Backpacker Ala Jamaah Kompor

jemaah tabligh

Kemungkinan anda bertanya-tanya, siapa itu jamaah kompor? Kenapa dinamakan jamaah kompor? Ya memang mereka adalah jamaah yang selalu berpetualang melakukan perjalanan sambil membawa-bawa kompor. Makanya mereka sering disebut jamaah kompor.

Nama jamaah ini bermacam-macam bukan saja jamaah kompor, kalau di sini di tempat saya atau di kota Medan, jamaah ini disebut jamaah jalan Gajah, karena markasnya di masjid yang berada di jalan Gajah Medan. Kalau di Aceh disebut jamaah Taklim. Di Jakarta disebut jamaah Kebon Jeruk atau JT (jamaah tabligh).. Sebenarnya jamaah ini bukan suatu organisasi yang punya nama resmi tapi mereka merupakan jamaah dakwah yang menjelajah pelosok negeri bahkan dunia untuk menyampaikan Kalam Illahi. Jamaah ini pertama kali digagas di negeri India oleh seorang Syaih yang bernama Muhammad Ilyas. Sampai sekarang markas dakwah mereka ada di masjid Banglawali yang terletak di kawasan Nizamuddin di kota New Delhi India.

jemaah tabligh

Saya sering berpetualang pastinya dengan cara backpacker bersama Jamaah ini, menjelajahi daerah-daerah, berpindah-pindah antara masjid yang satu ke masjid yang lain. Bahkan saya pernah mengunjungi markaz dakwah di masjid Banglawali di new Delhi india, hanya dengan modal backpacker dan dana seadanya.

Tak ketinggalan peralatan memasak seperti kompor,kuali, penanak nasi selalu dibawa-bawa (makanya disebut jamaah kompor). Untuk peralatan pribadi adalah ransel yang berisi beberapa potong pakaian, peralatan mandi, bahkan ada juga yang membawa sleepingbag dan kelambu lipat.

Dengan membawa peralatan memasak sendiri sangat menghemat dalam pengeluaran untuk makan, kadang satu hari 3x makan hanya 10 ribu rupiah dikumpul dari tiap orang untuk dibelanjakan bahan mentah untuk dimasak sendiri oleh petugas yang dipilih secara bergilir.

Apa saja yang dimasak oleh teman yang mendapat giliran masak rasanya nikmat, apalagi dimakan ramai-ramai (berjamaah) dalam satu nampan yang terdiri dari 4 – 5 orang dalam satu nampan. Menambah keakraban dan sangat berkesan sekali.

Banyak suka duka yang dirasakan. Karena petualang yang dilakukan tidak semata-mata untuk tujuan jalan-jalan. Tujuan yang utama adalah dakwah. Jalan-jalan adalah tujuan yang kesekian. Tapi memang telah diriwayatkan dalam suatu hadist Rasulullah SAW yang bersabda:

Dari Ubadah bin Ash-Shamit ra., bahwasanya seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk mengembara.”
Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya pengembaraan (Wisata) umatku adalah jihad fi sabilillah ‘azza wa jalla.”
(HR. Abu Dawud)

Sehingga selain tujuan utama yaitu dakwah yang juga termasuk dalam jihad fi sabilillah tercapai maka petualangan atau pengembaraan yang merupakan wisata bagi umat Rasulullah.

Suka duka banyak saya alami bersama jamaah ini, sering satu waktu diusir dari masjid, karena pengurus masjid tak mengizinkan kami menginap dan membuat program di masjidnya. Bahkan pernah dicaci maki dan dituduh teroris. Namun semangat berpetualang bersama jamaah ini tak kan goyah. Malah itu merupakan pengalaman yang berharga yang tak akan pernah kita dapatkan jika kita berpetualang hanya jalan-jalan biasa.

Backpaker ala jamaah kompor ini sungguh unik dan sangat berkesan pada diri saya. Misalnya jika kita pertama kali ikut rombongan ini 3 hari saja keluar kota. Maka kita akan diajak blusukan ke gang-gang dan lorong-lorong sempit menjumpai saudara-saudara kita yang tinggal di daerah itu untuk bersilaturahmi dan berkenalan seraya mengajak juga hadir di masjid untuk sholat berjamaah dan mengikuti pengajian yang dilakukan oleh para jamaah.

Dari perjalanan itu, maka diperoleh pengalaman yang sungguh berkesan. Setelah kembali ke rumah ada perasaan cinta kepada masjid dan tak ingin melewatkah sholat berjamaah satu waktupun di masjid.

Perjalanan backpacker ke Malaysia, Bangladesh dan india bersama jamaah adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Waktu itu tahun 2007, saya bisa mendapat cuti dari kantor selama 2 bulan. Saya tidak bisa membayangkan hanya dengan uang 8 juta rupiah saya bisa berada di ketiga negara itu dan menjelajahinya. Bahkan pulangnya bisa membawa oleh-oleh untuk anak-anak dan istri. Banyak hal-hal tak terduga yang terjadi, saat di bandara pemeriksaan untuk kami tidak terlalu ketat bahkan sudah ada petugas penjemput yang ditugasi dari markaz tempat tujuan kami. Makan dan tidur selama di markaz gratis. Kadang jamaah di masjid setiap wilayah yang dikunjungi memberikan pelayanan yang membuat saya sampai menangis terharu. Mereka melayani kami seperti kami ini adalah saudara-saudara sendiri yang lama tak bertemu.

Memang untuk langsung mendatangi tempat-tempat khusus atau tempat hiburan di negeri yang dituju tidak sebebas kalau kita backpaker secara pribadi. Walau demikian pengalaman backpaker ala jamaah kompor ini sangat memberi kesan yang mendalam dan banyak memberi keuntungan pada diri saya. Selain murah karena tak perlu menyewa hotel (karena istirahat dan iktikaf di masjid). Kadang makan gratis dijamu oleh tuan rumah (jamaah masjid yang kita datangi).

Ayo, siapa yang mau ikutan backpacker dengan jamaah kompor? Silakan mendaftar di markaz dakwah di kota anda masing-masing.

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/05/13/backpacker-ala-jamaah-kompor-555410.html

Bepergian untuk Berdakwah (Khuruuj) oleh Jamaa’ah Tabligh
Memperhatikan permintaan fatwa No. 1201 tahun 2005, yang berisi:
Apa hukum khuruj yang dilakukan kelompok Jama’ah Tabligh? Apakah perbuatan itu termasuk bid’ah?
Inilah kurang lebih jawaban Mufti Agung Prof. Dr. ‘Aliy Jumu’ah di Dar Al-Iftaa | دار الإفتاء المصرية

Khuruuj yang dilakukan oleh Jamaa’ah Tabliigh adalah perbuatan yang boleh dilakukan bagi orang yang mampu untuk berdakwah dengan sikap lembut, penuh hikmah dan mampu memberi nasehat dengan baik serta bersikap ramah dan sopan kepada orang-orang. Selain itu, orang tersebut juga harus mengetahui dengan baik apa yang dia sampaikan kepada orang-orang, tidak menerlantarkan keluargannya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Adapun penetapan masa khuruuj selama 4 hari, 40 hari dan lain sebagainya, hanyalah merupakan masalah teknis murni bukan bid’ah.

https://dzikir20.wordpress.com/2014/08/16/hukum-menerima-menolak-jamaah-tabligh-di-masjid-masjid/

Wallahu subhaanahu wa ta’aalaa a’lam.

Fadhilah Amal Hijau (Kebon Jeruk)
Jual Kitab Fadhilah Amal

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s