Doa Dzikir Kitab Adzkar Imam Nawawi

dzikir

Doa dan Dzikir dari kitab “AL ADZKAR AN-NAWAWI”

penulis pilihkan yang mahsyur semoga manfaat..

“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya .” (Thoha (20):130)
 
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf (7): 205)

 
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi hari dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridhaan-Nya.” (Al-An’am (6): 52)
 
204.        Kami meriwayatkan di dalam Shaih al-Bukhari dan Syaddad bin Aus, dari Nabi, beliau bersabda:
 
“Pemimpin istighfar adalah:
 
(Allãhumma anta rabbi la ilâha lila anta, khalaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bi ni’matika ‘alaiyya, wa abu’u bi dzambi, fagh-firli fa innahu la yagh-firudz-dzunuba illâ anta)  
 
“Yaa Allah, Engkau adalah Tuhan-Ku, Engkau Yang telah Menciptakan aku sedangkan aku adalah hamba-Mu yang terikat dengan janji dan ketentuan-Mu  semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang aku lakukan. Aku mengakui segala kenikmatan yang telah Engkau berikan kepada-Ku dan aku mengakui akan dosa-dosaku, maka ampunilah aku karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. ’

Siapa yang membacanya, pada petang hari kemudian meninggal dunia di malam itu, maka dia masuk surga. Siapa yang membacanya pada pagi hari kemudian meninggal dunia di hari itu maka dia termasuk penghuni surga.
 
205.        Kami meriwayatkan di dalam Shahih Muslim dan Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda:
 
“Siapa yang pada pagi dan petang hari mengucapkan: (Subhânalláhi wa bihamdihi)
 
‘Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya’ sebanyak seratus kali, tidak akan ada seorang pun pada Hari Kiamat yang membawa amalan lebih baik dari amalannya kecuali orang yang melakukan hal yang sama atau menambahnya.”
 
206.        Dalam riwayat Abu Daud disebutkan dengan lafal:
 
Subhânalláhil -’azhimi wa bihamdihi
 
“Mahasuci Allah Yang Mahaagung segala puji bagi-Nya.”
 
208.        Kami meriwayatkan di dalam Sunan Abu Daud. Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan selainnya dengan sanad shahih dari Abu Hurairah , dari Nabi :
 
“Pada pagi hari beliau membaca, (Allâhumma bika ashbahnâ, wa bika amsainâ, wa bika nahya, wa  bika namutu, wa ‘ilaika nusyur)
 
‘Yaa Allah, dengan nama-Mu kami melewati pagi, dengan-Mu kami melewati petang, karena-Mu kami hidup, karena-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu kami kembali’. Dan pada petang hari membaca, (Allâhumma bika amsainá wa bika nahya  wa bika namutu wa ilaika nusyur) ‘Yaa Allah, dengan nama-Mu kami melewati petang, karena-Mu kami hidup, karena-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu kami kembali.
 
210.        Kami riwayatkan di dalam Shahih Muslim dan Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:
 
“Pada petang hari, Nabi membaca: (Amsainâ wa amsal-mulku lillâhi, wal-hamdulillâhi, la ilâha illalahu wahdahu lâ syarika lahu) ‘Kami melewati petang sebagaimana Kerajaan Allah melewati petang dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya.‘Perawi mengatakan: Aku kira dengan bacaan tersebut beliau menyertakan bacaan:
 
(Lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’ in qadir. Rabbi as’ aluka khaira ma fi hâdzihil-lailati wa khaira ma ba’daha wa a’udzu bika min syarri ma fi hâdzihil-lailati wa syarri ma ba’dahâ, rabbi a’udzu bika minal-kasaIi wa su’il-kibari, a’udzu bika min ‘adzãbin fin-nári wa ‘adzâbin fil-qabri)
 
‘Bagi-Nya segala kerajaan dan pujian, Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tuhanku aku memohon kepada-Mu kebaikan yang terdapat pada malam ini dan kebaikan yang terdapat setelahnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang terdapat pada malam ini dan kejahatan yang terdapat setelahnya. Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dan buruknya renta masa tua. Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari siksa di neraka dan siksa di kubur.’
 
Dan di pagi hari  beliau juga membaca demikian: (Ashbahnâ wa ashbahalmulku lillâhi)  ‘Kami melewati pagi sebagaimana Kerajaan Allah melewati pagi….”
 
213.        Kami riwayatkan dengan sanad shahih di dalam Sunan Abu Daud dan Sunan at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq  berkata,  “Wahai Rasullah, perintahkan aku dengan beberapa kalimat yang aku ucapkan pada pagidan petang hari!” Beliau bersabda :
 
“Ucapkanlah: (Allahumma ‘alimal-ghaibi wasy-syahadati fathiras- samawati wal-ardhi rabba kulli syai’in wa malikahu. Asyhadu al-la ilaha illa anta a’udzu bika min syarri nafsi wa min syarri  syaithani wa syirkihi)
 
‘Yaa Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pencipta langit dan bumi, Tuhan dan Pemilik segala sesuatu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau. Aku berlindungkepada-Mu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan setan beserta segala gangguannya. “ Ucapkanlah pada pagi hari, petang hari, dan ketika engkau hendak tidur.”
 
214.        Kami riwayatkan seperti lafal sebelumnya di dalam Sunan Abu Daud, dari riwayat Abu Malik al-Asy’ari bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ajarilah kami kalimat yang dapat kami ucapkan pada pagi hari, petang hari, dan ketika kami hendak tidur .” Beliau menyebutkan bacaan tersebut dan menambahkan :
 
(Wa an aqtarifa ‘ala nafsi su‘an, au ajurrahu ila muslim)
 
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari aku melakukan kejahatan atas diriku atau aku melakukannya kepada seorang muslim.”    
 
215.        Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dan Sunan at-Tirmidzi, dari Utsman bin Affan,  dia berkata, Rasulullah bersabda:
 
“Tidaklah seorang hamba pada setiap pagi hari atau setiap petang hari mengucapkan: (Bismillàhilladzi la yadhurru ma’as-mihi syai’un fil-ardhi walâ fis-samâ’ i wa huwa sami’ul-’alim)
 
‘Dengan Nama Allah Yang apa pun dengan nama-Nya tidak akan membawa mudharat baik di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat’, sebanyak tiga kali berturut-turut, kecuali tidak akan ada yang dapat mencelakakannya.”
 
Imam Tirmidzi mengatakan, “Hadits  ini dinilai Hasan shahih.” Lafal tersebut adalah lafal Tirmidzi. Sedangkan pada lafal Abu Daud:
 
“Tidak akan tertimpa musibah secara tiba-tiba.”
 
216.        Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dan Tsauban, dia mengatakan, Rasulullah bersabda:
 
“Siapa pada petang hari mengucapkan:
 
(Radhitu billâhi rabbâ wa bil-islâmi dina wa bi Muhammadin shallallâhu ‘alaihi was-sallama nabiyyà)“
 
‘Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku’, kecuali benar-benar Allah akan membuatnya puas.”
 
217.        Kami meriwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dengan sanad yang baik dan tidak didha’ifkannya, dari Anas bahwa Rasulullah bersabda:
 
“Siapa yang pada waktu pagi atau petang hari mengucapkan: (Allâhumma inni ashbahtu usyhiduka, wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wa malâ ‘ikataka, wa jami’a khalqika, annaka antallahu lâ ilâha illâ anta wahdaka là syarika laka, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuluka)
 
‘Yaa Allah, sesungguhnya aku telah mempersaksikan-Mu dan mempersaksikan para penyangga ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk ciptaan-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau, satu-satunya yang tiada sekutu bagi-Mu dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu’, Allah akan membebaskan seperempatnya dari api neraka.
 
Barang siapa yang mengucapkannya dua kali, niscaya Allah akan membebaskan setengahnya dari api neraka. Siapa yang mengucapkannya tiga kali, niscaya Allah akan membebaskan tiga perempatnya dari api neraka. Dan apabila mengucapkan sebanyak empat kali, niscaya Allah akan membebaskannya dari api neraka.”

218.        Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dengan sanab baik dan tidak didha’ifkan, dari Abdullah bin Ghannam al-Bayadhi, termasuk kalangan sahahat, bahwa Rasulullah bersabda :
 
“Siapa yang pada pagi hari mengucapkan: (Allâhumma ma ashbaha bi min ni’matin, fa minka wahdaka là syarika laka, lakal-hamdu wa lakasy-syukru)
 
‘Yaa Allah, apa pun kenikmatan pada pagi hari ini yang kudapatkan, maka itu berasal dari-Mu semata yang tiada sekutu bagi-Mu.  Bagi-Mu segala pujian dan rasa syukur’, berarti telah menunaikan syukur hari itu. Dan siapa  yang mengucapkan seperti itu pada petang hari, berarti telah menunaikan syukur malam itu.”
 
219.        Kami riwayatkan dengan sanad shahih di dalam Sunan Abu Daud, Sunan an-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah, dari Ibnu Umar radhiyallâhu anhumâ, dia berkata, Nabi tidak pernah meninggalkan doa-doa ini pada pagi hari dan petang hari:
 
(Alláhumma inni as’alukal-’afwa wal –‘ afiyata fid-dunya wal-âkhirah.  Allâhumma inni as’alukal-‘afwa wal-’âfiyata fi diini wa dunyaya, wa ahli, wa maali. Allâhummas-tur ‘aurâti, wa âmin rau’áti. Allâhummah-fazhni min baini yadayya, wa min khalfi, wa ‘an yamini, wa ‘an syimâli, wa min fauqi, wa a’udzu bi ‘azhamatika an ughtãla min tahti)
 
“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon  kepada-Mu keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Yaa Allah, sesungguhnya  aku memohon kepada-Mu keselamatan dan kesejahteraan pada agamaku, duniaku, keluargaku, harta bendaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan amankanlah aku dari rasa takut. Yaa Allah, jagalah aku dari depanku, belakangku, sebelah kanan, sebelah kiri, dan dari atas ku, serta aku berlindung dengan keagungan-Mu dari tertipu dari arah bawahku.”

220.        Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, Sunan an-Nasa’i, dan selain keduanya dengan sanad shahih dari Ali, dari Nabi, bahwa beliau apabila hendak tidur membaca:
 
(Alláhumma inni a’udzu bi wajhikal-karim wa bi kalimâtikat-tâmmati min syarri ma anta âkhidun bi nâshiyatihi. Allâhumma anta taksyiful-maghrama wal-ma’tsama. Allâhumma lâ yuhzamu junduka wa lâ yukhlafu wa’duka, wa la yanfa’u dzal-jaddi minkal-jaddu, subhanaka wa bi hamdika)
 
“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan Wajah-Mu Yang Mulia dan Kalimat-Kalimat-Mu Yang Sempurna dari kejahatan makhluk yang Engkau tentukan nasibnya. Yaa Allah, Engkau Maha Melenyapkan beban utang dan dosa. Yaa Allah, tentara-Mu tidak akan terkalahkan, janji-Mu tidak akan teringkari dan tidak pula bermanfaat kekayaan seseorang di sisi-Mu. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.”
 
221.        Kami meriwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah dengan sanad baik, dari Abu ‘Ayyasy  bahwa Rasulullah bersabda:
 
“Siapa yang pada pagi hari membaca: (La ilâha illallâhu wahdahu la syarika lahu lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’ in qadir)“
 
Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah satu-satu-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia atas segala sesuatu Mahakuasa’, maka akan bernilai seperti membebaskan budak sahaya dari keturunan Ismail, diberikan kepadanya sepuluh pahala, akan dihapuskan darinya sepuluh dosa, akan diangkat derajatnya sepuluh tingkat, dan mendapat perlindungan dari godaan setan pada hari itu sampai petang.
 
Dan siapa yang membacanya pada petang hari, maka dia akan mendapatkan hal seperti itu sampai pagi.”
 
222.        Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dengan sanad yang tidak didha’ifkan olehnya dari Abu Malik al-Asy’ari  bahwa Rasulullah  bersabda:
 
“Pada pagi hari hendaknya salah seorang dari kalian mengucapkan: (Ashbahnâ wa ashbahal mulku lillâhi rabbil-’âalamin. Allâhumma as aluka khaira hâdzal-yaumi, fat-hahu, wa nashrahu, wa nuurahu, wa barakatahu, wa hudâhu, wa a’udzu bika min syarri ma fihi wa syarri ma ba’dahu)
 
‘Kami melewati pagi sebagaimana Kerajaan Allah melewati pagi karena Allah Tuhan semesta alam. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, pembebasannya, kemerdekaannya, cahayanya, berkahnya, dan hidayahnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan hari setelahnya’, kemudian pada sore hari juga mengucapkan demikian.”
 
223.        Kami meriwayatkan di dalam Sunan Abu Daud, dari Abdurrahman bin Abi Bakrah bahwa dia  bertanya kepada ayahnya (Abu Bakar ash-Shiddiq), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku setiap hari selalu mendengarmu membaca doa:
 
(Allahumma ‘âfini fi badani, Allâhumma ‘afini fi sam’i, Allâhumma ‘âfini fi bashari, lâa ilâha illa anta, Allâhumma inni a’udzu bika minal-kufri wal-faqri, wa a’udzu bika min ‘adzâbil qabri laa ilâha illâ anta)
 
‘Yaa Allah, sehatkanlah badanku, yaa Allah, sehatkanlah pendengaranku, yaa Allah, sehatkanlah penglihatanku, tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau. Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kemiskinan. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau.’ (3x)
 
224.        Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud, dari Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:
 
“Siapa pada pagi hari mengucapkan:
 
(Fa subhânallâhi hina tumsuna wa hina tushbihun. Wa lahul-hamdu fis-samâwâti wal- ardhi wa ‘asyiyyâ wa hina tuzh-hirun. Yukhrijul-hayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-hayyi wa yuhyil-ardha ba’da mautihâ wa kadzâalika tukhrajun)
 
‘Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada pada petang hari dan ketika kamu berada pada waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada pada waktu zhuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)’. (ar-Rum [30]: 17-19).
 
Niscaya dia akan mendapatkan apa yang hilang darinya pada hari itu. Dan siapa yang membacanya pada petang hari, niscaya akan mendapatkan apa yang hilang darinya pada malam itu.”
 
225.        Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dari sebagian putri Nabi radhiyallahu ‘anhunna bahwa Nabi mengajarkan kepadanya untuk membaca:
 
“Ucapkanlah pada pagi hari: (Subhânallâhi wa bihamdihi, là quwwata illâ billâh, ma syâ ‘allahu kâna, wa ma lam yasya’ lam yakun, a’lamu annallâha ‘ala kulli syaiin qadir, wa annallaha qad ahatha bi kulli syai’in ‘ilmâ)
 
‘Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Tiada kekuatan kecuali hanya milik Allah. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi. Aku mengetahui bahwa Allah atas segala sesuatu Maha Kuasa, dan bahwa Allah telah meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan’. Siapa yang mengucapkannya pada pagi hari, niscaya dia akan dijaga hingga petang, dan siapa yang membacanya di petang hari, niscaya akan dijaga sampai pagi.”
 
226.        Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dari Abu Sa’id al-Khudri , dia berkata:
 
“Suatu hari Rasulullah masuk ke dalam masjid dan di sana bertemu dengan seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang bernama  Abu Umamah. Beliau bertanya, ‘Wahai Abu Umamah, mengapa kamu duduk-duduk di masjid di luar waktu shalat?’ Dia menjawab, ‘Ada keresahan menggangguku dan utang-utang, wahai Rasulullah. ‘Beliau bertanya lagi, ‘Maukah aku ajarkan padamu suatu doa yang apabila engkau baca, niscaya Allah melenyapkan keresahanmu dan melunasi utang-utangmu?’ Dia menjawab, ‘Mau, yaa Rasulullah.‘
 
Beliau bersabda, ‘Pada waktu pagi dan petang hari ucapkanlah: (Allâhumma inni a’udzu bika minal hammi wal-hazan, wa a’udzu bika minal-‘ajzi wal-kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal-bukhli, wa a’udzu bika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijâl) ‘Ya Allah, sesungguhna aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemas dan sifat malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penggecut dan sifat pelit, dan aku berlindung kepada-Mu dari kekuasaan utang dan kekuasaan manusia’. Abu Umamah mengatakan. Aku pun melakukannya dan Allah Ta’âlâ melenyapkan keresahan dan kegelisahanku serta melunasi utang-utangku.
 
227.        Kami meriwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dengan sanad shahih dari Abdullah bin Abi Abza, dia berkata, “Pada pagi hari, Rasulullah selalu membaca:
 
(Ashbahnâ ‘ala fithratil-islâmi, wa ‘ala kalimatil-ikhlâshi, wa ‘ala dini nabiyyâ Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallama, wa ‘alã millati abinâ Ibrâhima shallallâhu ‘alaihi wa sallama, hanifan muslimâ wa ma ana minal-musyikin)
 
“Kami melewati pagi dengan berada pada fitrah Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad dan agama bapak kami  Ibrahim yang lurus dan muslim serta aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”
 
228.        Kami meriwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyalláhu ‘anhuma, dia berkata. “ Pada pagi hari Rasulullah selalu membaca:
 
(Ashbahnâ wa ashbahal-mulku lillâhi ‘azza wa jalla, wal-hamdu lillâhi, wal-kibriyâ’u wal-‘azhamatu lillâhi, wal-khalqu wal-amru wal-lailu wan-nahâru wa ma sakana fihimâ lillâhi ta’âla, Allãhummaj-’al awwala hâdzan-nahâri shalâhâ, wa ausathahu najâhâ, wa âkhirahu faláha ya ar-hamar-râhimin)
 
“Kami melewati pagi dan seluruh kerajaan melewati pagi karena Allah ‘Azza wa Jalla. Segala puji bagi Allah. Segala kebesaran dan keagungan hanya milik Allah. Segala penciptaan dan perintah, malam dan siang, serta segala yang tinggal pada keduanya hanya milik Allah Ta’ala. Ya Allah, jadikanlah awal siang ini sebagai kebaikan, pertengahannya sebagai keberhasilan, dan akhirnya sebagai kebahagiaan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
 
229.        Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dari Ibnus Sunni dengan sanad yang di alamnya ada kedha’ifan dari Ma’qil bin Yasar, dari Nabi , beliau bersabda:
 
“Siapa yang mengucapkan sebanyak tiga kali: (A’udzu billâhi as-sami’il-alimi minasy-syaithânirrajim) Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk’, dan membaca tiga ayat dari Surah al-Hasyr, Allah Ta’âlâ akan mewakilkannya kepada tujuh puluh ribu malaikat yang bershalawat kepadanya hingga petang hari. Apabila pada hari itu dia meninggal dunia, maka dia mati dalam keadaan syahid. Dan siapa yang mengucapkannya pada petang hari, maka dia juga memiliki kedudukan seperti itu.”
 
230.        Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Muhammad bin Ibrahim, dari ayahnya, dia berkata, “Rasulullah mengutus kami dalam satu regu pasukan dan memerintahkan kami pada pagi dan petang hari membaca:
 
(Afahasibtum annamâ khalaqnakum ‘abatsan wa annakum ilainâ lâ turja’un)
 
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak  akan dikembalikan kepada Kami? (Al-Mu’minñn [23]:115)
 
231.        Dalam kitab tersebut juga kami riwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah . berdoa dengan doa ini pada pagi dan petang hari:
 
(Allâhumma as’aluka min faj’atil-khairi. wa a’udzu bika min faj’atisy-syarri)
 
“Yaa Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang datang secara tiba-tiba, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang datang secara tiba-tiba.”
 
232.        Dalam kitab tersebut kami juga meriwayatkan dari Anas dia berkata, Rasulullah bersabda kepada Fatimah radhiyallahu ‘anhâ:
 
“Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan wasiatku? Engkau ucapkan pada pagi dan petang hari: (Yaa Hayyu, ya Qayyum, bika astaghitsu, fa ashlih li sya’ni kullahu, wa lâ takilni ilâ nafsi tharfata ‘ain) ‘Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Menghidupkan, kepada-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan janganlah Engkau kuasakan kepada diriku sekejap mata pun.”
 
233.        Dalam kitab tersebut juga kami riwayatkan dengan sanad dha’if dari Ibnu Abbas radhiyallãhu ‘anhumâ bahwa ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah bahwa dia tertimpa musibah. Rasulullah bersabda:
 
“Pada pagi hari ucapkan: (Bismillâhi ‘ala nafsi wa ahli wa maali) ‘Dengan nama Allah atas diriku, keluargaku, dan hartaku’, niscaya tidak akan ada sesuatu pun milikmu yang hilang.”
 
234.        Kami riwayatkan di dalam Sunan lbnu Majah dan kitab lbnus Sunni dari Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhâ bahwa Rasulullah  pada pagi hari mengucapkan:
 
(Allâhumma inni as’aluka ‘ilman nâfi’â, wa rizqan thayyibâ, wa amalan mutaqabbalâ) “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal ibadah yang diterima.”
 
235.        Kami riwayatkan di dalam kitab lbnus Sunni dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumâ, dia berkata, Rasulullah. bersabda:
 
“Siapa pada pagi hari membaca: (Allâhumma inni asbahtu minka fi ni’matin wa ‘âfiyatin wa sitrin, faatimma ni’mataka ‘alaiya wa ‘âfiyataka wa sitraka fid-dunya wal-âkhirah) ‘Ya Allah, sesungguhnya aku pada pagi hari ini hidup dengan kenikmatan, keselamatan, dan pakaian dari-Mu, maka sempurnakanlah kenikmatan-Mu kepadaku dan keselamatan serta pakaian yang Engkau berikan di dunia dan akhirat’, sebanyak tiga kali pada pagi dan petang hari pasti Allah akan menyempurnakan baginya.”
 
237.        Kami riwayatkan di dalam kitab Sunni dari Buraidah, dia berkata, Rasulullah bersabda :
 
“Siapa yang pada pagi dan petang hari mengucapkan: (Rabbiyallâhu, tawakkaltu ‘alaihi, lâ ilaha illâ huwa, ‘alaihi tawakkaltu, wa huwa rabbul-’arsyil-’azhim, ma syâ ‘allâhu kâna, wa ma lam yasya’ lam yakun, a’lamu annallâha ‘ala kulli syai’in qadir)”
 
“Tuhanku adalah Allah. Aku berserah diri kepada-Nya. Tiada tuhan yang patut disembah selain Dia. Kepada-Nya aku berserah diri. Dialah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Apa yang Allah Kehendaki pasti terjadi, dan apa yang Allah tidak kehendaki pasti tidak terjadi. Aku mengetahui bahwa Allah atas segala sesuatu Mahakuasa, dan bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan’, kemudian meninggal dunia, pasti dia masuk surga.”
 
238.        Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Anas bahwa Rasulullah bersabda:
 
“Mampukah salah seorang dari kalian menjadi seperti Abu Dhamdham?” Mereka bertanya, “Siapa Abu Dhamdham, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Dia adalah orang yang pada pagi hari mengucapkan: (Allâhumma inni qad wahabtu nafsi wa ‘irdhi laka fa lâ yasytumu man syatamahu wa la yazhlimu man zhalamahu wa lâ yadhribu man dharabahu) ‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyerahkan diriku dan kehormatanku kepada-Mu, maka jangan pernah ada orang yang mencelanya, menganiayanya, dan memukulnya.”
 
239.        Kami riwayatkan juga di dalam kitab Ibnus Sunni, dari Abu Darda’ dari Nabi beliau bersabda:
 
“Siapa yang setiap hari pada pagi dan petang hari mengucapkan: (Hasbiyallâhu, lâ ilâha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-’arsyil-’azhim) ‘Cukuplah Allah bagiku. Tiada tuhan yang patut disembah selain Dia. Kepada-Nya aku berserah diri dan Dialah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung’, sebanyak tujuh kali, niscaya Allah akan mencukupinya dari segala yang membuatnya resah dari urusan dunia dan akhirat.”
 
240.        Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dan Ibnus Sunni dengan sanad dha’if dari Abu Hurairah , dia berkata, Rasulullah bersabda:
 
“Siapa yang membaca: Haa Mim (Surah al-Mu’min) hingga ayat ‘Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk)’ al-Mu‘ min 1-3   dan ayat Kursi pada pagi hari, niscaya dia dilindungi dengan keduanya sampai petang hari. Dan siapa yang membaca keduanya pada petang hari, niscaya akan dijaga dengan keduanya hingga pagi hari.”
 
241.        Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni, dari Thalq bin Habib. dia berkata, “Seseorang mendatangi Abu Darda’ dan mengatakan, ‘Wahai Abu Darda’, rumahmu terbakar!’ Abu Darda’ menjawab  Allah tidak akan melakukan itu dengan doa yang aku dengar dari Rasulullah. Siapa yang mengucapkannya pada pagi hari, niscaya tidak akan tertimpa bencana hingga petang, dan siapa mengucapkannya pada petang hari, niscaya tidak akan tertimpa bencana sampai pagi:
 
(Allahumma anta rabbi, lâ ilâha illâ anta, ‘alaika tawakkaltu wa anta rabbul-’arsyil-’azhim, ma sya ‘allâhu kâna, wa ma lam yasya’ lam yakun, là haula wa lâ quwwata illa billâhil-‘aliyyil-‘azhim, a’lamu annallàha ‘ala kulli syai’in n qadir, wa annallâha qad ahâtha bi kulli syai’in ‘ilmâ, Allâhumma inni a’udzu bika min syarri nafsi wa min syarri kulli dâbbatin anta akhidun bi nâshiyâtihâ, inna rabbi ‘ala shirâthim mustaqiim)
 
“Yaa Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau. Kepada-Mu aku berserah diri dan Engkaulah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang Allah tidak kehendaki pasti tidak terjadi. Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Aku mengetahui bahwa Allah  atas segala sesuatu Mahakuasa, dan bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan. Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kejahatan diriku sendiri dan dari kejahatan segala sesuatu yang berjalan yang Engkau menentukan nasibnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus.”
 
243.        Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni, dari Anas dari Nabi, beliau bersabda:
 
“Siapa yang pada pagi hari Jum‘at sebelum shalat subuh mengucapkan: (Astagh-firullahal-ladzi la ilâha illâ huwal-hayyul-qayyumu wa atubu ilaihi) ‘Aku memohon ampunan kepada Allah Yang tiada tuhan yang patut disembah selain Dia Yang Mahahidup lagi Maha Menghidupkan, dan aku bertobat kepada-Nya’ sebanyak tiga kali, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.”
 
246.        Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Amr bin Abasah , dari Rasulullah beliau bersabda:
 
“Tidaklah matahari naik sepenggalah dan di sana terdapat makhluk Allah Ta’âla kecuali ia akan bertasbih kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan memuji-Nya, kecuali setan keturunan Adam yang bengis. “ Aku bertanya tentang keturunan Adam yang bengis, beliau menjawab, “Makhluk- makhluk yang jahat.”
 
Dianjurkan juga untuk memperbanyak dzikr dan ibdah yang lain setelah matahari tergelincir.
 
247.        Hal ini disebabkan hadits yang kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi, dari Abdullah  Ibnus Sa’ib bahwa Rasulullah  shalat empat rakaat setelah matahari tergelincir sebelum zhuhur dan mengucapkan:
 
“Ini adalah waktu pintu-pintu langit dibuka. Oleh karenanya aku ingin pada waktu tersebut amal salehku naik ke sana.”
 
“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (Thâhâ (20): 130)
 
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’râf (7): 205)
 
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (An-Nuur (24): 36-37)
 
254.        Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari, dari riwayat Hudzaifah dan Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa Rasulullah apabila beranjak ke peraduannya membaca:
 
(Bismika Allâhumma ahya wa amut) ”Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan aku mati.”
 
255.        Kami riwayatkan juga hadits tersebut di dalam Shahih Muslim, dari al-Barra’ bin Azib radhiyallâhu ‘anhumâ.
 
256.        Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ali bahwa Rasulullah bersabda kepadanya dan kepada Fatimah radhiyallâhu ‘anhumâ:
 
“Apabila kalian berdua beranjak ke peraduan atau kalian hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali.”
 
257.        Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan Abu Hurairah dia berkata. Rasulullah  bersabda:
 
“Apabila salah seorang dari kalian beranjak ke peraduannya hendaknya mengibaskan ujung kain sarungnya pada tempat tidurnya. Sebab, dia tidak mengetahui apa yang terjadi setelah dia pergi. Kemudian membaca: (Bismika rabbi wa dha’tu jambi, wa bika arfa’uhu, in amsakta nafsi far-hamhâ, wa in arsaltahâ fah-fazh-hâ bimâ tahfazhu bihi ibâdakash-shâlihin) ‘Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, aku letakkan badanku dan dengan nama-Mu aku angkat. Jika Engkau mengambil nyawaku maka sayangilah dia, dan jika Engkau melepaskannya kembali, maka jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh.”
 
258.        Kami riwayatkan di dalam ash-Shahihain (Shohih Bukhori dan Muslim) dari Aisyah radhiyallahu ‘anhâ bahwa Rasulullah apabila hendak tidur meniup kedua telapak tangannya dan membaca Mu’awwidzatain kemudian mengusapkannya ke seluruh tubuhnya.
 
259.        Dalam kitab ash-Shahihain dari Aisyah radhiyallahu ‘anhâ bahwa Nabi apabila beranjak ke peraduannya setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya membaca Surah al-Ikhlash, Surah al-Falaq, dan Surah an-Nás, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuhnya yang terjangkau. Dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Halini beliau lakukan sebanyak tiga kali.
 
260.        Kami riwayatkan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri Uqbah bin Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda:
 
“Dua ayat di akhir Surah al-Baqarah. Siapa yang membaca kedua ayat tersebut pada satu malam, maka cukuplah baginya.”
 
261.        Kami riwayatkan di dalam ash-Shahihain dari al-Barra’ bin Azib radhiyallâhu ‘anhumâ, dia berkata, Rasulullah bersabda kepadaku:
 
“Jika kamu hendak menuju tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah menghadap ke sebelah kananmu, lalu bacalah: (Allâhumma aslamtu nafsi ilaika wa fawwadhtu amri ilaika wa wajjahtu wajhi ilaika, wa alja’ tu zhahri ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, lâ malja’a wa lâ manja minka illâ ilaika, âmantu bi kitábika al-Iadzi anzalta, wa bi nabiyyika al-ladzi arsalta)
 
‘Yaa Allah, Aku menyerahkan diriku kepada-Mu, menyerahkan segala urusanku kepada-Mu, menghadapkan wajahku kepada-Mu, memohon perlindungan atas punggungku kepada-Mu, sebagai harapan dan takut kepada-Mu. Tiada tempat berlindung dari-Mu selain kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada nabi-Mu yang Engkau utus.’Jika di malam itu kamu meninggal dunia, maka kamu meninggal dunia dalam keadaan di atas fitrah. Jadikanlah bacaan tersebut sebagai akhir dari apa yang kamu ucapkan.”
 
262. Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah menjadikanku sebagai penjaga harta zakat Ramadhan. Pada suatu malam datanglah seseorang mengambil sedikit makanan… dan seterusnya. Di akhir hadits disebutkan (orang itu mentatakan kepadanya): Apabila engkau beranjak ke peraduanmu bacalah Ayat Kursi dari awal hingga selesai: Allâhu la ilâha illa huwal-Hayyul-Qayyum … Dia juga mengatakan kepadaku: senantiasa akan ada yang menjagamu dari sisi Allah dan engkau tidak akan didekati setan sampai pagi.

Rasulullah bersabda:
 
“Dia telah berkata benar kepadamu walaupun pada dasarnya dia adalah pendusta. Dia itu setan.
 
265. Kami riwayatkan di dalam Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, dari abu Hurairah ra dari Nabi : bahwa apabila beliau beranjak ke peraduannya membaca:
        
(Allâhumma rabbas-samâwâtis-sab’i, wa rabbal-ardhi, wa rabbal-’arsyil-’azhim, rabbanã wa rabba kulli syai’in, fâliqal habbi wan-nawà, wa munzilat-taurâti wal-injili wal-furqân, a’udzu bika min syarri kulli syai’in anta âkhidun binâshiyâtihi. Allâhumma antal-awwalu falaisa qablaka syai’un, wa antal-âkhiru falaisa ba’daka syai’un, wa antazh-zhâhiru falaisa fauqaka syai’ un, wa antal-bâthinu falaisa dunaka syai’un, iqdhi ‘annâ ad-daina, wa aghninâ minal-faqri)
        
“Yaa Allah, Tuhan langit yang tujuh, Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Dzat Yang Menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, Dzat Yang Menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau menentukan takdirnya. Yaa Allah, Engkau adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, Engkau adalah yang terakhir dan tidak ada sesuatu pun yang sesudah-Mu, Engkaulah yang paling tinggi dan tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkau adalah yang paling bawah dan tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu. Tunaikanlah utang kami dan hindarkanlah kami dari kemiskinan.”
 
266. Kami riwayatkan dengan sanad shahih di dalam Sunan Abu Da’ud dan Sunan an-Nasa’i, dari Ali , dari Rasulullah bahwa beliau ketika hendak tidur membaca:
        
(Allâhumma inni a’udzu bi wajhikal-karimi, wa kalimâtikat-tâmmati, min syarri ma anta âkhidun bi nâshiyatihi. Allâhumma anta taksyiful-maghrama wal-ma’tsama. Allâhumma lâ yuhzamu junduka, wa la yukhlafu wa’duka, wa lâ yanfa’u dzal-jaddi minkal-jaddu, Subhânaka Allâhumma wa bihamdika)
        
“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Wajah-Mu Yang Mahamulia dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau tentukan takdirnya. Ya Allah, Engkau menunaikan utang dan menghapus dosa. Ya Allah, tentara-Mu tidak akan kalah, janji-Mu tidak akan diingkari dan tidak pula bermanfaat kekayaan seseorang di sisi-Mu. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.”
 
267. Kami riwayatkan di dalam Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, dan Sunan at-Tirmidzi, dari Anas bahwa Rasulullah  apabila beranjak ke peraduannya membaca:
        
(Alhamdulillâhil-ladzi ath’amanâ wa saqânâ, wa kafânâ, wa ãwânâ, fa kam mimman lâ kàfiya lahu wa lâ mu’wiya) “Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami makan, minum, mencukupi kami dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak ada yang mencukupi dan melindunginya.”
 
268. Kami riwayatkan dengan sanad hasan di dalam Sunan Abu Daud, dari Abul Azhar – disebut juga Abu Zuhair— al-Anmari bahwa Rasulullah apabila hendak tidur di malam hari membaca:
        
(Bismillahi wa dha’tu jambi. Alláhummagh-fir dzambi, wa akhsi syaitháni wa fukka rihâni, waj-‘alni fin-nadiyyil-a’lâ)
        
“Dengan nama Allah aku meletakkan punggungku. Ya Allah, ampunilah dosaku. celakakanlah setan yang menggodaku, tunaikanlah utangku, dan jadikanlah aku bersama majelis malaikat yang tertinggi.”
 
269.  Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dan Sunan at-Tirmidzi, dari Naufal al-Asyja’i, dia berkata, Rasulullah bersabda padaku:
        
Bacalah: ‘Qul ya ayyuhal-kafirun,’kemudian tidurlah setelah selesai, karena surah tersebut melepaskan dirimu dari kemusyrikan.”
 
270.  Dalam Musnad Abu Ya’la al-Mushili dari Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, dari Nabi, beliau bersabda:
        
“Maukah kalian aku beritahukan satu bacaan yang dapat menyelamatkan kalian dari berbuat syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Bacalah: ‘Qul yâ ayyuhal-kafirun’ ketika hendak tidur.”
 
311.  Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda
        
“Sesungguhnya Allah Ta’âlâ memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghafalkannya dijamin masuk surga. Dia berjumlah ganjil dan menyukai hal-hal yang berjumlah ganjil.
        
(Huwallâhul-ladzi la ilâha illâ huwa ar-Rahmaan, ar-Rahiim, al-Malik, al-Quddus,  as-Salâam, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-’Aziz, al-Jabbâr, al-Mutakabbir, al-Khâliq, al-Bâri, al-Mushawwir, al-Ghaffâr, al-Qahhâr, al-Wahhâb, ar-Razzaq, al-Fattâh, al-‘Alim, al-Bâsith, al-Kháfidh, ar-Rafi’, al-Mu’iz, al-Muzhill, as-Sami’, al-Bashir, al-Hakam, al-‘Adl, al-Lathif, al-Khabir, al-Halim, al-‘Azhim, al-Ghafur, asy-Syakur, al-‘Ali, al-Kabir, al-Mughits, al-Hasib, al-Jalil, al-Karim, ar-Raqib, al-Mujib, al-Wâsi’, al-Hakim, al-Wadud, al-Majid, al-Bâ’its, asy-Syahid, al-Haqq, al-Wakil, al-Qawi, al-Matin, al-Wali, al-Hamid, al-Muhshi, al-Mubdi’, al-Mu’id, al-Muhyi, al-Mumit, al-Hayy, al-Qayyum, al-Wâjid, al-Májid, al-Wâhid, ash-Shamad, al-Qadir, al-Muqtadir, al-Muqaddim, al-Mu’akhir, al-Awwal, al-Akhir, azh-Zhâhir, al-Bâthin, al-Wali, al-Muta’âl, al-Barr, at-Tawwâb, al-Muntaqim, al-’Afuw, ar-Ra’uf,  Mâlikal-Mulki, Dzul-Jalâli wal-Ikrâm, al-Muqsith, al-Jàmi, al-Ghani, al-Mughni, al-Mãni, adh-Dhàru, an-Nâfi’, an-Nur, al-Hâdi, al-Badi, al-Bâqi, al-Warits, ar-Rasyid, ash-Shabur
        
Dialah Allah yang tiada Tuhan yang patut disembah selain Dia, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja dari segala Raja, Maha Suci, Maha Menyelamatkan, Maha Mengamankan, Maha Pemelihara, Maha Perkasa, Maha Memerintah, Maha Sombong, Maha Pencipta, Maha Indah ciptaan-Nya, Maha Pemberi Rupa, Maha Pengampun, Maha Pemaksa, Maha Pemberi, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pemberi Jalan, Maha Tahu, Maha Pengambil, Maha Pemberi, Maha Perendah Derajat, Maha Pemberi Kemuliaan, Maha Pemberi Kehinaan, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Penengah, Maha Adil, Maha Lembut, Maha Tahu, Maha Penyayang, Maha Agung, Maha Pengampun, Maha Berterima Kasih, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Penjaga, Maha Pemberi Pertolongan, Maha Penghitung, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Melihat, Pengabul Doa, Maha Luas, Maha Mencinta, Maha Mulia, Maha Membangkitkan, Maha Menyaksikan, Maha Benar, Maha Membantu,  Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Penolong, Maha Mulia, Maha Menghitung, Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Hidup, Maha Menghidupi, Maha Pencipta, Maha Mulia, Maha Esa, Maha Tempat Bersandar, Maha Kuasa, Maha Mampu Membalas, Maha Memulai, Maha Mengakhiri, Maha Menang, Maha Tidak Terlihat, Maha Penolong, Maha Tinggi, Maha Baik, Maha Pemberi Tobat, Maha Pembalas, Maha Pemberi Maaf, Maha Penyayang, Pemilik Seluruh Kerajaan, Pemilik Seluruh Keagungan dan Kemuliaan, Maha Adil, Maha Pengumpul, Maha Kaya, Maha Pemberi Kekayaan, Maha Pencegah, Maha Pemberi Mudharat, Maha Pemberi Manfaat, Cahaya, Maha Pemberi Hidayah, Maha Indah Ciptaan-Nya, Maha Kekal, Maha Pemberi, Maha Bijaksana, Maha Sabar.”
 
351.  Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah radhiyalláhu ‘anhumâ, dia berkata bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kami doa istikharah dalam segala urusan, seperti mengajarkan satu surah dalam Al-Qur’an. Beliau bersabda:
        
“Jika seseorang di antara kalian dirisaukan oleh suatu urusan, maka hendaklah dia shalatdua rakaat sunnah, kemudian membaca doa: (Allàhumma inni astakhiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka bi qudratika, wa as ‘aluka min fadhlikal-‘azhim, fa innaka taqdiru wa lâ aqdiru, wa ta’lamu wa lâ a’lamu, wa anta allamul-ghuyub. Allâhumma in kunta ta’lamu anna hâdzâl amra kairul li fi dini wa mâ’âsyi wa ‘aqibati amri —âjili amri wa âjilihi—faq-durhu li wa yassirhu li, tsumma barik li fihi, wa in kunta ta’lamu anna hâdzal-amra syarrul li fi dini wa ma ‘asyi wa ‘âqibati amri —‘âjili amri wa ajilihi— fash-rif hu ‘anni wash-rifni ‘anhu waq- durliyal-khaira haitsu kâna tsumma ardhini bihi)
        
‘Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan ketetapan-Mu dan memohon kepada-Mu dengan karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnnya Engkau Maha Berkuasa sedangkan aku tidak dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak, Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau Mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat yang ditimbulkan —atau mengatakan: baik sekarang maupun yang akan datang— maka takdirkanlah dan mudahkanlah dia untukku kemudian berilah keberkahan untukku padanya. Dan jika Engkau Mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat yang ditimbulkan —atau mengatakan: baik sekarang maupun yang akan datang— maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkan aku darinya serta takdirkanlah kebaikan bagiku di mana pun kebaikan itu berada kemudian ridhailah aku dengannya.’ Kemudian menyebutkan keperluannya.”
 
352. Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dengan sanad dha’if, didha’ifkan oleh at-Tirmidzi sendiri dan selainnya, dari Abu Bakar bahwa Nabi apabila hendak melakukan sesuatu berdoa:
        
(Allâhumma khir li wakhtar li)
        
“Yaa Allah, pilihlah dan pilihkan yang terbaik untukku.
 
353. Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Anas, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
        
“Wahai Anas, apabila engkau risau terhadap suatu perkara, mintalah pilihan kepada Tuhanmu sebanyak tujuh kali, kemudian lihatlah apa yang terdapat dalam hatimu, karena sesungguhnya yang terbaik ada di situ.”
 
354. Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ketika tertimpa kesusahan mengucapkan :
        
(La ilaha illallahul-‘azhimul-halim. La ilaha illalahu rabbul-‘arsyil-‘azhim. La ilaha illallahu rabbus-samawati wa rabbul-ardhi rabbul-‘arsyil-karim)
        
“Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyayang. Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Pencipta langit, Pencipta bumi, Pemilik ‘Arsy yang mulia.”
 
355.  Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dari Anas dari Nabi bahwa apabila beliau tertimpa suatu kesusahan membaca:
        
(Yaa Hayyu ya Qayyum, bi rahmatika astaghitssu)
        
“Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Menghidupkan. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan-(Mu).”
 
356.  Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah bahwa apabila Nabi tertimpa suatu kesusahan, beliau menadahkan tangan ke langit dan mengucapkan :
        
(Subhanallahil –‘azhim) “Maha Suci Allah Yang Maha Agung”
        
Apabila berdoa dengan sungguh-sungguh, beliau mengucapkan :
        
“Wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Menghidupkan.”
 
357.  Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas, dia berkata, Doa Nabi yang terbanyak adalah :
        
(Allahumma atina fid-dun-ya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-naar)
        
“Yaa Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.”
 
358.  Kami riwayatkan dalam Sunan an-Nasa’i dan kitab Ibnu Sunni, dari Abdullah bin Ja’far dari Ali, dia berkata : “Rasulullah mengenalkanku dengan doa-doa  itu dan memerintahkanku apabila aku tertimpa musibah untuk mengucapkan :
        
(La ilaha illallahul-karimul-‘azhim, subhanahu, tabarakallahu rabbul-‘arsyil-‘azhim, alhamdulillahi rabbil-‘alamin)
        
“Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung. Mahasuci Dia. Mahasuci Allah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
 
359.  Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah bersabda :
        
“Doa orang yang tertimpa kesusahan: (Allahumma rahmataka arju, fa la takilni ila nafsi tharfata ‘ain, wa aslih li sya’ni kullahu, la ilaha illa anta)
        
‘Yaa Allah, hanya kasih saying-Mu yang kuharapkan, maka janganlah membebankan permasalahan kepada diriku walaupun hanya sekejap mata dan perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada tuhan yang patut disembah selain Engkau.” 
 
360.  Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah  dari Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda kepadaku:
        
“Maukah aku ajarkan kepadamu doa yang dapat engkau ucapkan ketika tertimpa kesusahan? (Allah, Allah, rabbi la usyriku bihi syai’an) ‘Allah, Allah, Tuhanku, aku tidak meyekutukan–Mu dengan sesuatu pun.”
 
361.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Abu Qatadah , dia berkata bahwa Rasulullah bersabda :
        
“Siapa yang membaca Ayat Kursi dan ayat-ayat penutup Surah al-Baqarah ketika tertimpa kesusahan, Allah pasti menolongnya.”
 
362.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Sa’ad bin Abi Waqqash , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda :
        
“Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang tidak akan diucapkan oleh orang yang tertimpa kesusahan melainkan pasti akan diberikan jalan keluar baginya, yaitu doa saudaraku Yunus , “Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: (La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin)  ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya akau adalah termasuk orang-orang yang zhalim.”
        
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Sa’ad, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda :
        
“Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika berada di dalam perut ikan paus: (La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin) ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya akau adalah termasuk orang-orang yang zhalim.‘
 
Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya untuk memohon sesuatu kecuali Allah mengabulkan doanya.”
 
363.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Tsuban bahwa Nabi apabila merasa ketakutan akan sesuatu, beliau mengucapkan :
 
(Huwallahu, Allahu rabbi la syarika lahu) “ Dialah Allah, Allah adalah Tuhanku yang tiada sekutu bagi-Nya.”
 
364.  Kami riwayatkan di dalam Sunan Abu Daud dan Sunan at-Tirnidzi, dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya bahwa Rasulullah mengajarkan kepada mereka bacaan saat menghadapi rasa takut:
 
 “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan setan, dan agar mereka (setan) tidak mendatangiku.”
 
365.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

“Siapa yang tertimpa kesedihan atau kegundahan hendaklah berdoa dengan doa berikut: (Allahumma inni ‘abduka, wab-nu ‘abdika, wab-nu amatika, nâshiyati bi yadika, mâdhin fiyya hukmuka, ‘ad-lun fiyya qadhâ uka, as aluka bi kulli ismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fi kitâbika, au ‘allamtahu ahadan min khalqika, awista ‘tsarta bihi fi ‘ilmil-ghaibi ‘indaka, an taj’alal-Qur’ana rabi’a qalbi, wa nura shadri, wa jalâ’a huzni, wa dzahâba hammi)
        
“Yaa Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra dari hamba laki-laki-Mu, putra dari hamba perempuan-Mu, nasibku berada di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, hukum-Mu adil padaku. Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk ciptaan-Mu, atau Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib yang engkau miliki, agar engkau menjadikan Al-Qur ‘an sebagai pelega hatiku,penerang dadaku, pelenyap kesedihanku, dan penghilang rasa gelisahku.“
 
366.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Ali , dia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
 
“Wahai Ali, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang apabila engkau tertimpa musibah dapat engkau ucapkan?” Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
        
Beliau bersabda, “Apabila engkau tertimpa musibah, maka ucapkanlah: (Bismillâhir-rahmânir-rahim, wa là haula walâ quwwata illâ billàhil- ‘aliyyil- ‘azhim)
        
‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada daya-upaya dan kekuatan selain milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Mahaagung, ‘maka sesungguhnya Allah melenyapkan dengan doa itu musibah apa pun yang dikehendaki-Nya.”
 
367. Kami riwayatkan dengan sanad shahih dalam Sunan Abu Daud dan Sunan an-Nasa’i  dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Nabi apabila takut kepada suatu kaum mengucapkan:
 
(Allâhumma inna naj’aluka fi nuhurihim, wa na’udzu bika min syururihim) “Yaa Allah, kami jadikan Engkau pada leher-leher mereka (penuntun mereka agar tidak berbuat jahat) dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”
 
368. Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumà, berkata bahwa Rasulullah bersabda:
        
“Apabila engkau takut kepada penguasa atau selainnya, maka ucapkanlah: (La ilaha illallahul –halimul-hakim, subhânallahi rabbis-samâwâtis-sab’i wa rabbil-’arsyil-azhim, la ilaha illa anta ‘azza jâruka wa jalla tsana ‘uka)
        
‘Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Bijaksana. Mahasuci Allah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau. Mahakuat pertolongan-Mu dan Mahamulia pujian-Mu.”
 
369.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Anas, dia berkata, “Kami bersama Nabi dalam suatu peperangan dan bertemu dengan musuh. Aku mendengar beliau membaca:
        
(Yãa mâlika yaumid-din iyyâka a’budu wa iyyãka asta’in) “Wahai Raja di Hari Pembalasan, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.”
        
“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat [41]: 36)          
        
“Dan apabila kamu membaca Al-Qur‘an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (A1-Isrâ’ [17]: 45)
 
370.  Kami riwayatkan di dalam Shabih Muslim dari Abu Darda’, dia berkata: Rasulullah melaksanakan shalat, kemudian kami mendengar beliau berucap, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Lalu beliau berucap sekali lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah” sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengulurkan tangannya seakan mengambil sesuatu. Setelah beliau selesai shalat, kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami mndengar engkau berkata dalam shalat suatu perkataan yang tidak pernah kami dengar sebelumnya, dan kami lihat engkau mengulurkan tanganmu?’
        
Beliau menjawab: “Sesungguhnya musuh Allah Iblis datang dengan membawa obor yang akan disundutkan wajahku, maka aku ucapkan: (A’udzu billâhi minka) Aku berlindung kepada Allah darimu, sebanyak tiga kali.
        
Kemudian aku ucapkan: (Al-’anuka bi la’natillâhit-tâmmah) Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna. Dia pun mundur sebanyak tiga kali. Lalu aku  ingin mencengkeramnya. Demi Allah, seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman, pasti dia sudah terikat dan dibuat mainan oleh anak-anak penduduk Madinah.”
 
371.  Kami riwayatkan di dalam Shahih Muslim dan Suhail bin Abi Shalih bahwa dia berkata: Bapakku mengutusku ke kabilah Bani Haritsah dan aku bersama pembantuku. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dan balik tembok. Pembantuku menoleh ke  arah tembok memperhatikannya, namun tidak melihat siapa pun. Aku kemudian menceritakan hal itu kepada bapakku, beliau mengatakan, “Seandainya dari pertama engkau sudah merasa bahwa akan bertemu dengan kejadian seperti itu, tentu aku tidak akan mengutusmu. Namun, apabila engkau mendengar suara seperti itu, maka kumandangkanlah adzan, karena aku mendengar Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setan lari apabila mendengar suara adzan.”
 
376.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Tidaklah Allah SWT memberikan kenikmatan kepada seorang hamba dalam hal keluarga, harta benda, dan keturunan, sehingga ia mengucapkan, ‘Segalanya atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan selain milik Allah’, lalu mendapatkan bencana selain kematian.”
 
377.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Abu Hurairah , dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian ber-istirja terhadap segala bentuk musibah walaupun cuma tali sandal yang putus, sebab hal itu juga merupakan musibah.”
 
378.  Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dari Ali bahwa seorang mukatab mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak sanggup membayar utangku, maka tolonglah aku.”
        
Ali menjawab, “Maukah aku ajarkan kepadamu satu doa yang diajarkan kepadaku oleh  Rasulullah sehingga walaupun kamu memiliki utang sebesar gunung Shir, Allah akan membayarnya? Ucapkanlah: (Allâhummak-fini bi halâlika ‘an harâmika, wa aghnini bi fadhlika ‘amman siwâk)
 
“Yaa Allah, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal daripada yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu daripada selain-Mu.”
 
379.  Kami riwayatkan di dalam kitab lbnus Sunni dari al-Walid bin Walid, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa gundah.”
 
Maka beliau menjawab: “Apabila engkau hendak tidur, ucapkanlah: (A’udzu bi kalimatillâhit-tâmmàti min ghadhabihi, wa ‘iqábihi, wa syarri ‘ibádihi, wa min hamazâtisy-syayâthin, wa ayyahdhurun)
 
‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan-Nya, hukuman-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari godaan setan, dan agar mereka (setan) tidak mendatangiku, niscaya kegundahan itu tidak akan membawa mudharat atau tidak akan mendekatimu.”
 
380.  Kami riwayatkan juga di dalam kitab Ibnus Sunni dari al-Barra’ bin Azib radhiyallâhu ‘anhuma, dia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah dan mengadukan kepada beliau akan kegundahan yang menimpanya. Maka beliau bersabda:
 
“Perbanyaklah membaca: (Subhanal-malikil-quddus, rabbil-mala’ ikati war-ruh, jullalatis-samawatu wal-ardha bil-’izzati wal-jabarut) ‘Mahasuci Tuhan Raja Yang Mahasuci, Tuhan Malaikat dan Jibril. Langit dan bumi dihiasi oleh kemuliaan dan kekuasaan.”
 
“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan. maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat [41]: 36)
 
381.  Kami riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
 
“Setan mendatangi salah seorang di antara kalian dan mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Hingga mengatakan, Siapa yang menciptakan Tuhanmu? ‘Jika hal ini sampai kepadanya, hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dan berhenti.”
 
Dalam riwayat yang lain dalam kitab ash-Shahih disebutkan dengan lafal:
 
“Manusia selalu bertanya-tanya tentang berbagai hal, sampai dikatakan bahwa Allah yang menciptakan makhluk, maka siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal demikian, hendaklah mengucapkan, ‘Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”
 
382.  Kami riwayatkan di dalam kitab Ibnus Sunni dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
 
“Siapa yang mendapati rasa waswas hendaklah mengucapkan: (Amannâ billâhi wa birusulihi) ‘Kami beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya’, sebanyak tiga kali, karena dengan itu rasa waswas akan hilang.”
 
383.  Kami riwayatkan di dalam Shahih Muslim dari Utsman bin Abil Ashi, dia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menjadi penghalang antara aku dengan shalatku dan bacaanku, dia mencampuradukkannya.” Rasulullah menjawab:
 
“Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, maka mohonlah perlindungan kepada Allah darinya, kemudian meludahlah ke arah kiri tiga kali.”
 
533.  Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallâhu ‘anhumâ, dia berkata Rasulullah bersabda:
        
“Siapa yang memiliki hajat kepada Allah atau kepada seseorang dari kalangan manusia, hendaknya berwudhu dengan wudhu yang sempurna, kemudian melakukan shalat dua rakaat, kemudian memanjatkan puja-puji ke hadirat Allah dan membaca shalawat Nabi,  lalu mengucapkan:
        
(Làa ilàha illallahul-halimul-karim, subhânallâhi rabbil-’arsyil-’azhim, alhamdulillâhi rabbil-’alamin, as ‘aluka mujibati rahmatika, wa ‘azâ ima maghfiratika, wal-ghanimata min kulli birrin, was-salâmata min kulli itsmin, la tada’li dzamban illâ ghafartahu, walâ hamman illâ farrajtahu, wala hâjatan hiya laka ridhà illa qadhaitahã, yâ arhamar-râhimin)
        
Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Penyayang Lagi Maha Mulia. Mahasuci Allah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu dampak positif dari rahmat-Mu, ketegasan ampunan-Mu, pendapatan dari segala kebaikan, dan keselamatan dari segala dosa. Janganlah Engkau sisakan untukku satu dosa pun kecuali Engkau mengampuninya, tidak juga keresahan sedikit pun kecuali Engkau memberinya jalan keluar, tidak pula kebutuhan satu pun yang Engkau ridhai kecuali Engkau selesaikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”  
        
Dianjurkan untuk berdoa dengan doa kesedihan, seperti doa berikut:
        
(Allâhumma âtinâ fid-dun-yâ hasanah wa fil-âkhirati hasanah waqinâ ‘adzâban-nâr)
 
“Yaa Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
 
Wallohua’lam. Walhamdulillah. Wastaghfirulloh.

Silahkan Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s