Bayan KH Uzairon

bayan kh uzairon

Bayan KH Uzairon Thoifur Abdillah Bayan Markaz Trangkil versi teks. nasehat agar amalan kita mendapatkan nusratullah

Hadirin yang dimuliakan Allah ta’ala. Sebelum mulai bayan, kita sedikit mudzakaroh insya Allah. Agar amalan-amalan kita ini ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wataala. Agar amalan-amalan kita ini diterima oleh Allah. Agar amalan-amalan kita ini mendatangkan pertolongan Allah. Agar amalan-amalan kita ini jadi asbab hidayah.

Ini ada beberapa hal yang sangat-sangat penting kita perhatikan.

Yang pertama, yang dimuliakan Allah ta’ala.

Dalam setiap amal hendaknya kita hadirkan pertama kali, kita hadirkan dalam hati kita keagungan Allah Subhanahu wataala, kehebatan Allah Subhanahu wataala, kekuasaan Allah Subhanahu wataala. Yang menciptakan bumi, langit, dunia, akherat, surga, neraka, dengan كن فيكن “Jadilah!!! maka jadi.”

Sehingga tertanam dalam hati kita ini, rasa takut kepada Allah, rasa cinta kepada Allah, rasa tunduk kepada Allah. Di dalam setiap amal, ini yang perlu kita hadirkan di dalam hati. Rasa mengagungkan Allah, kehebatan Allah yang tiada batas, kekuatan Allah yang tiada batas, kekayaan Allah yang tiada batas. Dialah Allah, raja dari setiap raja. Pencipta semua raja, Pencipta semua makhluq, semua malaikat, semua jin, semua manusia. Pencipta alam semesta. Sehingga dalam hati, ketika dalam amal itu akan terasa mengagungkan Allah, takut kepada Allah, cinta kepada Allah, tunduk kepada Allah.

Kemudian yang kedua, yang dimuliakan Allah ta’ala.

Dalam setiap amal ini kita mesti mengikuti cara Rosulullah shallallahu alaihi wassalam, yang telah ditunjukkan oleh para ulama yang ahlinya. Dalam setiap amal apa saja. Dalam dakwah, dalam ibadah, dalam akhlaq, kita mesti berpegang dengan contoh-contoh Rosulullah shallallahu alaihi wassalam yang telah dijelaskan oleh orang-orang yang ahlinya, para ulama’, para aimmah. Ini yang kedua.

Kemudian yang ketiga, yang dimuliakan Allah ta’ala.

Dalam setiap amal itu harus ada sifat ihsan. Merasa menghadap kepada Allah dan merasa dilihat oleh Allah. Amalan yang tidak ada sifat ihsan, Merasa dilihat oleh Allah, merasa menghadap kepada Allah, amalan ini akan kosong, lemah nggak ada nurnya, nggak ada ruhnya.

Kemudian yang keempat, yang dimuliakan Allah ta’ala.

Dalam setiap amal itu harus ada unsur mujahadah nafsu. Menekan nafsu kita. Jangan di dalam amal itu kita campuri dengan nafsu. Amal dengan males, amal dengan ngantuk, amal dengan guyonan. Amal untuk pamer. Amal maen-maen. Ini kita jauhkan dari amal-amal kita. Kita harus ada unsur mujahadah nafsu. Apa yang kira-kira menyenangkan nafsu kita itu kita tolak. Dalam setiap amal.
Kemudian yang kelima, yang dimuliakan Allah ta’ala.

Dalam setiap amal itu kita harus ada rasa. Ada rasa “ini adalah amal saya yang terakhir.” sholat maghrib ini adalah sholat saya yang terakhir. ‘isyak nanti saya sudah di akherat. صلّوا صلاة الموضّع “ Sholat itu, seperti sholat yang terakhir.”

Kemudian yang keenam yang dimuliakan Allah ta’ala.

Sifat ihtisab, berharap pahala dari Allah. Allah berjanji, dengan sholat 2 rokaat, kita akan dikasih perkara yang lebih mahal dari pada dunia dengan segala isinya. Harapan akan pahala-pahala dari Allah. Ini penting. Karena kalau kita amal, tidak mengingati pahala-pahalanya, itu namanya tidak menggubris janji Allah. Ini bahaya semulyakan. Maka dalam setiap amal, kita ingat janji-janji Allah dalam amal-amal itu. Dakwah itu akan mendatangkan pertolongan Allah, sholat itu juga akan mendatangkan pertolongan Allah, membaca Qur’an itu pahalanya begini, begini, begini…. Seperti apa yang telah kita baca dalam kitab Fadhilah Amal itu.

Kemudian yang ketujuh yang dimuliakan Allah ta’ala,

dalam setiap amal itu, kita harus ada sifat ikhlas. Semata-mata mencari ridho Allah. Bukan mencari yang lain-lain.

Gimana, nggak hafal ?!

Jadi yang pertama kali, hadirkan keagungan Allah dalam hati, dalam setiap amal. Tanamkan rasa takut, rasa cinta kepada Allah.

Yang kedua, ikut sunnah Rosulullah. Ikut cara Rosulullah sesuai dengan apa yang telah diterangkan oleh para ahlinya.

Kemudian yang ketiga. Harus ada unsur ihsan. Merasa menghadap kepada Allah, dilihat oleh Allah.

Kemudian yang keempat, menekan nafsu. Mujahadah nafsu. Bayan dengan duduk tawajuh, dibandingkan dengan dengar bayan dengan sandaran lain nilainya. Bayan dengan di belakang sana, dengan mendengarkan bayan di tempat parkir, dengan di masjid, beda nilainya. Karena disana itu ada unsure nafsunya. Di masjid ini lain nilainya.

Kemudian yang kelima, ada sifat ihtisab. Berharap pahala kepada Allah.

Yang keenam, merasa ini amal yang terakhir.

Yang ketujuh, ikhlas. Semata-mata karena ridho Allah.

Tujuh hal ini, minimal-minimalnya harus ada dalam setiap amal kita. Kalau tujuh hal ini ada dalam amal kita, maka amal kita akan meningkat. Kalau tujuh ini ada dalam dakwah kita, maka dakwah kita akan meningkat. Akan ada ruhnya. Kalau tujuh perkara ini ada di dalam ibadah kita, ibadah kita akan meningkat. Kalau tujuh perkara ini dalam taklim kita, maka taklim kita akan meningkat.

Dalam amalan apa saja, tujuh hal ini harus disertakan. Maka sebelum amal itu kita renungi dulu. Dah direnungi terasa dalam hati,baru bergerak. Nanti lama-lama jadi kebiasaan, membawa tujuh perkara tadi dalam setiap amalan kita, sehingga amalan kita nanti akan ada nur dunia dan akherat.

Orang-orang ahli dunia, yang dimuliakan Allah ta’ala, hari-hari berfikir untuk memperbaiki dunianya. Orang ahli mobil, hari-hari berfikir, bagaimana mobilnya dapat berjalan cepat, aman, enak. Hari-hari diperiksa. Kenapa ini kok macet? Kabelnya ada yang nggak terpasang, businya kotor, bensinnya nggak beres. Hari-hari difikirkan. Karena manusia hari-hari memikirkan urusan-urusan materi, urusan-urusan teknologi, maka Allah Subhanahu wataala juga memberikan kepada mereka fikir-fikir baru, teknologi-teknologi baru, tehnik-tehnik baru. Membikin kapal terbang, kapal laut, dan macem-macem peralatan. Karena hari-hari mereka mencurahkan fikirnya untuk benda-benda ini. Maka oleh Allah Subhanahu wataala, dikasih benda-benda.

Lha dulu para Nabi, para Rosul, para Wali Allah, para Sahabat. Mereka ini yang dipikirkan hari-hari perbaikan iman, perbaikan amal. Sehingga mereka mempunyai amalan yang maju sekali. Mereka mempunyai ruhaniyyah yang sangat tinggi sekali. Kalau sekarang orang hanya punya jasadiyyah materi. Yang maju itu materinya. Tapi rohaninya semakin hari semakin merosot. Lha orang dulu tidak begitu, yang dimuliakan Allah ta’ala.

Yang dipikirkan siang-malam itu rohaninya. Bagaimana memperbaiki hubungan dengan Allah. Bagaimana memperbaiki amalan yang sebaik-baiknya. Sehingga mereka ini sholat 2 rokaat dapat mendatangkan pertolongan Allah. Dzikir mereka menggoncangkan orang-orang kafir. Amal mereka mendatangkan hidayah. Karena mereka itu amalannya betul-betul komplit. Istilahnya mobil, peralatannya itu komplit semua. Sehingga jalannya juga cepet, enak. Lha amalan kita, ibaratnya mobil itu ada beberapa yang tidak komplit. Mesinnya bagus – bannya gembos, bannya bagus – bensinnya habis. Mesinnya bagus – bensinnya bagus – setirnya copot.

Ini keadaan amal kita sekarang ini, yang dimuliakan Allah ta’ala. Maka kita perlu fikir perbaikan amal-amal ini. Inilah maksud-tujuan dikirimnya para Nabi para Rosul. Untuk perbaikan iman, perbaikan amal. Kalau sudah iman baik, amal baik, sebagaimana apa yang telah ditunjukkan oleh para Nabi ini, akan datang pertolongan Allah, akan datang hidayah Allah, akan datang hal-hal yang ajaib kepada umat islam ini, yang dimulyakan Allah taala.

Seperti pada zaman-zaman dahulu. Zaman para Sahabat, para Tabi’in, zaman wali songo, zaman orang-orang sholeh terdahulu. Kekuatan amalannya ini mengalahkan materinya orang-orang kafir.

Hadirin yang dimuliakan Allah ta’ala. Ketika pasukan tentara-tentara kafir pergi ke mesir, pasukan Tar-tar pergi ke mesir, ada ulama’ namanya “Syekh Izzuddin Ibnu Abdus Salam” dia berteriak, ‘Hai angin. Serbulah mereka!!! Angin datang menyerbu pasukan. Sehingga pasukan Tar-tar yang ceritanya tidak pernah kalah, pada lari semua. Tunggang langgang hancur.

Teknologi mana, bisa memerintah angin, semulyakan. Amerika bisa memerintah angin? Rusia bisa memerintah angin? Ini teknologinya orang yang dengan Allah. Yang yakin kepada Allah. Amalan-amalannya adalah amalan yang dicintai oleh Allah. Maka mendatangkan macem-macem nusrotullah yang luar biasa. Lha yang dimuliakan Allah Subhanahu wataala.

Lha sekarang ini kita mau belajar seperti ini. Sekarang umur kita ini sudah habis untuk belajar materi itu saja, yang dimuliakan. Di SD saja enam tahun. Belajar materi saja 6 tahun. SMP – SMA enam tahun lagi. Perguruan tinggi berpuluh-puluh tahun, kadang-kadang.

Urusan rohani saja sudah nggak ada kesempatan. Maka bagaimana mau memperbaiki hubungan kepada Allah? Kan nggak ada waktu!? Sehingga akhirnya umat islam kalah. Dengan orang kafir itu kalah. Karena dulu umat islam itu, menang itu bukan karena banyaknya senjatanya. Karena mereka dibela oleh Allah. Tapi umat itu sekarang renggang hubungannya dengan Allah. Mereka hubungannya rekat dengan mesin, dengan uang, dengan pabrik, dengan manusia. Tetapi jarang yang berfikir bagaimana memperbaiki hubungannya dengan Allah. Maka selagi umat islam itu seperti ini. Terus… nanti akan keok terus.

Karena Allah sudah berfirman. Kalau Allah tolong kamu, nggak ada yang bisa menolong kamu. Tapi kalau Allah nggak tolong kamu, siapa yang akan menolong kamu.

ان ينصر الله فلا غالب لكم وإن يغضلكم فمن ذا الذي ينصركم من بعدك

Jadi kekuatan umat islam, kekuatan para Nabi, para Rasul, para Sahabat, para Wali-wali Allah, bukanlah dengan materi. Bukanlah dengan harta, bukanlah dengan senjata. Bukanlah dengan tentara. Tetapi kekuatan mereka itu adalah kekuatan nushrotulloh.

Pertolongan Allah datang kepada mereka, di saat amal mereka betul-betul amalan yang dicintai oleh Allah.

Maka setiap amal, kita hadirkan dalam hati, rasa takut kepada Allah, cinta kepada Allah. Bagaimana caranya?! Kalau kita banyak bicara.

Pertama kali kita mulai banyak bicara. Mengenai keagungan Allah, mengenai kehebatan Allah, kekuasaan Allah. Jangan pernah bicara mengenai kekuatan-kekuatan makhluq. Makhluq itu nggak punya kekuatan. Kalau kelihatannya mereka kuat, itu karena dikuatkan oleh Allah. Kalau kelihatannya mereka ada, itu karena diadakan oleh Allah. Kalau kelihatannya mereka hidup, itu karena dihidupkan oleh Allah Swt. Sebetulnya mereka tidak punya apa-apa. Betul-betul nggak punya apa-apa. Yang punya apa-apa hanyalah Allah…

Insya Allah tuan tuan

Baca Juga:

One thought on “Bayan KH Uzairon

  1. assalamu,alaiqum kiyai sy minta izin untuk mengamalkannya semoga dengan ridho allah semua hutang2 dapat terlunasi dengan segera ( amin ) dan sy mau minta bimbingan dalam melakukan shalat hajat apakah 4 rakaat salam 2 rakaat salam mohon bimbingannya

    Suka

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s