Kunci Kebahagiaan Hakiki

kebahagiaanAllah swt berfirman, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah dan sujudlah dan beribadahlah kepada Tuhan kamu dan berbuat baiklah agar kamu mendapat kebahagiaan” (QS. As-Sajdah : 77)

Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang tanpa sela-sela kesusahan, kaya tanpa miskin, sehat tanpa sakit dan mulia tanpa hina. Kebahagiaan seperti ini hanya bisa didapatkan oleh ahli surga, ini merupakan dambaan setiap hamba Allah, dan dambaan yang seperti ini memang seharusnya ada pada setiap hamba.

Syarat-syarat untuk mendapatkan kebahagiaan itu adalah Ruku’ dan Sujud, ibadah dan melakukan kebaikan.

Ruku’ dan sujud makna umumnya adalah tunduk dan patuh kepada yang Maha Kuasa. Makna khususnya adalah ruku’ dan sujud di dalam shalat yaitu membungkukkan badan.

Sedangkan sujud adalah meletakkan dahi ke tanah dengan cara-cara dan bacaan tertentu. Gerakan ini adalah merupakan lambang dari tunduk dan patuh.

Sujud menurut syari’at telah ditetapkan waktu dan caranya, yaitu sujud tilawah, sujud syukur, sujud sahwi dan sujud dalam shalat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ruku’ dan sujud dalam ayat ini adalah shalat fardhu, karena ruku’ dan sujud itu bagian dari shalat, disebutnya secara khusus bukan berarti mengkhususkan, hanya karena gerakan inilah yang paling menonjol dalam pelaksanaan shalat.

Adapun kata wa’budu (ibadah kepada Tuhan) dalam ayat ini adalah ibadah selain shalat, seperti shaum, zakat dan ibadah haji.

Ruku’ dan sujud (shalat) disebut secara terpisah menunjukkan bahwa shalat diantara ibadah yang paling utama dan menjadi tolok ukur bagi amal yang lainnya.

Syarat yang ketiga adalah melakukan khair (kebaikan).

Kebaikan itu ada yang nisbi (semu) dan ada yang mutlak (hakiki)

Kebaikan yang nisbi yaitu kebaikan yang berdasarkan perasaan manusia, pikiran dan tradisi. Kebaikan yang seperti ini tidak tetap dan tidak merata. Mungkin hari ini dianggap baik, mungkin besok tidak. Sekarang dianggap baik tapi tidak di masa yang akan datang, karena perasaan dan pikiran manusia berubah-ubah. Begitu pula tradisi. Oleh karena itu kebaikan seperti ini tidak bisa dijadikan landasan berpijak.

Aturan atau undang-undang yang berpijak atas dasar dan tujuan yang relatif akan berubah bila nilai-nilai kebaikannya berubah.

Perintah Allah untuk melakukan kebaikan tentunya bukan kebaikan yang nisbi, tetapi kebaikan yang mutlak, yaitu kebaikan atas dasar nilai-nilai ilahi.

Kebaikan ilahi (kebaikan yang mutlak) baik qalbiyyah, lisaniyyah maupun badaniyyah yang terkurung dengan hukum-hukum ilahi tidak akan berubah karena berubahnya perasaan, pikiran dan tradisi manusia, dan tidak akan terpengaruh oleh perubahan zaman atau perubahan nilai-nilai urfi (adat).

Para nabi telah di utus oleh Allah swt sebagai pemimpin umat yang menyuruh umatnya melakukan kebaikan, sekaligus menjadi pelopor dan uswah dalam melakukan kebaikan yang hakiki.

Allah swt berfirman, yang artinya: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu beribadah”(QS. Al-Anbiya : 73)

Kebaikan seperti inilah yang akan melahirkan kebahagiaan yang hakiki, yang harus dicari dan didapatkan oleh para pendamba kebahagiaan hakiki.
Dengan ayat ini terasa adanya kasih sayang Allah swt, khususnya kepada orang-orang yang beriman, Ia tunjukkan jalan untuk mencapai kebahagiaan itu.

Itulah sebabnya betapa besar nilai kebaikan bagi hamba yang selalu mengumandangkan adzan, ajakan untuk ruku’ dan sujud, yang diseru untuk berlomba-lomba mencapai kebahagiaan, ia ingatkan manusia lain yang mungkin ada yang terlena dengan kesenangan duniawinya untuk khusyu’, atau mungkin terpaling perhatiannya karena kesibukan urusannya, bahwa waktunya ruku’ dan sujud telah tiba.

Para pendamba kebahagiaan itu menyambutnya dengan pernyataan, “Ya Allah pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, limpahkanlah kepada Muhammad derajat yang tinggi dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji yang Engkau janjikan.”

Wallahu A’lam

 

Baca Juga

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s