Fadhilah Keutamaan Sholat

Fadhilah Keutamaan Sholat

Ibnu Salman r.a. meriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wassalam bercerita, “Ketika kami mendapat kemenangan dalam perang Khaibar, orang-orang mengeluarkan harta rampasan mereka masing-masing berupa berbagai barang dan tawanan. Kemudian di antara mereka mulai saling berjual-beli ghanimah. Lalu datanglah seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam dan berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya sangat beruntung pada hari ini, dan tidak ada seorang pun dari penduduk lembah ini yang beruntung seperti saya.” Sabda beliau,

“Berapakah keuntunganmu?” Jawabnya, “Saya berniaga hingga memperoleh untung tiga ratus uqiyah.” Sabda beliau, “Maukah aku beritahukan sebaik-baik orang yang beruntung?” Jawabnya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, “Dua rakaat (shalat sunah) sesudah shalat (fardhu).” (Abu Dawud).

Satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham, dan satu dirham sama dengan empat anah (1/4 rupee India), dengan demikian kurang lebih berjumlah tiga ribu rupee. Namun, apalah artinya keuntungan sebanyak itu jika dibandingkan dengan hakikat keuntungan yang akan dimiliki selamanya yang tidak akan pernah habis? Inilah yang telah dikatakan oleh Allah, Raja para raja. Andaikan kita memiliki hakikat iman, uang tiga ribu rupee tidak memiliki nilai sedikit pun dibandingkan dua rakaat shalat. Hidup ini benar-benar akan menjadi damai karena menganggap shalat sebagai suatu kekayaan. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu alaihi wassalam menyatakan shalat sebagai, “Penyejuk mataku.” Dan wasiat terakhir yang beliau utamakan terhadap umat beliau adalah agar memperhatikan shalat. (Kanzul Ummal)

Banyak hadits yang meriwayatkan wasiat terakhir Nabi shallallahu alaihi wassalam Salah satu di antaranya adalah hadits Ummu Salamah r.a., ia berkata, “Sabda terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ketika beliau sangat sulit berbicara adalah menekankan agar memperhatikan shalat dan takut kepada Allah dalam menjaga hak-hak hamba sahaya.” Hadits seperti itu juga telah diriwayatkan oleh Ali r.a. bahwa ucapan terakhir Nabi shallallahu alaihi wassalam adalah penekanan terhadap shalat dan anjuran agar takut kepada Allah dalam masalah hamba sahaya. (Jami’ush-Shaghir).

Suatu ketika, Nabi shallallahu alaihi wassalam mengirim sepasukan jihad ke Nejd. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka kembali dengan membawa kemenangan serta harta rampasan yang sangat banyak. Orang-orang merasa heran, karena mereka sangat cepat kembali dengan membawa kemenangan dan harta rampasan yang sangat banyak. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang mendapatkan harta yang lebih banyak daripada harta tersebut dan lebih cepat waktunya? Ia adalah orang yang shalat Shubuh dengan berjamaah. Setelah shalat, ia duduk di tempatnya hingga terbit matahari. (Ketika waktu makruh habis) ia shalat dua rakaat. Ia mendapat keuntungan lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat.”

Syaqiq Balkhi rah.a., seorang syaikh dan ahli sufi yang masyhur, berkata, “Kita akan mendapatkan lima hal melalui lima cara:

1. Keberkahan rezeki diperoleh melalui shalat Dhuha,
2. Cahaya kubur melalui Tahajud,
3. Mudah menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir melalui tilawat Al-Quran,
4. Mudah melewati shirat melalui shaum dan sedekah,
5. Mendapat perlindungan Arsy Ilahi pada hari Hisab melalui dzikrullah.” (Nazhatul-Majalis).

Banyak hadits yang menerangkan dan menegaskan tentang keberkahan dan keuntungan shalat. Namun terlalu banyak jika semuanya ditulis di sini. Untuk keberkahan akan saya tuliskan terjemahan haditsnya di bawah ini:

Banyak hadits yang menerangkan dan menegaskan tentang keberkahan dan keuntungan shalat. Namun terlalu banyak jika semuanya ditulis di sini. Untuk keberkahan akan saya tuliskan terjemahan haditsnya di bawah ini:

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda,

1. Perintah pertama yang diwajibkan Allah terhadap umatku ialah shalat. Dan yang pertama kali akan dihisab pada hari Kiamat ialah shalat.

2. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat.

3. Pemisah antara seseorang dengan syirik adalah shalat.

4. Shalat adalah tanda Islam. Barangsiapa shalat dengan khusyu’, tepat pada waktunya, dan memperhatikan rukun serta sunah-sunahnya, pastilah ia seorang mukmin.

5. Di antara seluruh perintah Allah, iman dan shalat adalah kewajiban yang paling utama. Jika ada sesuatu yang lebih baik daripada itu, Allah akan memerintahkan para malaikat-Nya, yang sebagian di antara mereka pada siang dan pada malam hari ada yang senantiasa ruku’ dan sebagian yang lain ada yang terus bersujud.

6. Shalat adalah tiang agama.

7. Shalat menghitamkan wajah syaitan.

8. Shalat adalah nur bagi orang-orang yang beriman.

9. Shalat adalah jihad yang paling utama.

10. Selama seseorang memperhatikan shalatnya, Allah tidak akan mengabaikannya. Dan jika ia berpaling dari shalatnya, maka Allah akan mengalihkan perhatian-Nya.

11. Jika suatu musibah turun dari langit, maka orang yang memakmurkan masjid pasti selamat.

12. Jika seorang muslim dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosanya yang besar, maka api neraka tidak dapat membakar anggota tubuhnya yang telah bersujud ketika shalat.

13. Allah mengharamkan api neraka ke atas anggota-anggota sujud.

14. Amalan yang paling disukai oleh Allah adalah shalat pada waktunya.

15. Orang yang paling disukai Allah adalah orang-orang yang bersujud kepada-Nya dengan penuh perasaan hina.

16. Allah paling dekat dengan hamba-Nya ketika ia bersujud kepada-Nya.

17. Shalat adalah kunci surga.

18. Jika seseorang berdiri untuk shalat, pintu-pintu surga akan terbuka, dan Allah akan menyingkapkan hijab antara ia dengan Allah, selama ia tidak melakukan hal-hal yang dibenci dalam shalat.

19. Orang yang sedang shalat ibarat sedang mengetuk pintu rumah Allah. Dan sebagaimana umumnya, pintu yang diketuk akan dibuka.

20. Kedudukan shalat dalam agama seperti kedudukan kepala pada badan.

21. Shalat adalah nur hati. Barangsiapa ingin hatinya senantiasa bersinar, maka sinarilah dengan shalat.

22. Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua atau empat rakaat dengan khusyu’ dan khudhu’, baik fardhu atau sunah, dan ia ingin dosanya diampuni Allah, maka Allah akan mengampuninya.

23. Setiap bumi yang di atasnya didirikan shalat untuk mengingat Allah, maka tanah itu akan merasa bangga di antara tanah-tanah lainnya.

24. Barangsiapa shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah, Allah pasti akan mengabulkan doanya. Adakalanya dipercepat atau diperlambat, sesuai dengan kepentingannya. Yang jelas, doanya akan dikabulkan.

25. Barangsiapa shalat dua rakaat (sunah) sendirian, tanpa seorang pun yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya, maka api neraka tidak akan menyentuhnya.

26. Jika seorang muslim mendirikan shalat fardhu, maka Allah akan mengabulkan salah satu doanya.

27. Barangsiapa shalat lima waktu dengan khusyu’; ruku, sujud, wudhu, dan sebagainya dengan sempurna, maka wajib baginya surga dan haram baginya neraka.

28. Seorang muslim yang benar-benar menjaga shalat lima waktunya dengan istiqamah, maka syaitan akan takut kepadanya. Tetapi jika ia tidak mempedulikan shalat lima waktunya, maka syaitan akan berani kepadanya dan akan menyesatkannya.

29. Amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu.

30. Shalat adalah pengurbanan para muttaqin.

31. Amal yang paling disenangi oleh Allah ialah shalat pada awal waktu.

32. Barangsiapa pergi pada pagi hari untuk shalat, berarti ia sedang membawa bendera iman di tangannya. Dan barangsiapa pergi ke pasar pada pagi hari, berarti ia membawa bendera syaitan di tangannya.

33. Empat rakaat qabla Zhuhur menyamai pahala empat rakaat Tahajud.

34. Empat rakaat qabla Zhuhur sama dengan empat rakaat shalat Tahajud.

35. Rahmat Allah swt. bercucuran ke atas orang yang berdiri dalam shalat.

36. Sebaik-baik shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat malam, tetapi sangat sedikit orang yang mengerjakannya.

37. Jibril a.s. datang kepadaku dan berkata, “Ya Muhammad, berapa lama pun engkau hidup, engkau akan mati juga. Dan siapa saja yang engkau cintai, pada suatu hari engkau akan berpisah dengannya. Dan apa pun yang engkau kerjakan, sesungguhnya engkau akan menerima balasan atas perbuatanmu (baik atau jahat).” Tidak diragukan lagi bahwa kehormatan seorang mukmin ada pada Tahajudnya, dan kemuliaan orang mukmin ada pada istighna (tidak meminta-minta kepada orang lain).

38. Dua rakaat shalat malam lebih berharga daripada kekayaan di dunia ini. Jika tidak memberatkan umatku, akan kuwajibkan shalat Tahajud.

39. Jagalah shalat Tahajud, karena Tahajud adalah amalan para shalihin, dan penyebab untuk mendekati Allah, menghentikan perbuatan dosa, penyebab diampuninya kesalahan, dan menyehatkan badan.

40. Allah berfirman, “Hai anak Adam, janganlah kalian malas mengerjakan empat rakaat pada permulaan pagi, karena Aku akan mencukupimu pada hari itu.”

Banyak sekali hadits tentang keutamaan shalat yang telah disebutkan dalam kitab-kitab hadits. Empat puluh hadits di atas kiranya sudah mencukupi. Jika ada yang menghafal keempat puluh hadits ini, maka ia akan mendapat keutamaan menghafal empat puluh hadits Nabi shallallahu alaihi wassalam

Jelaslah bahwa shalat merupakan kekayaan yang sangat berharga. Kekayaan ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang telah dikaruniai kenikmatan dalam shalat. Demikian besar kenikmatan itu sehingga Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Penyejuk mataku ada dalam shalat.” Kenikmatan shalat telah membuat beliau menghabiskan sebagian besar malamnya untuk shalat. Oleh sebab itu, pada akhir hayatnya beliau telah berwasiat secara khusus agar shalat benar-benar diperhatikan. Dan banyak riwayat mengenai sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam, “Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat.” Abdullah bin Mas’ud r.a. juga meriwayatkan sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam, “Dari sekian banyak amalan, shalatlah yang paling aku cintai.”

Seorang sahabat berkata, “Pada suatu malam, saya melewati masjid Nabawi. Saya lihat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam sedang shalat sehingga timbul keinginan dalam hati saya untuk ikut shalat. Maka saya berdiri di belakang beliau. Ketika itu beliau sedang membaca surat Al-Baqarah. Saya pikir, mungkin beliau akan ruku’ pada ayat keseratus, tetapi ternyata tidak. Maka saya berpikir mungkin akan berhenti pada ayat kedua ratus, tetapi sampai di sini pun beliau tetap belum berhenti, sehingga saya berpikir mungkin beliau akan berhenti setelah selesai surat Al-Baqarah.

Ketika beliau telah menyelesaikan surat tersebut, beliau berkali-kali membaca, “Allahumma lakal hamdu.” Kemudian beliau melanjutkan membaca surat Ali Imran. Saya pikir barangkali beliau akan ruku’ setelah selesai membaca surat ini. Tetapi setelah selesai membaca surat ini, beliau membaca lagi Allahumma lakal- hamdu sebanyak tiga kali, dan meneruskan membaca surat Al-Maidah. Setelah menyelesaikan surat ini, barulah Nabi shallallahu alaihi wassalam ruku’ dan membaca Subhaana Rabbiyal-‘Azhiim dan bacaan lainnya yang tidak saya pahami. Lalu beliau sujud membaca Subhaana Rabbiyal A’laa, kemudian beliau membaca doa lain yang tidak saya pahami. Setelah itu beliau memulai rakaat kedua dengan membaca surat Al-An’am. Dan saya mulai malas mengikuti shalat beliau, sehingga saya terpaksa meninggalkan shalat beliau. Pada rakaat pertama saja beliau membaca lebih kurang lima juz, dan beliau membacanya dengan sangat tenang, dengan tajwid yang sempurna serta tartil, ayat demi ayat dibaca dengan jelas. Dapat dibayangkan betapa lama rakaatnya, sehingga karena shalatnya yang demikian itu, kaki beliau bengkak. Jika sesuatu telah benar-benar terasa kelezatannya, maka kesu-litan dan halangan apa pun tidak akan terasa

Abu Ishaq Subaihi rah.a., seorang muhaddits terkenal yang wafat pada usia seratus tahun berkata bahwa ia bersedih karena usianya yang sangat tua dan lemah, sehingga ia hanya dapat membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran dalam dua rakaat shalat, tidak dapat membacanya lebih banyak. (Tahdzibut-Tahzib). Padahal, dua surat ini telah mencakup seperdelapan Al-Quran

Muhammad bin Samak rah.a. berkata, “Di Kuffah, saya memiliki seorang tetangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang selalu berpuasa pada siang hari dan shalat pada malam harinya. Anak itu menjadi kurus kering seperti tinggal tulang dan kulit saja. Ia tinggal di Syuqiyah Asy’ar. Ayahnya berkata kepada saya, “Cobalah engkau nasihati anak itu.” Suatu ketika, saya sedang duduk di depan rumah saya, lalu lewatlah anak itu. Saya pun memanggilnya. Setelah memberi salam, ia duduk di sisi saya. Sebelum saya berbicara, ia mendahului berkata, “Paman mungkin akan menasihati saya supaya mengurangi mujahadah saya. Namun dengarkanlah terlebih dahulu tentang diri saya. Saya memiliki beberapa teman di daerah ini. Kami sepakat untuk berlomba-lomba meningkatkan ibadah kepada Allah, dan mereka telah bersungguh-sungguh sehingga mereka telah sampai pada pangilan Ilahi. Ketika mereka dipanggil, mereka kembali dengan penuh keceriaan. Sekarang mereka telah tiada, tinggal saya seorang diri. Setiap hari, dua kali ibadah saya akan terlihat di hadapan mereka. Apa kata mereka jika mereka menemukan kekurangan dalam amalan saya. Paman, mereka adalah para mujahid besar.” (Nuzhah)

Anak itu terus menceritakan kehebatan ibadah kawan-kawan mujahidnya sehingga mendengarnya saja kita akan merasa takjub. Lalu pergilah ia, dan tiga hari kemudian saya dengar anak itu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepadanya.

Bahkan pada zaman sekarang masih ada orang yang menghabiskan malamnya dengan shalat dan menghabiskan waktu siangnya dengan ta’lim dan tabligh. Syaikh Mujadid Alfa Tsani rah.a. — seorang ulama terkenal, tiada seorang pun di India yang tidak mengenal namanya — khalifah beliau, Maulana Abdul Wahid Lahori rah.a. berkata, “Benarkah di surga tidak ada shalat?” Jawab seseorang, “Ya Syaikh, bukankah surga itu tempat memperoleh balasan amal, bukan tempat beramal?” Sambil menangis dengan sedih ia berkata, “Alangkah kecewanya, bagaimana kita dapat menikmati surga tanpa shalat?”

Karena orang-orang seperti inilah dunia masih tegak. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar telah sampai pada hakikat kehidupan. Seperti itulah kehidupan yang diberkahi oleh Allah swt.. Dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya, dan dengan kemurahan-Nya yang luas, bukan sesuatu yang sulit untuk memasukkan hamba yang hina ini ke dalam golongan mereka. Aamiin.

Sebelum menutup bab ini, berikut ini akan dinukilkan sebuah kisah tentang kemurahan Allah. Hafizh Ibnu Hajar rah.a. menulis dalam Al-Munabihat bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Ada tiga hal di dunia ini yang aku cintai: Wewangian, wanita, dan shalat sebagai pelipur mataku.” Pada saat itu ada beberapa orang sahabat yang duduk di dekat beliau. Abu Bakar r.a. berkata, “Benar, ya Rasulullah! Saya mencintai cintai tiga hal: Memandang wajahmu, mengorbankan harta saya atasmu, dan anak perempuan saya sebagai istri engkau.” Umar r.a. berkata, “Benar, dan tiga hal yang sangat saya cintai: Menegakkan yang hak, mencegah kemungkaran, dan mengenakan pakaian usang.” Utsman r.a. berkata, “Benar, Dan tiga hal yang sangat saya sukai: Memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang telanjang, dan tilawat Al-Quran.” Ali r.a. berkata, “Benar, dan saya sangat mencintai tiga hal: Melayani tamu, berpuasa pada hari yang sangat panas, dan memancung kepala musuh dengan pedang saya.” Lalu muncullah Jibril dan berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, “Allah mengutus saya agar menyampaikan kepada engkau apa yang saya cintai jika saya seorang manusia.” Sabda Beliau, “Katakanlah!” Sahut Jibril, “Saya mencintai tiga hal: Menunjukkan jalan kepada orang yang sesat, mencintai ahli ibadah yang miskin, dan membantu orang yang miskin. Dan Allah mencintai tiga hal pada hamba-Nya: Berkorban (harta atau diri) di jalan Allah, orang yang bertaubat menangisi dosa-dosanya, dan orang yang bersabar dengan kemiskinannya.”

Ibnu Qayim rah.a. menulis dalam Zaadul-Ma’ad, ‘Shalat adalah kunci rezeki. Shalat menjaga kesehatan, mengusir penyakit, menguatkan hati, mencerahkan wajah, menyenangkan jiwa, menyegarkan badan, menjauhkan malas, melapangkan dada, makanan ruhani, mencerahkan hati, menjaga tetapnya nikmat Allah pada kita, pelindung dari adzab Allah, menjauhkan syaitan, dan mendekatkan diri kepada Ar-Rahman.” Singkatnya, shalat menjaga kesehatan jasmani dan ruhani. Shalat berpengaruh luar biasa terhadap jasmani dan ruhani dan menjauhkan kita dari kebinasaan dunia maupun akhirat, yakni sangat bermanfaat di dunia dan di akhirat.

baca juga dalam kategori sholat

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s