke mesjid, maka sepulangnya kita dari mesjid, kita akan menjadi sarana untuk menghantarkan nur rahmat dan hidayah Allah kepada rumah-rumah kita. Mesjid ini adalah pusat turunnya rahmat dan nur hidayah Allah. Jadi Mesjid ini adalah generatornya Nur Hidayah dan kita adalah kendaraannya untuk menyebar Nur Hidayah tersebut. Jika generatornya mati, maka matilah sarana penyebar rahmat dan hidayah. Bagaimana caranya kita bisa memakmurkan atau menghidupkan mesjid ? yaitu dengan menghidupkan amalan-amalan mesjid Nabi SAW.

Apa itu Amal Mesjid Nabawi :

1. Dakwah Illallah

Mengajak manusia taat kepada Allah

2. Taklim wa Taklum

Belajar dan Mengajar

3. Dzikir Ibadah

Dzikir, Baca Qur’an, Sholat berjamaah, Do’a, Sholat Sunnat, Adab-adab

4. Khidmat

Melayani Mesjid dan Memenuhi Hajat Orang

Mesjid ini adalah jantung dari suatu kota atau desa atau daerah. Jika mesjidnya baik dalam artian hidup amal-amal agama seperti amal mesjid Nabawi, maka baiklah daerah itu. Tetapi jika mesjidnya mati, gersang dari jemaah dan amal-amal agama, berarti matilah daerah itu, maksudnya daerah itu bisa di asumsikan terdapat banyak masalah. Mesjid yang hidup dengan amal agama dan ramai jemaahnya, maka daerahnya akan makmur, seperti hidup sillaturhami, ukhwah yang baik, rukun, tentram, dan damai. Setiap ada masalah maka dapat diselesaikan oleh jemaah mesjid itu melalui musyawarah, sillaturahmi, dan gotong royong. Tetapi daerah yang mesjidnya mati dari amal agama dan sepi dari jemaah, maka daerahnya akan timbul banyak masalah seperti permusuhan antar tetangga, ketidak pedulian sosial, dan kejahatan akan berkembang dari premanisme, perjudian, permabukan, sampai perzinaan akan tersebar di daerah itu. Dan ini adalah suatu kenyataan yang terjadi dibanyak daerah. Jika yang haq tidak ditegakkan dan disebar, maka yang bathil akan masuk dan tersebar. Jika tidak ada dakwah atas yang haq maka dakwah yang bathil akan masuk. Apa itu dakwah yang bathil yaitu ajakan untuk berjudi, membeli minuman keras, dan lain-lain, secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi.

Penting saat ini kita fikirkan bagaimana mesjid-mesjid yang ada ini dapat makmur dengan amal agama. Allah perintahkan pada kita di dalam Al Qur’an untuk memakmurkan mesjid-mesjid Allah bukan hanya satu tetapi setiap orang memakmurkan banyak mesjid. “Innama ya’muru masajidallahu man amanna billahi wal yaumil akhir…” ( 9:17 ). Dari mesjid ini kebaikan akan tersebar. Hidupkan dakwah dari mesjid maka nanti Allah akan perbaiki keadaan umat. Jika setiap dari kita ini sungguh-sungguh dalam dakwah maka nanti Allah akan perbaiki amal-amal kita. “Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar ( qoulan sadida ), niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu…”( 33 : 70-71 ). Apa itu perkataan yang benar atau Qoulan Sadida yang bisa memperbaiki amal-amal ibadah kita dan menjadi asbab ampunan terhadap dosa kita ? Allah berfirman “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak untuk taat kepada Allah ( dakwah à waman Ahsanu Qoulan mimman da’a Illallah )” ( 41 : 33 ).

Jadi kita ajak orang kepada Allah bukan kepada figur, kepada organisasi, kepada partai, kepada harta benda, tetapi hanya kepada Allah. Sedangkan segala sesuatu selain Allah ini adalah dunia atau mahluk. Hari ini orang saling ajak mengajak kepada golongannya, ini malah akan memecah belah islam. Seperti firqoh-firqoh atau aliran-aliran yang ada, mereka mengajak orang kepada golongannya masing-masing. Apa yang mereka lakukan adalah membenarkan firqoh mereka dan menyalahkan yang lain sehingga terpecah belah semuanya. Jika ummat sudah terpecah belah maka pertolongan Allah tidak akan turun, dan jika umat sudah saling menghujat maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah. Pada hakekatnya, yang benar itu hanya Rasullullah SAW dan sahabatnya saja, itulah yang seharusnya jadi acuan kita, bukan alirannya. Kalau ditanya siapa yang paling benar, jawab saja yang paling benar itu adalah Nabi SAW dan sahabat RA, cukup itu saja. Kita ikuti saja Nabi SAW dan para Sahabat RA, yaitu mereka yang sudah jelas-jelas ada jaminannya dari Allah. Bukan aliran kita, atau aliran saya, atau guru saya, atau pendapat saya yang bener, tetapi yang bener itu hanya Nabi SAW dan para sahabatnya. Jadi bagaimana semua aliran yang ada sama-sama bahu membahu bersatu bersama memikul tanggung jawab dakwah ini. Jangan sampai perbedaan yang ada malah membuahkan perpecahan antar umat dan terhalangnya umat dari tanggung jawab meneruskan risalat kenabian. Tetapi jadikan perbedaan ini sebagai rahmat dan wacana keilmuan untuk dipelajari.

Pernah dalam suatu riwayat tentang 2 pimpinan Islam terbesar di Indonesia yaitu Buya Hamka dari Muhammadiyah dan KH. Idham Khalid dari Nahdlatul Ulama pergi Haji bersama. Ketika sholat subuh hari pertama maka KH Idham Khalid memimpin sholat subuh berjamaah sebagai Imam. Ketika itu KH Idham Khalid menyadari dibelakangnya ada Buya Hamka dari Muhammadiyah yang menganut faham sholat subuh tanpa Qunut. Walaupun KH Idham Khalid adalah dari NU yang menganut Qunut ketika subuh, tetapi ketika itu malah melakukan sholat subuh tanpa Qunut seperti Muhammadiyah. Hari esoknya, ketika Buya Hamka menjadi Imam Subuh, beliau menyadari dibelakangnya ada KH Idham Khalid dari NU yang memakai Qunut ketika subuh, maka ketika itu beliau memilih melakukan Subuh tidak seperti biasanya ala muhammadiyah tetapi ala NU yaitu dengan menggunakan Qunut. Inilah toleransi dan akhlaq yang baik yang dicontohkan oleh 2 ulama besar dalam menghadapi perbedaan. Bukannya kita malah saling menyalahkan atau saling menghujat dengan keyakinan, “saya yang paling benar”. Kebenaran itu pada hakekatnya hanya Allah yang tau, dan siapa yang paling benar yaitu Nabi SAW dan para sahabatnya RA. Selama dia mengakui Allah dan Rasulnya maka mereka saudara kita. Jangan kita pernah merasa menjadi yang paling baik dan paling benar karena ini sifatnya setan. Posisikan diri kita sebagai orang yang ingin menambah ilmunya, dengan demikian kita akan siap menerima perbedaan. Inilah maksud dari hadits Nabi SAW bahwa perbedaan diantara umatku ini adalah Rahmat. Sedangkan yang bukan rahmat dan mendatangkan Laknat adalah jika perbedaan menjadi perpecahan dan permusuhan.

Jadi kerja dakwah ini adalah kerja untuk seluruh umat islam. Inilah tanggung jawab umat Muhammad SAW sebagai penerus risalat kenabian. Atas perkara ini perlu kita keluar di jalan Allah untuk bisa melatih diri kita menghidupkan Amal Mesjid Nabawi dari latihan 3 hari, 40 hari sampai, 4 bulan, tergantung kesiapannya. Inilah salah satu tujuan kita keluar di jalan Allah bagaimana mesjid-mesjid yang didatangi oleh rombongan khuruj fissabillillah dapat hidup amal-amal mesjid Nabawi.
Mengapa Kita harus Menghidupkan Amal Maqomi

Tujuan menghidupkan amal Maqomi adalah bagaimana kita bisa menghidupkan suasana agama di lingkungan mesjid kita. Terutama bagi yang pulang dari Khuruj Fissabillillah penting bagi mereka menghidupkan amal maqomi untuk menjaga dan memelihara keimanan mereka. Jadi tujuan dari membuat amal maqomi bukan untuk merubah lingkungan tetapi untuk mewarnai lingkungan yaitu lingkungan yang hidup dengan amal agama.

3 Perkara yang dibuat Nabi SAW setelah Hijrah :

1. Membangun Mesjid

2. Meluangkan Masa untuk Mesjid

3. Membuat Amalan Mesjid

Apa itu Amalan Mesjid :

1. Dakwah Illallah

2. Taklim Wa Taklum

3. Dzikir Ibadah

4. Khidmat

Sedangkan 4 Amal Mesjid Nabawi ini dapat diwujudkan dengan 6 cara ( 6 Amal Maqomi ) :

I. Amal Maqomi Harian :

1. Musyawarah à Keadaan Agama : Kargozari, Usul, Program.

Fadhilah : Fikir sesaat lebih baik dari 70 tahun ibadah sunnat

2. Taklim Mesjid & Rumah à untuk Islah diri, keluarga, dan ummat.

Fadhilah : siapa yang memudahkan langkah kaki ke majelis Ilmu maka Allah akan memudahkan langkah kakinya menuju Surga.

3. 2.5 Jam à Dakwah harian melalui Sillaturrahmi dan Ihtilat

Fadhilah : Mereka yang bertemu dan berpisah karena Allah akan Allah dudukkan di mimbar-mimbar Cahaya dan akan mendapatkan naungan Arasy Allah di padang Mahsyar.

II. Amal Maqomi Mingguan :

4. Jaulah (keliling) di Mesjid Sendiri dan Jaulah di Mesjid tetangga : Memancing hidayah turun di Mesjid kita dan mesjid tetangga.

Fadhilah : Sepagi sepetang di jalan Allah lebih baik dari pada seluruh dunia beserta isinya.

III. Amal Maqomi Bulanan :

5. Keluar 3 Hari keluar Fissabillillah : Ishlah diri, menyediakan 1/10 waktu untuk agama setiap 30 hari

Fadhilah : Setiap amal ibadah dan harta yang dikorbankan di jalan Allah, Allah gandakan dari 700.000 kali sampai sebanyak yang Allah mau.

Untuk dapat mempunyai kekuatan dalam melakukan kerja Maqomi dengan baik maka kita harus menjaga 5 Amalan Infirodhi (Dzikir Ibadah) :

1. Menjaga Sholat 5 waktu berjamaah tidak tertinggal Takbiratul Ulla

2. Menjaga Sholat Tahajjud tiap malam

3. Menjaga Bacaan Qur’an minimal 1 juz tiap hari

4. Menjaga Amalan Dzikir dan Wirid Pagi dan Petang

5. Menjaga Adab-adab ( Terutama menjaga pandangan )

Target dan Tujuan dari membuat amal intiqoli, amal maqomi, dan amal infirodhi ini adalah bagaimana di diri kita ini dapat terbentuk 6 Qualitas Utama Sahabat RA :

1. Qualitas Yakin Sahabat : La Illaha Illallah Muhammadurrasullullah

2. Qualitas Sholat Sahabat : Khusyu’ wa Khudu’

3. Qualitas Makrifat Sahabat : Ilmu dan Dzikir

4. Qualitas Akhlaq Sahabat : Iqromul Muslimin (Memuliakan Saudara Muslim)

5. Qualitas Keikhlasan Sahabat : Tashihun Niat

6. Qualitas Pengorbanan Sahabat : Dakwah Khuruj Fissabillillah

Untuk dapat mewujudkan ini semua maka diperlukan 6 perkara :

1. Yakin yang benar

2. Cara Nabi SAW atau Sunnah

3. Niat yang Ikhlas

4. Tawajjuh

5. Mengedepankan nilai Amal

6. Mujahaddah atas Nafsu

Jika suatu mesjid sudah hidup amal-amal agama maka rahmat Allah akan turun di kampung tersebut bercurah-curah. Keadaan kampung akan aman, tentram, dan sejahtera. Bukan dengan cara perbaikan ekonomi, fasilitas kota, keamanan, tetapi dengan perbaikan amalan mesjid, baru keadaan masyarakat di daerah itu terperbaiki. Sebagaimana terperbaikinya kehidupan kota madinah yang jahil asbab hidupnya amal-amal mesjid Nabawi.

7 Jaminan Allah SWT berikan bagi yang menghidupkan Amalan Mesjid :

1. Keberkahan Rizki dan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka

2. Allah akan menjaga rumah kita sebagaimana Allah menjaga Baitullah

3. Allah akan jaga istri dan anak kita sebagaimana Allah jaga istri dan anak Ibrahim AS

4. Allah akan menangkan yang Haq dan hancurkan yang Bathil

5. Allah akan jadikan diri kita sebagai asbab hidayah

6. Allah akan jaga anak keturunan kita hingga 11 keturunan

7. Allah akan lindungi keluarga dan kampung kita dari fitnah dajjal

Target dari Usaha Nubuwah

Target yang paling penting adalah bagaimana kehidupan kita ini tidak telalu ketinggalan jauh dari kehidupan para sahabat RA. Jadi penting kita mempunyai target dalam melaksanakan kerja kenabian ini.

Diantaranya target dari usaha Nubuwah adalah :

Bagaimana Ummat dapat mengamalkan agama secara sempurna selama 24 jam.
Bagaimana Ummat dapat melanjutkan Risalat Kenabian yaitu Kerja Dakwah
Bagaimana Ummat dapat mengikuti Napak Tilas Pengorbanan Kehidupan Sahabat

Sehingga nanti semua manusia dapat selamat dunia dan akherat. Inilah yang namanya jalan keselamatan. Apa itu Jalan keselamatan yaitu Jalan Hidayah atau Sunnanul Huda. Allah telah berikan kepada Nabi SAW Sunnanul Huda : jalan-jalan petunjuk atau jalan-jalan hidayah, agar manusia bisa mendapatkan yang namanya kebahagiaan dan keselamatan. Siapa saja yang berjalan diluar Sunnanul Huda niscaya mereka akan tersesat dan jauh dari petunjuk Allah. Jika kita tidak diberi petunjuk maka kita akan sengsara hidup di dunia ini dan di akherat nanti. Seperti orang buta yang kehilangan tongkat, jalannya akan menderita, nabrak sana nabrak sini, terjatuh-jatuh. Begitulah orang yang hidup tanpa hidayah. Sedangkan Dakwah ini adalah salah satu Sunnah Nabi SAW yang akan mendatangkan hidayah atau petunjuk kepada manusia.

Hari ini orang islam banyak yang hidup dengan cara Yahudi dan Nasrani, padahal satu-satunya kehidupan yang di ridhoi Allah dan yang Allah telah jamin hanya kehidupan Nabi SAW. Kehidupan Nabi SAW ini adalah suatu kehidupan yang didasari atas wahyu Allah, langsung petunjuknya dari Allah. Sehingga ketika Nabi SAW mengamalkan petunjuk atau wahyu itu dengan sempurna maka kehidupan Nabi SAW penuh dengan keberkahan dan pertolongan Allah. Beda dengan kehidupan kita hari ini yang penuh dengan kesulitan dan tidak ada pertolongan Allah. Hari ini kita setiap ada masalah baru lari ke ulama minta do’a karena merasa do’anya tidak didengar oleh Allah. Tetapi setelah minta do’a, ketika pulang kehidupannya tidak berubah, sama saja dengan sebelumnya seperti kehidupan Yahudi dan Nasrani. Bagaimana Allah akan tolong kita jika kita masih seperti itu cara hidupnya. Beda dengan sahabat setiap ada masalah langsung lari kepada Allah, diselesaikan dengan sholat dan do’a, maka pertolongan Allah langsung turun saat itu juga. Mengapa doa sahabat ijabah dan sedangkan doa kita tidak ? padahal Tuhannya sama, Nabinya sama, Kitabnya sama, Kiblatnya sama. Ini disebabkan kehidupan yang kita jalani berbeda dengan sahabat RA.

Usaha ini adalah usaha atas napak tilas pergerakan dan pengorbanan para sahabat. Seseorang pernah bertanya kepada seorang Masyaikh dari pakistan, Maulana Yunus, “Apa batasan atau kapan akhir dari perjalanan seseorang ini dalam membuat Amal Maqomi dan Amal Intiqoli ?” jadi maksudnya apa batasan akhir amalan dakwah ini sehingga orang sudah dapat dikatakan sampai pada maksud dan tujuannya. Maulana Yunus katakan “Yaitu ketika pengorbanan ummat ini sudah sampai pada level seperti pengorbanan para sahabat.” Sangking tingginya pengorbanan para sahabat ini sehingga mereka bisa menarik langsung apa saja yang ada dari khazanah Allah kapanpun mereka perlukan. Iman mereka ini, para sahabat RA, sudah sampai pada taraf walaupun diperlihatkan pada mereka surga dan neraka, maka Iman mereka sudah tidak dapat naik lagi ataupun berkurang. Namun selama kita ketika ditaskil masih ada rasa berat, masih merasa memerlukan ini dan itu, dan masih terkesan hati kita pada selain Allah, berarti kerja atas nishab waktu 40 hari, 4 bulan, ini adalah yang terbaik bagi dia untuk dilakukannya dalam rangka islah dan dalam rangka perjalanan mendekati kepada kehidupan sahabat RA. Jika dia sudah bisa ditaskil, sudah mempunyai kesiapan untuk berangkat kapan saja diperlukan untuk agama, maka ketika itu nishab waktu sudah tidak berlaku lagi buat dia. Jika dalam hidupnya tidak ada lagi yang lebih penting dari perintah Allah dan rasulnya, ketika itu baru kapanpun diperlukan dia akan siap meninggalkan semua perkara yang dicintai demi agama. Sahabat ini kapan saja ada takaza atau permintaan untuk fissabillillah mereka selalu siap. Sehingga tidak ada nishab waktu diantara sahabat, yang ada kapan dibutuhkan mereka selalu siap dan tidak ada keraguan sedikitpun meninggalkan yang mereka punya. Sahabat sudah meletakkan hidupnya untuk mencapai maksud, sehingga siap mengorbankan segala-galanya kapan saja diminta untuk fissabillillah. Inilah sahabat, sedangkan kita belum bisa seperti itu. Mereka, para sahabat RA, sudah tidak terkesan lagi pada apa yang mereka miliki, tetapi hanya pada apa yang Allah janjikan.

Seseorang ulama bertanya kepada Masyeikh yang juga seorang Syeikhul Hadits, “Mengapa anda mau ikut dalam usaha ini yang tidak ada haditsnya mengenai tentang nishab 40 hari, 4 bulan, di jalan Allah tersebut ?” Lalu Masyeikh katakan mahfum, “Kerja dakwah ini adalah ijhtihad dari Maulana Ilyas, dan saya merasa cocok dengan ijtihad beliau. Andaikata ada suatu usaha lain yang lebih baik daripada usaha ini dalam memperbaiki kehidupan ummat maka saya akan bantu dan ikut dalam perjuangan usaha tersebut !” Tetapi masalahnya saat ini yang ada dan banyak membawa ummat kepada perbaikan hanyalah usaha ini dan telah nampak hasilnya. Dan usaha atas amar ma’ruf atau kerja dakwah ini adalah usaha yang paling diperlukan ummat saat ini.

Maulana Ilyas Rah.A ketika memulai usaha ini asbab fikirnya atas agama dan risaunya terhadap kondisi ummat saat itu di mewat, beliau telah melakukan beberapa usaha atas perbaikan ummat :

1. Usaha Atas Ilmu Mendirikan Madrasah

Namun ketika itu yang beliau temui adalah kegagalan, dan tidak effektif. Seperti ketika beliau membangun madrasah, salah seorang muridnya yang terbaik setelah lulus pergi kekota, dengan harapan murid tersebut dapat memberikan perbaikan terhadap kehidupan ummat di kota. Ternyata setelah bertemu kembali beberapa lama kemudian, si murid yang terbaik yang telah tinggal di kota ini, ketika bertemu telah hilang dari dirinya ciri-ciri keislamannya. Ini menunjukkan kegagalan atau ketidak effektifan usaha atas madrasah dalam memperbaiki ummat. Ketika si murid dibawa kepada suasana kota dimana amal agama tidak ada maka akan terjadi kemerosotan Iman.

2. Usaha atas Dzikir Ibadah Mengajarkan Amalan Dzikir Tarekat

Beliau mempunyai murid dalam membuat amalan dzikir, karena beliau sendiri juga adalah seorang Mursyid tarekat. Namun masalahnya adalah murid-murid tarekat ini mempunyai kecenderungan untuk menyendiri, melakukan uzlah dengan membuat amalan dzikir. Sehingga perbaikan atas kehidupan ummatpun juga tidak nampak melalui cara ini.

3. Usaha atas Kerja Dakwah Usaha atas Amar Ma’ruf & Fissabillillah

Asbab fikir beliau yang kuat atas agama dan kerisauannya atas ummat yang sudah rusak ini, sehingga Allah telah memberi petunjuk, ilham, kepada beliau untuk memulai kembali usaha nubuwah. Usaha Nubuwah yaitu usaha yang dibuat Rasulullah SAW pada waktu kurun awal islam berkembang. Apa itu usaha Nubuwah ? yaitu kerja dakwah, menyiapkan ummat melanjutkan risalah kenabian. Rombongan dikirim untuk Fisabillillah agar dapat membuat dan membawa suasana agama sehingga orang tertarik kembali untuk menghidupkan amal-amal agama di dalam rumahnya, lingkungannya, dan di seluruh alam. Caranya dengan membuat amal maqomi dan amal intiqoli, yaitu usaha atas ketaatan, amar ma’ruf, dan usaha atas pengorbanan, khuruj fissabillillah.

Nabi SAW ditarbiyah oleh Allah agar gantungannya benar dengan cara memutuskan hubungan beliau dengan orang-orang yang disekitarnya dan yang dicintainya. Beliau SAW sebelum berdakwah diberi gelar oleh orang-orang “Al Amin”, “Yang Terpercaya”. Dan dicintai oleh banyak orang. Namun setelah datang perintah untuk berdakwah, orang yang sama yang memberi beliau gelar Al Amin memberi gelar yang baru menjadi “Al Majnun”, “Orang Gila”. Dan orang-orang yang mencintainya menjadi orang-orang yang paling benci dengannya bahkan dari kalangan keluarganya sendiri. Dari kecil Beliau SAW di tarbiyah agar selalu mempunyai gantungan yang benar agar tidak tawajjuh kepada selain Allah. Belum lahir, ayahnya tempak seorang anak bergantung sudah wafat. Lalu baru sesaat bertemu ibunya ditengah perjalanan pulang ibunya wafat. Pamannya yang selalu melindunginya ketika saat-saat dibutuhkan dalam dakwah beliau juga Allah wafatkan. Istri beliau, Khadijah R.ha, yang selalu mendukungnya dalam kerja dakwah dan yang selalu menghiburnya dikala susah juga Allah wafatkan pada kurun masa awal kenabian. Beliau telah kehilangan segalanya dan kehilangan tempat bergantung selain kepada Allah. Bagaimana Allah mentarbiyah sahabat agar mempunyai tarbiyah yang sama seperti Nabi SAW sehingga gantungannya hanya kepada Allah, Sahabat RA diperintahkan untuk hijrah bersama Nabi SAW meninggalkan segalanya dari anak, istri, harta, jabatan, kampung halaman, dan lain-lain.

Lalu bagaimana teguhnya Nabi SAW mempertahankan kerja dakwah ini yaitu ketika beliau ditawarkan harta, jabatan, dan wanita oleh para petinggi quraish, apa jawab Nabi SAW, “Walaupun engkau mampu meletakkan bulan ditangan kananku dan matahari ditangan kiriku, Aku tidak akan tinggalkan kerja dakwah ini walaupun hanya sekejap saja. Pilihannya hanya dua yaitu mati dalam mendakwahkan agama Allah, atau hidup melihat agama tersebar.” Inilah keteguhan Nabi SAW memegang usaha dakwah. Inilah maksud dari usaha ini bagaimana fikir nabi menjadi fikir kita, risau nabi menjadi risau kita, kesedihan nabi menjadi kesedihan kita, kecintaan nabi menjadi kecintaan kita, mijaz nabi menjadi mijaz kita. Ini diperlukan pengorbanan dan training khusus yang dilakukan secara terus menerus sampai pada akhirnya wujud dalam diri kita. Inilah mengapa kita penting keluar di jalan Allah dan membuat amal maqomi di mesjid kita.

Dengan Usaha Nubuwah ( Kerja Dakwah ) ini bagaimana kita dapat mewujudkan kehidupan Nabi SAW ke dalam kehidupan kita. Bagaimana caranya ? yaitu dengan ikut dari pada Napak Tilas kehidupan Nabi dan Sahabat. Untuk perkara ini maka kita harus menjadikan maksud hidup nabi menjadi Maksud hidup kita, Kerja Nabi menjadi kerja kita, Fikir Nabi menjadi Fikir kita, Amal Nabi menjadi Amal kita, Perasaan Nabi menjadi Perasaan kita, Pola hidup nabi menjadi Pola hidup kita dan Do’a Nabi menjadi Do’a kita. Dengan cara inilah baru kehidupan Nubuwah akan wujud dalam kehidupan kita sebagaimana hidup di dalam kehidupan sahabat RA. Inilah targetnya yaitu menghidupkan kembali kehidupan nubuwah yang diamalkan oleh para sahabat RA kedalam kehidupan kita sehari-hari. Apa itu kehidupan Nubuwah yaitu kehidupan Nabi SAW selama 24 jam.

Apa itu Maksud Hidup Nabi :

Dakwah à Menyampaikan Agama, memberi peringatan dan kabar gembira tentang Allah dan kehidupan Akherat.

Apa itu Amal Nabi :

Seluruh Sunnah Nabi SAW dari ujung rambut sampai ujung kaki
Seluruh Kehidupan Nabi SAW selama 24 jam
Seluruh Perjalanan Hidup Nabi, Risau Nabi dan Fikir Nabi

Apa itu Kerja Nabi :

Dakwah Illallah
Taklim wa Taklum
Dzikir Ibadah
Khidmat

Apa itu Fikir Nabi :

Bagaimana umat dari yang pertama lahir sampai yang terakhir mati di hari kiamat dapat mengucapkan La Illaha Illallah

Bagaimana umat dapat selamat dari Adzab Allah Ta’ala dunia dan akherat dan masuk ke dalam SurgaNya Allah Ta’ala

Bagaimana seluruh manusia dapat mengamalkan agama secara sempurna.

Bagaimana umat ini dapat melanjutkan tugas Dakwah

Maka untuk dapat mewujudkan ini diperlukan usaha agar kehidupan Nabi SAW dapat wujud dalam kehidupan kita. Mengapa kita perlu mengusahakan ini ? karena seluruh aspek kehidupan Nabi SAW itulah yang namanya Agama. Tanpa usaha maka kehidupan nabi tidak akan bisa wujud dalam kehidupan kita. Methode yang diajarkan oleh Nabi SAW dalam mewujudkan Agama ini adalah “Learning By Doing”. Belajar dengan cara Pengamalan. Seperti orang yang belajar membawa mobil dengan praktek dan orang yang belajar mobil dengan membaca. Orang yang membaca cara membawa mobil belum tentu bisa membawa mobil dibandingkan dengan orang yang belajar membawa mobil dengan praktek. Yang mengamalkan membawa mobil dengan praktek dia akan lebih memahami apa yang harus dilakukan jika ada keadaan-keadaaan. Seperti apa yang harus dia lakukan dengan gas, gigi, dan fasilitas mobil lainnya ketika mobil jalan, atau sedang berhenti, atau sedang dalam keadaan berbelok. Sedangkan yang dengan membaca, dia akan terseok-seok dalam membawa mobil ketika diberi keadaan-keadaan. Inilah perbedaan antara orang yang mengetahui dan memahami.

Ciri-ciri Orang yang faham akan agama, adalah Jika Allah memberi dia ujian atau cobaan, maka dia akan mengerti bagaimana cara menghadapi masalah atau ujian tersebut. Sedangkan orang yang hanya tau teori agama, dia akan panik atau bingung menghadapi masalah atau keadaan tersebut sebagaimana orang yang bingung membawa mobil karena hanya belajar dari buku saja. Ini dikarenakan tidak adanya latihan atau praktek pengamalan agama. Sehingga ketika dia diberi ujian oleh Allah, dia tidak memahami kemauan Allah atas diri dia dalam keadaan tersebut. Ilmu agama akan memberikan kefahaman kepada kita jika diamalkan. Kefahaman ini hasilnya adalah keyakinan atas amal yang kita buat. Namun orang akan faham agama jika dia sudah amalkan agama. Seperti orang yang tau rasanya membawa mobil dengan praktek dan orang yang hanya membaca buku tentang membawa mobil. Hanya dengan Praktek membawa mobil baru kita bisa faham membawa mobil. Begitu juga dengan Agama hanya dengan praktek pengamalan, baru kita bisa siap terhadap keadaan dan ujian yang Allah kasih. Dengan mengamalkan kehidupan Nabi SAW, baru kehidupan Nabi SAW akan wujud dalam kehidupan kita dan memahami pentingnya kehidupan Nabi SAW dalamkehidupan kita. Nabi SAW dikatakan sebagai Al Qur’an berjalan karena seluruh kehidupan Al Qur’an wujud dalam diri Nabi SAW. Begitu juga Sahabat yang mencontoh seluruh aspek dari kehidupan Nabi Muhammad SAW, merekapun adalah Al-Qur’an berjalan. Maka dalam rangka mewujudkan ini diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan terus menerus sampai sempurna. Tidak bisa hanya dengan latihan 3 hari, 40 hari, atau 4 bulan itu hanya sarana saja seperti bilangan 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, dan 3 tahun di SMA, namun yang namanya menyempurnakan ilmu atau belajar atau latihan itu dilakukan sampai mati tidak ada bilangannya.

Tertib Pergi di Jalan Allah

Untuk mencapai kesuksesan perbaikan diri maka diperlukan tertib aturan yang mengatur seseorang ketika keluar di jalan Allah. Maka ketika keluar di jalan Allah tertib atau ushul ini perlu dijalankan sebagai tolak ukur perbaikan :

I. Yang Ditingkatkan

1 Dakwah Illallah
2 Taklim wa Taklum
3 Dzikir Ibadah
4 Khidmat

II. Yang Dikurangi :

Waktu Makan dan Minum
Waktu Tidur dan Istirahat
Memenuhi Hajat keluar Mesjid
Bicara dunia dan sia-sia

III. Yang Dijaga :

Ketaatan pada Amir selama Amir taat pada Allah dan Rasul
Amalan Istima’i (bersama) dibanding Infirodhi (individu)
Kehormatan dan Kemuliaan Mesjid
Sabar dan Tahammul (Tahan Uji)

IV. Yang Ditinggalkan :

Berharap kepada Mahluk hanya berharap kepada Allah
Meminta kepada Mahluk hanya minta kepada Allah
Memakai barang tanpa izin
Boros dan Mubazir

V. Yang Dihindari :

Bicara Politik dalam dan luar negeri
Bicara Khilafiyah
Bicara Aib (Jemaah atau Masyarakat)
Bicara Status Sosial dan Derma

VI. Yang Didekati :

Ahli Ilmu (Ulama)
Ahli Dzikir (Mursyid Tarekat)
Ahli Dakwah (Mubaligh)
Ahli Penulis Kitab (Mussanif)

VII. Yang Di jauhi:

Mencela atau menghina Aliran Agama
Mengkritik Aliran Agama
Membanding-bandingkan Aliran Agama
Menerima atau Menolak Dalil Ulama sebelum di konfirmasikan

Azas dan Fondasi dari Usaha Nubuwah ini :

1 Usaha atas Hati bukan Akal
2 Usaha atas Diri bukan Harta
3 Usaha atas Musyawarah bukan Perintah
4 Usaha atas Diam-diam / Tersembunyi bukan Propaganda / Pamer Kekuatan
5 Usaha atas Bil Ma’ruf bukan Nahi Mungkar
6 Usaha atas Persamaan/Kesatuan bukan Perbedaan/Perpecahan
7 Usaha atas Berita Gembira (Fadhilah) bukan Ancaman
8 Usaha atas Gerak bukan Tulisan
9 Usaha atas Individu bukan Kelompok / Perkumpulan
10 Usaha atas Kedamaian bukan Peperangan
11 Usaha atas Kerendah Hatian bukan kesombongan
12 Usaha atas Umum (akar / dasar) bukan Teknis (cabang / bagian )
13 Usaha atas penjelasan yang singkat (ringkas) bukan detail

Perumpamaan Agama :

“Agama itu seperti pohon. Pohon itu bukan tumbuh karena perintah dan larangan. Pohon tumbuh karena diletakkan pada tempat yang baik, lingkungan yang baik, pemupukan, dan pengairan. Begitu juga agama jika di letakkan pada tempat yang benar dan pada lingkungan baik, maka dia akan tumbuh dengan baik. Dakwah dengan tertib yang benar ini adalah tempatnya, lalu buat suasana amal. Kerja Dakwah ini mensuasanai lingkungan bukan merubah lingkungan. Cara mensuasanai lingkungan ini adalah dengan menghidupkan sunnah dan amal ibadah. Pengairannya adalah dengan menghidupkan Taklim, agar hati manusia ini ada gairah untuk beribadah. Pemupukannya adalah dengan sillaturrahmi, bina hubungan, dan akhlaq yang baik. Baru dengan ini agama akan wujud, dan orang akan datang. Jadi Agama bukannya tumbuh dengan perintah dan larangan tetapi karena suasana amal dan akhlaq yang baik.”

“Agama itu tidak bisa dipaksakan. Semua orang kalo di perintah dan di larang-larang, maka kecenderungan mereka akan menolak, menentang, berontak, bahkan mendebat. Kita harus satu bahasa dulu dengan mereka, cari persamaan, jangan memaksa. Hanya ada satu bahasa yang bisa buat semua orang ngerti dan sefaham, yaitu kebaikan. Semua orang kalo disuruh-suruh gak bisa satu bahasa, tetapi kalo dikasih hadiah, kue, baju, minyak wangi semuanya bakal ngerti. Di hati orang itu akan berkata, “..Oh rupanya Orang ini mau berbuat baik kepada saya”. Ketika ini baru Agama dapat masuk setelah ada kesan kebaikan kita pada diri mereka”

“ Agama ini harus kita dulu yang bawa. Jika kita sudah merasa senang dengan agama dan tidak merasa terbebani, nanti orang lain akan ikut dan nanya-nanya. Seperti orang yang sedang makan es krim. Kalo yang makan sudah senang maka yang lain akan minta dan nanya-nanya. Tetapi jika yang makan tidak suka bagaimana yang lain mau datang untuk minta atau nanya-nanya. Begitu juga agama jika kita yang membawa agama sudah tidak suka bagaimana yang lain bisa suka. Jangan kita buat standard yang sulit untuk di ikuti oleh orang lain tetapi kita harus bisa menunjukkan kepada mereka bahwa agama itu mudah diamalkan dan diikuti. Lalu seiring waktu kita buat suasana agar mereka mau untuk meningkatkan pengorbanan.”

Mengapa Kita harus berpartisipasi dalam pergerakan ini

Yang perlu kita sadari adalah bahwa hampir lebih dari 80 % kandungan Al Qur’an itu isinya mengenai perjuangan para Nabi AS dalam berdakwah, kisah-kisah ummat yang menolak dakwah para Nabi AS. Tidak ada diterangkan di dalam Al Qur’an ini mengenai jumlah ibadah Nabi-Nabi, berapa banyak sholatnya ? berapa banyak dzikirnya ? berapa banyak puasanya ? tetapi justru yang diceritakan adalah kebanyakan daripada pengorbanan para Nabi. Ini karena Allah ingin kita belajar dari pada pengorbanan para Nabi-nabi ini. Napak tilas pengorbanan merekalah yang telah mendapatkan ridho Allah ini yang patut kita ikuti. Bahkan jantung daripada Al Qur’an itu sendiri yaitu surat yassin, isinya menjelaskan kisah seorang pemuda yang mengajak kaumnya untuk mengikuti daripada ajakan, dakwah, nabi-nabi yang telah datang kepada mereka. Sekarang caranya bagaimana kita mengikuti Napak Tilas mereka yang telah di ridhoi Allah ini.

Allah berfirman :

“ Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” ( 9 : 100 )

Dan dalam ayat ini Allah telah menggambarkan orang-orang yang telah Allah Ridhoi :

1. Orang islam yang terdahulu dan yang pertama masuk islam ( Awallun Muslimin )

2. Orang-orang Muhajjir dan Anshor

3. Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik

Jadi yang perlu kita lakukan sekarang adalah dengan meniru-niru pergerakan mereka yaitu menjadi orang-orang yang Muhajjrih ( hijrah membawa agama ) dan jika tidak pergi di jalan Allah kita bisa menjadi Anshor ( orang-orang yang menerima Muhajjirin ). Dengan pergi di jalan Allah ini meniru-niru daripada pergerakan dan perjuangan merka yang telah di ridhoi Allah ini, mudah-mudahan Allah juga golongkan kita termasuk daripada “Orang-orang yang mengikuti mereka ( Nabi dan Sahabat, Muhajjir dan Anshor ) dengan baik.” Untuk perkara inilah penting kita ikut mengambil bagian dari pada usaha nubuwah ini.

Allah berfirman :

“Walladzina’amanu wahajaru wajahadu fissabillillahi walladzina awawwa nasharu ulaika humul mukinuna haqqan lahummaghfirotuw warizqun kariim.” ( 8 : 74 )

Artinya : Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah ( Muhajjir ) serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman ( Anshor ) dan memberi pertolongan (kerja sama antara Muhajjir dan Anshor / orang tempatan), mereka itulah orang-orang yang beriman dengan Haq ( yang benar-benar beriman ). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.

Jadi orang-orang yang beriman ini, mereka tidak ada keraguan dalam menjalankan perintah Allah dan mereka buktikan dengan berkorban di jalan Allah. Allah telah bahwa orang yang mau berjuang di jalan Allah lah yang Imannya adalah Haq, Iman yang sebenarnya. Kita tidak bisa mengklaim diri kita beriman jika kita belum bisa membuktikan diri kita kepada Allah, bahwa kita mau berkorban di jalannya sebagaimana nabi SAW dan para Sahabat RA dahulu yang telah membuktikan keimanan mereka dengan pengorbanan yang nyata di jalan Allah.

Allah berfirman :

“Apakah Kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” ( 3:142)

Rasullulah SAW bersabda mahfum :

“Permisalan seorang yang melakukan Jihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa di siang hari, menghabiskan masanya membaca qur’an dalam sholat, bersedekah secara terus menerus sampai si Mujahid itu kembali. Itupun orang yang pergi di jalan Allah masih melebihi daripada itu.”

Allah Swt berfirman :

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (At-Taubah-19)”

Ayat ini turun asbab ketika Rasullah Saw hijrah, parah orang kafir Quraish mencibir bahwa Nabi SAW sudah meninggalkan amalan yang besar ke tempat yang tidak ada sama sekali keutamaan yaitu Madinah. Mereka berpendapat bahwa tinggal di Mekkah itu lebih mulia dan melayani orang ibadah haji tentu nilainya lebih tinggi dibanding hijrah ke Madinah untuk berdakwah. Maka Allah bantahlah cibiran kafir Quraish ini bahwa tidak sama nilainya, lebih tinggi orang-orang yang pergi di jalan Allah. Padahal sholat di masjidil haram ini nilaninya 100.000 kali lebih tinggi di banding mesjid-mesjid di luar tanah haram, belum lagi nilainya bertambah ketika bulan Ramadhan, namun semuanya itu ditinggalkan oleh Nabi Saw dan para Sahabat RA demi takaza dakwah. Apalagi kalau dibandingkan hanya meninggalkan kantor, meninggalkan pesantren, wong keutamaan masjidil haram di bulan ramadhan dan berkhidmat untuk jemaah Haji aja di tinggalkan demi Takaza Dakwah.

Jangan sampai yang namanya Dunia menghalangi kita dari Kerja Dakwah ini dan dari berjuang di jalan Allah. Apa itu yang namanya dunia ? segala sesuatu selain Allah yang dapat menjauhkan kita dari perintah Allah adalah dunia.

Allah berfirman :

“Katakanlah : Jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberi petunujuk kepada orang-orang yang fasik.” (9 : 24)

Inilah definisi dunia menurut sebagian ulama, dan bagaimana dengan teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer ? Itu hanyalah keperluan manusia saja bahkan hanya seperti hiasan dunia saja. Jadi jangan sampai kita salah faham, bukan berarti kita tidak perlu teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer, hanya saja itu bukan sebagai maksud kita, tetapi hanya sebagai keperluan saja.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.” (18 : 7)

Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”

Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“Apabila engkau membaktikan dirimu hanya untuk kepentingan perniagaan, dan menyebar lembu-lembumu untuk pertanian, dan engkau puas dengannya, dan meninggalkan Jihad, maka Allah akan melimpahkan kehinaan ke atasmu. Kehinaan ini tidak akan diangkat sehingga engkau kembali kepada agamamu ( dan berjihad di jalannya )”. ( HR Abu Dawud )

Orang-orang yang sibuknya hanya memperbaiki memperbaiki keperluan saja dan melupakan maksud, maka pasti dan pasti kehidupannya akan dipenuhi masalah. Kalau memperbaiki keperluan ini dijadikan maksud maka yang terjadi adalah masalah akan bermunculan. Seperti seorang turis yang naik kapal pesiar lalu dia transit di suatu pulau. Kalau si turis ini ketika dia turun kepulau tersebut lalu membangun rumah membeli mobil dan semua peralatan hidup maka hidupnya akan menjadi masalah ketika dia harus meninggalkan pulau untuk pergi ke kota yang dia tuju. Ini karena transit di pulau itu bukan maksud hanya keperluan, dan itu semua harus kita tinggalkan untuk menuju tempat tujuan terakhir yaitu akheratnya Allah. Jadi harta, teknologi, ekonomi, semua ini hanya keperluan saja bahkan menjadi ujian buat kita, karena semua itu hanya perhiasan dunia yang suatu saat harus kita tinggalkan menuju kampung akherat. Namun bukan berarti kita melupakan keperluan kita di dunia ini, karena walau bagaimanapun yang namanya keperluan ini adalah sarana untuk dapat mencapai maksud.

Ibarat / Kiasan :

Kapal adalah alat atau kendaraan menuju kampung akherat. Namun yang terpenting dari kapal ini yang perlu di jaga agar jangan sampai terjadi adalah bagaimana agar kapal ini jangan sampai bolong sehingga air dapat masuk kedalam kapal. Sehingga menyebabkan kapal bisa tenggelam. Air ini adalah dunia, tanpa air kapal tidak bisa jalan, namun jika air masuk kedalam kapal, maka kapal bisa karam. Jadi penting kita usahakan bagaimana hati kita ini tidak bolong kemasukan air dunia. Jika dunia sudah masuk kedalam hati maka hati kita akan tenggelam sebagaimana tenggelammnya kapal yang kemasukan air. Jadi dunia ini hanya keperluan saja agar kapal kita bisa sampai pada tujuannya yaitu akherat. Orang yang hatinya sudah kemasukan dunia ini akan terjangkit penyakit wahan. Apa itu penyakit Wahan yaitu penyakit cinta dunia (Hubbud Dunia) dan Takut Mati. Lalu bagaimana mengatasi penyakit ini, ulama buat ijtihad yaitu dengan meninggalkan dunia yang kita cintai ini sementara saja dengan pergi di jalan Allah. Pergi di jalan Allah meninggalkan dunia yang kita cintai ini hanya latihan saja sebelum maut menjemput dan kita harus meninggalkan dunia selamannya. Inilah cara kita mempersiapkan diri.

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, lalu kamu berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri kamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu andaikan jika kamu mengetahuinya. Allah akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah akan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yang baik di dalam surga. Itulah Keuntungan ( kemenangan dan kejayaan ) yang besar.”

( 61 : 10 – 12 )

Disini Allah menawarkan kepada orang beriman suatu perdagangan dengan Allah, berbisnis dengan Allah, yang dapat menyelamatkan kita dari pada siksa Allah yang pedih. Padahal Allah tidak memerlukan kita. Jadi tawaran ini hanya sebagai kasih sayang Allah kepada kita agar mau beramal. Tawaran perniagaan yang seperti apa yang Allah tawarkan :

1. Beriman kepada Allah dan RasulNya

2. Berjuang di jalanNya dengan harta dan diri kita

Maka keuntungannya dari perniagaan ini hingga Allah katakan sebagai keuntungan, kemenangan, kejayaan yang besar andaikan saja kita mengetahuinya. Apa keuntungan itu :

1. Ampunan dosa-dosa kita

2. Dimasukkan kedalam Surga

Jadi derajat mereka yang mau berkorban di jalan Allah ini sangat tinggi sekali di sisi Allah, sehingga Allah menawarkan Jihad Fissabillillah ini sebagai suatu perniagaan yang dapat memberikan keuntungan bagi kita. Bahkan Allah mengancam bagi mereka yang tidak mau berkorban di jalan Allah atau mau berhenti atau istirahat daripada jalan Allah ini :

Allah berfirman :

“ Dan belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu melemparkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “ ( 2 : 195 )

Asbabun Nuzul daripada ayat ini adalah ketika seorang sahabat hendak cuti atau istirahat, atau tidak mau ikut pergi di jalan Allah karena sedang mempunyai urusan. Sehingga turunlah ayat ini untuk mereka yang ada terlintas untuk istirahat atau berhenti dari berjuang di jalan Allah.

Di dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“ Sesungguhnya Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang Ma’ruf (dakwah), dan mecegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

(3 :111)

Disini Allah bilang kita sebagai Choiru Ummat atau Umat terbaik tentu ada sebabnya. Ini dikarenakan kita diamanahkan untuk memikul suatu kerja yang tidak diamanah kepada umat sebelumnya yaitu kerja kenabian atau kerja dakwah. Menyeru manusia kepada yang Ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau dakwah ini adalah identitas umat Nabi SAW sebagai pelanjut risalat kenabian. Jika kita tidak melakukan tugas ini maka ini seperti polisi yang berpakaian polisi tetapi tidak mau mengerjakan tugasnya, hanya mau duduk-duduk saja diwarung, pasti dia akan dimarahi atasannya. Baju Polisi yang melambangkan identitas seorang polisi ini seperti kerja dakwah yang merupakan identitas umat ini. Jika kita tidak melakukan tugas yang menjadi identitas kita sebagai umat Nabi SAW maka kita akan dimurkai Allah Ta’ala.

Dalam Mahfum Hadits, Dari Aisyah R.ha berkata mendengar Nabi SAW bersabda :

“ Hai Manusia, Allah SWt berfirman kepada kalian : “Serulah (dakwahlah) kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar”, sebelum datang kepada kalian (akibatnya) dimana kalian berdo’a kepadaKu tetapi Aku tidak akan menerima do’a kalian, kalian meminta kepadaKu tetapi Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian, kalian memohon pertolongan kepadaKu tetapi Aku tidak akan menolong kalian.” (At Targhib)

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda mahfumnya :

“Apabila umatku sudah mengagungkan dunia (maksudnya : mendahulukan dunia dibanding perintah Allah), maka tercabutlah dari mereka dari kehebatan islam. Apabila umatku meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Dakwah), maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu (Kefahaman Agama). Dan apabila umatku sudah saling caci mencaci (hujat menghujat) satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah Ta’ala.” (HR Hakim dan Tirmidzi)

Dari Abu Said Al Khudri, Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu cegahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu hendaklah dia merasa benci dalam hatinya dan ini adalah selemah-lemahnya Iman.” (HR Muslim)

Oleh karena itu penting ada diantara kita yang siap melakukan inisiatif untuk mengajak manusia kearah perbaikan seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Walaupun itu hanya segolongan orang yang memulainya demi tegaknya agama dan perbaikan atas ummat.

Allah berfirman :

“Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan ummat (jemaah) yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang Ma’ruf, dan mencegah kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (3:104)

Disini bahkan Allah bilang bagi orang yang mau menyeru manusia kepada kebaikan ini sebagai orang-orang yang beruntung. Dan hanya orang-orang yang mencintai Allah, Rasul, dan Agamanya Allah saja yang mampu berfikir ke arah tersebut dan mau membuat usaha perbaikan atas Ummat. Tanda-tanda kecintaan seseorang kepada Allah yaitu terlihat dari keinginan dia mengikuti orang yang paling Allah cintai agar dia bisa mendapatkan cinta dari Allah kepadanya.

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : Jika kamu mencintai Allah , ikutilah Aku, niscaya Allah akan mengasihimu, dan mengampuni dosa-dosamu..” (3:31)

Inilah yang Allah minta kepada orang yang mengaku cinta kepada Allah yaitu dengan mengikuti jalan orang yang paling dicintaiNya yaitu Nabi SAW. Hanya dengan cara Nabi SAW kita akan mendapatkan cinta Allah SWT, ini karena Allah telah mewariskan kepada Nabi Sunnanul Huda atau Jalan-jalan Hidayah (Petunjuk). Jika kita berjalan diluar Sunnanul Huda niscaya tersesatlah kita. Sekarang bagaimana cara mengikuti Nabi SAW ? Apa itu jalan Nabi SAW ?

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : ini adalah jalanku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (manusia) kepada Allah dengan Hujjah yang nyata…” (12:108)

Allah telah perintahkan kepada Nabi SAW untuk menjelaskan jalan hidupnya kepada manusia agar mereka mengikutinya. Apa itu jalan hidup Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya yaitu mengajak orang untuk taat kepada Allah dan semua Perintah-perintahNya. Inilah yang namanya Dakwah yaitu mengajak orang kepada Allah saja dan untuk taat kepada perintah-perintahNya. Inilah maksud dikirimkan rombongan-rombongan dakwah ke seluruh pelosok dunia. Jadi jalan dakwah ini adalah jalan hidup kenabian dan salah satu sunnah Nabi SAW. Hanya dengan mengikuti jalan yang orang kita cintai baru cinta kita ini dapat dibenarkan. Bagaimana kita bisa mengaku cinta sementara kita tidak mau mengikuti orang yang kita cintai.

Dalam Hadits Mahfum Nabi SAW bersabda :

“Barang siapa yang mengamalkan sunnahku berarti dia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku maka dia akan di surga bersamaku.” (Al Hadits)

“Semua orang dari ummatku akan masuk surga kecuali yang menolak.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang menolak ya Rasullullah SAW ?” Nabi SAW menjawab, “Mereka yang menolak Sunnahku.” (Al Hadits)

Sedangkan Dakwah ini adalah Sunnah Nabi SAW yang nyata, bahkan kita ini disunnahkan dalam suatu riwayat nabi SAW :
“Balighul Anni Walau Ayyat”

Artinya : “ Sampaikanlah kepada mereka walaupun hanya satu ayat ”

Dalam Haji Wada, Haji Nabi SAW yang pertama dan yang terakhir Nabi SAW bersabda mahfum kepada para sahabat yang hadir :

“Sudahkah aku sampaikan kepada kamu perintah-perintah Allah ?” para sahabat RA semua menjawab, “Ya, engkau telah menyampaikan risalah itu !” lalu Baginda Nabi SAW berkata : “Ya Allah, saksikanlah ini ( pengakuan umatku ).” Nabi SAW bersabda kembali : “Hendaklah yang hadir disini menyampaikan kepada yang tidak hadir disini…”

Inilah sign, tanda, dari Nabi SAW agar kita siap untuk menyampaikan agama ke suluruh permukaan bumi. Inilah sebabnya banyak maqam sahabat ditemukan di luar negeri. Dari 114.000 sahabat hanya 14.000 sahabat yang ditemukan makamnya antara Mekkah dan Madinnah, selebihnya di luar negeri. Seperti Saad bin Abi Waqqash RA makamnya ditemukan di Cina, Ayub Al Anshori di Turkey, Tariq bin Ziyad RA di Spanyol, dan lain-lain. Andaikata sahabat ini hanya memikirkan ibadah saja di mesjidil haram dan mesjid nawabi maka islam tidak akan tersebar dan kita kemungkinan masih menyembah patung dan kuburan.

Imam Malik Rah. A berkata :

“Tidak ada cara lain untuk memperbaiki ummat ini selain menggunakan cara Nabi SAW ketika memperbaiki Ummat pada kurun Awal.”

Jadi hanya dengan dakwah ummat akan terperbaiki karena dakwah ini adalah sarana atau alat untuk mempromosikan atau menyebar luaskan agama. Sudah tertulis dalam sejarah setiap ummat terdahulu setelah tidak ada lagi kerja dakwah dari nabi-nabi mereka maka kecenderungan mereka akan menjadi kafir melalui tahapan :

Tahap Pertama manusia akan meninggalkan amal ibadah

Tahap Kedua manusia akan mengerjakan maksiat atau perbuatan mungkar

Tahap Ketiga manusia akan meninggalkan agama menjadi kafir atau murtad karena sudah tidak ada lagi keyakinan pada agama bahwa agama dapat menyelesaikan masalah.

Tanpa Dakwah maka agama lambat laun akan pudar hingga tidak ada lagi orang yang mengamalkannya. Bahkan ketika ada yang mengamalkannya akan nampak aneh, bahkan yang mengamalkannya akan dicap seperti orang gila. Jika tidak ada dakwah maka tidak ada orang yang saling ingat mengingati karena Allah. Padahal di dalam Al Qur’an dibilang bahwa peringatan itu baik buat orang beriman. Tanpa Dakwah, agama ini seperti barang bagus tetapi tidak laku atau tidak ada yang mau membeli. Ini karena tidak ada yang mempromosikannya sehingga tidak ada yang mau membeli. Dakwah ini adalah sarana untuk mempromosikan manfaat-manfaat agama dan menjelaskan kerugian yang terjadi bila kita meninggalkannya. Jadi Dakwah ini adalah tulang punggung agama. Tanpa Dakwah yang Haq maka Dakwah yang Bathil akan masuk. Jika Dakwah yang bathil sudah masuk seperti promosi minuman keras, perjudian, prostitusi, pakaian-pakaian yang vulgar, dan lain-lain, maka keimanan orang akan menurun. Jika Iman sudah menurun maka Amal Ibadah akan berkurang, akhlaq manusia akan menjadi buruk, muamalah dan muasyaroh manusia akan rusak. Ketika itu maka do’a tidak akan didengar dan pertolongan Allah tidak akan datang, yang ada hanya kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ketika itu semua masalah akan berdatangan. Namun dengan Dakwah maka keimanan akan datang, agama akan tersebar, amal agama akan meningkat, akhlaq manusia akan bagus, perdagangan dan hubungan antar manusia akan baik, dan pertolongan Allah akan datang kepada ummat ini. Atas perkara ini penting kita membantu agama Allah agar Allah perbaiki kehidupan kita.

Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman jika kamu membantu agama Allah maka Allah akan menolongmu dan menguatkankan kedudukanmu.” (47:7)

ini adalah janji Allah bagi mereka yang mau membantu agama Allah maka Allah akan menolong kehidupan kita memperbaiki keadaan rusak dan Allah akan menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi oleh seluruh manusia. Inilah yang dianjurkan ulama yaitu belajar menyelesaikan masalah dengan amal agama. Belajar menyelesaikan masalah dengan pertolongan Allah. Bagaimana cara mendatangkan pertolongan Allah yaitu dengan menjalankan perintahnya. Setiap perintah Allah dibaliknya pasti ada pertolongan Allah. Seperti seorang duta negara yang diperintahkan negaranya jika terjadi sesuatu pasti negara tersebut akan menolong dutanya karena si duta bertindak berdasarkan perintah negara. Apalagi dengan menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kita balik. Hanya dengan agama Allah saja semua permasalahan dapat terselesaikan. Namun syaratnya harus ada niat dan kesungguhan usaha dari ummat tersebut untuk memperbaiki keadaan.

Allah berfirman :

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (13 : 11)

Jadi Allah baru mau membantu merubah suatu kaum setelah kaum itu mau berusaha untuk merubah kehidupannya sendiri. Allah akan mendatangkan perbaikan pada suatu kaum jika kaum itu mau buat usaha perbaikan. Apa yang harus diperbaiki pertama kali yaitu kondisi agamanya, karena baik atau buruknya manusia tergantung pada kondisi agama yang ada diri mereka. Sedangkan Agama ini adalah solusi yang Allah berikan untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia sampai hari kiamat.

Hidupkan amal-amal mesjid nabawi di setiap mesjid maka akan datang perbaikan dan peningkatan qualitas hidup bagi orang-orang yang tinggal di kampung itu. Sebagaimana terperbaikinya kehidupan ummat di madinah pada jaman Nabi SAW. Bagaimana kehidupan para sahabat terperbaiki dan meningkat qualitasnya setelah Agama tersebar melalui mesjid Nabawi. Syaratnya harus ada orang yang mau bergerak mengajak manusia kepada kebaikan.

Dari Anas RA :

Kami para sahabat RA bertanya “Ya Rasullullah SAW kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW bersabda, “ Tidak, bahkan serulah orang untuk berbuat baik, meskipun kalian belum mengamalkan semuanya. Dan cegahlah kemungkaran, meskipun kalian belum menghindari semuanya.”

(HR Thabrani)

Inilah isyarat dari Nabi mengenai pentingnya kerja dakwah walaupun kita belum sempurna mengerjakan kebaikan dan belum sempurna meninggalkan kemaksiatan. Dan hanya dengan mendakwahkan agama saja keadaan akan terperbaiki bukan dengan ekonomi, teknologi, kebudayaan atau dengan kekuasaan itu hanya keperluan saja. Kalau masih memerlukan itu berarti agama belum sempurna karena tidak bisa menyelsaikan masalah manusia. Sedangkan Agama ini sudah sempurna Allah berikan kepada manusia sebagai solusi untuk menyelesaikan seluruh masalah. Siapa saja yang mencari solusi diluar solusi yang telah Allah berikan kepada manusia maka yang akan terjadi hanyalah masalah. Selain dengan agama maka manusia hanya menyelesaikan masalah dengan masalah, bukan masalah selesai tetapi hanya akan menambah masalah.

Allah berfirman :

“…Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmatKu kepadamu dan telah Aku relakan islam menjadi agamamu…” (5 : 3)

Semua sudah sempurna Allah berikan dari rumus dan methode untuk menyelesaikan seluruh masalah yang di hadapi oleh manusia sampai hari kiamat, tidak ada cara lain. Selain cara Allah dapat dipastikan akan menemukan kegagalan. Seperti kaum ad yang sukses membuat usaha atas kesehatan dan kekuatan tetapi ingkar terhadap Agama maka mereka berakhir binasa. Kaum Madyan yang sukses membuat usaha atas perbaikan ekonomi dan keuangan juga berakhir binasa karena mereka ingkar terhadap Allah dan AgamaNya. Kaum Saba yang sukses membuat usaha atas pertanian namun ingkar terhadap perintah Allah maka mereka Allah binasakan. Kaum Luth yang sukses membuat usaha atas peningkatan qualitas seksualitas untuk mencapai kebahagiaan, merekapun Allah binasakan. Kaum Tsamud yang sukses membuat usaha atas teknologi arsitektur juga Allah telah hancurkan. Firaun dan Namrud yang sukses membuat usaha atas kekuasaan, sangking berkuasa sampai mengaku sebagai tuhan, juga Allah hancurkan. Qorun yang sukses membuat usaha atas peningkatan harta dan kebendaan juga Allah telah hancurkan. PM Hamman Laknatullah Alaih yang sukses membuat usaha atas karir politik juga telah Allah hancurkan karena ingkar terhadap perintah Allah. Abrahah yang sukses membuat usaha atas kekuatan militer juga telah Allah hancurkan. Hanya dengan cara Nabi dan para sahabat saja keadaan akan terperbaiki selain itu akan berakibatkan kebinasaan. Hanya dengan amal-amal agama saja keadaan terperbaiki, bahkan akan Allah buat ummat islam berkuasa kembali. Lalu Allah akan menukar keadaan mereka yang susah dan penuh dengan masalah dan penderitaan menjadi keadaan yang aman dan sentosa. Dan ini adalah janji Allah yang mutlak kepastiannya. Caranya mendapatkannya bagaimana ? yaitu dengan menghidupkan amal-amal agama didalam kehidupan ummat saat ini.

Allah berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana mereka telah menjadikan orang-orang sebelum kamu berkuasa, dan sungguh dia akan menguhkan bagi mereka Agama yang telah di RidhoiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa… ” ( 24 : 55 )

Apa yang perlu kita fikirkan dan kita risaukan saat ini. Bagaimana umat yang 6 milyar, tetapi hanya 1.5 milyar yang muslim. Dari 1.5 milyar berapa banyak yang sudah melakukan sholat. Lalu berapa banyak orang yang mati tiap hari tanpa mengucapkan La Illaha Illallah. Tiap hari kurang lebih 200.000 orang mati tanpa mengucapkan La Illaha Illallah, ini siapa yang bertanggung jawab. Kita ini Allah kasih islam bukannya gratis tetapi datang dengan tanggung jawab untuk menyampaikan agama kepada yang belum tau. Akherat adalah tempat untuk saling menagih Hak, nanti asbab orang tidak dakwah ini maka ini bisa menjadi asbab orang tersebut masuk kedalam Neraka. Anaknya, Saudaranya, tetangganya, temannya dan umat akan menagih haknya kenapa tidak disampaikan atau diajak dalam berbuat kebaikan ketika di dunia, kenapa mereka tidak diperingatkan. Asbab ini Allah bisa kirim kita ke Neraka. Tetapi ada orang yang dosanya sejauh mata memandang, tetapi Allah tunjukan suatu buku amalan yang penuh dengan amal Ibadah orang lain asbab dia mengajak satu orang lain untuk tobat dan orang ini mengajak yang lainnya dalam amal dan ibadah. Sehingga Allah duplikatkan amal ibadah mereka kepada orang pertama yang mengajak mereka.

Jika tidak ada risau dan fikir maka agama tidak bisa bergerak atau berkembang. Kalau Kerja Agama tidak jalan maka kerusakan akan timbul dimana-mana. Tanpa agama manusia ini akan rusak dan merusaki, jauh lebih jahat dari binatang sebagaimana kaum jahiliyah terdahulu yang menjadikan ibu hamil sebagai ladang judi. Ibu hamil ini di belah perutnya hidup-hidup lalu diambil anaknya untuk sebagai bahan perjudian. Jadi tanpa Dakwah atas yang Haq maka Dakwah terhadap yang Bathil akan tegak dan merajalela. Seperti Iklan yang ada di TV menawarkan baju-baju ketat yang tidak pantas bagi wanita dikenakan. Dulu di Indonesia tahun 1970-an jika ada orang pakai rok mini atau baju ketat yang terlihat auratnya maka orang ini akan dibilang tidak punya moral. Tetapi kini orang yang berpakaian demikian akan dibilang maju dan modern. Hari ini karena tidak ada usaha atas agama, perempuan bangga memperlihatkan aurat mereka, sehingga laki-laki mudah tergoda untuk bermaksiat. Maksiat dimana-mana, perjudian, perzinahan, dan minum-minuman keras dimana-mana sudah menjadi hal biasa. Saat ini dalam diri ummat sudah ada rasa kebanggaan ketika melanggar perintah Allah, inilah yang namanya Dzoluman Jahula, yaitu Kebodohan yang Paling Jahil. Sahabat dibilang jahil karena belum mengenal agama, sedangkan kita lebih super jahil dari mereka karena kita sudah tahu perintahnya tetapi masih dilanggar. Ini karena tidak ada Kerja Agama atau Dakwah.

Berdasarkan perkiraan, dulu tahun 1980-an jika orang ditanya berapa persen penduduk Indonesia jawabnya 90% penduduk Indonsia adalah orang Islam ( 90% dari 200Jt = 180Jt). Tetapi kini tahun 2003 karena tidak ada kerja Dakwah, umat Islam tinggal 85 % menurut pendataan penduduk. Ini siapa yang salah, butuh berapa lama lagi untuk umat Islam di Indonesia pindah agama jika dalam 20 tahun terjadi penurunan 5% dari jumlah total umat Islam. 5% dari 200 juta orang berarti 10 juta orang pindah agama dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Ini berarti satu juta orang tiap 2 tahun lari dari agama Islam. Ini perlu jadi fikir kita jika tidak maka nanti tanpa kita sadari cucu-cucu kita telah tidak kenal Allah lagi. Salah siapa, ini salah kita karena kurang sungguh-sungguh dalam kerja agama. Hanya dengan Dakwah, yang bathil akan hilang dan yang Haq akan tegak. Namun hanya Dakwah yang dicontohkan oleh Nabi SAW yang akan effective dalam menumpas kebathilan. Perancis tidak ada dakwah, maka gereja mereka dijadikan Night Club. Dan inipun bisa terjadi pada kita di indonesia yang mayoritas islam jika kita tidak mau mengerjakan Kerja Dakwah dan Tabligh ini. Di Perancis tahun 1960-an Mesjid hanya satu namun asbab ada kerja dakwah dari orang-orang India yang mengirimkan rombongan jemaah tabligh kesana, sekarang di Paris saja terdapat 700 mesjid, dan diseluruh Perancis terdapat 2000 mesjid. Dulu Nabi SAW asbab kerja bermulai dari 5 orang sahabat dengan sungguh-sungguh berapa banyak umat Islam kini termasuk kita yaitu tidak kurang 1.5 milyar orang telah masuk kedalam Islam. Jika ada Fikir dan Risau yang sungguh-sungguh maka Agama akan wujud dalam diri kita dan dalam diri umat.

Nikmat yang paling tinggi bagi umat ini adalah diwarisinya umat ini atas kerja nubuwah atau kerjanya para Nabi. Nabi tidak diwariskan harta dan takhta, tetapi Nabi dan umat ini diwarisi kerja Nubuwat oleh Allah Ta’ala. Asbab kerja ini umat ini diangkat derajatnya oleh Allah sebagai “Choiru Ummah : Umat Terbaik”, dan telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu yang membuat nabi-nabi iri terhadap umat ini. Penting kita jadikan Kerja Nubuwat ini menjadi kerja kita, karena ini adalah identitas kita sebagai Umat Nabi SAW dan Amanah dari Allah Ta’ala. Dan semua nikmat di dunia ini akan dihisab oleh Allah Ta’ala termasuk Nikmat terbesar umat ini yaitu kerja Dakwah. Sahabat karena telah menjadikan Kerja, Fikir, dan Maksud Nabi menjadi Kerja, Fikir, dan Maksud hidup mereka, maka kemuliaanpun dan kejayaan Allah datangkan di bawah kaki mereka. Bilal RA sebelumnya menjadi budak lalu meninggal sebagai Gubernur di Yamman. Jaman Umar RA, Romawi dan Persia beserta kemewahannya takluk dibawah kaki Umar RA.

Allah berfirman :

Artinya : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka adalah lebih tinggi derajat mereka di sisi Allah, dan mereka itulah yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhoanNya, dan Surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. ( 9 : 20-21 )

Sahabat telah korbankan segala-galanya, anak, istri, harta, dan diri mereka agar kita dapat selamat dari adzab Allah, tetapi lihat kini apa yang kita lakukan, hanya duduk saja sibuk dengan urusan kita masing2x, tidak ada waktu sama sekali buat agama. Apa yang akan kita katakan nanti kepada mereka jika bertemu dengan para Sahabat. Bagaimana Jika sahabat tidak buat kerja Agama. Apa yang terjadi jika kita tidak memeluk Islam pada hari ini, ketika Mati Allah buang kita ke neraka selama-lamanya. Bagaimana perasaan orang yang dilempar Allah ke dalam Neraka selama-lamanya karena kita belum sempat menyampaikan perkara ini kepada mereka.

Nabi SAW menangisi kita tiap hari dan selalu mendo’akan kita hingga kakinya bengkak bengkak dan matanya menjadi sembab karena kebanyakan menangis. Ketika hidupnya, Nabi SAW sudah mengatakan kita sebagai kekasih dan mereka yang lebih beruntung dari Sahabat, yang Imannya paling afdhol, karena mereka tidak pernah melihat Aku dan mukjizatku kata nabi, tetapi mereka beriman kepadaku. Kitalah yang dirindukan dan dirisaukan oleh Nabi SAW siang dan malam dalam do’anya. Sebelum beliau wafat menjelang sakratul maut yang di ingatnya adalah umatnya, Nabi SAW bekata kepada Jibril jika ini sakit yang dirasakan umatku maka timpakanlah seluruh sakit umatku sampai hari kiamat kepadaku saja. Inilah fikir dan risau Nabi. Sebelum Nabi SAW wafat kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Nabi SAW adalah “ummati…ummati : umatku, umatku”. Ketika dibangkitkan yang diingat Nabi SAW pertama kali adalah umatnya, bukan istrinya, keluarganya, sahabatnya tetapi umatnya. Ketika umat Nabi SAW berjatuhan di shirath seperti hujan, Nabi SAW menunggu di ujung shirath sambil bersujud kepada Allah berdo’a : Selamatkan umatku, selamatkan umatku ya Allah. Inilah fikir dan risau Nabi terhadap kita. Jika kita duduk-duduk saja nanti ketemu nabi apa yang akan kita katakan kepadanya.

Allah telah mudahkan agama ini untuk kita, beda dengan sahabat yang harus menjalankan agama dengan sempurna 100%. Inilah standard sahabat dalam menjalankan agama, kurang sedikit maka Allah akan turunkan adzab dan dapat menjadi asbab tercampaknya mereka kedalam neraka. Tetapi kalau kita dalam sebuah mahfum hadits cukup dengan 10% saja sudah bisa menjadi asbab kita selamat dari adzab Allah Ta’ala. Tetapi cara dan modelnya harus sama dengan sahabat. 10% dari 1 tahun adalah 40 hari, 10 persen dari 1 bulan adalah 3 hari. 10% dari 24 jam adalah 2.5 jam, dan ini yang harus kita jaga minimal. Yang penting adalah keistiqomahan kita untuk menjaga 10% waktu kita buat agama Allah. Sehingga Fikir Nabi dan Risau Nabi masuk kedalam diri kita.

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s