Apabila umatku sudah mengagungkan dunia

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda,


Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut dari mereka kehebatan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka mereka akan terhalang dari keberkahan wahyu. Dan apabila umatku saling menghina , maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah.


(Hakim, Tirmidzi – Durrul Mantsur).
Apabila umatku sudah mengagungkan dunia

Banyak orang yang berusaha agar umat Islam dan Islam menjadi jaya, tetapi usaha-usaha mereka ternyata menuju kegagalan. Jika kita meyakini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan ajarannya benar, mengapa semua yang beliau ajarkan dan jelaskan sebagai penyebab penyakit justru kita anggap, bahkan kita dijadikan sebagai obat penyembuh?

Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda,

“Tidak sempurna iman seseorang di antaramu sehingga hawa nafsumu disandarkan pada agama yang aku bawa.”

Sayangnya, kita malah menganggap ajaran agama sebagai penghalang kemajuan kita.

Allah berfirman:
“Barangsiapa menginginkan keuntungan akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barangsiapa menginginkan keuntungan dunia, maka Kami berikan kepadanya keuntungan dunia. Dan tidak ada bagian baginya di akhirat.” (Q.s. Asy-Syuraa: 20).

Sebuah hadits menyatakan, “Seorang muslim yang menumpukan hasratnya kepada akhirat, maka Allah akan memasukkan rasa kaya ke dalam hatinya, dunia menjadi hina baginya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya. Barangsiapa menginginkan dunia; ia akan diliputi kesusahan dan bencana, tetapi ia tidak akan menerima melebihi apa yang seharusnya ia terima.” Kemudian setelah membaca ayat di atas, Nabi saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai manusia, luangkanlah dirimu untuk menyembah-Ku. Sembahlah Aku, niscaya akan Aku lapangkan dadamu dari kekhawatiran, dan Aku hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak, niscaya akan Aku penuhi hatimu dengan kegelisahan dan Aku tidak akan menghilangkan kemiskinanmu.”

Demikianlah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Namun sangat disayangkan, kita menganggap bahwa keterbelakangan kita adalah karena jalan yang kita tempuh untuk maju dirintangi oleh para ulama. Tidakkah kita memikirkannya? Marilah kita perhatikan, seandainya para ulama itu orang yang loba dunia, tentu kemajuan kita pun akan menguntungkan mereka, sebab kita menyangka bahwa rezeki mereka berasal dari kita. Berarti, semakin luas dan terbuka keduniaan kita, maka semakin banyak yang mereka dapatkan. Nah, bila demikian keadaannya, dan mereka masih menentang kita, tentu ada sebab lain yang memaksa mereka, sehingga mereka mengorbankan keuntungan mereka sendiri, memisahkan diri dari pendidik dan penyantun seperti kita, serta merusak dunia mereka sendiri. Bimbingan kepada kita akan menjadi rusak dan keduniaan kita pun akan rusak.

Saudara-saudaraku, pikirkanlah jika para ulama atau ustadz itu mengajar kita berdasarkan Al-Quran, apakah pantas kita menolaknya? Andaikan kita menolaknya, kita hanya akan dikatakan sebagai orang yang tidak berakal, bahkan kita telah jauh dari sifat keislaman yang sebenarnya. Para ulama ini, selemah apa pun mereka, selama mereka menyampaikan hukum-hukum Allah dan hadits-hadits Rasulullah saw., maka kita harus mendengarkan dan mengamalkan nasihat-nasihat mereka. Jika tidak, kita sendiri yang akan menanggung akibatnya. Sebodoh-bodoh orang, ia tidak akan mengatakan bahwa perintah seorang pimpinan tidak penting untuk ditaati hanya karena perintah itu disampaikan oleh tukang pembersih toilet. Hendaknya kita tidak berburuk sangka bahwa ulama yang mengabdikan dirinya dalam dakwah itu bertujuan untuk mencari keuntungan dunia. Dalam pikiran kita, seorang ustadz yang sesungguhnya mungkin saja pernah meminta untuk dirinya. Bahkan semakin sibuk ia beribadah, sejauh itu pula ia merasa cukup menerima hadiah. Kecuali jika ia meminta bantuan untuk urusan agama, Insya Allah, pahalanya lebih besar daripada tidak meminta untuk diri sendiri.

Suatu hal yang patut disayangkan adalah, kebanyakan ayat-ayat Al-Quran dipahami secara keliru. Secara umum orang berpendapat bahwa dalam Islam tidak ada ajaran kerahiban (menghindari dunia memikirkan akhirat semata). Dalam Islam, agama dan dunia diletakkan secara sama.

Buktinya, Allah Ta’ala berfirman:
“Ya Rabb kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.s. Al-Baqarah: 201).

Mereka pun sangat menekankan ayat ini. Seolah-olah dari seluruh ayat Al-Quran, hanya satu ayat inilah yang turun untuk diamalkan. Padahal tidak demikian halnya. Pertama, untuk memahami tafsir ayat tersebut harus diambil dari Arraasikhuuna fil ilmi (orang-orang yang dalam ilmunya). Oleh sebab itulah alim ulama berpendapat bahwa mengaku sebagai ahli Al-Quran dengan hanya mempelajari terjemahan Al-Quran merupakan suatu kejahilan. Dan mengenai ayat di atas, para sahabat dan ulama tabi’in telah mengungkapkan penafsiran yang sebenarnya.

Qatadah r.a. berkata, “Makna kebaikan di dunia adalah keselamatan dan keperluan hidup yang cukup.” Ali r.a. berkata, “Kebaikan di dunia bermakna seorang istri yang shalihah.”

Hasan Basri rah.a. berkata, “Kebaikan di dunia bermakna ilmu Islam dan ibadah.”

Suddi rah.a. berkata, “Kebaikan di dunia bermakna harta yang halal.”

Ibnu Umar r.a. berkata, “Kebaikan di dunia bermakna anak-anak yang berbakti kepada orangtua dan keindahan tubuh.”

Ja’far r.a. berkata, “Kebaikan di dunia bermakna badan yang sehat, rezeki yang cukup, pengetahuan Al-Quran, kemenangan terhadap musuh Islam, dan bergaul dengan para shalihin.”

Kedua, seandainya yang dimaksud dalam ayat ini adalah kemajuan dunia dalam segala bidang (sebagaimana hati saya pun menginginkannya), itu pun hanya disebutkan doanya kepada Allah, tidak disebutkan bahwa cara mendapatkannya adalah dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan dunia, sehingga berdoa memperbaiki tali sandal yang putus juga merupakan agama. Ketiga, siapakah yang melarang untuk mendapatkan dunia? Baik, dapatkanlah dunia, dengan senang hati dapatkanlah! Kita semua sama sekali tidak menghendaki untuk meninggalkan dunia yang memang dijarah dan dicari. Yang kita maksud, sebanyak apa pun usaha dunia kita, jangan sampai berlebihan, paling tidak berkadar sama dengan usaha agama. Sebab, sebagaimana pendapat kalian, agama dan dunia sama-sama diajarkan.

Dan lebih jauh lagi saya ingin mengingatkan, bukankah ayat di atas juga merupakan bagian dari Al-Quran yang sama, yang menyebutkan ayat-ayat berikut ini?

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (dunia), maka akan Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam yang akan dimasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh dan ia seorang mukmin, maka mereka itulah yang usahanya disyukuri.” (Q.s. Al- Israa: 18-19).

“Itulah kesenangan di dunia, dan di sisi Allah adalah sebaik-baik tempat kembali (surga).” (Q.s. Ali Imran: 14).

“Di antara kamu ada orang yang menginginkan keduniaan dan di antara kamu ada orang yang menginginkan akhirat.” (Q.s. Ali Imran: 152).

“Katakanlah (wahai Muhammad)! Keuntungan dunia ini sedikit, dan akhirat adalah lebih baik bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. An-Nisa: 77).

“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini melainkan permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak memahaminya?” (Q.s. Al-An’aam: 32).

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.” (Q.s. Al- An’aam: 70).

“Kalian menginginkan harta dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat (untukmu).” (Q.s. Al-Anfal: 67).

“Apakah kamu lebih senang dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kesenangan hidup dunia (bila dibandingkan) dengan akhirat hanyalah sedikit.” (Q.s. At-Taubah: 38).

“Barangsiapa menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, akan Kami balas pekerjaan mereka di dunia dan mereka tidak dirugikan, itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat kecuali neraka dan hilanglah apa yang mereka usahakan (di dunia) dan sia-sialah apa yang mereka kerjakan.” (Q.s. Huud: 15-16).

“Dan mereka bersuka cita dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia jika (dibandingkan) dengan kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Q.s. Ar-Ra’d: 26).

“Maka atas mereka kemurkaan dari Allah, dan bagi mereka adzab yang besar. Yang demikian itu dikarenakan mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.” (Q.s. An-Nahl: 106-107).

Saya tidak menuliskan semua ayat yang membandingkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, cukup beberapa ayat sebagai contoh. Semuanya menunjukkan maksud bahwa siapa yang mementingkan kehidupan dunia daripada akhirat, maka ia akan merugi. Jika keduanya tidak dapat dicapai, hendaknya akhirat lebih dipentingkan dan ditunaikan keperluannya. Saya mengakui bahwa dunia itu memang perlu, tetapi tidaklah bijaksana jika kita duduk terus di dalam WC, walaupun kita memerlukan tempat itu. Jika kita memperhatikan hikmah Ilahi dengan seksama, akan kita temukan dalam syariat yang suci ini bahwa semuanya telah tercakup. Allah telah memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya mengenai semua perkara dengan jelas. Misalnya, Allah memerintahkan kita agar mengerjakan shalat fardhu pada waktu yang telah ditetapkan. Ini adalah isyarat agar kita dapat membagi waktu selama 24 jam, separuh malam dan siangnya khusus untuk ibadah, dan selebihnya untuk istrirahat dan untuk urusan keduniaan. Sebagaimana jalan pikiran Anda bahwa agama dan dunia harus sama-sama diperhatikan, maka hal itu menuntut pembagian waktu dalam sehari semalam; separuh untuk agama dan separuh untuk dunia. Jika kita menghabiskan lebih dari separuh waktu untuk keduniaan dan keperluan jasmani, berarti kita telah mengutamakan dunia.

Kesimpulannya, sesuai dengan pendapat Anda dan juga sesuai dengan keadilan; dalam sehari semalam selama 12 jam hendaknya kita gunakan khusus untuk agama, sehingga dunia dan akhirat dapat terpenuhi. Barulah betul bila kita katakan kita diperintah untuk mendapatkan dunia dan akhirat, dan Islam tidak mengajarkan kerahiban. Uraian ini sebenarnya bukan maksud dari bab ini, tetapi karena adanya kesalahpahaman, maka saya menuliskannya di dalam bab ini. Dalam bab ini, sebenarnya saya ingin menuliskan semua hadits Nabi saw. mengenai pentingnya dakwah dan tabligh, tetapi tujuh hadits di atas kiranya telah mencukupi bagi mereka yang beriman. Adapun bagi mereka yang tidak beriman, firman Allah swt. di bawah ini lebih dari cukup.

“Dan orang-orang yang zhalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Q.s. Asy- Syu’araa: 227).

Pada akhir bab ini, ada satu masalah penting yang mesti diperhatikan oleh para pembaca. Beberapa hadits menyebutkan bahwa suatu saat nanti akan tiba zaman fitnah, kebakhilan akan ditaati, setiap orang akan menuruti hawa nafsunya, dunia akan lebih diutamakan melebihi agama, setiap orang akan mengikuti keinginannya sendiri dan tidak mau mendengarkan nasihat orang lain. Dan apabila zaman fitnah itu datang, kita dianjurkan oleh Rasulullah saw. agar pergi mengasingkan diri ke suatu tempat dan menyibukkan diri untuk beribadah tanpa harus berdakwah. Namun, para ulama berkata bahwa zaman fitnah itu belum tiba. Pada zaman ini, apa yang dapat kita lakukan adalah jangan sampai kita melihat sendiri datangnya zaman tersebut. Pada saat itu, perbaikan dalam bentuk apa pun tidak mungkin dilakukan. Kita harus menjauhi segala keburukan yang telah disebutkan tadi, karena semua itu merupakan pintu fitnah. Dan setelah itu, hanya fitnah dan fitnahlah yang ada. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. memasukkan hal-hal di atas sebagai pembinasa.

Ya Allah, peliharalah kami dari fitnah yang nyata dan yang tersembunyi.

(Syaikhul Hadits Maulana Zakariya Al Kandahlawi, rah.a)

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s