Bila menemui kesulitan Rasulullah segera mengerjakan Sholat

HADITS KE-5 Fadhilah Sholat

Dari Hudzaifah radhiallahu anhu., ia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menemui suatu kesulitan, maka beliau segera mengerjakan shalat.” (Ahmad, Abu Dawud – Durrul Mantsur).

sabar-dan-shalat-sbg-penolong

Shalat adalah rahmat Allah yang besar. Mencari pertolongan dengan shalat ketika menghadapi kesulitan berarti menuju rahmat Allah. Dan jika rahmat Allah datang, tidak akan ada lagi kesulitan. Banyak riwayat yang menyebutkan mengenai hal ini. Para sahabat yang selalu mengikuti langkah Nabi saw. juga sering melakukannya. Abu Darda r.a. berkata, “Jika terjadi angin topan, Rasulullah saw. akan segera masuk ke masjid dan tidak akan keluar dari masjid jika angin belum reda.” Demikian juga ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, Rasulullah saw. akan segera mengerjakan shalat. Shuhaib r.a. telah diberitahu oleh Rasulullah saw. bahwa para Anbiya a.s., jika mendapatkan suatu masalah, mereka juga akan segera melaksanakan shalat.

Pada suatu hari, ketika Ibnu Abbas r.a. sedang dalam perjalanan, ia mendapat kabar bahwa anaknya telah meninggal dunia. Ia segera turun dari untanya, kemudian shalat dua rakaat dan membaca “Innalillahi wa inna ‘ilahi roji’un”

Lalu berkata, “Aku telah melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah di dalam Al-Quran:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’” (Al-Baqarah: 45)

Terdapat kisah lain mengenai Ibnu Abbas r.a.. Ketika ia sedang dalam perjalanan, ia mendapatkan berita kematian saudaranya yang bernama Qutsam. Maka ia segera turun dari untanya dan mengerjakan shalat dua rakaat di pinggir jalan. Ia berdoa cukup lama di dalam tasyahudnya. Kemudian ia berdiri untuk melanjutkan perjalanannya seraya membaca ayat Al-Quran diatas.

Juga disebutkan sebuah kisah lain mengenai Ibnu Abbas r.a., yaitu ketika ia mendengar berita wafatnya salah seorang Azwaajun Muthahharah (istri-istri Rasulullah saw.), ia segera bersujud. Ketika seseorang menanyakan perbuatannya, ia menjawab, “Beginilah yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. jika kita mendapat musibah. Hendaklah kita sibuk dengan shalat, dan tidak ada musibah yang lebih besar selain wafatnya Ummul-Mukminin.” (Abu Dawud).

Ketika Ubadah r.a. hampir wafat, ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Janganlah kalian menangisiku. Jika ruhku keluar, kuminta agar kalian berwudhu dengan sempurna dan pergi ke masjid. Shalatlah dan beristighfarlah untukku, karena Allah menyuruh kita agar selalu memohon pertolongan dengan sabar dan shalat, kemudian baringkanlah aku di dalam liang kubur.”

Suami Ummi Kultsum r.a.; yaitu Abdurrahman r.a. telah ditimpa sakit parah. Demikian parah sakitnya sehingga semua orang menyangka ia telah wafat. Melihat hal itu, Ummi Kultsum r.a. segera mendirikan shalat. Selesai shalat, Abdurrahman siuman. Ia bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah aku tadi seperti orang mati?” Dijawab, “Ya!” Ia berkata, “Dua malaikat telah mendatangiku dan berkata, ‘Pergilah menghadap Ahkamul-Hakimin, Dialah Yang memutuskan perkaramu.” Kedua malaikat itu membawaku pergi. Lalu malaikat yang ketiga menghampiri dan berkata kepada kedua malaikat tadi, “Kamu berdua pergilah! Dia termasuk golongan orang-orang yang berbahagia dan beruntung yang tertulis sejak ia berada di dalam kandungan ibunya. Dan sekarang anak-anaknya masih mendapatkan manfaat darinya.” Setelah kejadian itu, Abdurrahman r.a. masih hidup selama kurang lebih satu bulan, lalu ia meninggal dunia.” (Durrul-Mantsur).

Nadhar r.a. bercerita, “Suatu ketika pernah terjadi siang menjadi gelap gulita. Aku pun berlari menemui sahabat Anas dan bertanya kepadanya, “Apakah engkau pernah mengalami hal seperti ini pada masa hidup Rasulullah saw.?” Jawabnya, “Semoga Allah melindungi! Pada zaman Rasulullah saw. pernah terjadi angin bertiup sangat kencang. Kami segera berlari ke masjid, takut jika terjadi hari Kiamat.” (Abu Dawud).

Abdullah bin Salam r.a. berkata, “Apabila keluarga Nabi saw. ditimpa suatu kesulitan, maka beliau akan menyuruh keluarganya mendirikan shalat seraya membaca ayat Al-Quran

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Thaahaa: 132).

Sebuah hadits menyebutkan, “Barangsiapa menghadapi suatu keperluan dunia atau agama, atau mengenai hubungan dengan Allah atau hamba-Nya, hendaklah ia berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua rakaat, memuji Allah, dan bershalawat ke atas Rasulullah saw., lalu berdoa:

Tulisan arab silahkan buka kitab taklim Fadhilah Amal Maulana Zakariya Hadits ke 5 Fadhilah Sholat

artinya
Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah Rabb Yang Memelihara Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang menyampaikan kepada rahmat-Mu dan ampunan-Mu, keuntungan dari segala kebajikan, serta keselamatan dari segala dosa. Jangan Engkau biarkan bagiku suatu dosa tanpa Engkau mengampuninya, suatu kesempatan tanpa Engkau melapangkannya, dan suatu hajat yang Engkau ridhoi tanpa Engkau memenuhinya. Terimalah wahai Yang Maha Rahiim.” Insya Allah doanya akan terkabul.

Wahab bin Munabbih rah.a. berkata, “Dianjurkan untuk meminta keperluan kepada Allah melalui shalat. Orang-orang terdahulu, jika sesuatu menimpa mereka, mereka akan mengerjakan shalat. Siapa saja di antara mereka yang tertimpa masalah akan segera mengerjakan shalat. Ia bercerita, “Di Kuffah ada seorang kuli barang yang terkenal. Orang-orang selalu mempercayainya. Karena sifatnya yang jujur dan terpercaya, para pedagang banyak menitipkan barang atau uang kepadanya. Ketika ia sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya, “Engkau mau kemana?” Jawab kuli itu, “Aku akan ke kota fulan.” Sahut laki-laki itu, “Aku juga akan ke sana. Aku dapat berjalan kaki bersamamu, atau bagaimana jika aku menumpang baghalmu dengan bayaran sedinar?” Kuli itu pun setuju. Ketika tiba di suatu persimpangan jalan, penumpang tadi berkata, “Jalan manakah yang akan engkau lalui?” Jawab kuli, “Jalan besar yang umum ini!” Sahut penumpang tadi, “Jalan yang satu ini lebih dekat dan lebih mudah bagi makanan binatang karena banyak rumput di sana.” Jawab kuli, “Aku belum pernah melihat jalan ini.” Kata penumpang, “Aku sering melewatinya.” “Baiklah jika begitu,” jawab kuli.

Mereka pun melalui jalan itu. Beberapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah hutan seram yang banyak berserakan bangkai manusia. Tiba-tiba penumpang tadi melompat dari baghal yang dinaikinya dan langsung mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dengan niat membunuh kuli tadi. “Jangan!” teriak kuli. “Ambillah baghal beserta semua barangnya, tetapi jangan bunuh aku!” Penumpang itu tidak mempedulikan tawaran tersebut, bahkan ia bersumpah akan membunuh kuli tersebut untuk kemudian mengambil semua barangnya. Kuli merasa cemas, namun si penumpang tidak mempedulikan sama sekali. Akhirnya kuli berkata, “Baiklah, izinkan aku shalat dua rakaat untuk terakhir kalinya.” Sambil tertawa, penumpang itu mengabulkan keinginan kuli dan berkata, “Silakan, cepatlah shalat! Mereka yang mati ini pun telah meminta hal yang sama sebelum mati, tetapi shalat mereka ternyata tidak menolong mereka sedikit pun.”

Segera kuli itu shalat, tetapi setelah membaca Al-Fatihah, tidak ada satu surat pun yang dapat diingatnya. Sedang orang zhalim itu menunggu sambil terus berteriak, “Cepat, selesaikan shalatmu!” Tanpa sengaja, terbaca oleh lidah si kuli ayat yang berbunyi:

“Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan bila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesulitan.” (Q.s. An-Naml: 62).

Kuli tersebut membacanya sambil menangis. Tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda bertopi gemerlapan dari besi. Ia datang dan menikam orang zhalim tadi sehingga mati. Dan di tempat orang zhalim itu mati keluarlah nyala api. Kuli langsung bersujud syukur ke hadirat Allah swt.. Lalu ia lari ke penunggang kuda tadi dan bertanya, “Siapakah engkau dan bagaimanakah engkau datang?” Jawabnya, “Aku adalah hamba dari ayat yang engkau baca tadi. Sekarang engkau aman dan dapat pergi ke mana pun sesukamu.” Setelah berkata demikian, orang itu pun menghilang.” (Nazhatul-Majalis).

Pada hakikatnya, shalat adalah kekayaan yang sangat besar. Selain akan mendatangkan keridhaan Allah, shalat juga akan menyelamatkan dari bencana dunia dan menenangkan hati. Ibnu Sirrin rah.a. berkata, “Seandainya aku disuruh memilih antara surga dan dua rakaat shalat, maka aku akan memilih shalat, karena surga itu untuk kesenanganku, tetapi shalat untuk Allah swt..”

Rasulullah saw. bersabda, “Alangkah dicemburui seorang muslim yang ringan hidupnya; keluarga dan hartanya tidak menyibukkannya, banyak kesempatan untuk shalat, selalu menerima rezeki yang ada, sabar atas segala hal, beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya, hidup tanpa disanjung, matinya mudah, warisannya sedikit, dan tidak banyak orang yang menangisinya.” (Jami’ush-Shaghir). Beliau juga bersabda, “Perbanyaklah shalat sunah di rumahmu agar rumahmu dipenuhi kebaikan.”

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

HADITS ke 6 Kitab Fadhilah Amal
Maulana Zakaria al kandahlawi rah.a

Dari Abu Muslim At-Taghlabi r.a., ia berkata, “Aku menemui Abu Umamah r.a. ketika ia berada di masjid. Aku berkata kepadanya, “Hai Abu Umamah, sesung-guhnya seseorang bercerita kepadaku mengenai dirimu, bahwa engkau pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, membasuh kedua tangannya dan mukanya, dan mengusap kepalanya dan kedua telinganya, kemudian ia mengerjakan shalat fardhu, maka Allah mengampuni dosa-dosanya pada hari itu, dosa yang dilangkahkan oleh kedua kakinya, yang dipegang oleh kedua tangannya, yang didengar oleh kedua telinganya, yang dilihat oleh kedua matanya, dan kejahatan yang tersirat dalam hatinya.” Jawabnya, “Demi Allah, sesungguhnya aku mendengar berita itu dari Rasulullah saw. berkali-kali.” (Ahmad – At-Targhib).

Utsman, Abu Hurairah, Anas, Abdullah As-Sunabihi, Amr bin ‘Abasah radhiyallahu ‘anhum dan banyak lagi sahabat lainnya, juga telah meriwayatkan hadits seperti di atas. ParaAhlul-Kasyaf dapat merasakan dosa-dosa seseorang yang berguguran.

Terdapat kisah terkenal mengenai Imam ‘Adham (Abu Hanifah) rah.a. yang dapat mengetahui dosa apakah yang telah diampuni dari tetesan air wudhu seseorang.

Utsman r.a. meriwayatkan sabda Rasulullah saw., “Janganlah seseorang tertipu dengan berharap bahwa semua dosanya akan diampuni melalui shalat, lalu ia berani berbuat dosa, sebab jika Allah menerima shalat dan ibadah kita, itu semata-mata karena belas kasih-Nya. Jika tidak, kita mengetahui betul hakikat ibadah kita. Walaupun shalat menyebabkan dosa diampuni, hanya Allah Yang lebih mengetahui apakah dosa-dosa kita diampuni atau tidak.

Jika ada seseorang yang berbuat dosa lalu berkata, “Tuhanku Maha Pengampun,” sungguh itu sangat tidak berperasaan. Hal itu dimisalkan seperti seorang ayah yang berkata, “Jika anakku berbuat kesalahan, maka akan aku maafkan.” Lalu karena ucapan ayahnya itu, anak pun berbuat durhaka dengan sengaja.

niat amal dan sampaikan

HADITS ke 7 Kitab Fadhilah Amal
Maulana Zakariya al Kandahlawi rah.a

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata,

“Dua orang dari (kabilah) Baliy, suatu kabilah keturunan Qudha’ah telah masuk Islam di hadapan Rasulullah saw.. Salah seorang dari keduanya telah mati syahid dan yang seorang lagi mati setahun kemudian.” Thalhah bin Ubaidillah r.a. berkata, “Aku bermimpi bahwa orang yang mati terakhir itu dimasukkan ke surga lebih dahulu daripada yang mati syahid.” Aku merasa heran terhadap kejadian tersebut. Esok paginya aku sampaikan mimpiku kepada Nabi saw., (atau mimpi itu diceritakan oleh seseorang kepada Nabi saw.) Maka beliau bersabda, “Bukankah orang yang mati terakhir itu berpuasa penuh pada bulan Ramadhan dan shalat sebanyak enam ribu rakaat dan sekian rakaat shalat selama setahun?” (Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban – At-Targhib).

Penjelasan

Jika setiap bulan dalam setahun berjumlah 29 hari lalu dikalikan dengan shalat fardhu lima kali sehari, ditambah Witir, maka sudah berjumlah 6.960 rakaat. Dan seandainya setiap bulannya dihitung tiga puluh hari, lalu dikalikan dengan shalat fardhu lima kali, maka bertambah dua puluh dua puluh, ditambah shalat Rawatib, ditambah shalat Nawafil, maka tidak dapat kita bayangkan berapa banyak rakaatnya. Ibnu Majah r.a. juga meriwayatkan kisah di atas dengan rinci. Thalhah r.a., sebagai orang yang memimpikan hal ini, bercerita, “Ada dua orang dari suatu kabilah datang kepada Rasulullah saw. dan keduanya masuk Islam secara bersamaan. Sahabat yang satu adalah orang yang penuh semangat dan berani, sehingga dalam suatu peperangan ia telah syahid, dan yang satunya lagi meninggal dunia setahun kemudian. Dalam mimpi itu aku berdiri di depan pintu surga dan kedua orang itu juga ada di sana.

Seseorang datang dari surga dan mengizinkan sahabat yang meninggal dunia setahun kemudian untuk masuk surga, sedangkan sahabat yang mati syahid tetap di tempatnya. Tak lama kemudian, dari dalam surga datanglah seseorang dan mengizinkan sahabat yang syahid untuk masuk surga. Ia berkata kepadaku, “Engkau belum saatnya masuk surga, pulanglah!” Ketika bangun pada pagi harinya, kucerita-kan mimpiku itu kepada orang-orang. Semuanya sangat heran mengapa si syahid baru diizinkan masuk surga setelah orang yang meninggal dunia itu setahun kemudian, seharusnya yang mati syahid lebih dulu masuk surga. Akhirnya mereka menemui Nabi saw. dan menceritakan peristiwa ini. Beliau bersabda, “Mengapa kalian heran?” Jawab kami, “Ya Rasulullah, kami heran mengapa syahid yang bersemangat tinggi dalam perjuangan agama lebih akhir masuk surga daripada yang meninggal dunia setahun kemudian?” Jawab Nabi saw., “Bukankah ia memiliki kelebihan setahun beribadah daripada si syahid?” Jawab kami, “Benar!” Tanya Beliau, “Bukankah ia memiliki kelebihan satu bulan shaum Ramadhan daripada si syahid?” Jawab kami, “Benar.” Tanya Nabi saw., “Bukankah ia memiliki kelebihan sujud dalam shalat daripada si syahid?” Jawab kami, “Benar!” Sabda beliau, “Perbedaan kedua orang itu ibarat langit dan bumi.”

Riwayat lainnya sebagaimana riwayat di atas masih banyak dalam kitab-kitab hadits, seperti tertulis dalam Sunan Abu Dawud, bahwa perbedaan antara keduanya ketika masuk surga itu delapan hari. Ketika orang yang terakhir mati masuk surga, delapan hari kemudian baru si syahid masuk surga.

Sesungguhnya kita tidak dapat memahami betapa besar nilai shalat itu, kita mengetahui bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Shalat adalah penyejuk mataku.” Sabda Rasulullah saw. tersebut menunjukkan bahwa beliau sangat mencintai shalat. Berarti shalat bukanlah hal yang biasa. Dalam hadits lain diceritakan bahwa ada dua orang bersaudara. Kakaknya telah meninggal dunia lebih dahulu. Empat puluh hari kemudian, barulah adiknya meninggal dunia. Kakaknya lebih shalih daripada adiknya. Orang-orang pun memuji-muji kakaknya. Ketika Nabi saw. mendengar hal itu, beliau bersabda, “Apakah adiknya bukan seorang muslim?” Jawab orang-orang, “Dia seorang muslim, tetapi derajatnya lebih rendah daripada kakaknya.”

Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana kalian tahu? Dalam empat puluh hari itu, berapa banyak derajat adiknya telah ditinggikan karena shalat? Perumpamaan shalat lima waktu bagaikan anak sungai yang jernih dan dalam di depan rumah seseorang, dan ia mandi di anak sungai itu setiap hari lima kali. Maka apakah masih melekat kotoran di badannya?” Sabda beliau selanjutnya, “Apakah kalian mengetahui dalam empat puluh hari itu, sejauh manakah shalat telah meninggikan derajatnya?”

Niat amal dan sampaikan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Fadhilah Sholat HADITS ke 8 Kitab Fadhilah Amal
Maulana Zakariya al Kandahlawi rah.a

Dari Ibnu Mas’ud r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda,

“Setiap tiba waktu shalat, diutuslah seorang penyeru (malaikat), lalu ia berseru, “Wahai anak Adam, berdirilah dan padamkanlah api yang telah engkau nyalakan untuk membakar dirimu.” Orang-orang pun berdiri dan berwudhu kemudian mengerjakan shalat Zhuhur, maka Allah mengampuni dosa mereka di antara keduanya (Shubuh dan Zhuhur), begitu pula jika tiba waktu Ashar, Mahgrib, dan Isya. Sesudah Isya, orang-orang pun tidur. Ada sebagian orang yang menghabiskan malamnya dengan berbuat kebajikan dan ada yang menghabiskan malamnya dengan berbuat keburukan.” (Thabrani – At-Targhib).

Banyak kitab hadits yang telah meriwayatkan hadits yang semakna dengan hadits di atas. Sebagaimana penjelasan yang telah lalu, berkat kasih sayang Allah, dosa-dosa diampuni dengan shalat, karena di dalamnya terdapat istighfar. Oleh sebab itu, ampunan ini mencakup dosa kecil maupun besar. Semuanya akan diampuni dengan syarat hati benar-benar menyesali dosa tersebut. Allah berfirman,

“dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Q.s. Huud: 114).

Salman r.a., seorang sahabat yang masyhur berkata, “Setelah shalat Isya, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang merasa malam itu adalah malam yang nikmat, malam keberuntungan dan kegembiraan, yang dianggap sebagai ghanimah besar. Ketika orang-orang sedang nyenyak beristirahat, pada malam itu mereka sibuk shalat dan beribadah kepada Allah swt.. Malam itu akan menjadi malam yang penuh dengan pahala baginya. Kelompok kedua adalah, malam itu menjadi adzab dan bencana bagi mereka. Mereka merasa malam itu merupakan kesempatan berharga untuk berbuat dosa. Malam itu akan menjadi malam bencana bagi mereka. Dan kelompok ketiga adalah mereka yang setelah shalat Isya langsung tidur. Malam itu tidak menjadi keberuntungan ataupun bencana bagi mereka, mereka tidak memperoleh apa pun.”

niat amal dan sampaikan

Fadhilah Sholat HADITS ke 9

Dari Abu Qatadah bin Rib’iy r.a., Rasulullah saw. bersabda,

“Allah swt. berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah mewajibkan kepada umatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji dengan diri-Ku bahwa barangsiapa menjaga shalatnya tepat pada waktunya, pasti Aku masukkan ia ke dalam surga dengan jaminan-Ku. Dan barangsiapa tidak menjaga shalatnya, maka tidak ada jaminan baginya.” (Abu Dawud, Ibnu Majah – Durrul-Mantsur).

Dalam hadits lain dengan jelas diterangkan bahwa Allah swt. telah mewajibkan kepada kita shalat lima waktu dalam sehari semalam. Barangsiapa tidak berbuat kelalaian sedikit pun, berwudhu dengan sempurna, shalat pada waktunya, dan mendirikannya dengan khusyu’ dan khudhu’, maka Allah menjanjikan untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak melaksanakan hal ini, maka Allah tidak menjanjikan surga baginya. Mungkin ia akan diampuni atau akan diadzab.

Begitu besar keutamaan shalat sehingga dengan mempedulikannya, seseorang termasuk ke dalam janji dan jaminan Allah. Kita perhatikan, jika seorang hakim atau orang kaya menenangkan atau menanggung suatu tuntutan atau memberikan jaminan kepada seseorang, maka orang itu akan merasa senang dan tenang, dan segala perintah hakim itu akan dianggap berasal dari orang yang besar jasanya. Begitu pula halnya dengan shalat, ibadah yang sangat mudah dan tidak sulit; sedangkan yang menjaminnya adalah Raja para raja, Penguasa dua alam. Namun, jika kita tidak mempedulikan hal ini, kita sendirilah yang akan rugi sehingga akan menyebabkan kebinasaan kita.

niat amal dan sampaikan
shollu ala sayyidina muhammad..

Kitab Fadhilah Amal
Maulana Zakariya al Kandahlawi rah.a

Fadhilah Sholat – HADITS ke 10

Ibnu Salman r.a. meriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi saw. bercerita, “Ketika kami mendapat kemenangan dalam perang Khaibar, orang-orang mengeluarkan harta rampasan mereka masing-masing berupa berbagai barang dan tawanan. Kemudian di antara mereka mulai saling berjual-beli ghanimah. Lalu datanglah seorang laki-laki kepada Nabi saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya sangat beruntung pada hari ini, dan tidak ada seorang pun dari penduduk lembah ini yang beruntung seperti saya.” Sabda beliau,

“Berapakah keuntunganmu?” Jawabnya, “Saya berniaga hingga memperoleh untung tiga ratus uqiyah.” Sabda beliau, “Maukah aku beritahukan sebaik-baik orang yang beruntung?” Jawabnya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, “Dua rakaat (shalat sunah) sesudah shalat (fardhu).” (Abu Dawud).

Satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham, dan satu dirham sama dengan empat anah (1/4 rupee India), dengan demikian kurang lebih berjumlah tiga ribu rupee. Namun, apalah artinya keuntungan sebanyak itu jika dibandingkan dengan hakikat keuntungan yang akan dimiliki selamanya yang tidak akan pernah habis? Inilah yang telah dikatakan oleh Allah, Raja para raja. Andaikan kita memiliki hakikat iman, uang tiga ribu rupee tidak memiliki nilai sedikit pun dibandingkan dua rakaat shalat. Hidup ini benar-benar akan menjadi damai karena menganggap shalat sebagai suatu kekayaan. Oleh sebab itu, Nabi saw. menyatakan shalat sebagai, “Penyejuk mataku.” Dan wasiat terakhir yang beliau utamakan terhadap umat beliau adalah agar memperhatikan shalat. (Kanzul Ummal)

Banyak hadits yang meriwayatkan wasiat terakhir Nabi saw.. Salah satu di antaranya adalah hadits Ummu Salamah r.a., ia berkata, “Sabda terakhir Rasulullah saw. ketika beliau sangat sulit berbicara adalah menekankan agar memperhatikan shalat dan takut kepada Allah dalam menjaga hak-hak hamba sahaya.” Hadits seperti itu juga telah diriwayatkan oleh Ali r.a. bahwa ucapan terakhir Nabi saw. adalah penekanan terhadap shalat dan anjuran agar takut kepada Allah dalam masalah hamba sahaya. (Jami’ush-Shaghir).

Suatu ketika, Nabi saw. mengirim sepasukan jihad ke Nejd. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka kembali dengan membawa kemenangan serta harta rampasan yang sangat banyak. Orang-orang merasa heran, karena mereka sangat cepat kembali dengan membawa kemenangan dan harta rampasan yang sangat banyak. Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang mendapatkan harta yang lebih banyak daripada harta tersebut dan lebih cepat waktunya? Ia adalah orang yang shalat Shubuh dengan berjamaah. Setelah shalat, ia duduk di tempatnya hingga terbit matahari. (Ketika waktu makruh habis) ia shalat dua rakaat. Ia mendapat keuntungan lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat.”

Syaqiq Balkhi rah.a., seorang syaikh dan ahli sufi yang masyhur, berkata, “Kita akan mendapatkan lima hal melalui lima cara:

1. Keberkahan rezeki diperoleh melalui shalat Dhuha,

2. Cahaya kubur melalui Tahajud,

3. Mudah menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir melalui tilawat Al-Quran,

4. Mudah melewati shirat melalui shaum dan sedekah,

5. Mendapat perlindungan Arsy Ilahi pada hari Hisab melalui dzikrullah.” (Nazhatul-Majalis).

Banyak hadits yang menerangkan dan menegaskan tentang keberkahan dan keuntungan shalat. Namun terlalu banyak jika semuanya ditulis di sini. Untuk keberkahan akan saya tuliskan terjemahan haditsnya di bawah ini:

Banyak hadits yang menerangkan dan menegaskan tentang keberkahan dan keuntungan shalat. Namun terlalu banyak jika semuanya ditulis di sini. Untuk keberkahan akan saya tuliskan terjemahan haditsnya di bawah ini:

Rasulullah saw. bersabda,

1. Perintah pertama yang diwajibkan Allah terhadap umatku ialah shalat. Dan yang pertama kali akan dihisab pada hari Kiamat ialah shalat.

2. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat.

3. Pemisah antara seseorang dengan syirik adalah shalat.

4. Shalat adalah tanda Islam. Barangsiapa shalat dengan khusyu’, tepat pada waktunya, dan memperhatikan rukun serta sunah-sunahnya, pastilah ia seorang mukmin.

5. Di antara seluruh perintah Allah, iman dan shalat adalah kewajiban yang paling utama. Jika ada sesuatu yang lebih baik daripada itu, Allah akan memerintahkan para malaikat-Nya, yang sebagian di antara mereka pada siang dan pada malam hari ada yang senantiasa ruku’ dan sebagian yang lain ada yang terus bersujud.

6. Shalat adalah tiang agama.

7. Shalat menghitamkan wajah syaitan.

8. Shalat adalah nur bagi orang-orang yang beriman.

9. Shalat adalah jihad yang paling utama.

10. Selama seseorang memperhatikan shalatnya, Allah tidak akan mengabaikannya. Dan jika ia berpaling dari shalatnya, maka Allah akan mengalihkan perhatian-Nya.

11. Jika suatu musibah turun dari langit, maka orang yang memakmurkan masjid pasti selamat.

12. Jika seorang muslim dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosanya yang besar, maka api neraka tidak dapat membakar anggota tubuhnya yang telah bersujud ketika shalat.

13. Allah mengharamkan api neraka ke atas anggota-anggota sujud.

14. Amalan yang paling disukai oleh Allah adalah shalat pada waktunya.

15. Orang yang paling disukai Allah adalah orang-orang yang bersujud kepada-Nya dengan penuh perasaan hina.

16. Allah paling dekat dengan hamba-Nya ketika ia bersujud kepada-Nya.

17. Shalat adalah kunci surga.

18. Jika seseorang berdiri untuk shalat, pintu-pintu surga akan terbuka, dan Allah akan menyingkapkan hijab antara ia dengan Allah, selama ia tidak melakukan hal-hal yang dibenci dalam shalat.

19. Orang yang sedang shalat ibarat sedang mengetuk pintu rumah Allah. Dan sebagaimana umumnya, pintu yang diketuk akan dibuka.

20. Kedudukan shalat dalam agama seperti kedudukan kepala pada badan.

21. Shalat adalah nur hati. Barangsiapa ingin hatinya senantiasa bersinar, maka sinarilah dengan shalat.

22. Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua atau empat rakaat dengan khusyu’ dan khudhu’, baik fardhu atau sunah, dan ia ingin dosanya diampuni Allah, maka Allah akan mengampuninya.

23. Setiap bumi yang di atasnya didirikan shalat untuk mengingat Allah, maka tanah itu akan merasa bangga di antara tanah-tanah lainnya.

24. Barangsiapa shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah, Allah pasti akan mengabulkan doanya. Adakalanya dipercepat atau diperlambat, sesuai dengan kepentingannya. Yang jelas, doanya akan dikabulkan.

25. Barangsiapa shalat dua rakaat (sunah) sendirian, tanpa seorang pun yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya, maka api neraka tidak akan menyentuhnya.

26. Jika seorang muslim mendirikan shalat fardhu, maka Allah akan mengabulkan salah satu doanya.

27. Barangsiapa shalat lima waktu dengan khusyu’; ruku, sujud, wudhu, dan sebagainya dengan sempurna, maka wajib baginya surga dan haram baginya neraka.

28. Seorang muslim yang benar-benar menjaga shalat lima waktunya dengan istiqamah, maka syaitan akan takut kepadanya. Tetapi jika ia tidak mempedulikan shalat lima waktunya, maka syaitan akan berani kepadanya dan akan menyesatkannya.

29. Amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu.

30. Shalat adalah pengurbanan para muttaqin.

31. Amal yang paling disenangi oleh Allah ialah shalat pada awal waktu.

32. Barangsiapa pergi pada pagi hari untuk shalat, berarti ia sedang membawa bendera iman di tangannya. Dan barangsiapa pergi ke pasar pada pagi hari, berarti ia membawa bendera syaitan di tangannya.

33. Empat rakaat qabla Zhuhur menyamai pahala empat rakaat Tahajud.

34. Empat rakaat qabla Zhuhur sama dengan empat rakaat shalat Tahajud.

35. Rahmat Allah swt. bercucuran ke atas orang yang berdiri dalam shalat.

36. Sebaik-baik shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat malam, tetapi sangat sedikit orang yang mengerjakannya.

37. Jibril a.s. datang kepadaku dan berkata, “Ya Muhammad, berapa lama pun engkau hidup, engkau akan mati juga. Dan siapa saja yang engkau cintai, pada suatu hari engkau akan berpisah dengannya. Dan apa pun yang engkau kerjakan, sesungguhnya engkau akan menerima balasan atas perbuatanmu (baik atau jahat).” Tidak diragukan lagi bahwa kehormatan seorang mukmin ada pada Tahajudnya, dan kemuliaan orang mukmin ada pada istighna (tidak meminta-minta kepada orang lain).

38. Dua rakaat shalat malam lebih berharga daripada kekayaan di dunia ini. Jika tidak memberatkan umatku, akan kuwajibkan shalat Tahajud.

39. Jagalah shalat Tahajud, karena Tahajud adalah amalan para shalihin, dan penyebab untuk mendekati Allah, menghentikan perbuatan dosa, penyebab diampuninya kesalahan, dan menyehatkan badan.

40. Allah berfirman, “Hai anak Adam, janganlah kalian malas mengerjakan empat rakaat pada permulaan pagi, karena Aku akan mencukupimu pada hari itu.”

Banyak sekali hadits tentang keutamaan shalat yang telah disebutkan dalam kitab-kitab hadits. Empat puluh hadits di atas kiranya sudah mencukupi. Jika ada yang menghafal keempat puluh hadits ini, maka ia akan mendapat keutamaan menghafal empat puluh hadits Nabi saw.

Jelaslah bahwa shalat merupakan kekayaan yang sangat berharga. Kekayaan ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang telah dikaruniai kenikmatan dalam shalat. Demikian besar kenikmatan itu sehingga Nabi saw. bersabda, “Penyejuk mataku ada dalam shalat.” Kenikmatan shalat telah membuat beliau menghabiskan sebagian besar malamnya untuk shalat. Oleh sebab itu, pada akhir hayatnya beliau telah berwasiat secara khusus agar shalat benar-benar diperhatikan. Dan banyak riwayat mengenai sabda Nabi saw., “Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat.” Abdullah bin Mas’ud r.a. juga meriwayatkan sabda Nabi saw., “Dari sekian banyak amalan, shalatlah yang paling aku cintai.”

Seorang sahabat berkata, “Pada suatu malam, saya melewati masjid Nabawi. Saya lihat Rasulullah saw. sedang shalat sehingga timbul keinginan dalam hati saya untuk ikut shalat. Maka saya berdiri di belakang beliau. Ketika itu beliau sedang membaca surat Al-Baqarah. Saya pikir, mungkin beliau akan ruku’ pada ayat keseratus, tetapi ternyata tidak. Maka saya berpikir mungkin akan berhenti pada ayat kedua ratus, tetapi sampai di sini pun beliau tetap belum berhenti, sehingga saya berpikir mungkin beliau akan berhenti setelah selesai surat Al-Baqarah.

Ketika beliau telah menyelesaikan surat tersebut, beliau berkali-kali membaca, “Allahumma lakal hamdu.” Kemudian beliau melanjutkan membaca surat Ali Imran. Saya pikir barangkali beliau akan ruku’ setelah selesai membaca surat ini. Tetapi setelah selesai membaca surat ini, beliau membaca lagi Allahumma lakal- hamdu sebanyak tiga kali, dan meneruskan membaca surat Al-Maidah. Setelah menyelesaikan surat ini, barulah Nabi saw. ruku’ dan membaca Subhaana Rabbiyal-‘Azhiim dan bacaan lainnya yang tidak saya pahami. Lalu beliau sujud membaca Subhaana Rabbiyal A’laa, kemudian beliau membaca doa lain yang tidak saya pahami. Setelah itu beliau memulai rakaat kedua dengan membaca surat Al-An’am. Dan saya mulai malas mengikuti shalat beliau, sehingga saya terpaksa meninggalkan shalat beliau. Pada rakaat pertama saja beliau membaca lebih kurang lima juz, dan beliau membacanya dengan sangat tenang, dengan tajwid yang sempurna serta tartil, ayat demi ayat dibaca dengan jelas. Dapat dibayangkan betapa lama rakaatnya, sehingga karena shalatnya yang demikian itu, kaki beliau bengkak. Jika sesuatu telah benar-benar terasa kelezatannya, maka kesu-litan dan halangan apa pun tidak akan terasa

Abu Ishaq Subaihi rah.a., seorang muhaddits terkenal yang wafat pada usia seratus tahun berkata bahwa ia bersedih karena usianya yang sangat tua dan lemah, sehingga ia hanya dapat membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran dalam dua rakaat shalat, tidak dapat membacanya lebih banyak. (Tahdzibut-Tahzib). Padahal, dua surat ini telah mencakup seperdelapan Al-Quran

Muhammad bin Samak rah.a. berkata, “Di Kuffah, saya memiliki seorang tetangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang selalu berpuasa pada siang hari dan shalat pada malam harinya. Anak itu menjadi kurus kering seperti tinggal tulang dan kulit saja. Ia tinggal di Syuqiyah Asy’ar. Ayahnya berkata kepada saya, “Cobalah engkau nasihati anak itu.” Suatu ketika, saya sedang duduk di depan rumah saya, lalu lewatlah anak itu. Saya pun memanggilnya. Setelah memberi salam, ia duduk di sisi saya. Sebelum saya berbicara, ia mendahului berkata, “Paman mungkin akan menasihati saya supaya mengurangi mujahadah saya. Namun dengarkanlah terlebih dahulu tentang diri saya. Saya memiliki beberapa teman di daerah ini. Kami sepakat untuk berlomba-lomba meningkatkan ibadah kepada Allah, dan mereka telah bersungguh-sungguh sehingga mereka telah sampai pada pangilan Ilahi. Ketika mereka dipanggil, mereka kembali dengan penuh keceriaan. Sekarang mereka telah tiada, tinggal saya seorang diri. Setiap hari, dua kali ibadah saya akan terlihat di hadapan mereka. Apa kata mereka jika mereka menemukan kekurangan dalam amalan saya. Paman, mereka adalah para mujahid besar.” (Nuzhah)

Anak itu terus menceritakan kehebatan ibadah kawan-kawan mujahidnya sehingga mendengarnya saja kita akan merasa takjub. Lalu pergilah ia, dan tiga hari kemudian saya dengar anak itu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepadanya.

Bahkan pada zaman sekarang masih ada orang yang menghabiskan malamnya dengan shalat dan menghabiskan waktu siangnya dengan ta’lim dan tabligh. Syaikh Mujadid Alfa Tsani rah.a. — seorang ulama terkenal, tiada seorang pun di India yang tidak mengenal namanya — khalifah beliau, Maulana Abdul Wahid Lahori rah.a. berkata, “Benarkah di surga tidak ada shalat?” Jawab seseorang, “Ya Syaikh, bukankah surga itu tempat memperoleh balasan amal, bukan tempat beramal?” Sambil menangis dengan sedih ia berkata, “Alangkah kecewanya, bagaimana kita dapat menikmati surga tanpa shalat?”

Karena orang-orang seperti inilah dunia masih tegak. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar telah sampai pada hakikat kehidupan. Seperti itulah kehidupan yang diberkahi oleh Allah swt.. Dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya, dan dengan kemurahan-Nya yang luas, bukan sesuatu yang sulit untuk memasukkan hamba yang hina ini ke dalam golongan mereka. Aamiin.

Sebelum menutup bab ini, berikut ini akan dinukilkan sebuah kisah tentang kemurahan Allah. Hafizh Ibnu Hajar rah.a. menulis dalam Al-Munabihat bahwa Nabi saw. bersabda, “Ada tiga hal di dunia ini yang aku cintai: Wewangian, wanita, dan shalat sebagai pelipur mataku.” Pada saat itu ada beberapa orang sahabat yang duduk di dekat beliau. Abu Bakar r.a. berkata, “Benar, ya Rasulullah! Saya mencintai cintai tiga hal: Memandang wajahmu, mengorbankan harta saya atasmu, dan anak perempuan saya sebagai istri engkau.” Umar r.a. berkata, “Benar, dan tiga hal yang sangat saya cintai: Menegakkan yang hak, mencegah kemungkaran, dan mengenakan pakaian usang.” Utsman r.a. berkata, “Benar, Dan tiga hal yang sangat saya sukai: Memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang telanjang, dan tilawat Al-Quran.” Ali r.a. berkata, “Benar, dan saya sangat mencintai tiga hal: Melayani tamu, berpuasa pada hari yang sangat panas, dan memancung kepala musuh dengan pedang saya.” Lalu muncullah Jibril dan berkata kepada Rasulullah saw., “Allah mengutus saya agar menyampaikan kepada engkau apa yang saya cintai jika saya seorang manusia.” Sabda Beliau, “Katakanlah!” Sahut Jibril, “Saya mencintai tiga hal: Menunjukkan jalan kepada orang yang sesat, mencintai ahli ibadah yang miskin, dan membantu orang yang miskin. Dan Allah mencintai tiga hal pada hamba-Nya: Berkorban (harta atau diri) di jalan Allah, orang yang bertaubat menangisi dosa-dosanya, dan orang yang bersabar dengan kemiskinannya.

Dalam Zaadul-Ma’ad, ‘Shalat adalah kunci rezeki. Shalat menjaga kesehatan, mengusir penyakit, menguatkan hati, mencerahkan wajah, menyenangkan jiwa, menyegarkan badan, menjauhkan malas, melapangkan dada, makanan ruhani, mencerahkan hati, menjaga tetapnya nikmat Allah pada kita, pelindung dari adzab Allah, menjauhkan syaitan, dan mendekatkan diri kepada Ar-Rahman.” Singkatnya, shalat menjaga kesehatan jasmani dan ruhani. Shalat berpengaruh luar biasa terhadap jasmani dan ruhani dan menjauhkan kita dari kebinasaan dunia maupun akhirat, yakni sangat bermanfaat di dunia dan di akhirat.

Niat amal dan sampaikan

Kitab Fadhilah Amal
Syaikhul hadits Maulana Zakariya al kandahlawi rah.a

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

4 thoughts on “Bila menemui kesulitan Rasulullah segera mengerjakan Sholat

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s