Anjuran Supaya Zuhud, Qanaah dan Tidak Meminta-minta. Hadits ke 1

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam  bersabda, “Barangsiapa yang tertimpa kelaparan, lalu ia meminta-minta kepada manusia, kelaparannya tidak akan hilang. Dan barangsiapa tertimpa kelaparan, lalu mengadukannya kepada Allah swt., maka Allah swt. akan memberikan kepadanya rezeki yang akan ia dapatkan dengan segera atau terlambat sedikit. ( Hadits Riwayat Tirmidzi )

Keterangan:

“Barangsiapa yang meminta-minta kepada manusia, kefakirannya tidak akan hilang.” Maksudnya adalah keperluannya tidak akan terpenuhi. Jika hari ini ia meminta-minta untuk suatu keperluan dan secara lahiriah keperluannya sudah terpenuhi, maka besok akan datang lagi suatu keperluan yang lebih penting dari keperluan sebelumnya. Dan keperluannya akan terus datang. Jika ia menengadahkan tangannya ke hadapan Allah swt., maka keperluannya ini akan terpenuhi, dan keperluan yang lain tidak akan datang. Seandainya datang, Allah swt. yang akan menyelesaikannya.

Di dalam keterangan hadits ke-8 Bab 1, Kabsyah r.a . berkata bahwa Rasulullah saw. menyebutkan beberapa perkara dengan bersumpah. Salah satu di antaranya adalah, “Barangsiapa yang membuka pintu meminta-minta kepada manusia, Allah swt. akan membukakan pintu kefakiran kepadanya. Juga terdapat hadits yang lain bahwa Rasulullah saw. bersabda dengan bersumpah seperti di atas yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf r.a.. Inilah sebabnya orang yang mengemis dari pintu ke pintu selalu dalam keadaan miskin dan sempit.

Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan, “Barangsiapa yang mengadukan kelaparannya dan keperluannya kepada Allah swt., Allah swt. akan menghilangkan kefakirannya dengan cepat, yaitu dengan kematian yang cepat atau datangnya kekayaan dengan cepat. Cepatnya kematian mempunyai dua pengertian. Yang pertama, jika waktuya telah dekat, maka Allah swt. akan mematikannya sebelum ia menanggung musibah yang berupa kelaparan. Kedua, matinya seseorang menjadi sebab ia menjadi kaya. Misalnya ia mendapatkan bagian yang sangat banyak dari harta warisan seseorang, atau ada seseorang ketika hendak mati berwasiat supaya sebagian dari hartanya diberikan kepada si Fulan.

Banyak kisah semacam ini dan tampak di depan mata. Di Makkah, sebagian orang yang hendak meninggal dunia berwasiat supaya hartanya dijual kemudian uangnya dikirimkan kepada seseorang yang bernama Fulan, yang tinggal di sebuah kota di India.

Kurdi adalah nama sebuah kabilah. Di sana terdapat seorang perampok yang terkenal. Ia menceritakan sendiri kisahnya, “Ketika saya sedang berjalan bersama teman-teman saya untuk merampok, pada saat dalam perjalanan kami duduk di sebuah tempat. Di sana kami lihat ada tiga pohon kurma. Dua pohon berbuah dengan lebatnya, dan yang satu kering. Seekor burung pipit berkali-kali datang mengambil buah kurma yang sudah masak dengan paruhnya dari pohon yang banyak buahnya, kemudian dibawanya ke pohon yang kering itu. Ketika melihat peristiwa itu, kami merasa sangat keheranan. Saya lihat burung itu pulang pergi hingga sepuluh kali untuk mengambil buah kurma dan membawanya ke pohon yang kering itu. Maka timbullah pikiran dalam diri saya untuk melihat apa yang dikerjakan burung pipit itu dengan buah-buah kurma tersebut. Sesampainya saya di atas pohon kurma yang kering itu, di sana saya lihat seekor ular yang buta sedang membuka mulutnya, dan burung pipit itu memasukkan buah kurma yang sudah masak ke dalam mulut ular itu.

Setelah melihat kejadian tersebut, saya merasa mendapat pelajaran sehingga saya menangis. Saya berkata, “Tuhanku, ini ular yang diperintahkan oleh Nabi-Mu saw. untuk dibunuh. Karena ia buta, Engkau menugaskan seekor burung pipit untuk menyampaikan rezeki kepadanya, dan aku adalah hamba-Mu, orang yang telah berikrar mentauhidkan-Mu. Engkau telah menjadikan aku sebagai orang yang merampok harta orang lain.” Pada saat itu terasa dalam hatiku bahwa telah terbuka untukku pintu taubat. Pada saat itu juga saya mematahkan pedang saya yang selalu aku gunakan untuk merampok. Lalu saya menjerit mengucapkan, “Ampunilah aku, ampunilah aku.” sambil menaburkan debu di atas kepala saya.

Lalu saya mendengar suara ghaib, ‘Kami telah mengampunimu, Kami telah mengampunimu.’ Dan ketika saya menghampiri teman-teman saya, mereka bertanya, ‘Apakah yang telah terjadi pada dirimu?’ Saya menjawab, ‘Dahulu aku memutuskan hubungan dengan Allah swt., sekarang aku telah berdamai dengan-Nya.’ Setelah mengucapkan perkataan tersebut, saya menceritakan semua kisah yang telah saya alami, sehingga mereka berkata, ‘Kami juga berdamai dengan Allah swt.’ Setelah itu mereka mematahkan pedang masing-masing, dan semua hasil rampokan kami tinggalkan, setelah itu kami membeli pakaian ihram, lalu kami berangkat ke Makkah. Setelah tiga hari tiga malam, sampailah kami di sebuah desa. Di sana kami bertemu dengan seorang wanita tua yang sudah buta matanya. Kemudian, sambil menyebut nama saya ia bertanya, ‘Adakah di antara kalian orang Kurdi yang bernama Fulan?’ Teman-teman saya menjawab, ‘Ya, ada.’ Lalu wanita itu mengeluarkan beberapa lembar pakaian dan berkata, ‘Anakku sudah tiga hari meninggal dunia, ia meninggalkan pakaian-pakaian ini. Sejak tiga hari itu pula aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw., beliau bersabda, ‘Berikanlah pakaian anakmu itu kepada si Fulan dari kabilah Kurdi.’ Kemudian saya mengambil pakaian-pakaian tersebut, dan selanjutnya kami semua memakainya.” (dari Kitab Raudh ).

Dari kisah tersebut terdapat dua pelajaran. Yang pertama adalah tentang rezeki dari Allah swt. untuk seekor ular yang buta. Kedua, pemberian pakaian dari Rasulullah saw.. Jika Allah swt. berkehendak untuk menolong seseorang, tidaklah sulit bagi Dia untuk menciptakan sebab-sebab pertolongan itu. Dialah Yang menciptakan penyebab kekayaan dan penyebab kefakiran. Dengan keberkahan taubat yang sungguh-sungguh, pemberian pakaian oleh Rasulullah saw. merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Ibnu Abbas r.huma. meriwayatkan sabda Nabi saw., “Barangsiapa yang kelaparan atau ditimpa kemiskinan, sedangkan ia menyembunyikan hajat dan keperluannya dari orang lain, maka menjadi hak Allah swt. untuk menjamin rezeki yang halal selama satu tahun.” ( Kitab Misykat ).

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa yang mengalami kelaparan atau ditimpa kemiskinan, sedangkan ia menyembunyikan hajat dan keperluannya dari orang lain, dan ia hanya meminta kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membukakan untuknya pintu rezeki yang halal selama satu tahun.” (Kanzul-‘Ummal).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang meminta kekayaan kepada Allah swt., Allah swt. akan memberikan kepadanya kekayaan. Dan barangsiapa meminta kesucian dari sesuatu yang tidak baik kepada Allah, maka Allah swt. akan memberikannya. Dan tangan di atas (orang yang memberi) itu lebih baik dari tangan yang di bawah (orang yang meminta). Tidak seorang pun yang membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah swt. akan membukakan baginya pintu kefakiran.”

Ketika Ali Karramallahu Wajhah mendengar suara seseorang di Padang Arafah yang sedang meminta-minta kepada orang-orang, ia memukulnya dengan tongkat, lalu bekata, “Pada hari seperti ini, di tempat seperti ini, kamu meminta-minta kepada selain Allah swt.”

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang membuka pintu meminta-minta, Allah swt. akan membukakan baginya pintu kefakiran di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa membuka pintu pemberian karena Allah swt., maka Allah swt. akan membukakan baginya pintu kebaikan di dunia dan akhirat. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Barangsiapa yang membuka pintu meminta-minta, Allah swt. akan membukakan baginya pintu kefakiran.

Seseorang yang membawa tali lalu mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya kemudian menggendongnya dan menjualnya, dan dengan hasil penjualan itu ia memenuhi keperluan hidupnya, itu lebih baik daripada meminta-minta, baik ia mendapatkan pemberian atau tidak.” Dan dalam sebuah hadits yang lain disebutkan, “Barangsiapa yang membuka pintu pemberian dengan cara sedekah atau silaturahmi, maka Allah swt. akan memperbanyak baginya (yakni hartanya akan bertambah).

Dan barangsiapa yang membuka pintu meminta-minta dengan niat untuk memperbanyak hartanya, kekurangannya akan semakin bertambah, yakni keperluannya akan terus meningkat, dan penghasilannya tidak akan bertambah.” Imran bin Husain r.a. meriwayatkan sabda Nabi saw., “Barangsiapa menghadap Allah swt. dengan sungguh-sungguh, Allah swt. akan menanggung semua keperluannya, dan Allah akan memberikan rezeki yang tidak ia sangka-sangka. Dan barangsiapa yang hanya sibuk dengan dunia, maka Allah swt. akan menyerahkan orang itu kepada dunia (yakni Allah swt. akan memberinya sesuai dengan jerih payahnya).”

Abu Dzar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku berwasiat kepadamu supaya bertakwa kepada Allah ketika sendirian dan ketika di tengah-tengah orang banyak. Jika kamu telah melakukan dosa, maka (untuk menebusnya) kerjakanlah kebaikan. Janganlah meminta-minta kepada seorang pun. Janganlah kamu khianati amanah seseorang. Jangan menjadi hakim di antara dua orang karena ini pekerjaan yang sangat penting, tidak setiap orang mampu melakukannya).”

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang rela dengan yang sedikit, merasa cukup, serta bertawakkal kepada Allah swt, maka ia tidak akan merasa gelisah dalam mencari rezeki. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa barangsiapa ingin menjadi orang yang paling kuat, hendaknya bertawakkal kepada Allah swt.. Dan barangsiapa ingin menjadi orang yang paling kaya, hendaknya ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah swt. daripada apa yang ada di sisinya. Barang siapa ingin menjadi orang yang paling mulia, hendaknya bertakwa kepada Allah swt. ( Pengalaman menunjukkan bahwa takwa seseorang sangat berpengaruh kepada orang lain. Semakin bertakwa seseorang, kemuliaannya semakin bertambah dalam pandangan orang lain ).

Wahab rah. a. menukilkan firman Allah swt., “Ketika hamba-Ku bertawakkal kepada-Ku, seandainya bumi dan langit semuanya bersatu untuk memperdayakannya, maka Aku akan memberikan jalan keluar kepadanya.

Ibnu Abbas r.huma. berkata bahwa Allah swt. menurunkan wahyu kepada Nabi Isa a.s., “Bertawakkallah kepada-Ku, maka Aku akan menanggung semua kepeluanmu. Jangan jadikan selain Aku sebagai penolongmu, supaya Aku tidak membiarkanmu.”

Dalam banyak hadits disebutkan bahwa anak laki-laki Auf bin Malik r.a. telah ditawan oleh orang-orang kafir dan dibiarkan kelaparan. Kemudian ia diikat denga tali yang terbuat dari kulit dan disiksa dengan kerasnya. Maka ia mengirim kabar kepada ayahnya dengan suatu cara, mengenai keadaannya, dengan tujuan supaya ayahnya memintakan doa kepada Rasulullah saw. untuk dirinya. Setelah Rasulullah saw. mengetahuinya, beliau bersabda, “Sampaikanlah pesan ini kepadanya: Takutlah kepada Allah swt., dan bertawakkallah kepada-Nya, setiap pagi dan sore bacalah ayat ini:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan ( keimanan dan keselamatan ) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling ( dari keimanan ), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” ( Q.s. At-Taubah: 128-129 ).

Setelah pesan ini sampai kepadanya, ia pun mulai membaca ayat tersebut. Pada suatu hari, tali-tali yang mengikat dirinya terputus dengan sendirinya. Setelah terlepas dari tahanan orang-orang kafir, ia berlari pulang dan membawa serta beberapa hewan orang kafir.

Ibnu Abbas r.huma. berkata, “Barangsiapa yang takut kepada kezhaliman seorang raja, kepada binatang buas, atau takut tenggelam di laut, maka bacalah ayat di atas, insya Allah ia tidak akan ditimpa musibah. Dalam sebuah hadits yang lain juga terdapat perintah supaya memperbanyak membaca:

Ayat di bawah ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami anak laki-laki Auf bin Malik r.a.:

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah swt., Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberikan rezeki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah swt., niscaya Dia akan mencukupinya.”

Sahabat r.a. tersebut tidak menyangka bahwa rezekinya ditentukan dari harta orang-orang kafir yang sangat menzhaliminya.

Seorang wali berkata, “Saya beserta seorang teman saya tinggal di sebuah gunung. Kami sibuk beribadah setiap saat. Makanan teman saya hanyalah rerumputan. Untuk keperluan makan saya, Allah swt. telah menyediakan seekor rusa betina yang selalu datang kepada saya setiap hari, dan setelah mendekatkan diri kepada saya, ia akan berdiri sambil membuka kedua kakinya, lalu saya meminum susunya. Setelah selesai, rusa itu segera pergi. Peristiwa ini berlangsung cukup lama; rusa betina itu selalu datang kepada saya dan saya meminum susunya. Tempat teman saya di bukit itu jauh dari tempat saya. Pada suatu hari, ia datang kepada saya dan berkata, ‘Ada satu kafilah/ rombongan yang berhenti di dekat tempat ini, marilah kita pergi kepada orang-orang di kafilah itu. Di sana mungkin kita akan mendapatkan susu dan bahan-bahan makanan yang lain.’ Pada mulanya saya menolaknya, akan tetapi setelah ia memaksa saya, saya pun pergi bersamanya. Maka sampailah kami berdua ke tempat kafilah tersebut, kemudian mereka memberi makan kepada kami. Setelah selesai makan, kami pulang ke tempat masing-masing. Setelah itu, saya selalu menunggu kedatangan rusa betina itu pada saat-saat ia biasa datang, tapi ternyata ia tidak datang. Setelah menunggu beberapa hari, sadarlah saya bahwa karena dosa mengharap makanan dari kafilah tersebut, sehingga pintu rezeki saya telah ditutup.”

Penyusun kitab Raudh berkata bahwa secara lahiriah, wali tersebut telah melakukan tiga dosa, yakni:
1) Ia telah meninggalkan tawakkal yang selama ini telah dijalaninya.
2) Ia bersikap tamak, tidak merasa cukup dengan rezeki yang telah diterimanya yang karenanya ia tidak perlu bersusah-payah.
3) Ia memakan makanan yang tidak halal, sehingga ia terjauh dari rezeki yang halal.

Kisah semacam ini mengandung pelajaran yang besar. Kadang-kadang, karena ketamakan kita sendiri, kita terjauh dari nikmat-nikmatnya Allah swt.. Dilihat secara lahiriah, dengan meminta-minta kita akan mendapatkan sesuatu. Akan tetapi karena meminta-minta itu merupakan perbuatan yang buruk, kita akan terjauh dari nikmat-nikmat Allah yang sesungguhnya akan kita dapatkan tanpa mencarinya dan tanpa meminta.

Imam Ahmad bin Hanbal rah.a. berdoa:

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku agar tidak bersujud kepada selain-Mu, begitu juga jagalah lisanku dari meminta-minta kepada selain Engkau.”

Alhamdulillah

Baca Juga https://dzikir20.wordpress.com/category/zakat-infaq-shodaqoh/

 

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s